Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Kemunculan Astrid



"Mmm ... baunya enak banget, Jay," puji Melisa mencium aroma nasi goreng yang sedang diaduk-aduk Jayden. "Kamu belajar masak di mana?"


Mematikan kompor, Jayden lantas membagi hasil masakannya ke dalam tiga piring dan mengangsurkan salah satunya ke hadapan Melisa. "Turunan dari Papa. Silakan dicoba, Tante," ucapnya.


"Makasih, tapi omong-omong keadaan kamu gimana?" tanya Melisa seraya meraih sendok. Jayden membantunya karena jarak tempat sendok yang lumayan jauh.


"Sudah baikan, cuma masih lesu. Sekali lagi makasih ya, Tan," ungkap Jayden tulus. Entah apa jadinya jika kemarin sore dirinya nekat pulang. Mungkin pagi ini dia tidak bisa bangun dari tempat tidur atau parahnya kecelakaan di jalan.


"Sama-sama. Cuaca emang lagi nggak menentu. Kan udah mau masuk musim penghujan. Sedia jas hujan kalau emang bawa motor," nasihat Melisa, kemudian barulah menyendokkan nasi goreng ke mulut. Ia mengacungkan dua jempol, tanda bahwa nasi goreng Jayden sangat enak.


Laki-laki itu tertawa. "Saya memang sempat kehujanan. Waktu pulang dari sini, makanya kemarin pagi kesiangan datangnya."


"Aahh ... harusnya kalau sakit jangan dipaksa." Melisa geleng-geleng tak suka.


"Nanti pembuatan katalognya jadi tambah lama. Saya tahu Tante dikejar-kejar waktu buat ngurusin pameran gaun pengantin."


"Ya ampun, Jay. Kamu pengertian banget." Melisa tertawa renyah. Tidak tahu saja kalau anaknya yang baru menapaki lantai satu sontak menyipitkan mata.


Jika dua hari yang lalu Zevanna dianggap invisible. Sekarang saatnya pembalasan. Zevanna akan menganggap mamanya dan Jayden yang sedang duduk berhadapan seolah tidak ada. Ia melangkah penuh percaya diri menuju dapur—tepatnya ke arah kulkas—untuk menuang segelas susu, kemudian kembali ke kamar. Akan tetapi, rencana hanyalah rencana. Saat melewati mamanya, tangan Zevanna langsung dicekal.


"Ze, cobain deh masakannya Jayden. Enak banget," kata sang mama.


Zevanna melirik piring yang ada di meja bar dapur. Kelihatannya sih enak. Nasi goreng leunca, telur, dan udang. Aroma dan tampilannya sangat menggugah selera. Eh, tapi kapan sih masakan Jayden nggak enak? Semuanya enak apalagi kalau lelaki itu khusus memasak hanya untuk Zevanna. Nikmatnya berkali-kali lipat. Udah gitu makannya disuapin. Duh! Seseorang tolong tabok Zevanna biar berhenti mengingat apa yang semestinya tidak perlu diingat.


"Ayo, cobain. Lagian apa enaknya sih sarapan sendirian di kamar." Tanpa ba-bi-bu Melisa sudah menarik stool bar chair di sebelahnya dan menepuk-nepuk, meminta Zevanna duduk.


"Enaknya tenang. Soalnya nggak sambil dengerin khotbahnya Mama," sahut Zevanna.


"Masa sih?" Melisa merasa anaknya berlebihan. "Kamu baru punya pacar, ya?"


"Hah?" Zevanna yang baru mengunyah kontan tersedak. Ia menepuk-nepuk dadanya.


Dengan sigap Jayden beranjak untuk mengambil air dingin di kulkas, menuangnya ke gelas, lalu memberikannya pada Zevanna. Gadis itu menerimanya dengan sedikit kesal. Caper!


"Kok jadi pacar sih?" tanya Zevanna tak habis pikir.


"Yang udah-udah, kan, begitu. Kamu hobinya mendekam di kamar terus nggak lama tahu-tahu ada cowok datang ke rumah. 'Halo, Tante. Saya Darwin, teman dekatnya Zevanna'." Melisa menirukan sekaligus menyebut nama mantan Zevanna waktu SMA.


"Mama apaan sih! Pakai bawa-bawa Darwin segala." Zevanna bersungut-sungut.


"Kenapa emang? Malu ya ada Jayden?" goda Melisa tersenyum penuh arti pada Jayden yang sedang makan.


Sebenarnya lelaki itu tidak benar-benar makan. Hanya tangannya yang memegang sendok dan digerak-gerakkan di atas piring lantaran lebih fokus pada pembicaraan Zevanna dan Melisa. Apalagi setelah kata pacar disebutkan.


Bukan malu, tapi nanti dia tahu aibku!


"Dipikir-pikir kamu udah lumayan lama lho nggak bawa cowok ke rumah," ujar Melisa.


Zevanna bisa merasakan jika sepertinya sudah ada asap keluar dari hidung, telinga, dan ubun-ubunnya.


"Marvel," jawab Zevanna. Omong-omong tentang Marvel, Zevanna jadi ingat dengan nomor asing yang meneleponnya. Iya benar, nomor itu milik Marvel. Lelaki itu berniat mengajaknya pergi. "Nanti malam orangnya ke sini," lanjutnya memberitahu.


"Tuh, kan!" Melisa bersorak gembira. Sementara Jayden tiba-tiba tersedak.


Zevanna menatap tajam pria itu. Kebetulan atau memang mantan kekasihnya tersedak gara-gara dia menyebut nama Marvel? Hm, menarik.


"Eh, tapi malam jam berapa, Ze? Soalnya Mama juga ada janji sama klien," ucap Melisa.


"Mama pengin ketemu?" tanya Zevanna dibalas anggukan mamanya. "Kalau gitu nanti aku minta Kak Marvel buat datang agak sorean aja." Ia menorehkan senyum. Matanya tertuju pada Jayden yang ternyata juga sedang menatapnya. Cih! Memang Jayden pikir cuma dia yang bisa dekat sama lawan jenis setelah mereka putus? Zevanna juga bisa kali!


Mereka lantas melanjutkan sarapan. Setelah makanannya habis, Zevanna berkata, "Makasih ya, Jay. Bener kata Mama, masakan lo enak."


Belum sempat menjawab, bel rumah lebih dulu berbunyi. Ketiganya saling melempar pandang sebelum kemudian Jayden bangkit berdiri.


"Sepertinya itu adik saya. Saya minta dia buat mengantar laptop sama baju ganti." Jayden mengangguk kecil, lantas berlalu.


Ia membuka pintu utama rumah Zevanna. Mulutnya sudah terbuka untuk mengatakan sesuatu, tetapi tertahan melihat siapa yang datang. Bukan Joanne, adiknya, melainkan Astrid. Wanita itu kaget bukan main mendapati Jayden ada di rumah sahabatnya.


"L-lo?! Ngapain di sini?" Astrid mengerjap-ngerjapkan mata. Namun, mau sebanyak apa pun ia melakukannya, kejadian ini memang nyata. "ZEVANNA!" serunya begitu melihat temannya melintas.


Menengokkan kepala, mata Zevanna terbelalak. "Astrid!" katanya sambil setengah berlari. Zevanna langsung menggamit tangan sahabatnya dan menjauhkannya dari Jayden.


"Lo harus jelasin semuanya ke gue," ucap Astrid penuh penekanan. "Lo bilang waktu itu males—"


Zevanna membekap mulut temannya karena melihat mamanya mendekat.


"Eh, ada Astrid. Apa kabar? Lama banget ya nggak main ke sini." Melisa tersenyum ramah. "Lho, Jay, adikmu mana? Katanya nganterin baju ganti?" imbuhnya mendapati Jayden berdiam diri di ambang pintu.


Astrid melotot. Zevanna menunduk, memejamkan mata. Hidupnya kalau nggak apes, kenapa apes banget, sih?


"Bukan adik saya, Tan. Ternyata temannya Zevanna."


Melisa membulatkan bibir. "Namanya Astrid. Astrid, ini Jayden," katanya memperkenalkan.


Karena sungkan terhadap Melisa, Astrid dan Jayden bersalaman. Astrid menyunggingkan senyum paksa diiringi dehaman. Dia pikir drama itu hanya ada di layar TV, tapi ternyata dunia nyata ada yang lebih drama dibandingkan drama itu sendiri.


Setelahnya, Zevanna kembali menarik Astrid agak menjauh. "By the way, lo ngapain ke sini?" tanyanya dengan senyum dibuat-buat.


"G-gue mau balikin buku lo. Nih!" Astrid mengambil buku catatan kecil milik Zevanna dan menaruhnya di telapak tangan gadis itu. "Kayaknya ikut ketarik pas lo ngambil sesuatu waktu di apartemen gue."


"Ohh, thanks. Kalau gitu lo boleh balik sekarang. Tuh, Leon nungguin. Lo ke sini sama dia, kan?" Zevanna menunjuk-nunjuk mobil di depan rumah yang sudah ia hafal betul siapa pemiliknya.


"Mmm ... Leon kayaknya bisa nunggu satu atau dua jam. Siapa tahu lo masih kangen gue. Kan kemarin gue tinggalin lo di apartemen sendirian." Astrid mendesakkan tubuhnya agar mereka yang sudah di dekat pintu utama sedikit bergeser agak ke dalam.


"Sayangnya, gue yang nggak bisa. Gue sibuk. Oke?" Zevanna terang-terangan mendorong Astrid keluar. "Please ... please nggak sekarang," lirihnya memohon.


Walaupun kesal akan tindakan Zevanna, Astrid akhirnya mengalah melihat betapa minta dikasihaninya wajah sahabatnya. Ia melengos dan melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil Leon. Zevanna segera menutup pintu rumahnya dan membuang napas lega. Jayden dan mamanya sudah tidak tahu ada di mana. Mungkin lagi berduaan? Kepala Zevanna kontan berdenyut-denyut membayangkannya.