Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Hangat



"Papa sama Mama udah pisah, Kak," ucap Zevanna begitu mobil Marvel mulai melaju.


"Sorry, gue nggak tahu."


"Bukan salahnya Kak Marvel. Ngapain minta maaf?"


Lelaki itu menoleh. Bibirnya mengukir senyum, tapi matanya memandang prihatin. "You okay?"


Zevanna mengangguk. "Udah lumayan lama."


"Masih suka sushi?"


Pertanyaan Marvel kali ini berhasil mengembangkan senyum di bibir Zevanna. Gadis itu kembali mengangguk. Marvel menambah kecepatan agar sampai di mal lebih cepat.


Lelaki itu memesan banyak sushi, dan ia tertawa melihat raut mupeng Zevanna. Gemas, Marvel berinisiatif mengambil sushi jenis uramaki menggunakan sumpit dan menaruhnya tepat di depan bibir Zevanna. "Aaaa ...."


Zevanna bergantian melirik Marvel dan sushi sebelum kemudian tertawa dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ia manggut-manggut merasakan lezatnya makanan khas Negeri Matahari Terbit tersebut.


Selesai memanjakan mulut dan perut, Zevanna dan Marvel berkeliling dari satu lantai ke lantai lainnya. Diam-diam mereka terbayang-bayang kenangan sewaktu masih kuliah dulu. Berjalan berdampingan di mal setelah makan bersama atau sekadar menonton film. Lengkungan manis menghiasi bibir keduanya. Tidak menyangka setelah beberapa tahun mereka lewati tanpa kabar sama sekali, kini Marvel dan Zevanna bisa mengulanginya lagi.


"Eh, kembaran lo tuh!" Marvel menunjuk balon berbentuk karakter kartun anak perempuan yang rambutnya dikepang dua yang dibawa seorang anak kecil.


Zevanna kontan merengut melihatnya. Sementara pria di sebelahnya sudah tertawa puas. Sebenarnya ada alasan kenapa ia dijuluki kembaran Jadoo—karakter kartun yang katanya mirip dengannya. Selain karena hobi menonton serial Hello, Jadoo, Zevanna yang dulu kerap berdebat dengan sesama anak organisasi membuatnya jadi mirip Jadoo yang juga sering adu mulut dengan ibunya. Jadilah, ia dicap sebagai kembaran Jadoo atau kadang kakaknya Jadoo.


"Kak Marvel, berhenti nggak ketawanya?!" ketus Zevanna dengan wajah ditekuk.


Akan tetapi, alih-alih berhenti, tawa Marvel semakin menjadi karena Zevanna yang tampak lucu di matanya. Refleks, tangannya mengusap-usap puncak kepala gadis itu.


Seumpama sihir, sentuhan yang didapatkan membuat kekesalan Zevanna seketika menghilang. Ia tatap lekat lelaki yang balas menatapnya dengan sorot hangat dan senyum meneduhkan.


"Mau jalan ke mana lagi?" tanya Marvel yang lebih dulu menguasai keadaan.


Zevanna sempat mengerjap, sebelum menjawab, "Pulang aja yuk! Capek. Besok harus bantu Mama di butik."


"Okay. Bingung juga mau ke mana. Next time, kayaknya harus dipersiapkan lebih matang lagi biar nggak kayak orang gila."


"Kak Marvel aja yang kayak orang gila. Gue mah enggak." Zevanna bergidik, enggan disama-samakan.


"Tapi buktinya lo mau jalan sama orang gila. Kalau waras harusnya sih nolak." Marvel tidak kehabisan kata.


"Kak Marvel!" Zevanna memberengut.


Marvel bergerak menjauh. "Hiiiyyy! Gue nggak mau dekat-dekat orang gila."


Bugh!


Pukulan tas Zevanna mengenai tubuh kekar pria itu. Marvel mengaduh, pura-pura kesakitan yang malah dibalas dengan cibiran.


Masuk ke mobil, napas keduanya tersengal-sengal lantaran sepanjang sisa perjalanan menuju tempat parkir diisi dengan saling mengejek. Kendati lelah, senyum yang menghiasi wajah Marvel dan Zevanna cukup menjadi bukti bahwa mereka senang menghabiskan waktu bersama. Ya, mereka begitu bahagia sebelum di tengah perjalanan pulang mengalami ketidaknyamanan akibat ban mobil Marvel yang kempes.


"Ze, sorry ya. Lo mau nunggu, kan? Gue nggak bisa nyuruh lo naik taksi malam-malam begini," ucap Marvel seraya tak henti celingak-celinguk menunggu kedatangan montir yang sudah dihubunginya beberapa saat yang lalu.


"It's okay, Kak. Baru jam sembilan juga." Zevanna tersenyum simpul. Ia sungguh-sungguh tidak masalah, kecuali angin malam yang berembus kian kencang yang kian lama menusuk kulit dan membuat gaun bagian bawahnya beterbangan.


Layaknya gentleman, Marvel segera melepaskan blazernya dan memberikannya pada Zevanna. "Pakai dulu, biar nggak kedinginan," katanya.


"Thanks."


Zevanna izin untuk masuk ke mobil lagi setelah berpuluh-puluh menit menunggu, tetapi montir yang ditunggu belum juga datang, sedangkan Marvel tetap di luar. Zevanna memainkan ponselnya hingga dayanya habis, dan mungkin dia akan nekat naik taksi kalau saja montir itu tidak muncul tepat begitu kakinya menginjak aspal.


"Huhhhhh! Akhirnya ...." Marvel mengembuskan napas lega usai mobilnya beres. Ia menoleh pada Zevanna yang duduk di sebelahnya. "Ngantuk ya?" tanyanya melihat mata perempuan itu sudah merah.


Dan, Zevanna yang menguap menjadi jawaban pertanyaan lelaki itu.


"Tidur aja. Nanti gue bangunin kalau udah sampai," ucap Marvel seraya menghidupkan mesin mobil.


Tanpa pikir panjang, Zevanna langsung mencari posisi nyaman untuk memejamkan mata. Hal seperti ini sering ia lakukan dulu saat pulang malam karena harus mempersiapkan acara kampus. Di sisi lain, Zevanna percaya pada Marvel.


Sementara Zevanna terlelap, Marvel yang sedang menyetir berulang kali melirik Zevanna. Ia tak bisa mengelak bahwa perasaannya yang sempat layu pada gadis di sampingnya kini kembali tumbuh sejak pertemuan tak disengaja mereka.


"I think, I'm fallin' in love again with you, Ze." Menggunakan jarinya, Marvel menelusuri paras ayu Zevanna. Lantas, ia menepuk bahu Zevanna beberapa kali untuk membangunkan sebab mobilnya telah tiba di depan rumah gadis itu.


Zevanna menarik napas panjang sambil perlahan membuka matanya. "Emmhh ... udah sampai dari tadi ya, Kak?"


"Baru aja."


Zevanna manggut-manggut. "Kalau gitu gue turun dulu ya," katanya membuka pintu sesudah melepas blazer Marvel yang tadi masih melekat di tubuhnya.


"Mama masih bangun atau udah tidur?" tanya Marvel rikuh karena kemalaman mengantar anak gadis orang pulang.


"Udah tidur palingan. Nggak apa-apa, lagian pulang kemalaman juga ada alasannya. By the way, thanks for tonight, Kak." Zevanna lalu melambaikan tangan.


"Anytime."


Begitu mobil Marvel keluar dari gerbang, Zevanna berjalan mengendap-endap, takut Mama masih bangun. Hati-hati ia membuka pintu. Namun, bukannya mamanya, melainkan Jayden-lah yang saat ini justru memergokinya dan menatapnya seakan-akan dia adalah bandar narkoba yang siap ditangkap.


"Kenapa jam segini baru pulang?"


Zevanna membuang muka. Peduli setan! Dia melewati Jayden begitu saja.


"Zevanna!"


"Bukan urusan lo!" seru Zevanna tanpa menghentikan langkahnya.


"Tapi kamu perempuan. Mama kamu nggak pulang malam ini dan dia nitipin kamu ke aku."


"Maksud kamu?"


"Pura-pura bego!"


"Ze—"


"Udahlah!" Zevanna mengibaskan tangannya, enggan mendengarkan Jayden. Ia melanjutkan langkah menaiki anak tangga. Dan tepat ketika dia sampai di ujung, listrik tiba-tiba padam.


Hawa dingin seketika menyergap. Zevanna mengepalkan tangannya. Jantungnya berdebar-debar, tapi kakinya mendadak lemas. Satu-satunya yang bisa menolongnya saat ini adalah ponselnya. Namun, benda pipih itu telanjur mati gara-gara dipakai olehnya untuk membunuh bosan.


Zevanna membenci gelap dan sepi karena keadaan ini mengingatkannya pada kejadian tidak mengenakkan sewaktu menginap di rumah nenek di Yogyakarta.


Kala itu, Zevanna terbangun dari tidurnya. Posisinya yang miring ke kiri membuatnya langsung bisa melihat jam di dinding. Pukul satu dini hari. Zevanna yang hendak berubah posisi menjadi telentang terpaksa urung saat tiba-tiba usapan di punggung ia rasakan.


"Bobolah bobo ... ooo .... cucuku sayang .... Kalau tidak bobo digigit nyamuk ...."


Tubuh Zevanna menegang. Ia menelan ludah mendengar lagu yang biasa dinyanyikan neneknya sewaktu dirinya kecil kini ia dengar kembali tepat di telinganya. Namun, bagaimana mungkin neneknya menyanyikannya saat siang tadi Zevanna baru memakamkan jenazah neneknya?


Air mata Zevanna bercucuran disusul isakan pelan. Tidak tahu apakah itu mimpi atau bukan, tetapi Zevanna selalu takut setiap mengingatnya.


"Zevanna, kamu masih di situ?" tanya Jayden menyesali dirinya yang meninggalkan ponselnya di kamar. Ia tahu betul trauma yang dimiliki Zevanna karena mereka juga pernah terjebak dalam keadaan yang sama seperti sekarang.


"J-Jay, a-aku takut."


"Tenang, ya, tenang. Kamu bawa hape, kan? Nyalain, Ze. Hapeku di kamar."


"Hapeya mati. Jay, aku takut." Masa bodoh tadi dirinya songong minta ampun, tetapi detik ini juga Zevanna membutuhkan Jayden. Ia bahkan tidak sadar sudah pakai aku-kamu lagi seperti saat mereka masih pacaran.


Helaan napas gusar keluar dari mulut Jayden. Tidak ada cara lain lagi selain meraba-raba sekeliling demi bisa sampai di titik di mana Zevanna berada. "Aku jalan ke situ. Kamu jangan gerak, ya."


"Cepet!"


"Adaww!" Jayden mengerang gara-gara kelingking kakinya menabrak kaki meja.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa," sahut Jayden bohong. Ia menarik napas dalam-dalam sambil menggigit bibir bawahnya untuk meredam sakit yang membuatnya ingin mengeluarkan makian. "Aku udah mau naik tangga. Kamu rentangin tangan biar aku tahu," ucapnya beberapa saat kemudian.


"Kalau nanti kamu malah nangkap tangan lain yang bukan tanganku gimana?" tanya Zevanna khawatir.


Jayden terkekeh. "Enggak, enggak. Ayo, rentangin, aku udah jalan."


Walaupun ragu, mau tidak mau Zevanna menurut. Ia merentangkan kedua tangannya—padahal satu saja cukup. Lantas, sesaat setelahnya tangan lain menggenggam pergelangan tangannya. "Jayden?"


"Iya, ini aku. Senter di mana?"


"Di kamarku ada. Di loker."


"Ya, udah. Kita ke sana."


Bodohnya, Zevanna hanya mengangguk yang jelas-jelas Jayden tidak melihatnya.


"Ze?"


"Eh, iya, ayok!" Zevanna berpegangan pada kaus Jayden kelewat erat. Biar saja melar, yang penting dia selamat.


Untunglah kamar Zevanna tidak terlalu jauh. Jayden memutar kenop pintu, dan bertanya, "Lokernya sebelah mana?"


"Agak ke kanan terus lurus."


Mereka lanjut berjalan. Tangan Zevanna langsung meraba-raba begitu sampai di loker tempatnya menyimpan barang-barang baik yang penting dan tidak penting, termasuk nota pembelian teh kemasan di minimarket terdekat. Dan voila, tak butuh waktu lama kamar itu terang benderang. Zevanna bisa melihat wajah Jayden yang berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.


Bibir lelaki itu menyunggingkan senyum. "Udah," ucapnya ikutan lega.


Zevanna mendadak kikuk. "Eumm ... makasih."


"Sama-sama. Aku ke kamarku dulu, ya."


"Jangan!" Zevanna menahan kaus Jayden, membuat pria itu kembali menatapya. Zevanna memalingkan wajahnya, sadar kalau tidak seharusnya sikapnya begini. Tetapi, mau bagaimana lagi? Ketakutan dalam dirinya belum sepenuhnya menghilang.


"Mau ditemenin?"


Zevanna tahu dirinya salah. Namun, untuk malam ini, dia mau egois. Dia ingin berada di dekat Jayden sebelum nanti Jayden—mungkin—menjadi ayah sambungnya. "Mau ditemenin tidur." Seorang ayah pasti akan menemani tidur jika anaknya ketakutan, kan?


Setelah hatinya dibakar oleh api kecemburuan, Jayden tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia rindu rasanya merengkuh tubuh ramping Zevanna. Membenamkan kepala gadis itu di dadanya. Karena itu, ia menganggukkan kepala. "Ganti baju sama bersih-bersih dulu. Aku tunggu di sana." Jayden menunjuk tepian ranjang. Sudah seperti mau malam pertama saja.


"Iya, sebentar."


Mereka berjalan berlawanan arah dengan senter di tangan Zevanna. Zevanna meloloskan gaunnya, menggantinya dengan kaus dan celana pendek, lalu ke kamar mandi untuk buang air kecil dilanjut sikat gigi, cuci muka, tangan, dan kaki.


Beres! Zevanna pun menghampiri Jayden. "Jay, udah."


Jayden segera menarik selimut, memberi kode pada Zevanna agar naik ke ranjang terlebih dahulu baru dia mengikuti. Zevanna menurut setelah mengatur senter agar di level terang paling rendah supaya tidak silau.


Tidak ada suara lain selain napas mereka yang bersahut-sahutan. Mata mereka yang kembali bertemu pandang. Wangi oceanic bertemu harum bunga. Jayden merapatkan tubuhnya ke Zevanna. Sedikit merendah, lelaki itu mendekatkan wajahnya untuk kemudian mengulum lembut manis bibir gadis pujaannya. Selaksa kehangatan menyelimuti hati ketika Zevanna membalas pagutannya.


"I love you."


Tak jelas Zevanna mendengar karena Jayden buru-buru memeluknya erat usai ciuman mereka terlepas di tengah napas yang masih memburu. Apa pun itu, yang terpenting sekarang adalah Zevanna bisa merasakan kembali hangat tubuh Jayden.


"Night, Jay."


"Night, Ma Chérie."