Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Tidak Perlu Iri



Setibanya di apartemen Astrid, Zevanna langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa minimalis depan TV. Alih-alih bertanya kenapa wajahnya ditekuk, Astrid yang baru keluar kamar segera menyambar kotak kue dan memakan isinya. Zevanna jadi makin badmood. Apalagi kalau ingat tadi ojol yang dinaikinya mogok sehingga dia harus jalan kaki untuk sampai ke gedung ini.


"Enak. Tahu aja lo gue belum sarapan," ujar Astrid sambil sibuk mengunyah. Ia tahu Zevanna berhutang penjelasan padanya, tetapi yang itu nanti saja sebab yang terpenting sekarang adalah perutnya harus kenyang.


Zevanna meliriknya sinis. Kampret!


Astrid cengar-cengir. Ia meraih tisu untuk mengelap bibirnya yang agak belepotan. "Gue udah selesai, nih! Sekarang, cepet jelasin apa maksud lo di telepon tadi. Pake bilang gue sakit segala lagi. Kalau gue sakit beneran lo mau tanggung jawab?"


"Gue mau ngumpet di sini seharian."


"Hah?"


"Ngumpet, bersembunyi."


Astrid menoyor kepala Zevanna. "Ya, gue tahu kalau itu. Tapi alasannya apa?"


"Emang harus ada alasannya? Kan gue udah ngasih lo sogokan, dan lo juga udah makan. Tandanya lo ngizinin, kan?"


"Enak aja!" Astrid menjauhkan kotak kue yang telah kosong. Iyalah, isinya hanya dua potong. Zevanna pelit! Ia lantas melipat tangan di dada, kemudian melempar tatapan mengintimidasi. "Lo ngapain kabur? Hari ini lo ada job bareng nyokap lo, kan? Jangan bilang enggak, gue lihat statusnya Kak Prissy!"


Zevanna menaikkan kakinya, menendang-nendang Astrid supaya bergeser. Lalu, ia bisa merebahkan tubuhnya di sana. Helaan napas panjang berkali-kali terdengar, Zevanna memandang ke langit-langit dengan pikiran suram.


"Lo kenapa sih, Ze?" Astrid yakin ada yang tidak beres. Pertama dan terakhir kali ia melihat Zevanna begini waktu orang tuanya mau bercerai. Dan sekarang, sejarah kembali terulang. Bedanya, ia belum tahu penyebabnya, makanya mau mencari tahu.


Menatap sahabatnya sekilas, Zevanna kembali sibuk dengan pikirannya. Bagaimana ia bisa menceritakan kedekatan Jayden dan mamanya kalau baru mengingatnya saja sudah membuat hatinya sakit? Terlebih, Astrid secara tidak langsung—dulu—adalah mak comblangnya dengan Jayden. Astrid adalah orang pertama yang mengajak Zevanna makan di Halcyon. Akar dari perkenalan yang berujung dirinya bisa pacaran dengan Jayden.


"Tukang masaknya ganteng loh, Ze. Kalau kita datang di awal-awal jam restoran buka, biasanya dia yang nganterin langsung ke meja pengunjung," kata Astrid sambil menarik-narik tangan Zevanna bersemangat.


"Halah! Gantengan juga Nam Joo-hyuk." Zevanna menyebut nama aktor Korea idamannya.


"Ya, yang ini sebelas dua belas, lah, sama dia. Cuma bedanya nggak terkenal." Astrid menderaikan tawa.


Zevanna sempat mencibir sebelum masuk ke restoran. Mereka duduk di kursi dekat jendela. Zevanna yang tidak mau pusing perkara makan siang menyerahkan masalah menu kepada Astrid.


Lima belas menit berlalu, Astrid mencolek lengan Zevanna begitu melihat pintu bertuliskan "DAPUR" terbuka. Dari sana muncullah pria bercelemek putih membawa senampan makanan dan berjalan ke arah Astrid dan Zevanna. Ya, ke mana lagi, orang pengunjungnya baru mereka berdua.


"Spicy pork noodle dan pangsit kuah." Lelaki itu menaruh pesanan di meja. "Selamat menikmati dan ...."


Cintaku tak harus, miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Dering ponsel Astrid seolah menghentikan waktu di sekitar mereka. Ujung mata Zevanna mengarah ke Astrid. Yang jadi sasaran memamerkan gigi sambil tangannya mengubek-ubek shoulder bag.


"Halo, Le," ucap Astrid begitu ponselnya menempel di telinga.


Tidak perlu bertanya, Zevanna sudah tahu siapa yang menelepon. Leon! Laki-laki yang hampir setiap malam ngapelin Astrid, tapi belum juga pacaran sampai sekarang. Ck ck ck!


"Sorry nih, Ze, tapi gue mesti cabut sekarang." Astrid merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi usai telepon dimatikan. "Gue lupa ada janji nemenin Leon nyari kado buat adiknya. Lo makan sendiri ya. Bye, Cantik." Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu sudah ngacir ke luar restoran.


Tinggallah Zevanna dan tukang masak yang—ehm memang ganteng seperti yang Astrid katakan. Tubuhnya tinggi dan berotot, kulitnya putih bersih, mata sipitnya hitam dan jernih, bibirnya sedang tapi cukup tebal. Zevanna jadi salah tingkah karena laki-laki di depannya tampaknya memperhatikannya.


"Setiap satu bulan sekali, Halcyon punya misi meminta pendapat pengunjung tentang makanan yang mereka pesan. Dan kebetulan bulan ini, misi itu jatuh pada hari ini. Jadi, kalau Kakaknya nggak keberatan, bisa tolong kasih review untuk makanan ini? Boleh positif atau negatif atau dua-duanya." Laki-laki itu menyerahkan potongan kertas dan pulpen yang tadi sempat tertunda gara-gara lagu Roman Picisan milik Dewa 19.


Zevanna menerima kertas itu dengan senyum dipaksakan. Review makanan? Susu basi saja dia minum karena tidak tahu, ini disuruh jadi food reviewer ala-ala. Duh!


"Gimana, Kak? Nggak keberatan, kan?"


"Ng-nggak, tapi ...."


Satu alis pria itu terangkat. "Kenapa?"


"Saya nggak bisa nulis."


"Hah?"


"Maksud saya, kalau ditulis susah. Mending diomongin aja." Damn! Ngomong apa lo, Ze? Udah kayak orang pacaran lagi salah paham aja.


Lelaki itu mengangguk-angguk. Usai mengedarkan pandangan dan tanda-tanda kedatangan pengunjung lain belum terlihat, ia menarik kursi di sebelah Zevanna. "Kalau begitu saya temani, boleh? Saya siap dengerin komentar kamu."


Dan, persetujuan Zevanna hari itu mengubah segalanya.


"Ze!"


Zevanna terkesiap gara-gara dilempar bola-bola tisu. Ditatapnya Astrid seraya bersungut-sungut. "Apa sih?"


"Pergi aja!"


"Yakin? Gue bisa nunda sejam dua jam kalau lo mau curhat. Mumpung Rere kuliahnya siang." Astrid menaik-turunkan alisnya.


Mendudukkan tubuhnya, Zevanna duduk bersila sembari bertopang dagu. "Gue cuma takut, Trid. Gue takut punya bokap baru," ucapnya gelisah.


Apalagi bokap tirinya itu mantan gue, sambung Zevanna dalam hati.


"Hah?" Astrid menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Lo siluman kelomang ya dari tadi hah-hah mulu?" Zevanna membuang muka, manyun.


"Yeeeee ... gue kan cuma mau mastiin. Emang nyokap lo udah punya pacar?" Astrid menaruh lagi tasnya, kemudian duduk di sebelah Zevanna.


Walaupun ragu dan belum dikenalkan secara resmi, Zevanna mengangguk. "Dan pacarnya masih muda."


"Sumpah?"


"Lebih muda dari Kak Lily."


"Anjiirrrrrrr!" Astrid berdecak-decak kagum diiringi gelengan kepala. "Lo kalah dong sama nyokap sendiri?"


Kembali menatap sahabatnya, Zevanna melayangkan tatapan tajam. Seandainya peluru bisa keluar dari sana, sudah ia lontarkan agar mengenai bibir Astrid yang suka bicara sembarangan, tapi mirisnya memang kenyataan.


"Maaafffff ...." Astrid menangkupkan tangan di dada. "Tapi, Ze ... setelah dipikir-pikir," gadis itu mengernyit, "lo kayaknya nggak gini deh waktu bokap lo mau nikah lagi sama yang jauh lebih muda."


"Yang ini beda kasus."


"Apa coba bedanya?"


Bermodalkan otaknya yang pas-pasan, Zevanna mencoba berpikir keras yang sayangnya tak ia temukan jawabannya, kecuali fakta kalau calon ayah tirinya adalah mantannya. Zevanna jadi ketar-ketir. Jangan sampai senjata makan tuan. Belum saatnya Astrid mengetahui Jayden dekat dengan mamanya atau bila perlu tidak usah tahu.


"Apa?" ulang Astrid tak sabar.


"Ya ... ya beda, lah! Masa gue panggil papa ke laki-laki yang seumuran sama Kak Nando!"


"Tapi kakak lo santuy aja, tuh, punya mama baru yang umurnya bahkan cuma beda beberapa bulan."


"Yeuuu! Kan kondisinya beda. Pertama, Kak Nando nggak serumah sama Kak Lily. Dia juga udah nikah, udah betah di Spore sama anak istrinya. Kalaupun pulang juga pasti 'kan ketemunya sebentar. Nah gue! Tinggal seatap, ketemu tiap hari. Bisa lo bayangin kalau gue pergi berdua sama nyokap dan suami barunya? Yang ada gue nggak sih yang dikira pacar atau istri bokap tiri gue?" Kelegaan berangsur-angsur memenuhi hati Zevanna. Dia memang pintar mencari alasan. Buktinya saja Astrid sekarang manggut-manggut percaya.


"Masuk akal sih, tapi ...."


Zevanna kembali waspada. Apa pula Astrid ini dari tadi tapi-tapi terus. Tidak tahukah kalau degup jantungnya sudah mencapai kecepatan maksimal?


"Sorry nih sebelumnya, cuma dari dulu gue nggak ngerti kenapa orang tua lo bisa cerai." Astrid melirik Zevanna untuk mengetahui reaksi sahabatnya. Dan begitu melihat Zevanna tampak santai, ia lanjut berkata, "Zaman kita jadi maba, pas gue masih kere, gue 'kan suka main, numpang makan, dan kadang nginep di rumah lo. Gue lihat bokap nyokap lo tuh mesra banget. Ngapa-ngapain berdua, ke mana-mana berdua, tapi nggak ada apa-apa tahu-tahu mereka pisah. Jadi kayak, kok bisa sih?"


"Lo tahu? Lo orang kesekian yang bilang kayak gitu setelah keluarga besar gue juga mengatakan hal yang sama." Zevanna tersenyum kecut.


"Serius?"


Zevanna mengangguk mantap. "Keluarga gue sebenernya nggak seharmonis yang orang-orang lihat. Karena bokap pendiam aja makanya kesannya jadi kayak keluarga di negeri dongeng." Pandangan Zevanna mengawang, pikirannya terlempar ke beberapa tahun silam. "Nyokap posesif banget, dan gue mulai sadar keluarga gue nggak baik-baik aja waktu awal-awal masuk SMA. Dulu, kalau nyokap sibuk dan bokap enggak, bokap tuh santai. Dia bakal ngisi waktunya dengan olahraga, baca buku, atau kadang ngajak gue pergi makan. Tapi, giliran bokap yang sibuk dan nyokap enggak, nyokap bakalan cerewet banget. Dia selalu nanya bokap pulang jam berapa, kalau udah waktunya pulang tapi belum sampai rumah bakal diteleponin terus. Pernah dulu, bokap disamperin nyokap pas lagi makan sama teman-temannya karena habis menang proyek besar. Lo bayangin deh, lo lagi seneng-seneng, tiba-tiba Leon datang marah-marah dengan alasan yang sama sekali nggak terbukti. Kesel banget, kan?"


Astrid hanya mengangguk.


"Makanya nggak usah iri kalau lihat orang lain senang karena kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Sorry ya, Ze."


Zevanna menatap aneh temannya. "Buat?"


"Jujur gue pernah iri sama lo. Bahkan setelah orang tua lo cerai, lo masih bisa deket sama mereka. Sementara gue, setelah orang tua gue cerai, mereka sibuk sama pasangan mereka yang baru. Gue ... gue cuma kadang kasihan sama Rere." Astrid mendadak sesenggukan.


"Ahh," Zevanna dengan cepat menghapus air matanya, "yang udah biarin aja nggak sih, Trid? Kita fokus sama masa depan aja, yuk! Cari cara gimana biar bahagia, biar orang lain nggak bisa nyakitin kita."


"Setuju!" sahut Astrid dengan berurai air mata.


Kedua sahabat itu berpelukan erat yang hanya bertahan sesaat karena terganggu dering ponsel Astrid.


"Lo udah berangkat belum, sih? Kelas gue dimajuin. Cepetan ke sini. Ada kurir bentar lagi datang buat ambil paket." Di ujung telepon Rere mengomeli kakaknya.


"Iya, iya. Gue berangkat nih!" Sembari menyambar tasnya, Astrid menjelaskan kepada Zevanna kemudian berpamitan.


Ditinggal sendirian, Zevanna yang bingung hendak melakukan apa memilih kembali merebahkan tubuhnya. "Capek abis nangis. Tidur aja kali, ya?" ucapnya, lantas tak butuh waktu lama matanya pun terpejam. Benar-benar lelap sampai Zevanna tak mendengar ponselnya berdering hingga puluhan kali.