
Jam demi jam Jayden habiskan dengan duduk sambil memainkan PlayStation. Kendati demikian, lelaki berwajah oriental itu jelas sadar bahwa pikirannya tidak terletak pada permainan pada monitor di depannya. Pertengkarannya dengan sang papa terus membayang di depan mata hingga senja tiba dan pemilik tempat di mana dirinya berada kembali menunjukkan batang hidungnya.
Lelaki yang baru saja pulang itu Thomas. Ia menghela napas lelah sebelum duduk di sebelah sahabatnya dengan lirikan mata curiga. "Lo ada masalah apa lagi, sih?" Thomas meloloskan tanya yang tadi pagi sempat tertunda karena harus buru-buru berangkat bekerja.
"Nggak ada."
"Bohongnya jelek lo!" Thomas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Jayden. "Lihat nih adek lo spam chat ke gue."
[Ko Jay ada di tempatmu nggak, Ko?]
[Jangan bohong]
[Suruh bales chat gue kalau ada]
[Atau nggak suruh nemuin gue]
[Ditungguin]
[Bales jangan cuma dibaca doang!!!]
Jayden hanya melengos usai membacanya. Ia taruh stick PS, kemudian menyandarkan tubuhnya dengan kaki bersila dan tangan dilipat di dada.
"Yeeeee! Bukannya jawab malah makin diem!" Thomas ngomel-ngomel. "Kalau ada masalah tuh diselesaikan, bukannya lari kayak bocah."
"Udah selesai," sahut Jayden datar.
"Nggak mungkin!" sanggah Thomas. Lelaki itu meninggalkan Jayden sebentar untuk berganti pakaian dan mengambil minum. "Calon istri gue nggak mungkin kayak gitu kalau masalah kalian udah kelar," katanya begitu kembali duduk. Bukan di sebelah Jayden lagi, melainkan di karpet bulu depan TV.
"Calon istri mata lo soak!" umpat Jayden tak terima.
Thomas terbahak-bahak. "Ya, udah. Sekarang lo mau balik atau mau gue anterin atau gue kasih tahu calon istri gue buat ke sini?"
Jayden mendelikkan mata. Thomas adalah definisi teman tidak ada takut dan tidak punya urat malu. Jayden membuang napas kasar. Jujur saja, ia ingin menemui adiknya, tetapi Jayden yakin jika hari ini Joanne pasti bolos magang dan malah menemani ayah mereka di rumah sakit.
"Gue bilang aja lo di sini deh, ya!" putus Thomas yang kembali dibombardir pesan oleh Joanne.
"Jangβ"
Ucapan Jayden tidak selesai. Gadis yang seharian ini mencarinya kini sudah berdiri di hadapannya.
Thomas meliriknya sambil menelan ludah. Lantas, membuka aplikasi game agar dikira sibuk padahal telinganya siap menguping.
"Ikut gue, Ko," ucap Joanne lemas, kontras dengan raut kesalnya yang teramat kentara.
"Mau ngapain?" tanya Jayden retoris.
"Papa udah diizinin pulang."
Papa? Thomas mengerutkan kening, lalu membelalak. "PAPA?" sambarnya menyadari siapa yang sedang dibahas kakak beradik ini di apartemennya.
Joanne mengangguk. "Papa udah pulang, Ko," jawabnya tertuju pada Thomas.
Jayden tersenyum sinis. "Pulang tinggal pulang. Emang mau pulang ke mana tuh orang?"
"Sopan dikitlah, Ko!" tegur Joanne tidak suka akan sikap kakaknya. "Gue denger semua omongan lo tadi pagi. Seharian ini gue juga udah ngomong sama Papa dan ya ... dia janji nggak akan pergi lagi. Tapi, tentang masalah lo sama Zevanna ...."
"Zevanna?" Lagi-lagi Thomas menyambar.
Jayden langsung meraih kunci motor di meja dan menarik Joanne sebelum adiknya itu berkata lebih banyak lagi.
"Woy, Jay! Diem-diem, diem-diem ya lo!" seloroh Thomas tepat sebelum dua tamunya lenyap dari pandangan.
Jayden dan Joanne kompak tidak menanggapi. Kakak beradik itu kini sudah berada di dalam lift menuju basemen gedung.
"Ngomong apa aja lo sampai bokap luluh?" Jayden melirik adiknya sekilas.
Menyandarkan tubuhnya, helaan napas lelah terdengar. Joanne melipat tangannya di dada. "Nggak banyak sih."
"Banyakan nangisnya?" sahut Jayden disusul tawa. Lantas, tinju pelan di bagian lengan atas pun tak terhindarkan.
"Buktinya lo tersinggung. Berarti bener, kan?"
Bibir tipis Joanne mengerucut. Kesal kenapa dirinya mudah sekali tertebak.
"Ngambek?"
Gadis itu menggeleng. Mereka telah tiba di basemen dan siap menaiki kendaraan masing-masing. Namun, sebelum keduanya berpisah, Joanne berkata, "Gue cuma tanya kenapa pengin pergi lagi. Emang nggak pengin lihat anak-anaknya sukses? Nggak mau lihat gue wisuda? Gue nggak nuntut banyak, gue juga bisa adaptasi sama keadaan keluarga kita yang sekarang. Gue cuma mau kita sama-sama. Sesusah itukah?"
Memutar badan, senyum kebanggaan Jayden persembahkan kepada adik semata wayangnya. "So proud of you."
"Lo mau kan, Ko?" tanya Joanne sama sekali tak mengindahkan. "Terima dan maafin Papa walaupun gara-gara Papa lo gagal balikan sama Zevanna."
"Jangan sebut nama dia lagi," ucap Jayden, lalu melanjutkan langkahnya menuju motornya.
Tiba lebih dulu di rumah sakit, Jayden pun bergegas menemui ayahnya. Hendri sudah mengganti seragam pasien dengan baju miliknya. Senyum samar terukir di bibir pria pertengahan 50-an itu.
"Jay, kamu ke sini lagi."
"Joanne belum sampai. Dia yang bawa mobil," ucap Jayden mengabaikan ungkapan bahagia ayahnya.
"Iya. Terima kasih, Jay."
Jayden hanya diam. Dipandanginya ayahnya yang juga masih menatapnya lekat. Sekelebat rasa bersalah hinggap di hati karena ketidaksopanannya serta dirinya yang telah menjual mobil sang papa. "Pa ...."
"Huahhh ... jalanan macet banget." Joanne tiba-tiba muncul. "Sorry ya, Pa, lama," imbuhnya diiringi embusan napas lelah.
Hendri mengusap-usap puncak kepala putrinya. "Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat."
Joanne tersenyum senang. Senyum yang dalam sekejap hilang melihat bagaimana ekspresi ayah dan kakaknya. Ia memutar badan dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Kenapa, Jo?" tanya Hendri peka akan perubahan raut wajah anak bungsunya.
"Kayaknya cuma aku yang senang di sini. Papa sama Koko enggak." Joanne tersenyum getir. Ia menatap keluar agar matanya yang sontak berkaca-kaca tidak ketahuan.
Jayden dan papanya saling berpandangan. Seonggok rasa bersalah kembali menyeruak di hati keduanya. Lantas, Hendri yang sudah lebih dulu berdamai dengan keadaan dan dirinya sendiri mencoba menggenggam tangan putranya. "Maafkan Papa, Jay. Kamu benar, Papa sangat egois. Papa nggak memikirkan perasaan anak-anak Papa. Papa sudah menelantarkan kalian." Ada jeda, untuk sejenak pria tua itu menarik napas panjang. "Maafkan Papa. Tolong, beri Papa kesempatan untuk memperbaiki dan bertanggung jawab atas kalian."
Air mata Jayden ikut membayang dan jatuh tepat setelah air mata papanya membasahi punggung tangannya.
"Papa masih ada sedikit tabungan. Kita bisa menggunakannya untuk berjualan makanan," Hendri meragu, "memang jauh jika dibandingkan dengan yang dulu. Tapi, tidak ada salahnya mencoba, kan?"
"Pa, sebenarnya ...." Jayden mendesis. Bola matanya bergerak tak tentu arah. Bagiamana cara mengatakannya?
"Kenapa, Jay?"
"Aku ... aku minta maaf. Aku sudah menjual mobil Papa," aku Jayden tertunduk.
Bukan marah, melainkan senyum yang menjadi respons Hendri. Pria itu memegangi kedua bahu putranya dan menepuk-nepuknya cukup keras. "Papa sudah tahu."
Sontak saja Jayden menegakkan kepala. Bibirnya setengah terbuka dan matanya membelalak sempurna. "Dari mana ...."
"Aku yang bilang! Koko jual mobil itu biar aku tetap bisa lanjut kuliah, kan?" cetus Joanne yang sudah berdiri di antara dua pria yang paling berharga untuknya.
"Papa bangga sama kamu, Jay." Senyuman Hendri kian lebar. Pun dengan kedua anaknya yang kini juga menampilkan raut serupa.
Sorot hangat terpancar dari setiap pasang mata keluarga kecil itu. Hendri merentangkan kedua tangannya, lantas anak-anaknya menyambutnya. Mereka berpelukan untuk menumpahkan rindu sebelum esok memulai yang baru.
.......
.......
.......
...Mau bilang makasih buat yang masih setia membaca dan menunggu cerita yang update-nya nggak rutin ini. Tapi, maaf ya teman-teman, aku harus istirahat sebentar mungkin seminggu atau lebih karena kesehatanku belum juga membaik. (atau tamatnya gini aja kali ya?)...
...Buat kalian, jaga kesehatan ya πππ...