Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Tamu Pagi Hari



Zevanna kelabakan ketika membuka mata dan mengecek ponselnya terdapat puluhan missed call serta pesan dari mamanya yang memintanya untuk segera ke butik. Dan, Zevanna makin kelabakan saat menghubungi balik, tetapi nomor mamanya tidak aktif.


"Semoga nggak terjadi sesuatu sama Mama," mohon Zevanna sama sekali tidak mengurangi kecemasannya. Sembari berjalan menuju lift, ia memesan ojol untuk mengantarnya ke butik mamanya.


Sesampainya di sana, prasangka buruk di batok kepala Zevanna makin menjadi melihat keadaan butik sepi juga berantakan. Apa yang telah terjadi? Apa jangan-jangan butik mamanya habis kerampokan, lalu mamanya dan yang lain jadi sandera?


Gadis itu berjalan mengendap-endap. Takut jika perampoknya masih ada di situ lalu ia ikut-ikutan disandera. Matanya memindai waspada. Zevanna melongokkan kepala sebelum memasuki ruangan yang letaknya agak ke dalam, tempat mamanya biasanya menerima tamu.


"Zevanna!"


"Aakkkhhh!" Zevanna spontan menjerit mendengar namanya dipanggil dan bahunya ditepuk. Ketika ia berbalik badan, ada Nadira di belakangnya.


"Kamu ngapain kayak gitu?"


"M-mbak Nadira," Zevanna menelan ludah, "tadi Mama missed call aku banyak banget. Pas aku telepon balik malah nggak aktif. Dan aku kaget pas sampai sini kondisinya begini. Ini kenapa, Mbak? Mama nggak apa-apa, kan? Mama di mana sekarang?"


Nadira mengulas senyum tipis, lantas mengajak Zevanna duduk untuk mendengar cerita tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.


Gwen telah siap. Berdiri di depan kamera dengan latar kain putih yang dipasang sedemikian rupa. Begitu luwes, gadis itu melakukan berbagai macam gaya. Menjadikan senyum di bibir Melisa mengembang sempurna melihatnya.


Ganti busana kedua, Gwen enyah dari tempatnya. Berganti Olive yang telah siap dengan atasan bermodel kimono dengan sentuhan batik di salah satu sisinya dan brokat di bagian pinggang. Jayden mengacungkan jempolnya, tanda bahwa Olive telah berdiri di titik yang tepat.


Detik berikutnya, blitz kamera menyala. Satu jepretan, dua jepretan, lalu saat Olive berganti pose ketiga, saat itulah kejadian tak terduga yang membahayakan nyawa menimpa. Plafon yang terdapat di atas gadis itu tahu-tahu ambrol dan mengenai sang model. Olive langsung mengerang kesakitan dan perempuan itu berteriak histeris mendapati darah mengalir di kepalanya.


Suasana semakin tidak kondusif saat Keynara yang takut darah seketika pingsan kala mengetahui apa yang baru saja terjadi. Sementara Jayden segera memapah Olive menuju ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit, Melisa menelepon Zevanna.


"Angkat dong, Ze!" Melisa berdecak kesal.


"Tante, mau ikut ke rumah sakit?"


Melisa menoleh dan segera mengangguk mendengar pertanyaan Jayden barusan. Jelas dia harus ikut. Dia yang bertanggung jawab atas kejadian ini, makanya dia menelepon Zevanna dengan harapan anak itu yang meng-handle kekacauan butik hari ini.


"Aku ikut ya, Tante!" seru Priscilla buru-buru, tepat sebelum Melisa dan Jayden masuk ke mobil.


Walaupun agak keberatan sekaligus aneh karena tidak berkepentingan, Melisa yang malas berdebat terpaksa mengiakan. "Iya, cepat!"


Priscilla dengan semangat membara menambah kecepatan jalan, lalu duduk di sebelah Jayden. Sementara di jok belakang ada Melisa yang memegangi Olive yang terus-menerus mengeluh pusing.


Setibanya di rumah sakit, sembari menunggu Olive ditangani, Melisa kembali mencoba menghubungi Zevanna yang lagi dan lagi tidak mendapat jawaban. Pesan-pesan yang ia kirim juga tidak dibaca. Benar-benar anak bungsunya itu menguji kesabaran.


"Terus, kalau Keynara sekarang di mana, Mbak?" tanya Zevanna.


"Keynara tadi pulang diantar Gwen sama Bobby nggak lama setelah siuman."


Zevanna membulatkan bibir. Jika semua sudah ditangani, untuk apa Mama menghubunginya? "Mbak Nad, kira-kira tahu nggak kenapa Mama telepon aku?"


"Kalau itu, saya kurang tahu, Ze. Coba kamu susul Bu Melisa-nya ke rumah sakit. Beliau sepertinya masih di sana."


Rumah sakit? Ntar ketemu Jayden, dong? Dih, males banget!


Usai mengambil keputusan, Zevanna berpamitan dan meninggalkan butik mamanya. Dia tidak akan ke rumah sakit. Cari mati namanya kalau ke sana. Zevanna akan menunggu mamanya di rumah. Lagi pula, mamanya juga baik-baik saja.


Pada akhirnya, Zevanna menyerah sesudah menunggu hingga satu setengah jam berikutnya, tetapi mamanya belum juga menampakkan kedatangannya. Zevanna beranjak ke kamar sambil meyakinkan bahwa besok mungkin jauh lebih tepat untuk membicarakan hari ini.


Zevanna bangun lebih awal dari biasanya. Selain mandi dan melakukan skincare routine pagi, ia juga harus menyiapkan mental sebelum menemui mamanya. Terlebih beberapa menit yang lalu, ketika telinganya menangkap derap langkah kaki, Zevanna yang mengintip lewat celah pintu kamar bisa melihat betapa seramnya wajah sang ibu. Suaranya saat memerintah Mbok Diah membuatkan teh juga tak kalah menyeramkan.


Zevanna bergidik ngeri. Namun, bagaimanapun juga dia harus menghadapinya. Gadis itu menuruni tangga, menuju meja makan. Dan benar, mamanya langsung menatapnya tajam secara terang-terangan. Seketika nyali Zevanna ciut.


"Muncul juga kamu," ucap Melisa sinis sebelum menyesap teh melatinya. "Ke mana aja kemarin?"


"Aku ...."


"Teman sakit langsung tanggap, orang tua kena musibah dihubungi susahnya minta ampun," potong Melisa. "Kenapa nggak datang ke rumah sakit? Bukannya Nadira udah ngasih saran kamu buat nyusulin Mama?"


Jayden sialan, batin Zevanna benci setengah mati. Jika laki-laki itu tidak muncul di kehidupan mamanya, ini semua pasti tidak akan terjadi.


"Ze!"


"Aku 'kan nggak bawa mobil, Ma. Ke sana mau ngapain? Yang ada malah nyusahin. Semalem aku nungguin Mama, tapi Mama nggak pulang-pulang jadinya aku tidur duluan. Ze tahu, Ze salah. Ze minta maaf." Dengan Zevanna mengganti kata aku dengan namanya, itu tandanya dia benar-benar merasa bersalah.


Akan tetapi, tidak semudah itu bagi Melisa untuk memaafkannya. Pelan tapi pasti dia harus membuat Zevanna ikut terjun ke dunia fashion yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Karena jika tidak, siapa lagi yang akan meneruskan hasil kerja kerasnya yang sekarang bisa dibilang tinggal memetik hasilnya.


Mahakarya yang dihasilkan Boutique de Charme memang tidak bisa diragukan lagi setelah tahun kemarin beberapa gaun rancangan Melisa dipakai oleh artis papan atas Indonesia dalam acara penghargaan musik dan film.


"Kamu sudah tahu, kan, apa yang terjadi dengan butik Mama?"


Zevanna mengangguk.


"Mama berencana merenovasi semuanya biar kejadian kayak kemarin nggak sampai terulang lagi, dan pastinya Mama bakalan sibuk banget. Jadi, Mama minta tinggalin job MUA kamu dan gantinya bantuin Mama seenggaknya sampai pameran gaun pengantin."


"Nggak! Nggak! Aku nggak mau!" Zevanna refleks menggeleng.


"Kamu mau dimaafin sama Mama, nggak?"


"Tapi, Maaaa ...."


"Keputusan ada di tangan kamu. Tapi, kayaknya kamu nggak perlu ambil pusing, deh. Kan tinggal pindah ke rumah Adrian kalau kamu nggak setuju sama syarat Mama." Setelah berkata demikian, Melisa meninggalkan meja makan.


Mendengar nama ayahnya diseret, Zevanna memberengut kesal. Masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Papa, lantas kenapa mamanya harus bilang begitu? Tidakkah mamanya sadar kalau ucapannya melukai hati sang anak?


Kendati sudah bercerai, Zevanna sedikitpun tidak pernah menjadikan mereka alternatif pelarian jika sedang ada masalah dengan salah satu dari keduanya.


Dan lagi, membantu pekerjaan mamanya? Walaupun menyukai dunia fashion, tapi Zevanna mencintai dunia make up lebih dari apa pun. Suatu hari, Zevanna ingin dikenal banyak orang karena dia adalah seorang make up artist, bukan seorang anak pemilik butik yang meneruskan usaha ibunya. Kedengarannya memang tidak buruk, tetapi memiliki cita-cita tersendiri juga tidak ada salahnya, kan?


Kekusutan pikiran Zevanna akhirnya terpaksa disingkirkan lantaran bel rumahnya berbunyi. "Mbok?" Ia memanggil asisten rumah tangganya.


Tidak ada sahutan. Sesaat kemudian, Zevanna baru ingat jika jam-jam segini Mbok Diah pergi ke pasar lewat pintu samping. Dengan berat hati ia beranjak.


Zevanna berjalan menuju pintu utama rumahnya dan membukanya. Mulanya, ekspresinya biasa saja sebelum kemudian tamunya membalikkan badan, menghadapnya. Tubuh Zevanna mendadak kaku. Lidahnya kelu melihat laki-laki yang balas menatapnya tanpa berkedip.


Jayden?