
"Itu Jayden bukan sih?" Zevanna masih berusaha meyakinkan. Tubuhnya bahkan dicondongkan ke depan saking penasarannya.
Diam-diam Astrid mencubit paha Leon. Cewek itu tidak berbuat salah, tetapi tidak tahu kenapa rasanya seperti ikut-ikutan dikuliti hidup-hidup gara-gara kelakuan temannya.
"Mata gue nggak jelas. Minusnya nambah kali ya?" Zevanna mengerjap-ngerjap.
Marvel belum juga membuka suara. Dan karena itulah Astrid makin ketar-ketir. Zevanna kalau nggak ngerepotin, ya ngerepotin banget.
"Ehm, kita kayaknya balik aja nggak sih?" ucap Astrid rikuh. "Yang, besok kamu mesti bangun pagi buat bantuin Papi nyiapin acara family gathering, kan?" tanyanya tertuju pada Leon. Senyum memaksa tersirat di bibirnya.
"I-iya. Nyokap juga udah chat lagi, nih!" Leon merutuk dalam hati. Kenapa pula dia mendadak gagu seperti barusan. Malu-maluin!
"Kak, Zevanna bawa ke apart gue aja. Tapi, lo yang anter ya. Mobil Leon ada banyak barang. Gimana?" ujar Astrid.
Marvel hanya mengangguk.
Setelah Astrid memberitahu di mana gedung apartemennya, Marvel memapah Zevanna keluar dari restoran. Begitu pacarnya telah duduk dengan benar, Marvel yang juga sudah berada di balik kemudi memandangi Zevanna. "Do you still love him, Zevanna?" tanyanya disusul senyum kecut.
Satu tangan pria itu terulur untuk menangkup wajah Zevanna. Dielusnya pipi gadis itu dengan perih menggelayuti batin.
Sayup-sayup mata Zevanna terbuka. Erangan pelan terdengar dari mulutnya. Lantas, sebuah senyuman terukir di sana. Zevanna memegangi tangan Marvel yang masih setia membelai wajahnya. "I miss you, Ko," ucapnya lantas sebuah kecupan mendarat di punggung tangan si lelaki.
Marvel tersenyum miris. Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum kecil sampai tangannya yang bebas mencengkeram kuat setir guna membentengi sakit yang menderanya.
"Do you miss me too, Ko?" Di tengah kesadarannya yang kian menipis, pandangan Zevanna mengawang. Ia merangkum wajah Marvel yang ia pikir adalah Jayden, kemudian dibawanya lelaki itu ke dalam pelukannya. "Harusnya aku bisa lebih sabar buat dengerin kamu, Ko. Harusnya aku nggak segegabah ini buat nerima Kak Marvel. Sekarang aku bingung." Isak tangis Zevanna lirih terdengar. "Kak Marvel baik banget. Papa dan Mama suka banget sama dia. Aku juga udah kenalan sama keluarga Kak Marvel. Tapi ... perasaanku nggak bisa bohong."
Marvel makin menyerukan wajahnya ke leher sang kekasih. Mendekapnya erat, menumpahkan segala rasa sakitnya. Ia pernah patah hati, tapi tidak ada yang sampai sesakit ini.
"Itu alasannya." Masih setia dalam menatap lekat Zevanna, Marvel lanjut berkata, "Kamu baik, Zevanna. Tapi aku pantas dapat perempuan yang juga sayang sama aku, kan?"
Air mata sang gadis tak bisa lagi dibendung. "Aku minta maaf, Kak."
"Aku maafin kamu, dan semoga kamu belajar banyak dari kejadian ini."
Zevanna hanya mampu mengangguk. Hatinya turut sakit melihat pancaran luka dari laki-laki yang memperlakukannya dengan sangat baik, yang sialnya penyebabnya adalah dirinya sendiri.
Marvel membuka jendela dan membuang benda itu begitu saja. Zevanna membelalak dibuatnya.
"Kenapa dibuang, Kak?" Parau gadis itu berkata.
"Biar kita sama-sama nggak terbebani. Aku nggak mau kamu merasa terus bersalah setiap melihat cincin tadi, dan aku juga nggak mau menyimpannya karena itu bakalan bikin aku inget kamu terus."
"Kak ...."
"Ucapan kamu waktu itu benar, Ze," Marvel menghela napas berat, "aku nggak benar-benar sibuk. Aku sengaja menghindari kamu. Ada banyak yang aku renungkan selama dua minggu ini. Aku juga berusaha untuk denial, tapi pada akhirnya aku nggak bisa. Aku kalah. Dan aku semakin yakin dengan keputusanku setelah apa yang kita lakukan hari ini.
Sakit, Zevanna, setiap aku inget gimana kamu menganggap aku Jayden dan dengan mudahnya kamu ngasih pelukan. Dengan mudahnya kamu membagikan apa yang kamu rasakan. Tapi sama aku, kamu sangat tertutup." Memalingkan wajah, Marvel tertawa hambar seraya menghapus air matanya yang menetes. "Sorry, aku cengeng ya?"
"Nggak. Nangis itu manusiawi." Tangisan gadis itu sudah berhenti. Namun, sesekali air mata diam-diam jatuh mengaliri pipi.
Marvel membasahi bibirnya, dan kembali ia berkata, "Kalau tadi aku nggak nawarin buat nemenin, kamu mungkin nggak bakal ajak aku ikut jengukin adikmu yang baru lahir."
"Kak, sorry, aku cuma malu."
"Kenapa mesti malu?"
"Karena keluargaku udah nggak kayak dulu. Kamu juga kaget, kan, waktu lihat ternyata istri papaku masih muda."
"Kamu bukan malu, kamu cuma nggak mau nunjukin kekurangan dalam diri kamu, dalam keluarga kamu ke aku. Bukan karena kamu nggak percaya aku, tapi karena kamu merasa nggak nyaman." Marvel kembali menoleh, memandang Zevanna yang juga tengah menatapnya. "Semua orang punya kekurangan. Tapi karena saling mencintai, mereka nggak malu. Mereka justru akan menerima dan saling melengkapi. Dan mirisnya itu yang nggak bisa kamu lakuin ke aku."
Kontras dengan suasana di luar yang semakin malam semakin ramai, keadaan di dalam mobil Marvel dibiarkan hening. Marvel mengingat setiap perkataannya kepada Zevanna, dan ketika merasa semua sesuai dengan apa yang dirasakannya, ia membuka suara, "Terima kasih untuk waktu yang sebentar ini. Aku minta maaf. Hubungan kita benar-benar cukup sampai di sini."
"Aku yang seharusnya minta maaf, Kak. Aku yang udah nyakitin kamu. Aku yang nggak bisa balas perasaan kamu ...." Gadis itu menunduk, menyembunyikan air matanya.
Sayangnya, Marvel terlalu baik sehingga tidak sampai hati jika hanya menyaksikan. Ia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Zevanna dan mengangkatnya. "Boleh nggak aku peluk kamu?"
Lantas saat Zevanna mengiakan, Marvel segera mendekap tubuh rapuh itu. Tangisan Zevanna terdengar nyaring di telinganya sesaat kemudian. "Jangan nangis. Nanti aku tambah berat buat lepasin kamu." Ia mengelus punggung yang justru tambah bergetar karena ucapannya.