Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Pertengkaran



"Kak Marvel, tahu dari siapa gue di sini?" Adalah pertanyaan Zevanna pada keesokan paginya ketika Marvel kembali menampakkan diri.


Perasaan gadis itu sudah lebih baik berkat Mama. Lantas, malamnya Papa juga menjenguk serta menginap sehingga Mama bisa istirahat dengan nyaman di rumah. Sayang, Papa sudah lebih dulu pulang sebelum Marvel datang. Sementara Mama belum menunjukkan batang hidungnya hingga sekarang.


"Teman gue ada di mana-mana," jawab Marvel sambil mengamati kondisi Zevanna.


Zevanna menorehkan senyum rikuh. Lupa kalau lelaki di hadapannya adalah seorang social butterfly. "Sorry for yesterday."


Binar di wajah Marvel meredup. "Yang kemarin itu ... mantan lo?"


"Hmm ... namanya Jayden." Zevanna memberitahu.


"Udah lama putusnya?"


"Setengah tahun lebih."


"Gara-gara?"


Tawa miris Zevanna meluncur begitu saja. Gadis itu menggelengkan kepala dengan tatapan nanar yang menyakitkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Itu yang gue nggak tahu. Dia mutusin gue terus setelahnya ngilang dan kemarin tahu-tahu muncul lagi minta gue buat dengerin dia dan ya ... karena kebodohan gue, gue malah berujung di sini sekarang."


"Do you still love him?"


Zevanna mengedikkan bahu. "Semisal masih, gue nggak yakin. Soalnya banyakan sakitnya daripada senengnya."


"So, what's your answer for my question?"


Zevanna bergeming memandang Marvel. Wajah lelaki itu yang terpahat indah menjadikan Marvel serupa malaikat karena diterpa cahaya mentari pagi. Bibir Zevanna berkedut melihat segaris senyum ramah andalan Marvel tersungging di depan mata. "To be honest, I also fell in love with you, Kak."


"And now?"


"As you said, let's create our love story."


Melangkah maju, senyum di bibir Marvel terpatri kian lebar. Ia mengulurkan kedua tangan, ingin memeluk. Zevanna memandangnya dengan hawa panas yang menyergap pipi. Tertunduk malu, gadis itu menggigit bibir untuk menyembunyikan senyum yang sayangnya sia-sia. Marvel melihatnya, lalu tanpa ragu lagi segera merengkuh kekasihnya.


Zevanna bahagia. Begitu pula dengan Marvel. Tetapi, tidak dengan si penonton yang kini telah berbalik dengan rasa perih yang menggelayuti.


Jayden kalah. Ia sampai harus duduk di kursi tunggu untuk menyandarkan tubuhnya yang seketika lemas. Cukup lama ia di sana sampai akhirnya beranjak karena melihat seorang suster memasuki ruang rawat ayahnya.


"Kira-kira kapan saya bisa keluar dari sini, Sus?" tanya Hendri ketika suster mengganti perban di kakinya.


"Nanti sore atau paling lambat sepertinya besok. Untuk pastinya nanti bisa tanya saat dokter visit ya, Pak," jawab suster tersebut ramah.


Suster itu berdeham pelan. Wajahnya menampilkan ekspresi kurang enak. "Saya lihat anak Bapak selalu menunggui di sini. Orang tua biasanya senang di dekat anaknya kalau sedang sakit. Jadi cepat sembuh juga."


"Saya cuma bikin susah. Yang ada nanti tambah merepotkan. Kalau saya pergi, keadaan mungkin akan lebih baik."


Pintu ruang rawat dibuka dari luar, memunculkan Jayden yang rahangnya sudah mengeras. Matanya menyelia tajam sang papa. Lantas, beralih kepada suster untuk bertanya, "Sudah selesai, Sus?"


"Sudah, Pak." Suster itu memasukkan kain kasa kotor ke kantung plastik putih dan membuangnya di tempat sampah khusus medis, kemudian pamit keluar.


Bersamaan dengan bunyi pintu ditutup, Jayden kembali memandangi ayahnya dengan perasaan luar biasa kecewa. "Kalau Papa berniat untuk pergi lagi, lalu untuk apa Papa meminta rumah sakit menghubungiku, ha?"


"Papa hanya akan jadi beban buat kamu, buat Joanne." Hendri membuang muka.


"Egois!" desis Jayden murka. "Kalau Papa nggak mau jadi beban seharusnya Papa jangan minta aku datang ke sini!"


"Papa nggak punya pilihan."


"Oohh ...." Jayden manggut-manggut, lalu secepat kilat menghapus air mata yang sialnya jatuh. "Sekarang karena Papa sudah sehat lagi, Papa jadi merasa punya pilihan. Iya?"


"Bukan begitu, Jay." Hendri mengusap wajahnya. Bingung bagaimana mau menjelaskan. Jayden belum pernah kehilangan seseorang yang amat sangat dicintai. Putranya itu pasti tidak bisa memahami perasaannya.


"Terus gimana?" tanya Jayden tak mampu membendung emosi. "Nggak inget kemarin Joanne nangis minta Papa buat nggak pergi lagi?"


"Papa inget, tapi Papa nggak bisa. Papa ... selalu keinget sama mamamu," ungkap Hendri. Suaranya parau, lantas air mata mengaliri wajahnya yang sudah terdapat banyak kerutan halus.


"Apa berada di luaran sana membuat Papa bisa lupa sama Mama? Apa berada jauh dari aku sama Joanne membuat Papa merasa lebih baik?" tanya Jayden menahan sakit yang menyesakkan dada. "JAWAB, PA!" tegasnya ketika sang papa hanya diam. Mata sipitnya kian memerah dan sejurus kemudian air bening mengaliri kedua pipinya.


Jayden memukul-mukul dadanya yang sesak. Namun, itu jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit hati karena beban fisik maupun psikis sebab harus menggantikan sosok orang tua bagi adiknya. "Pergi aja sana yang jauh!" Ia menunjuk ke pintu. "Tapi, jangan harap aku akan datang lagi kalau Papa kenapa-napa bahkan sekarat sekalipun! Aku akan menjual rumah kita dan membawa Joanne pindah ke luar negeri biar kita benar-benar nggak pernah ketemu lagi!"


"Jay ...." Dalam sekejap isak tangis Hendri memenuhi ruangan. Menggelengkan kepala, ia bermaksud memohon supaya putranya jangan melakukannya.


"Nggak cuma Papa yang kehilangan Mama, tapi aku dan Joanne juga! Jadi, tolong jangan egois!" Jayden meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Menetralisir napasnya yang memburu seakan dirinya baru selesai lari maraton.


"Beda ... kehilangan yang Papa rasakan beda dengan apa yang kamu dan Joanne rasakan. Kamu nggak tahu rasanya kehilangan seseorang yang kamu cintai dan menemani kamu dari nol."


Kontan saja tawa hambar Jayden mengudara. Tidak tahu papanya bilang? Jayden mengangguk-angguk dengan perasaan hancur lebur. "Awalnya aku emang nggak tahu, tapi justru karena Papa aku jadi tahu rasanya. Aku nggak pernah nyalahin telepon rumah sakit yang bikin aku mangkir dari janji yang udah aku buat sama Zevanna sampai akhirnya aku benar-benar kehilangan dia. Tapi, Papa yang kayak gini bikin aku nyesel tahu nggak! Seharusnya aku memilih buat nemuin Zevanna, bukan orang egois seperti Papa!"


Jayden yang sudah sangat muak berjalan keluar. Ia sempat terperanjat ketika membuka pintu dan mendapati Joanne ada di sana entah sejak kapan. Ia hanya menatap adiknya sekilas sebelum kemudian terus melangkah. Dan Joanne yang paham jika kakaknya tidak mau diganggu memutuskan untuk meneruskan masuk ke ruang rawat sang ayah.