
"Maa ... Maaa ...!" Zevanna menuruni tangga dengan terburu-buru.
Melisa yang sedang menikmati potongan buah alpukat menengok, kemudian geleng-geleng kepala. "Pelan-pelan, Ze. Kalau jatuh, tulangmu patah, lho," ucapnya tak habis pikir. Anak perempuannya ini umur berapa, sih? Tingkahnya seperti bocah SD.
Napas Zevanna memburu begitu sampai di meja makan. Ia menarik kursi yang berseberangan dengan mamanya, lalu berkata, "Kak Lily udah melahirkan, makanya aku kaget banget bangun-bangun dikirimin foto bayi."
"OH!" Hanya itu respons Melisa. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, lantas dengan kasar ia memasukkan potongan alpukat terakhir ke mulutnya.
"Gitu banget, sih ...." Zevanna menggumam. Tak dinyana mamanya mendengarnya.
"Emang apa yang kamu harapkan? Mama senang denger papamu baru punya anak lagi, gitu?" Suara Melisa naik satu setengah oktaf.
Mbok Diah yang turut mendengar berjingkat kaget hingga gelas di tangannya hampir saja jatuh.
"Kamu kalau mau ngomong dipikir dulu dong, Ze. Masa cerita kayak gitu ke Mama. Kurang-kurangin juga tuh sikap kekanak-kanakan kamu." Melisa meninggalkan meja makan dan bergegas ke kamarnya dengan raut sekaku kanebo kering.
Zevanna diam memandangi bunga mawar yang ditaruh di vas kristal. Bunga mawar dari buket pemberian Marvel minggu lalu. "Ya terus gue ngomong sama siapa? Sama bunga? Orang di sini cuma sama Mama." Hidung perempuan itu kembang kempis menahan tangis.
Zevanna menyandarkan kepalanya di meja. Padahal, tadi dia hanya ingin meminta pendapat kira-kira kado apa yang cocok karena Papa memintanya datang ke rumah sakit. Tetapi, Mama malah langsung marah-marah.
"Telepon Kak Marvel dulu kali ya." Zevanna teringat ajakan makan malam yang sudah ia setuju yang sepertinya mesti batal.
"Halo ...."
Zevanna terkesiap. "Eh, halo, Kak. Aku ganggu nggak?"
"Enggak, kok. Aku baru sampai rumah, abis jogging. Tumben banget udah telepon jam segini. Ada apa?"
"Emm ... dinner nanti malam kayaknya mesti batal dulu." Zevanna mendesis, matanya terpejam. Cemas menunggu jawaban Marvel.
"Kamu ada masalah?"
"Nggak ada cuma ...."
Marvel menghela napas. "Cuma apa?"
Zevanna yang tak kunjung menjawab membuat Marvel mengubah panggilan itu ke bentuk video.
"Aku belum mandi tahu. Main video call aja." Zevanna memberengut yang sayangnya tidak ditanggapi Marvel.
"Kamu ada masalah apa? Siapa tahu aku bisa bantu."
"Bukan masalah, tapi ...." Zevanna meragu. Di sisi lain, ia malu dengan Marvel karena keluarganya yang sekarang tidak lagi harmonis.
Marvel berdecak. "Just tell me, Zevanna. Kamu percaya aku, kan?"
Zevanna manggut-manggut. "Istrinya papa udah melahirkan dan nanti aku mau jenguk. Jadi dinner-nya cancel dulu, nggak apa-apa?"
Kebimbangan merajai hati. Sejenak Marvel mengalihkan tatapan. Ia sudah memikirkan hal ini matang-matang, haruskah ia sungguh-sungguh menundanya?
"Kak, sorry ... tapi gimana ya? Papa minta aku ke sana. Belum lagi aku mesti nyari kado."
"Nggak apa-apa," putus Marvel, "mau jenguk jam berapa? Biar aku temenin."
"Bener?" Zevanna tidak yakin melihat bagaimana ekspresi pacarnya. "Apa aku bilang Papa aja kalau ke sananya besok?"
"No, no. Keluarga lebih penting. Hari ini kita jengukin ... adek kamu? Kamu punya adek baru?"
Zevanna mengangguk. Pasangan kekasih itu merinaikan tawa sebelum memutus sambungan.
***
Pertama kali Zevanna memasuki store yang menjual berbagai perlengkapan bayi, ia dibuat melongo melihat saking banyaknya barang yang entah digunakan untuk apa.
"Kok diem?" tanya Marvel saat Zevanna mematung di tempat.
"Banyak banget. Lucu-lucu semua. Aku bingung."
Rona merah sontak menghiasi kedua pipi. Zevanna tersenyum kikuk menatap Marvel yang juga ikutan syok.
"Eem ... saya mau cari kado, Kak. Kalau baju bayi laki-laki di sebelah mana, ya?"
"Oh, begitu. Maaf saya salah mengira." Pramuniaga tadi mengatupkan tangan di dada, kemudian mengantar Zevanna dan Marvel ke tempat pakaian bayi.
"Lucu, yah, waktu itu cari lampu tidur dikira baru nikah. Sekarang cari kado buat adik kamu dikira mau punya anak," celetuk Marvel dibubuhi kekehan.
Zevanna jadi menoleh. Segaris senyum terukir di bibirnya. "Iya, bisa gitu yah?"
"Bisa, dong. Mau nggak kamu punya anak sama aku?"
"Eh?" Zevanna tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Marvel tersenyum tipis. "Udah, udah. Jadinya kamu pilih yang mana?"
"Ini, ini, sama ini." Zevanna memutuskan untuk membeli masing-masing dua pasang setelan baju lengan pendek dan lengan panjang serta sepatu. Ia juga menambahkan mainan yang bisa digantung di box bayi karena tidak sengaja melihat saat hendak membayar di kasir.
***
Senyum Adrian mengembang sempurna melihat kedatangan anak perempuannya, dan kebahagiaannya pun semakin bertambah melihat siapa yang datang bersama Zevanna.
"Marvel, Om. Yang dulu sering nganterin Zevanna pulang," ucap Marvel seolah menjawab kernyitan di dahi pria di hadapannya.
"Ah, iya. Pantes mukanya nggak asing. Ayo, Ze, temuin Mama sama adikmu." Adrian merangkul Zevanna dan Marvel, membawa keduanya menghampiri Lily dan bayi mereka.
Jujur saja Marvel tercengang mengetahui istri papa Zevanna ternyata masih muda. Dan ia makin kehilangan kata-kata mendengar kekasihnya memanggil wanita itu dengan sebutan kakak.
"Kak, congrats ya. Maaf aku baru bawa buat baby, buat Kak Lily nyusul ya," ungkap Zevanna. Tadi pagi ia sempat membaca artikel bahwa jika ingin menjenguk bayi baru lahir alangkah baiknya tidak hanya bayinya yang diperhatikan tetapi juga ibunya.
"Zevanna sekarang nggak Papa izinin manggil kakak, ah. Nanti kalau Sergio ikut-ikutan gimana?" Adrian lebih dulu menimpali.
"Sergio?" Zevanna mengerutkan wajah.
"Iya, si kecil ini namanya Sergio." Adrian mendekati tempat di mana malaikat kecilnya terlelap.
Mengikuti papanya, Zevanna memandang waswas adiknya yang belum genap berumur dua puluh empat jam. Ia takut mengganggu tidur bayi mungil tersebut. Takut karena dirinya membawa kuman dari luar. Persis seperti saat Ryuga—keponakannya—baru lahir. Zevanna juga tidak berani dekat-dekat.
"Gendong coba." Adrian menantang putrinya.
"Iiihh, Papa!" seru Zevanna membuat Sergio menggeliat. "Tuh, kan! Papa jangan berisik dong. Jadi adiknya keganggu," ucapnya dengan mulut ditutup kedua tangan.
Adrian dan Lily kompak tertawa. Pun Marvel yang sejak tadi menjadi penonton tak kuasa untuk menahan senyumnya. Ia senang melihat Zevanna seperti ini, serasa ia melihat Zevanna yang dulu dikenalnya. Yang sayangnya tidak lagi pernah ditunjukkan gadis itu di depannya sejak mereka resmi berpacaran.
***
Selepas dari rumah sakit, Marvel mengajak Zevanna makan malam karena memang sudah waktunya. Zevanna dengan lahap memakan beef steak, bertolak belakang dengan dirinya yang sangat tidak berselera. Marvel hanya memotong-motong steak-nya tanpa ada niatan untuk memakannya.
"Kenapa nggak dimakan?" Zevanna menghentikan aktivitas makannya.
Marvel menggelengkan kepala.
"Kakak sakit?" Zevanna menusuk steak-nya dan menyodorkannya ke mulut Marvel. "Aaaa ...."
Marvel merasakan matanya panas mendapat perlakuan ini. Lantas, ia pun membuka mulut.
"Lagi, ya?"
Anggukan Marvel disambut antusias oleh Zevanna. Gadis itu menyuapi kekasihnya hingga habis.
"Makasih ya." Marvel meraih tangan Zevanna, mengusap-usapnya penuh sayang seperti biasa. Tetapi, Zevanna bisa menangkap sorot yang berbeda dari mata pacarnya.
Zevanna tidak tahu apa yang terjadi, tetapi perasaannya makin tidak enak ketika dalam perjalanan pulang Marvel secara tiba-tiba menepikan mobilnya sebelum tiba di rumahnya.
"Zevanna, ada yang mau aku omongin."