Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Special Chapter



...⚠️ Steamy ⚠️...


Dua tahun menjalani LDR ditambah enam bulan LDM bukanlah perkara mudah. Kesetiaan dipertaruhkan, kedewasaan diuji, dan tentunya komunikasi agar bisa tetap saling memahami adalah kunci.


Bagi Zevanna, berjauhan dengan Jayden sebenarnya bukanlah hal yang terlalu buruk. Ia jadi bisa menekuni dunia yang dicintainya secara maksimal. Dunia make up. Terbukti sepulangnya dari Singapura—setelah drama mendadak ingin pulang dan malah berujung balikan, ia jadi lebih aktif hingga berani membuka jasa make up yang kini berkembang pesat. Orang-orang harus membuat janji dengannya jauh-jauh hari jika wajah mereka ingin dirias oleh tangan ajaib Zevanna.


Akan tetapi, ada kalanya sisi kekanak-kanakan Zevanna muncul di tengah lelah yang menderanya. Terkadang ia juga ingin, saat pulang bekerja kepalanya dipuk-puk atau karena Jayden pandai memasak, lelaki itu akan membuatkan makanan khusus untuknya. Dan ketika perasaan semacam itu tak bisa dibendung, Zevanna akan nekat membeli tiket ke Singapura untuk berjumpa. Lagi pula, keuangan bukan lagi masalah besar untuknya. Lalu, Jayden yang tidak tahu-menahu dibuat terbelalak olehnya.


"Zevanna?" Jayden menatap kaget melihat pacarnya —waktu itu mereka masih pacaran—berjongkok di depan apartemennya.


Zevanna segera berdiri dan memeluk kekasihnya. "Kangen, Ko," katanya manja. Hidungnya mengendus wangi oceanic yang masih menguar, yang selalu ia rindukan.


Jayden menghela napas. "Ayo, masuk," ajaknya sambil membuka pintu dan Zevanna mengekor di belakangnya. "Kamu udah lama?"


Gadis itu mengangguk. Seharusnya tidak kalau Jayden pulang tepat waktu. Namun, melihat kantong besar berisi belanjaan, ia tahu jika pacarnya melipir sebentar ke supermarket.


Setelah mereka bergantian untuk membersihkan badan, kini Zevanna duduk di kursi bar dapur menemani Jayden memasak.


"Lain kali bilang ya kalau ke sini. Biar nggak nungguin," ucap Jayden seraya memindahkan udang bakar ke piring untuk mereka nikmati berdua.


"Nanti bukan kejutan, dong, namanya."


Jayden memutari meja dan berdiri di hadapan Zevanna. Dipandanginya lekat wajah gadis itu, dan seperti biasa belaian lembut ia sapukan di sana. "Tapi 'kan aku jadi tahu.Biar gimanapun ini negara orang. Misal ada kejadian yang nggak diinginkan gimana?"


"Iya, maaf." Zevanna menunduk dengan bibir bawahnya yang ia gigit. Sedetik kemudian, Jayden memeluknya dan menghidu aroma segar dari rambut pacarnya.


"Aku sayang kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."


"Aku juga sayang Koko." Kedua tangan Zevanna melingkari pinggang pria itu.


"Besok … pulang?"


Dengan raut sedih, Zevanna mengiakan. Lusa dia harus merias dua orang wisudawati.


Dibandingkan jarak, hari kerja mereka yang bertentangan adalah hal yang paling memberatkan hati. Sebagai seorang make up artist, Zevanna selalu sibuk di akhir pekan. Sementara sebagai orang kantoran, akhir pekan adalah waktu paling luang. Kendati demikian, menyerah tidak ada dalam kamus keduanya. Jayden dan Zevanna sama-sama percaya akan ada bahagia untuk mereka nantinya.


Pernikahan Jayden dan Zevanna digelar secara sederhana. Pemberkatan yang hanya dihadiri keluarga besar, kemudian malamnya resepsi di tempat outdoor yang tamu undangannya tidak sampai dua ratus orang. Sangat bertolak belakang dengan keinginan Adrian yang ingin menggelar pernikahan anak perempuannya di salah satu hotel berbintang.


Zevanna tahu niat ayahnya baik, tetapi kesibukan Jayden membuatnya berpikir dua kali. Hanya dengan membayangkan pesta hingga larut malam dan bersalaman dengan ribuan orang saja sudah membuatnya lelah, belum lagi besok siangnya mereka harus terbang ke Singapura. Zevanna mungkin bisa pingsan. Di sisi lain, daripada uang ratusan juta habis dalam semalam, bukankah lebih baik jika dipakai membeli hunian? Sebab tidak peduli seberapa mewah pesta pernikahannya, yang terpenting bagi Zevanna adalah siapa mempelai laki-lakinya.


Adrian tidak keberatan dengan usulan putrinya, tetapi hal itu menimbulkan perdebatan dengan Jayden. Egonya sebagai laki-laki jelas tersentil.


Zevanna minta rumah ke papanya? Setidak mampukah itu dirinya?


Hubungan mereka memanas. Jayden berubah menghindar. Zevanna jadi kepikiran hingga akhirnya sakit dan harus menjalani rawat inap. Pikirannya kacau. Bagaimana jika pernikahannya dengan Jayden gagal?


Tak bisa melihat anak perempuannya semakin terpuruk, Adrian turun tangan. Ia terbang ke Singapura untuk berbicara empat mata dengan Jayden.


"Saya mengerti, bahkan mungkin lebih mengerti dibandingkan Zevanna. Tapi, bisa nggak kamu menganggap sesuatu jangan hanya dari nilainya? Lihatlah itu sebagai bentuk cinta saya kepada anak-anak saya; kamu dan Zevanna. Suatu hari ketika kamu lebih dari mampu, kamu bisa menjual rumah itu dan memberikan tempat tinggal yang lebih layak untuk keluarga kecilmu. Tapi, kalau kamu masih berkeras hati seperti ini, jujur saja saya kecewa. Saya juga tidak tahu lagi harus memercayakan kepada siapa anak perempuan saya. Jay, anak perempuan saya masuk rumah sakit gara-gara kamu."


Jayden menegakkan kepala. Dapat ia lihat mata Adrian yang sudah memerah dengan sorot putus asa dan kecewa.


Zevanna sakit apa? Kenapa nggak ngasih tahu?


"Seumur-umur baru sekarang anak perempuan saya sakit sampai harus opname," lanjut Adrian.


Mendengar kata "anak perempuan saya" alih-alih menyebut nama Zevanna membuat lidah Jayden bertambah kelu. Lagi, ia menyakiti wanita yang katanya ia cintai. "Saya minta maaf, Om."


"Minta maaf sama anak saya, bukan pada saya."


"I-iya. Saya akan memesan tiket sekarang juga." Jayden segera membuka ponselnya dan itu membuat Adrian diam-diam menjadi lega.


Tepat setelah satu setengah tahun Jayden dan Zevanna menikah, anak pertama mereka lahir ke dunia. Bayi perempuan yang lahir dengan bobot 3,3 kg dan panjang 49 cm itu diberi nama Alicia Epiphania Tanjaya. Alice, begitu biasa ia dipanggil. Zevanna dan Jayden sepakat memberi nama itu karena Zevanna sangat menyukai cerita Alice in Wonderland sewaktu dirinya hamil. Zevanna bahkan sampai ngidam ingin pop-up book dari cerita dongeng yang telah mendunia itu. Dan tentu saja Jayden berusaha mati-matian hingga akhirnya mendapatkannya.


"Mama, hari ini pakai hair pin yang fruits and vegetables ya. Alice sama Shan-shan udah janjian mau pakai itu." Alice yang berusia tiga setengah tahun mengungkapkan keinginannya sebelum rambutnya dihias sang mama.


"Iya, Sayang." Zevanna tersenyum sumringah. Walaupun dirinya tidak lagi bekerja, tetapi Zevanna masih rajin membuat konten yang kebanyakan kini justru cara menata rambut anak. Rambut hitam panjang berkilau milik Alice yang diturunkan darinya menjadi idaman ibu-ibu muda di luar sana. Karena itu, mereka ingin Zevanna memberitahu caranya. Efek positifnya adalah Zevanna mendapat tawaran endorsement entah itu makanan, pakaian untuknya maupun Alice, dan masih banyak lagi.


Bukan tanpa alasan Zevanna berhenti bekerja. Pada awalnya, Zevanna juga ingin seperti wanita lain yang tetap aktif, meski tengah berbadan dua. Namun, perdarahan yang dialaminya pada minggu ke-10 kehamilan membuat pemikirannya berubah. Ia hampir kehilangan calon anaknya. Lantas, ia yang tidak ingin kejadian buruk itu terulang memutuskan untuk stop.


Zevanna tidak masalah harus membayar ganti rugi kepada para kliennya yang merasa dikecewakan. Karena melihat anaknya bisa lahir dan tumbuh sehat adalah harta yang tak ternilai harganya.


Selesai menghias rambut Alice, Zevanna mengajak putrinya ke dapur, menemui satu-satunya laki-laki di rumah tersebut.


"Good morning, Papa," sapa Alice ceria.


"Morning, anak Papa yang cantik," balas Jayden. "Lihat, suka nggak sama bekal yang Papa bikinin?"


Mata sipit Alice berbinar-binar melihat nasi yang dikepal-kepal lalu diberi mata dan mulut ditambah brokoli, daging, dan buah stroberi kesukaannya. "Suka, Alice suka. Thank you, Papa."


"My pleasure, Sayang."


Zevanna tak pernah bosan melihat interaksi Alice dan Jayden setiap pagi karena bekal yang suaminya buat. Mungkin sedikit berbeda dari keluarga lain, tapi memang beginilah keluarganya. Jayden akan membuat sarapan sementara dirinya menyiapkan segala perlengkapan sekolah Alice. Lalu, saat Jayden mengantar Alice ke sekolah, Zevanna akan beres-beres rumah.


Mereka tidak mempunyai asisten rumah tangga. Tidak perlu kalau Zevanna bilang. Rumah satu lantai pemberian papanya sangat pas untuk keluarga kecilnya—setidaknya untuk saat ini. Zevanna jadi tidak terlalu merasa kesepian saat anaknya sekolah dan suaminya bekerja.


Zevanna baru selesai cuci piring dan saat ini sedang membaca surel yang masuk ketika sebuah pesan dari suaminya muncul di layar bagian atas.


"Ma Chérie, kamu masih pengin es krim?"


"Iya. Koko mau beliin?" Zevanna tidak mengubah panggilannya kepada Jayden, pun sebaliknya. Ada yang bilang jika tetap mempertahankan panggilan sayang yang disematkan dari awal menjalin hubungan, vibes dalam berumah tangga rasanya seperti waktu masih pacaran. Dan baik Zevanna maupun Jayden setuju akan pendapat itu.


"Nggak, cuma nanya."


"NYEBELIN!" balas Zevanna dibubuhi emoji marah.


Jayden tidak lagi membalas. Namun, saat lelaki itu pulang, ia membawakan dua cup besar es krim.


Zevanna mengulum bibir begitu Jayden duduk di sebelahnya, dan bertanya, "Mau yang cokelat atau stroberi?"


"Cokelat."


"Oke, yang stroberi aku taruh kulkas ya." Jayden beranjak, kemudian kembali dengan satu sendok di tangannya.


"Kok cuma satu?" Zevanna mulai waspada. Apalagi ia tahu hari ini Jayden sedang tidak ingin ke restoran cabang. Iya, Halcyon telah membuka cabang yang sepenuhnya dikelola Jayden.


"Aku enggak," kata lelaki itu sambil membuka tutup dilanjut menyuapi istrinya. "Enak nggak?"


Wanita itu manggut-manggut. Jayden kembali menyuapinya sesendok penuh. Zevanna meringis karena ngilu yang menyerang gigi. Mulutnya setengah terbuka, menjadikan es krim mengalir dari salah satu sudut bibirnya.


Entah malas mengambil tisu atau memang sengaja, Jayden memajukan wajahnya untuk membersihkan es krim di wajah istrinya langsung menggunakan mulut. Nakalnya lagi, pria itu lalu menjilat bibir bawahnya seakan dirinya baru saja mencicipi makanan terenak di dunia.


"Ko …."


"Hmm … apa, Ma Chérie?" Embusan napas Jayden menimbulkan hangat di wajah Zevanna. Ia tersenyum mendapati wajah istrinya merona.


"Tangan kamu." Zevanna sampai harus bernapas dengan hati-hati lantaran tangan Jayden yang tadi memegang sendok telah berganti menyentuh pahanya.


"Kenapa tangan aku?" Ia semakin menelusupkan tangannya ke dalam t-shirt dress istrinya.


"Ko …." Zevanna melenguh dengan mata terpejam.


"Mau di mana?" Jayden menaruh es krimnya di meja. "Di sini atau di kamar?"


"Kamar, tapi kamu taruh dulu es krimnya di kulkas nanti cair."


"Oke, kamu ke kamar dulu dan jangan lupa …." Jayden membisikan sesuatu yang membuat tubuh Zevanna meremang.


Ketika memasuki kamar, Jayden melihat Zevanna yang duduk di tepian ranjang. Raut wajah perempuan itu tampak malu-malu bercampur gelisah. Jayden terkekeh karenanya. Tak sabar, sepasang kakinya melangkah panjang-panjang.


"Kenapa nggak tiduran?" tanyanya dengan senyum terkulum. "Tiduran, gih!" Jayden menepuk-nepuk bantal.


Ini bukan yang pertama kali, tetapi Zevanna selalu saja salah tingkah.


Mereka berbaring dengan Zevanna yang menjadikan lengan Jayden sebagai bantalan.


"Waktu cepet banget, yah," celetuk si pria. Matanya bergantian memandang langit-langit dan wajah istrinya.


"Iya, kayaknya baru kemarin aku sama kamu pindah ke rumah ini."


"Iya, kayak baru kemarin juga kamu ngira aku mau jadi papa tirimu."


Zevanna kontan menengok. Hidungnya kembang kempis menahan marah sekaligus malu. "JAYDEN!!!!!" Sebuah tinju disusul cubitan bertubi-tubi Zevanna berikan di tubuh suaminya.


"Ampuuuunnnnnn!" Jayden berusaha melindungi tubuhnya seraya mencari kesempatan untuk membalas perbuatan Zevanna. Dan kesempatan itu datang tak lama kemudian. Secepat kilat Jayden memegangi kedua tangan Zevanna, sedangkan kedua kakinya ia pakai untuk mengapit tubuh sang istri.


"Lepasin!" Zevanna memberontak.


"Nggak mau."


"Aku udah nggak mood."


"Aku bakal bikin mood kamu naik lagi."


"Enggak!"


"Sshhh …." Jayden segera menyatukan bibir mereka. Mengulumnya lembut, tangannya bergerak liar menyusuri tubuh molek Zevanna. "Nakal!" ucapnya mendapati Zevanna benar-benar melakukan perintahnya, menanggalkan pakaian dalam wanita itu.


Ciuman Jayden merambat ke telinga. Tangannya bergerak naik ke dada.


"Koo …." Zevanna ingin menjerit karena gelenyar nikmat yang disebabkan suaminya.


Jayden menghentikan kegiatannya sejenak. "Ko? Koko siapa? Nggak ada Koko di sini. Call me daddy!" Ia menatap Zevanna dengan mata dipenuhi kabut gairah.


Zevanna balas menatap dengan bibir menyeringai nakal. "Ok, Daddy!" Mata kanannya mengerling menggoda.


"Fxck! I want to fxck you right now!"


.......


.......


.......


...Jika kalian merasa cerita ini bagus, boleh banget untuk merekomendasikan ke teman-teman yang lain. Sampai jumpa di lain kesempatan 👋👋👋...