Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend
Mabuk



Kencan ganda yang dicanangkan Astrid akhirnya akan terealisasi beberapa jam lagi setelah berminggu-minggu lamanya Marvel dan Zevanna sibuk dengan urusan masing-masing. Selain membuat konten, akhir-akhir ini Zevanna sibuk membantu mamanya yang minggu depan akan mengikuti pameran gaun pengantin. Sementara Marvel sibuk mengurusi bisnisnya yang ada di mana-mana.


"Ze, kamu lagi apa? Mama masuk ya," ucap Melisa di depan kamar anaknya.


"Masuk aja, Ma!" jawab Zevanna yang tengah sibuk mengaplikasikan primer ke wajahnya.


Pintu cokelat itu terayun, menampakkan Melisa yang lantas duduk di ranjang sembari mengamati anaknya. Senyumannya mengembang, senang rasanya melihat hidup anaknya dipenuhi kebahagiaan.


"Mama tumben udah pulang," ujar Zevanna yang kini sudah menyapukan brush yang telah dibubuhi blush on ke tulang pipi.


"Mama mau ke rumahnya Tante Sherli." Wanita yang seminggu terakhir selalu pulang larut itu memberitahu. "Chaca bulan depan tunangan. Jadi nanti mau ngobrol masalah baju."


Bibir Zevanna membulat tanpa ada suara yang keluar.


"Kayaknya Mama mau nginep di sana, deh. Kalau kamu mau, nanti nyusul aja."


"Hah? Enggak mau, ah, males." Zevanna menggeleng, menjadikan rambut panjangnya yang sudah di-curly bergoyang-goyang.


"Siapa tahu nanti jadi kepingin." Melisa menelengkan kepala demi bisa melihat ekspresi anaknya. Tangan kanannya menujuk jari manis tangan kirinya yang barusan diangkat. Zevanna bisa melihatnya melalui cermin.


"Maaaa ...." Gadis itu melengos. Sejak mamanya tahu dirinya diberi cincin oleh Marvel, mamanya jadi sering menanyakan kapan Marvel datang ke rumah bersama orang tua lelaki itu. Jujur saja Zevanna kesal. Kenapa semua orang terburu-buru padahal dia yang menjalaninya saja santai.


"Emang kenapa, sih?" Melisa beranjak untuk kemudian berdiri di belakang putrinya. Kedua tangannya ia taruh di bahu Zevanna. Dua pasang mata milik ibu dan anak itu bertemu pandang lewat cermin besar di depan mereka. "Karier 'kan tetap bisa dikejar biarpun udah nikah. Mama dulu juga gitu. Lagian, apa coba yang bikin kamu ragu buat berkomitmen. Marvel baik, kerjaan jelas ada, dan yang paling penting dia sayang sama kamu.”


Sayangnya, obrolan itu harus terhenti karena suara dering ponsel Melisa. Wanita itu berpamitan kepada anak bungsunya sebab taksi yang dipesan sudah berada di depan.


Zevanna memandangi punggung ibunya dengan perasaan gusar.


Hatiku, Ma. Aku jahat karena serakah. Aku mau Jayden, tapi Kak Marvel baik dan nggak pernah nyakitin aku. Aku mesti gimana, Ma?


Sejak Zevanna masuk ke mobilnya, senyuman Marvel belum juga luntur hingga sekarang. Menurutnya, kecantikan kekasihnya makin tumpah-tumpah setelah mereka tidak bertemu selama dua minggu.


"Kak, nyawaku cuma satu, loh," ujar Zevanna tak tahan diperhatikan secara terang-terangan.


"Abisnya cantik banget."


"Gombal!"


"Nggak, Sayang. Aku ngomongin fakta." Marvel mengusap lembut punggung tangan Zevanna yang ada dalam genggamannya.


"Huh!" Perempuan dengan blus model sabrina itu membuang muka. Marvel tertawa senang melihat pipi pacarnya mengeluarkan semburat merah. Dan, Zevanna hanya mampu memejamkan mata ketika tangan Marvel beralih untuk membelai puncak kepalanya.


Please jangan gini, Kak. Aku jadi tambah ngerasa jahat.


***


Teriakan anak bungsu keluarga Tanjaya memenuhi lantai dua, membuat ayahnya yang baru keluar kamar menghela napas.


"Ada apa, Jo?"


"Wedges yang biasa aku pakai nggak ada. Papa lihat nggak?" Joanne balas bertanya. Mata sipitnya menyelia ke segala arah.


Hendri mengerutkan kening. "Wedges itu apa? Dipakainya di mana?"


Joanne tepuk jidat. Ampun, deh! "Sepatu, Pa."


"Oh, sepatu." Tatapan Hendri tertuju pada rak sepatu di depan anaknya. "Tinggal pilih. Itu 'kan banyak. Itu yang warna-warni punyamu semua, kan?"


"Iihhh, Papa! Aku lagi pengin pakai wedges." Bibir Joanne mencebik.


"Pakai yang ada saja, Jo. Tuh, Koko udah siap." Hendri menunjuk Jayden yang baru muncul.


Jayden mendekat ke ayah dan adiknya. Lalu, saat mengetahui jika sedari tadi Joanne hanya meributkan sepatu, ia memutar bola mata malas. "Pakai sneakers aja. Biasanya 'kan gitu. Lagian lo lagi caper sama siapa, sih, tumben-tumbenan pakai rok segala."


"Nyenyenye." Gadis yang memang tidak biasanya tampil feminin itu akhirnya meraih satu-satunya flatshoes yang dimiliki.


Malam ini keluarga Tanjaya akan makan malam bersama dalam rangka Jayden diterima bekerja. Laki-laki itu tinggal mengurus dokumen, kemudian begitu semuanya beres, ia langsung terbang ke Negeri Singa.


***


Astrid dan Leon sudah menguasai satu buffet setibanya Zevanna dan Marvel di restoran all you can eat tempat mereka janjian.


"Finally, pasangan sibuk kita datang juga." Astrid menyambut dengan senyum lebar.


Zevanna mencibir. "Alay!"


Marvel terkekeh melihatnya. Pria dengan hoodie abu-abu itu lantas berkenalan dengan Leon baru kemudian ikut duduk di samping Zevanna.


Mereka memesan berbagai macam jenis daging, jamur, bir, dan sparkling water.


"Udah, sih, buka aja mulutnya. Lo nggak cocok tahu nggak malu-malu kayak gitu," kata Astrid saat Marvel menyodorkan daging wagyu yang sudah matang ke depan mulut Zevanna.


Zevanna melotot, tetapi sama sekali tak digubris. Karena sekali lagi Marvel menyuruhnya membuka mulut, ia pun melakukannya.


"Lo jaim banget, deh, Ze. Padahal gue yakin Kak Marvel juga tahu lo modelannya gimana." Lagi-lagi Astrid berkomentar. "Kayak kalian baru kenal kemarin sore aja."


"Maksud?" Zevanna menaikkan sebelah alisnya.


"Lo makannya banyak," pungkas Astrid.


"Enggak yaaaa ...."


"Iya," sambar Leon. "Pajak jadian aja lo minta ditraktir sushi sebakul."


Astrid mengangguk tanda setuju. "Inget banget gue dulu jam sepuluh malam ditelepon Zevanna suruh beliin nasi Padang. Soalnya dia habis jadi panitia event apa gitu, gue lupa. Katanya dia kelaparan soalnya jatah konsumsinya dikit. Inget nggak lo?"


"Yang makannya ngumpet-ngumpet di samping perpus bukan?" Marvel menimpali.


"Hahhhh?" Zevanna menoleh, menatap pacarnya dengan mata menyipit. "Masa, sih?" Ia masih saja tidak ingat.


"Bener, bener! Eh, tapi lo kok tahu sih, Kak?" Astrid terheran-heran.


"Gue 'kan gabung gara-gara mau ngopi."


"Aaahhh, iya!" Wajah Astrid berseri-seri. "Udah inget belum? Atau tetep milih buat nggak inget?" Gadis dengan jumpsuit hitam itu menunjukkan tampang menantang.


Zevanna menatap sahabatnya penuh dendam. "Double date itu cuma alibi, lo sebenarnya udah ada rencana buat nge-bully gue," ucapnya, kemudian menuangkan bir ke gelas. Niatnya, sih, mau diminum biar kerenan dikit, tetapi lebih dulu dicegah sama pacarnya.


"Ini ada alkoholnya. Kamu 'kan nggak bisa minum." Marvel mengambil alih gelas Zevanna dan malah meminumnya.


"Kok ngeselin, sih?" Zevanna tambah merengut.


"Nanti mabuk, pusing. Katanya mamamu lagi nggak di rumah. Kalau kenapa-napa gimana?" Menggunakan telunjuknya, Marvel menoel-noel pipi kekasihnya. "Senyum, dong."


"Dikit aja, please ...." Puppy eyes Zevanna adalah andalannya sehingga perempuan itu pun mempersembahkannya untuk Marvel.


Pria itu membuang napas gusar.


"Kasih aja, Kak. Ntar lo nginep di apart gue aja, Ze. Kebetulan Rere lagi balik ke Bandung," ucap Astrid.


"Tuh, ada Astrid. Kamu tenang aja, Kak. Oke?" Zevanna mengacungkan ibu jarinya.


Marvel pasrah. Namun, diam-diam ikut tersenyum melihat wajah sumringah Zevanna. "Ingat cuma sedikit," katanya mengacak-acak rambut sang gadis.


"Iya." Mulutnya boleh bilang iya, tapi tindakan Zevanna justru sebaliknya. Daging dan bir adalah perpaduan sempurna. Hanya orang bodoh yang akan menyia-nyiakannya.


Menit demi menit berlalu, Marvel mendesis ketika tubuh Zevanna mulai oleng ke sana-sini. Gadis itu hampir terjerembab ke lantai kalau saja Marvel tidak sigap menahannya berujung membawa kepala Zevanna agar bersandar di bahunya. Sementara di depan Marvel, Astrid dan Leon cengengesan.


"Momong bocah emang kudu sabar, Kak," seloroh Astrid.


"Jayden ...."


Meja tempat mereka berada mendadak sunyi karena satu nama yang baru saja Zevanna sebutkan. Zevanna mengucek matanya, memastikan jika laki-laki yang duduk tidak jauh darinya memanglah mantan kekasihnya. Namun, kepalanya yang pusing dan terasa berat menjadikannya hanya mampu melenguh pelan. Dan, apa yang gadis lakukan secara tidak sadar otomatis diperhatikan oleh orang-orang yang duduk bersamanya, terutama Marvel.