
Notes: Bab sebelumnya ada revisi. Aku menambahkan sedikit obrolan Jay-Jo sebelum ketemu ayah mereka.
"Permisi, Non. Den Marvel sudah menunggu di bawah." Dari balik pintu kamar Zevanna yang sedikit terbuka, Mbok Diah memberitahu majikannya.
Menengokkan kepala, Zevanna segera meraih kruk yang selama dua minggu terakhir setia menemaninya. Sebenarnya, ia merasa kakinya sudah kembali normal. Tetapi, Zevanna tidak mau gegabah. Ia tetap memakai alat bantu jalan itu, meski membuatnya lelah dan sempat kewalahan di awal-awal pemakaian.
"Non, bener nggak mau dibantu?" Mbok Diah menampilkan raut khawatir saat Zevanna menolak halus untuk dibantu. Ia meringis melihat majikannya mulai menuruni anak tangga, sedangkan dirinya hanya bisa berjaga-jaga di belakangnya.
"Aku udah sembuh, Mbok. Lihat aja nanti aku pulang pasti udah nggak pakai beginian lagi." Zevanna tertawa-tawa.
Mbok Diah pasrah. Tidak bisa melakukan apa pun selain tetap terus memperhatikan Zevanna seraya tak henti menyuruh hati-hati.
Tak ubahnya Mbok Diah, Marvel yang tadinya duduk anteng pun langsung berdiri melihat pacarnya turun tangga, tanpa ada yang memegangi. Dengan raut cemas, lelaki itu menghampiri dan merangkul bahu Zevanna. Yang mana membuat gadis itu sekali lagi tertawa karena orang-orang di sekelilingnya.
"Kok malah ketawa, sih?" Marvel terheran-heran. Langkahnya terhenti yang otomatis diikuti oleh Zevanna dan Mbok Diah yang mendadak kikuk melihat dua orang di depannya.
"Abisnya kamu kayak Mbok Diah. Aku udah nggak apa-apa tahu!" Zevanna mengangkat dagu, bibirnya mengerucut.
Marvel menyentilnya pelan. "Menurut kamu, bukan menurut dokter," pungkas Marvel sebelum kemudian mereka melanjutkan langkah dan tiba di lantai satu.
Pria berkaus polo hitam itu mengedarkan pandangan. Rumah Zevanna tampak lebih lengang dari terakhir kali ia mengunjungi tempat itu. "Butik udah selesai direnovasi?" tanyanya kembali menatap kekasihnya.
"Iya, kemarin sama tadi pagi ada orang suruhan Mama datang buat ngangkut."
"Harusnya aku bantuin. Maaf yah ...."
"Duh, apaan sih, Kak! Kak Marvel juga 'kan kemarin sibuk. Malah baru tadi pagi balik dari Bangkok, nggak inget?"
Marvel cengengesan. "Inget, tapi kalau bantuin 'kan jadi dapat poin lebih di mata calon mertua."
"Apa sih, kok tiba-tiba bilang calon mertua segala." Zevanna memalingkan muka, menyembunyikan respons salah tingkahnya juga pipinya yang mungkin merona.
Isengnya, Marvel sedikit menunduk dan menelengkan kepala demi bisa menangkap raut malu-malu menggemaskan milik pacarnya. "Ciee ... pipinya kebakaran tuh! Perlu aku panggilin damkar nggak nih?"
"Kak!"
"Iya, Sayang?"
"Ish!" Zevanna menyikut lengan kokoh Marvel.
Yang jadi sasaran pura-pura kesakitan seraya tertawa menyebalkan.
"Kak Marvel!" Zevanna mendengkus. "Kalau nggak mau berhenti ketawa aku mau naik taksi aja!" ancamnya.
"Eh, jangan dong!" Marvel menahan Zevanna yang mau menuju ke pintu utama. Dia yang menawarkan diri untuk menemani check up, kalau gagal, apa kata mama gadis ini nanti?
"Abisnya nyebelin!" ungkap Zevanna masih betah merengut.
"Nyebelin atau bikin salting?" Marvel menaik-turunkan alisnya. Tak lupa senyum andalannya juga turut serta.
Gelak tawa kembali mengudara. "Iya, maaf," kata Marvel dengan sisa kekehan di paras rupawannya. Lagi, ia membantu Zevanna hingga akhirnya bisa duduk di dalam mobilnya tanpa terluka.
***
Rumah yang berbulan-bulan dibiarkan mati, kini seakan mendapat seberkas cahaya yang membuatnya berwarna, dan Hendri-lah alasan dibalik semuanya. Sejak pagi buta, pria itu dibantu kedua anaknya sudah berkutat di dapur. Mereka me-recook beberapa masakan yang dulu mengisi daftar menu Halcyon. Nasi goreng, capcay, kwetiau, pangsit, dan dua menu yang sebelumnya tidak ada; dimsum dan choipan.
Hendri menatap puas saat semua makanan telah matang dan tertata rapi di meja makan. "Ayo, kita makan bareng-bareng. Semoga rasanya nggak berubah, ya," ajaknya seraya menarik kursi.
"Aromanya aja nggak berubah. Aku yakin rasanya juga enggak atau yang sekarang malah jauh lebih enak," balas Joanne antusias. Ia membalik posisi piring sang ayah dan menyendokkan nasi goreng ke atasnya, baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
"Gimana? Enak?" tanya Hendri usai putrinya melakukan suapan pertama.
Joanne yang sedang mengunyah manggut-manggut. "Enak banget. Nilai seratus aja nggak cukup buat masakan Papa." Ia memeluk sang papa, lalu sebuah usapan mendarat di punggungnya.
Hendri menengadahkan kepala, merasai hangat yang merambat ke dalam hati. Bagaimana bisa ia berpikir untuk menyia-nyiakan kebahagiaan tak terkira ini untuk kedua kalinya? Hendri berdehm pelan, melegakan kerongkongan yang serak karena menahan tangis. "Makasih sudah kasih Papa kesempatan ya, Nak."
Mengurai pelukannya, Joanne mengangguk dengan air mata yang seketika mengalir. Detik berikutnya, isakan pelan perempuan itu pecah. "Janji seterusnya bakal kayak gini terus ya, Pa."
"Iya, Sayang." Hendri mengusap air mata di pipi anak bungsunya. "Papa akan berusaha membayar kesalahan Papa. Papa akan bekerja keras buat kamu, buat Koko ...."
Dan, saat itulah ayah dan anak perempuannya itu sadar bahwa masih ada satu orang lagi di tengah mereka yang saat ini tampak melamun.
Jayden memikirkan Zevanna. Bayangan saat mantan kekasihnya itu akhirnya jatuh ke pelukan laki-laki lain terus berputar-putar di kepala. Jayden bisa meminta orang-orang terdekatnya untuk tidak menyebut nama itu lagi di depannya. Namun, bagaimana jika batinnya yang dengan menggelora justru menggaungkan nama Zevanna.
Jayden juga sudah berusaha menyibukkan diri. Bertukar resep masakan dan mencobanya bersama sang papa, berolahraga, menjadi freelance fotografer, bermain game, dan masih banyak lagi. Namun, kesemuanya itu seolah tidak membuatnya lelah sehingga pada malam hari ia merasa susah. Matanya sulit terpejam. Amarah Zevanna karena hal yang gagal ia luruskan menjadikannya bertambah sakit. Jayden ingin Zevanna tahu, tapi di sisi lain, apa gunanya? Toh, Zevanna sudah menemukan kebahagiaannya. Sementara Jayden hanya mampu tersenyum getir meratapi nasibnya.
"Jay!"
"Ko!"
Hendri dan Joanne berseru berbarengan. Jayden terperanjat. Mengerjap, lelaki itu menatap tidak fokus ayah dan adiknya.
"Mikirin apa, Jay?" tanya Hendri.
"Apalagi kalau bukan itu," ungkap Joanne sontak mendapat lirikan tajam. Tetapi, bukan Joanne namanya kalau sampai takut karena sekarang ada Papa di sampingnya. "Apa? Lo cuma bilang nggak boleh nyebut nama dan gue turutin itu," lanjutnya menantang.
Jayden mendengkus sebal dengan wajah acuh tak acuh.
"Masalah perempuan ya, Jay? Kamu kelihatan sangat mencintainya. Apa mungkin Papa bisa bantu karena sudah menjadi penyebab semuanya?"
"Nggak, Pa."
"Papa serius."
Jayden menggeleng meyakinkan. Untunglah, papanya tidak lagi memaksa. Lagi pula, akan tambah memalukan sekali kalau sampai melibatkan orang tua pada masalah yang seharusnya bisa ia selesaikan sendiri. Seharusnya. Tapi, kenyataannya semua tetap abu-abu seperti sebelumnya.