
Usai mengantar Joanne kembali ke kos-kosan, Jayden langsung melajukan mobilnya menuju butik milik Melisa.
Tempat itu masih sepi sesampainya ia di sana. Jayden tidak heran mengingat ini baru jam delapan lewat seperempat. Hanya ada beberapa pegawai yang sedang bersih-bersih ketika dia membuka pintu kaca butik tersebut.
Salah seorang pegawai langsung menghampiri dengan senyum ramah menghiasi wajahnya. "Selamat pagi, Kak. Mau cari apa?" tanyanya sedikit heran melihat lelaki di depannya membawa sebuah ransel. Untung saja wajahnya tampan dan penampilannya cukup berkelas, kalau tidak pasti sudah Nadira kira orang meminta sumbangan.
"Oh, saya mencari Ibu Melisa. Saya fotografer yang akan bekerja sama dengan beliau."
"Bu Melisa-nya belum datang. Mari duduk dulu di sebelah sana." Nadira lantas mengantar Jayden menuju sofa yang ada di tengah ruangan.
"Terima kasih." Jayden menyunggingkan senyum tipis.
Nadira mengangguk, lalu undur diri setelah menyuguhkan sebuah minuman dingin.
Di salah satu pojok ruangan, di antara deretan gaun-gaun yang tergantung rapi, tiga orang karyawan sesekali mencuri pandang ke arah Jayden.
"Ganteng, Sis," ujar salah satu di antaranya.
"Ganteng, sih, ganteng, tapi kalau udah ada gandengan biasanya nggak asyik," sahut yang lainnya.
"Ssst! Mbak Nadira ke sini. Bubar, bubar."
Tiga perempuan itu langsung kembali ke posisi masing-masing saat Nadira berkeliling untuk mengecek pekerjaan mereka. Nadira ini asisten Melisa. Usianya sudah tiga puluh tahun, tapi belum menikah. Dengan raut wajah cantik, bodi proporsional, ditambah sifat tegasnya yang layak diacungi jempol. Nadira benar-benar gambaran wanita masa kini.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya Melisa menampakkan batang hidungnya. Jayden bangkit berdiri saat wanita itu berjalan menghampirinya.
Mereka berbasa-basi sebentar sebelum kemudian Melisa mengajak Jayden menuju ruang kerjanya yang letaknya agak ke dalam.
Jayden sempat terperangah. Butik yang tampak kecil dari depan itu nyatanya begitu luas di bagian dalamnya. Ada satu set sofa dengan banyaknya manekin berjejer di sekeliling serta beberapa ruangan yang belum ia ketahui apa gunanya.
"Yang paling ujung itu mini studionya. Kita langsung ke sana aja kali, ya, biar kamu juga adaptasi."
Jayden mengekori Melisa. Dia juga sempat membantu saat wanita berambut bob itu kesulitan membuka pintu.
"Thanks," ujar Melisa sambil melangkah masuk. Ia meraih remote AC dan mengatur suhu ruangan.
Jayden mengedarkan pandangan, sibuk mengamati tempat yang akan menjadi ruang kerjanya selama beberapa hari ke depan.
"Gimana, Jay?"
Lelaki itu mengangguk beberapa kali. "Aku langsung atur lighting sama kameranya, ya, Tan."
"Boleh, boleh."
Di saat Melisa tengah memperhatikan Jayden yang sedang mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tas, suara kasak-kusuk tertangkap indra pendengarannya. Melisa berjalan ke arah pintu dan melongokkan kepala. Tampak dua orang modelnya, Priscilla, Bobby, dan Zevanna telah tiba. Ia menoleh kepada Jayden, katanya, "Jay, Tante tinggal dulu, ya. Kalau haus ambil minum di kulkas deket sofa aja."
"Iya, Tan," jawab Jayden sejenak melepaskan pandangannya dari kamera.
Melisa sudah keluar ruangan, dan kini wanita itu sedang menyambut "anak-anaknya" dengan kehebohan seperti biasa. Namun, tatapannya langsung berubah begitu melihat putrinya yang sudah pergi dari rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu. Yah, walaupun perginya juga ke rumah mantan suaminya alias ayah dari anak itu sendiri, tapi tetap saja membuatnya sedikit kesal.
"Mama mau ngomong sebentar sama kamu, Ze."
"Ma, please, deh. Aku mau kerja."
"Priss, Tante pinjem karyawan kamu sebentar, ya?" Melisa meminta izin kepada boss putrinya.
"Pinjem aja, Tan. Nggak usah dibalikin juga nggak apa-apa, kok." Priscilla tertawa di akhir kalimatnya.
Zevanna mendengkus melihat tatapan ibunya kembali mengarah padanya. Dengan malas-malasan, ia pun membuntuti sang ibu menuju ruang kerja.
"Kamu kalau mau nginep di rumah Adrian bilang, dong, Ze." Melisa memulai khotbah singkatnya. "Mama 'kan jadi nggak perlu khawatir. Si Adrian itu juga jadi nggak perlu hubungin Mama."
"Bukannya Mama seneng? Jadi, ada kesempatan ngobrol sama Papa, kan?" Zevanna tahu betul kalau ibunya cinta mati pada ayahnya. Ya, bagaimana tidak cinta mati? Adrian dan Melisa itu pacaran sejak masih putih abu-abu, kuliah, sampai akhirnya menikah dan memiliki dua orang anak. Selama berpuluh-puluh tahun mereka melakukan apa-apa bersama, dan sekarang berpisah karena Adrian berpaling kepada Lily.
"Males! Mama udah males. Mending abisin waktu buat kerja sama seneng-seneng. Kalau Adrian bisa seneng, Mama juga pasti bisa. Apalagi sekarang Mama ada kesibukan baru." Melisa menyangkal hatinya. Sifat seperti ini pula yang menurun kepada putrinya.
"Kamu itu! Makanya perhatian dikit sama Mama, Ze. Nggak lihat dari kapan hari Mama udah bolak-balik cari supplier kain sampai akhirnya produknya jadi dan nanti tinggal promosi sana-sini." Melisa terus berceloteh.
Zevanna jadi menyesal sudah bertanya. Namun, hatinya sedikit lega mengingat pikiran negatifnya tidak terbukti. "Iya, iya. Terus sekarang Mama minta aku ke sini buat apa?"
"Yeah, nggak ngapa-ngapain sebenarnya cuma mau pesen mulai sekarang kalau kamu ke mana-mana tolong bilang, termasuk nginep di rumah Adrian. Inget, Ze, Mama sekarang cuma punya kamu di sini. Kakak kamu jauh di Singapura." Melisa memasang wajah memelas.
"Iya, Ma. Jangan sedih, please." Walaupun ibunya menyebalkan, tapi Zevanna tetap menyayanginya dan ikut sedih setiap kali wanita yang telah melahirkannya itu mencurahkan kesedihannya. Zevanna tahu persis bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai karena ia pernah merasakannya sewaktu Jayden meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. "Aku ke toilet, ya. Abis itu langsung kerja, nggak enak sama yang lain."
"Mama juga mau ngecek yang lain."
Ibu dan anak itu bangkit berdiri. Sementara Zevanna masuk ke toilet yang ada di ruang kerja ibunya, Melisa yang baru keluar ruangan berbarengan dengan Jayden yang juga keluar dari mini studio.
"Haus, Jay?" tanya Melisa.
"Eh, iya, Tan. Tante mau minum juga?" Jayden menawari.
"Boleh."
Lelaki itu mengambil dua minuman dingin yang tersedia di kulkas dan memberikan salah satunya kepada bosnya. Interaksi keduanya yang terdengar sampai ruang make up menyita perhatian orang-orang di dalamnya sehingga mereka berhamburan keluar.
Salah satu model Melisa yang bernama Keynara yang pertama kali menyeletuk, "Tante, sekarang produksi baju cowok juga?"
"Nggak. Ini Jayden, dia bukan model, tapi fotografer kita," jawab Melisa tahu ke mana arah pembicaraan Keynara.
Jayden yang dianugerahi wajah rupawan ditambah tingginya yang juga di atas rata-rata memang lebih cocok dijadikan model, daripada fotografer. Mungkin suatu hari nanti kalau Melisa sudah merambah fashion pria, dia akan meminta lelaki itu menjadi modelnya.
Mereka kecuali Bobby mengangguk-anggukkan kepala. "Kenalin, aku Keynara. Biasa dipanggil Kekey." Keynara memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.
Jayden membalas uluran tangan di depannya dan tersenyum tipis. "Jayden."
"Aku Priscilla, panggil aja Prissy." Gantian Priscilla yang memperkenalkan diri, dan Jayden pun mengulangi hal yang sama seperti sebelumnya.
"Ribet kalian berdua. Kenalin, aku Gwen dan yang paling cantik sendiri ini namanya Bobby." Gwen melirik laki-laki di sebelahnya.
"Mau gue botakin lo bilang kayak gitu," sungut Bobby.
Gadis berambut cokelat karamel itu hanya tertawa. Gwen memang paling muda, tapi dia juga yang paling usil.
"Eumm ... tempatnya udah siap. Mungkin Tante mau lihat dulu," ucap Jayden pada Melisa.
Wanita itu mengangguk. "Kalian cepetan, ya," katanya pada Keynara dan yang lainnya.
Tepat ketika Jayden dan Melisa masuk ke mini studio, Olive yang juga menjadi model untuk pemotretan hari ini muncul bersama Zevanna yang baru beres dari toilet.
"Woahhh ... telat lo berdua," ujar Gwen berapi-api. Dia memang paling semangat jika sudah menyangkut pria-pria tampan.
"Telat apaan?" tanya Olive malas-malasan.
"Ada cowok ganteng. Fotografer kali ini ganteng pol. I swear." Gwen mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Bang Indra? Doi 'kan emang ganteng," balas Olive sambil mendudukkan tubuhnya di kursi empuk.
"Bukan Bang Indra. Tuh, suaranya kedengaran." Gwen tidak jadi mendaratkan bokongnya. Dia kembali berjalan menuju pintu untuk mencuri-curi pandang. "Sini, sini. Orangnya nongol lagi. Kayaknya mau ke ruangannya Tante Melisa, deh."
"Namanya siapa?" tanya Olive yang kini sudah berdiri di belakang Gwen.
"Jayden, namanya Jayden."
Mendengar nama Jayden disebut, Zevanna yang tadinya acuh tak acuh kontan melirikkan ekor matanya ke arah pintu. Dan tepat! Jayden yang baru saja melewati ruang make up bersama ibunya adalah Jayden yang sama dengan mantan kekasihnya.
What the heck? Dada Zevanna bergemuruh.