
Hari ini adalah hari yang ditunggu Anala setelah masa magang yang melelahkan selama tiga bulan. Me time. itulah istilah kece anak muda sekarang menyebutnya.
Teman-teman Anala sudah menyusun acara untuk merayakan akhir dari masa magang mereka di kawasan puncak kota hujan Bogor itu. Puncak adalah tempat wisata yang sangat banyak dijumpai para wisatawan di kala musim liburan tiba, pasalnya puncak merupakan daerah dingin, di sana juga banyak fasilitas penginapan yang sudah tersedia dilengkapi dengan pemandangan dari daerah puncak tersebut yang sangat indah itulah yang membuat banyak wisatawan mancanegara juga banyak datang berkunjung kesana.
“kring..kring”,
bunyi telepon diseberang sana.
“iya kamu udah siap-siap belum diana?”, tanya Anala kepada temannya, sambil mengumpulkan semua keperluan yang diperlukan termasuk alat-alat mandi dan make up nya.
“udah nih, saya nunggu kamu di rumah aja yah?”, jawab Diana santai yang sudah siap dengan kepergiannya ke puncak dalam rangka refreshing pikiran.
Break..
suara pecah berasal dari kamar Anala, bedak yang baru tiga hari yang lalu dibelinya pecah berkeping-keping di atas lantai ketika Anala membereskan semua keperluannya.
“haduh belum juga puas dipakai udah pecah aja”, Anala berbisik sendiri dan juga pasrah dengan itu semua.
“ada apa ya umma?”, tanya Maryam tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Anala.
“ini bedak umma pecah, tapi ya sudahlah nak”, jawab Anala pasrah dan Maryam juga diam melihat umma yang membereskan semua keperluannya.
“Maryam, dua hari dari sekarang kamu di rumah Oma dulu ya nak, umma mau pergi yah”, bujuk Anala kepada Maryam dengan segenap ekspresi kasih sayangnya.
“ya udah, nanti mau diajak Oma jalan-jalan juga umma ”, katanya sambil es krim coklat yang menyebar di sekeliling bibirnya.
“oh ya, jangan nakal-nakal kalau jalan-jalan sama oma nanti yah”, “”siap umma, jawab Maryam cepat.
Setelah pergi mengantar Maryam menuju rumah ibunya Anala langsung menuju rumah temannya satu persatu, Anala pergi ke puncak bersama lima temannya, hanya Anala yang sudah menikah dan punya anak.
“Anala Maryam nggak sedih kamu tinggal”, “kenapa nggak dibawa aja sih”, tanya teman Anala dan yang lain menimpali.
“iya kasian Maryam ibunya me time anaknya tinggal sama neneknya”, timpal teman Anala yang lain dan semuanya tertawa kecut.
“gini guys, ini kan acara kita saya juga ingin liburan, bukannya egois, kalo mama nggak ngizinin saya juga nggak akan pergi loh, sekalian mama yang nyuruh dan memberi izin saya langsung gass aja”, jawab Anala dengan penjelasan panjangnya.
“besok-besok kalau kita jalan-jalan kamu ajak Maryam ya”, pinta salah satu teman Anala.
“iya, kalau dia mau, kan dia punya keputusan sendiri yang nggak bisa di ganggu gugat”, jawab Anala sambil memainkan setir mobilnya ke kanan dan ke kiri.
“Anala, kita mampir di warung yah, aku mau beli snack lapar nih”.
“iya saya juga”, pinta teman-teman Anala.
“ok sip”, jawab Anala simple.
Akhirnya Anala memberhentikan mobilnya di salah satu warung yang menjual snack melimpah dan tentunya berbagai macam jenis snack.
“Lapar nih, cari makan yuk”, ajak Diana teman Anala kepada teman yang lain dan juga mengiyakan.
“ya, aku juga lapar nih, yuk keluar yuk cari makan kita, mana tahu bisa gebetan juga”, timpal teman Anala dan teman yang lain bersorak.
“huuuuuu”, “gebetan mulu lu, nggak ada yang lain, kita mah kalau berkualitas laki-laki pada nongol semua”, sambung Diana sambil menaikan alis dan senyum kecutnya.
Sepertinya jagung bakar adalah makanan yang pertama mereka cicipi, aroma jagung bakar ketika sedang di atas bara api sungguh sangat membuat cacing meronta-ronta, apalagi makannya di puncak dengan suhu udara yang sangat dingin, satu persatu pesanan jagung bakar mereka datang dan mereka langsung melahap jagung tersebut dengan lahap dan tidak ada satu biji pun yang tersisa.
“sepertinya aku belum kenyang yah”, Anala yang melihat kiri dan kanan, makanan yang akan dia beli.
“bakso enak kali ya, dingin-dingin gini”, sambung salah satu teman Anala.
“iya enak nih”, timpal yang lain. Di balik spanduk putih hijau yang menggambarkan berbagai macam bakso yang ada di warung tersebut, mereka udah dibuat seperti kucing kelaparan, apalagi melihat semangkok bakso di depan mata mereka.
“mas, pesan bakso lima porsi mas”, pesan Anala kepada tukang bakso berkumis lebat itu.
“iya nak, silahkan duduk dulu yah”, jawab kang bakso sambil senyum separuh
Menunggu bakso dengan pelanggan yang begitu banyak cukup membuat jenuh dan bosan, dan ditambah dengan aroma bakso yang tidak pernah berhenti melewati indra penciuman mereka.
“hay dokter Anala”, panggil seorang laki-laki perawakan tinggi yang memakai masker lengkap dengan jaket berwarna hitam dan ditambah topi putih polos yang terletak kokoh di atas kepalanya.
“ya hayy”, jawab Anala pelan.
Jika bukan Anala yang dimaksud, malu itu tidak terlalu besar menghampirinya dikarenakan di sana banyak orang yang membeli bakso, mungkin yang dimaksudnya Anala yang lain, tapi mata Anala begitu intens memperhatikan sosok laki-laki yang semakin mendekatinya itu, ya siapa coba kalau bukan dokter Rangga.
Dimana ada Anala di sana ada Rangga.
“ya dokter rangga ternyata, saya pikir siapa”, sambung Anala setelah dokter Rangga membuka maskernya.
“hey semuanya”, sapa Rangga kepada teman Anala.
“hai juga dokter”, jawab teman Anala yang begitu terpesona melihat laki-laki yang didambakan semua perempuan itu ada di hadapannya.
“dokter ada apa kesini?”, tanya Anala sambil menaikkan alisnya.
“sama teman, kebetulan dua hari ini saya libur Anala, jadi saya liburan ke puncak sambil refreshing pikiran yang semrawut ini”, jawab yang diakhiri ketawa tipisnya yang membuat perempuan di sana tak berkedip sedikitpun.
“oh ya saya mau makan dulu yah”, akhir Rangga yang sebenarnya tidak nyaman mulai dipandangi banyak kaum hawa tersebut terpaksa dia memakai kembali masker yang tergantung di dagunya itu.
Anala dan temannya nampak sibuk sedang meracik bakso mereka masing-masing, Anala cukup memberikan kecap dan sambal sedikit ke dalam mangkok baksonya, karena tidak ingin menutupi rasa alami dari kaldu kuah bakso itu sendiri, ketika yang lain tidak bergumam menikmati bakso tersebut, mereka dikejutkan dengan kejadian oleh orang di meja sebelah mereka, yang ternyata banyak saos sambal yang tumpah di dalam mangkok baksonya karena tutup saos tersebut tidak kokoh dan membuat saos tersebut keluar tanpa terkendali, akhirnya bapak kumis penjual bakso abang tersebut dengan satu mangkok bakso yang baru.
Bersambung......