Analaa

Analaa
akhirnya tiba dirumah



Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan juga cerita panjang, akhirnya rangga dan Putra tiba di rumah Rangga yang berada di kawasan perumahan asri yang hijau dengan pemandangan pepohonan di sekelilingnya.


Debu yang menempel di lantai sepertinya rindu sekali dibelai dan dibersihkan oleh tuan punya rumah, yang sudah melekat lebih sehari dan kesepian dan jga rindu siulan majikannya di pagi hari itu.


ceklek..


Rangga


membuka pintu rumah yang seperti sudah lebih setahun dia tinggalkan, padahal tidak sampai dua hari rumah tesebut merasa kesepian tanpa kehadirannya.


“ngga, lu nyuruh gue masuk gitu?’, tanya Putra yang mematung di depan pintu rumah Rangga.


“tumben lu tanya gue, biasanya lu nyelonong aja masuk ke rumah gue kayak maling komplek”, balas Rangga.


yang kesal melihat basa basi Putra, yang minta dilayani seperti putra raja.


“lu mau masuk, silahkan masuk, kalau nggak mau, ya udah pulang sana ke rumah lo”, kesal Rangga lagi.


“tega banget lu ngga, tega lu ngomong kayak sama gue ”, ucap Putra pura – pura sedih di belakang Rangga yang sudah lebih duluan pergi ke kamarnya, walaupun dengan langkah yang tertatih – tatih.


“kayak bencong lu Put, alay banget, gue capek mau istirahat”, teriak Rangga dari dalam kamarnya.


“lah gua ngapain disini, mau lihat lu tidur”, tanya Putra, yang bingung posisinya sekarang sebagai apa.


“lu nggak capek, nih tidur di kamar sebelah, gue sih nggak mau tidur berdua sama loh”, tambah Rangga lagi.


Yang sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang bersih dan juga bersiap – siap untuk tidur sejenak sebelum waktu sholat masuk.


“gue di kamar lu aja ngga, nggak mau gue tidur sendiri”, teriak Putra yang sedang meletakkan barang – barang rangga di sebelah dapur dan berlari menuju kamar Rangga dan segera merebahkan punggung di atas kasur empuk milik Rangga tersebut.


“ngga enak banget yah, bisa tidur nyenyak nih malam ini”, ucap Putra sambil melihat langit –langit kamar rangga.


“hmmmm”, balas Rangga, “tuh langit - langit kamar lu udah banyak sarang laba –laba tuh, bentar lagi udah kayak di rumah hantu lu, kalau nggak dibersihin”, tambah Putra.


” hmmmmm”, balas Rangga, “lu hmmm mulu, lu dengerin gue nggak sih ngga”, tanya Putra sambil menoleh ke rah Rangga yang sudah ngantuk berat karena semalam mereka bergadang karena hantu minim abad yang mengganggu waktu tidur mereka.


“capek banget ternyata ”, bisik Putra pelan.


“tidur aja Put, lu nggak capek emang, nanti kalau udah adzan bangunin gue yah, gue mau tidur bentar”, tambah Rangga dalam keadaaan mata terpejam.


Mereka berdua sedang menikmati waktu istirahat yang kemarin malam dirampas setan rumah sakit.


Di sebuah rumah hunian nan indah yang di dominasi warna pink rose tersebut, tampak seorang anak dan ibunya sedang memasak makan yang lumayan banyak dari biasanya, karena sore ini mereka kedatang tamu istimewa, Anala tampak sibuk sedang memasak rendang dan juga makanan lainnya yang menjadi kesukaan Rangga dan juga Putra. Rangga dan Putra tidak enak hati kalau Anala dan Maryam berkunjung kerumahnya untuk menjenguknya, karena ada mereka berdua di rumah tersebut, jika mereka berkunjung ke rumah Anala di sana ada teman – teman Anala juga yang datang kesana, jadi mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Anala, walaupun kegiatan menjenguk itu menyalahi aturan, seharusnya yang sakit dijenguk kerumahnya, lain halnya dengan ini, malah yang sakit yang harus berkunjung ke rumah temannya yang sehat.


Hati yang gundah seorang Anala tidak hanya dirasakan olehnya, melainkan juga seorang Maryam, yang menanyakan keadaaan Anala pada saat ini.


“umma, umma sedang sakit yah, kok diam aja?”, tanya maryam.


“nggak nak, umma lagi mikirin menu apa aja yang akan kita masak”, bohong Anala.


“ohhh, kita masak puding aja umma, soalnya aku mau puding jeruk yang sering umma buat itu”, pinta Maryam yang ingin menyantap pudingnya.


“ok, kalau gitu kamu kuas jeruk yah nak”, perintah Anala.


“ok umma”, jawab Maryam sambil mengambil beberapa jeruk di dalam kulkas mereka dan juga es krim sebagai cemilan siang yang agak panas ini.


“umma, om Rangga jadi datang nggak sore ini?”, tanya Maryam yang tampak meyakinkan pada Anala tentang kedatangan Rangga dan temannya itu.


“kata om Rangga datang, tapi nanti kita lihat nanti, yang pasti anti Di datang kok”, jelas Anala , walaupun Anala sudah tau bahwa Rangga benar – benar akan datang nanti sore, tapi dia tidak menyampaikan hal tersebut pada maryam agar menjadi kejutan tersendiri bagi maryam kedatangan orang yang amat dia rindukan itu.


Diana dan Putri, temannya Anala sudah datang di rumah, dan juga sudah menghidangkan semua makanan di atas meja mereka di ruang tamu, tapi ada satu hal yang belum lengkap yaitu kedatangan Rangga dan putra.


“Ngga, bangun ngga, ini udah jam setengah tiga, kita belum sholat dzuhur, bangun woi”, ucap Putra yang segera menuju kamar mandi untuk wudhu, “Putra, lu ngapain nggak ngebangun gue”, pekik Rangga dan berusaha duduk dari tidurnya, “lah gue barusan bangunin lu, gue juga ketiduran tadi”, balas Putra yang siap- sia mau melakukan sholat, “wudhu dulu, bentar lagi ashar nih”.


“iya.. iya”, jawab Rangga yang menuju kamar mandinya.


Dengan segala persiapan akhirnya, Rangga dan Putra berjalan menuju garasi mobil untuk menuju rumah Anala, Rangga yang tampak membawa sebuah tongkat sebagai pembantu dia dalam berjalan. Kesembuhan Rangga sungguh sangat cepat menurut dia juga dokter lain yang bertugas di rumah sakit kemarin , dalam keadaaan tulang patah dan luka – luka, tapi juga bisa hura – hura tanpa berkeluh kesah. sekitar lima belas menit lagi Rangga dan juga Putra akan sampai di rumah Anala.


Ketika terdengar bunyi mobil dari luar rumah mereka, maryam berlari melihat mobil tersebut ke rah pintu depan, Maryam sebelumnya tidak pernah melihat mobil tersebut dan orang yang membawanya, tapi setelah penumpang sebelah kirinya turun, akhirnya maryam kenal dan sangat mengenal orang tersebut.


“om Rangga”, pekik Maryam yang menghampiri Rangga, “om, kenapa pakai tongkat, ini kenapa di perban, om terluka ya?”.


tanya Maryam sambil melihat semua kejanggalan yang ada di badan Rangga.


“iya, om kemarin jatuh, tapi semua sudah nggak sakit kok, cantik banget kamu nak”, jelas Rangga dan memuji penampilan Maryam yang cantik ditambah dengan gaya rambut ala princess nya.


“om, ini siapa?, om hehehehe”, tanya Maryam sedikit berbisik ke arah rangga, dan tersenyum kecut ke arah Putra.


“oh ini om Putra, tapi dia ini musuhnya avatar sang pengendali air, api dan udara”, jelas Rangga sambil tertawa lepas.


“om ayok masuk, di dalam udah ada anti Diana sama anti Putri juga”, ajaknya.


“ngga ada kesempatan nih”, bisik Putra sambil menaikkan satu alisnya.


“lu jangan macam – macam Put, awas lo, gue kesini nggak mau cari gara - gara ya”, nasehat Rangga.


“gue nggak cari gara – gara, Cuma ingin tebar pesona dikit aja, lu nggak kasian lihat gue jomblo ngga”, bisik Putra yang sudah tiba diambang pintu.


“assalamualaikum”.


“waalaikumsalam”


Jawab semua orang yang ada di dalam rumah Anala tersebut, termasuk Diana dan juga Putri yang sudah menunggu duduk di samping meja dan sedikit sibuk dengan ponselnya tanpa dia sadari ada orang yang sungguh menarik perhatian kedua teman lainnya.


“put, jawab liat tuh”, sikut Diana pada Putri yang tidak acuh dengan panggilan Diana, ‘iya ada apa”, tanya Putri yang masih tidak berpaling dengan ponselnya.


“liat tuh, lu jangan sok sibuk gitulah Put”, tambah Diana yang sedikit mencubit paha Putri.


“ih sakit tau, emang ada apa?”, pekik Putri dan melihat ada dua orang laki – laki tampan nan perkasa sedang berada di depan matanya secara langsung dan sambil tersenyum ke arahnya.


“hai”, sapa Putri kepada dua orang laki – laki tersebut yang belum dia tahu namanya tersebut.


“hay, saya Rangga dan ini teman saya Putra”, sapa Rangga yang memulai memperkenalkan dirinya tepatnya kepada Putri, pasalnya Diana sudah mengenalnya.


“hay Putra, saya Diana, dan yang ini Anala, dan yang ini Putri”, jelas Diana dengan sedikit tersipu malu.


“hey juga”, sapa Putra yang pura – pura menjadi pria introvert di depan sahabat Anala tersebut.


Percakapan antara mereka sedang membahas topik hangat, yang membuat ruangan tersebut sangat jauh dari kata hening, ketika satu obrolan sudah habis, maka yang lain memulai obrolan baru lagi, sampai berlangsung satu jam lebih lamanya, dan suasana tersebut dialihkan oleh Anala untuk menyuruh teman dan tamunya tersebut segera menyantap hidangan yang sudah dia siapkan bersama teman – temannya tadi.


“ayok dok, Putra, kita mulai makannya yuk, nanti keburu basi”, basa basi Anala yang diakhiri dengan sedikit tawa.


“ini semua idenya maryam”, tambah Anala yang sedang berada duduk disampingnya putrinya tersebut.


“om cobain deh, enak loh”, ajak Maryam pada Rangga dan juga Putra, “iya, nanti pulang om minta dibungkus umma ya”, candaan Rangga, yang membuat semuanya tersenyum kecut.


“Ann, ambilkan tuh dokter Rangga nya, kan tangannya masih sakit”, timbal Diana.


“iya.. iya, tau kok”, jawab Anala sedikit melotot ke arah Diana, yang sedang meledek Anala. Dentang denting sendok yang saling bersahutan menambah lengkap acara silaturrahmi antar dua persahabatan ini.


Maryam yang tampak tidak banyak bicara hari ini, hanya sebagai pendengar yang baik bagi orang - orang dewasa yang ada di sekitarnya, walaupun dia tidak paham dengan topik pembicaraan tersebut dia hanya berusaha tidak banyak tingkah di samping uma nya.


“Maryam hari ini udah makan es krim belum?”, tanya Rangga, sontak membuat Maryam menatap Rangga dengan senyum lebarnya, yang sebelumnya dia hanya fokus dengan ipad yang ada di tangannya.


“belum om”, jawab sambil senyum.


“mau beli es krim nggak?”, tanya rangga lagi.


“mau sih om, tapi....”, jawaban maryam tersangkut di akhir kalimatnya dan langsung menghadap Anala si pemberi keputusan, “boleh ngak umma?”, tanya Maryam.


“nggak usah nak, om Rangga lagi sakit, nanti nyusahin om Rangga aja, nanti aja yah”, pujuk Anala.


“yahhhhh, ngak boleh om, nanti – nanti aja ya om”, pasrah Maryam yang menunjukkan gemasnya pipi bulat nya


“kok kamu imut banget sih?”, tiba – tiba Putra menimpali yang tidak sanggup melihat tingkah lucu Maryam dan jenius itu.


“om siapanya om Rangga?”, tanya Maryam yang sambil menyelidik orang baru yang hadir di tengah mereka tersebut.


“haaaaa”, Rangga tertawa lepas yang menanyakan tentang posisi Putra.


“om Putra sahabatnya om Maryam, ganteng nggak?”, jelas Rangga,


‘ganteng lah, pake ditanya lai’, batin Putri dan juga Diana.


“ganteng nggak anti ?”, tanya Maryam pada Diana dan juga Putri, sontak mereka tidak siap dengan jawaban pertanyaan Maryam secara tiba – tiba tersebut.


“hmmmm”, Diana sedikit membingung, “ya semua laki – laki ganteng lah nak, kalau perempuan itu cantik”, bela Putri sambil tersenyum ke arah Putra.


“makasih ”, jawab Putra.


“cieeee”, ledek Rangga yang membuat Putra sedikit malu – malu.


“sok malu – malu Put”, ledek Rangga lagi, ‘ternyata mereka berdua ini suka meledek satu sama lain juga, saya pikir dia introvert’, batin Putri.


“nih pudingnya, cobain deh, masih seger banget”, Anala yang datang dari dapur membawa beberapa mangkok puding untuk mereka santap bersama.


“ada lagi nih”, timpal Rangga.


“enak yah punya calon istri yang pintar masak”, timpal Putra yang membuat Rangga sedikit bergidik takut akan pertanyaan dadakan maryam.


“siapa om, calon istrinya?”, benar saja si kecil maryam menangkap topik yang sedang mereka bicarakan.


“nggak ada apa – apa kok sayang”, netral putra, semua mata sedang melotot ke arah Putra.


“Maryam yok kita beli es krim yuk, sini om temenin, kayaknya di depan sana ada es krim deh”, bujuk Putra dan Maryam langsung menyahutinya.


“mau om, mau”, riang Maryam.


Setelah prosesi makan – makan selesai mereka duduk di depan tv sambil bercerita tentang kesibukan mereka masing – masing saat ini, dan menanyakan kondisi Rangga saat pasca kecelakaan kemarin.


“udah sembuh ini tangannya dok, sepertinya kemarin kaku banget”, tanya Anala sambil melihat kondisi tangan Rangga dengan teliti.


“yang tangan udah, tapi kaki masih belum lentur, dijahitnya lebih dari sepuluh”.


“sepuluh?”, tanya Diana yang tidak percaya.


“iya bahkan lebih Di”, jawab Rangga yang memastikan.


"Ann",Tanya Rangga sambil lawan bicaranya tersebut dengan ekspresi penuh tanya.


“iya ada apa?”, jawab Anala, “kemarin kamu merasa aneh kan di rumah sakit, tepatnya di kamar aku kemarin?”, tanya Rangga yang langsung masuk ke topik inti pertanyaannya.


“iya sih, emang ada apa malamnya, aku penasaran deh”, tanya Anala penasaran juga takut akan terjadi hal apa yang ada di pikirannya.


“malam sih kami nggak tidur Ann, diganggu tuh sama makhluk astral itu”.


“apa, gila ”, respon Diana dan juga Putri dan sedikit duduk mendekat ke samping Anala.


“ceritain lah dok, kami penasaran”, ucap Diana.


“malam itu kam nggak tidur, dari luar dia terus memukul pintu tersebut sampai ada getaran yang kami lihat dari balik pintu, setelah beberapa menit berhenti, setelah dia ulangi kembali, jadi kami nggak bisa tidur nyenyak”, jelas Rangga ringkas.


“kenapa nggak panggil, perawat rumah sakit itu?”, “kami udah mencoba memanggil perawat tapi di luar itu seperti nggak ada yang lewat apalagi yang melihat kami, kejadian itu berlangsung mencekam waktu pukul dua pagi sampai sebelum subuh “, tambah Rangga lagi.


“lihat nggak dok, mukanya kayak gimana, mana tahu ada orang iseng dari luar kamar kan?”, tanya Diana.


“sempat saya suruh Putra untuk mengintip orang yang ada diluar kamar, tapi dia malah takut”, jelas Rangga yang seperti sudah mulai melempar aib temannya tersebut kepada orang lain.


“yahh, payah si Putra”, respon Diana sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya.


“emang aneh ya dok, waktu saya turun untuk makanan siang itu, kayak ada aura yang aneh aja”, tambah Anala dengan sedikit bergidik takut.


“tapi alhamdulillah saya bisa pulang cepat sih, kalau nggak tahu gimana tuh”, jawab Rangga.


“assalamualaikum,


ada es krim, siapa yang mau”, pekik Maryam dari ujung pintu yang membawa sekantong es krim coklat kesukaannya.


“ini om buat om, ini buat anti, dan ini buat umma, yang beliin om Putra ya, minta makasih sama om Putra aja”, respon lucu Maryam, yang membuat Rangga ngakak.


“makasih om Putra”, ucap semua orang yang ada di sana, “hahaha lucu semuanya”, ledek Maryam yang melihat tingkah – tingkah dewasa manusia yang di dekatnya tersebut.


Putra yang duduk di dekat Putri sedikit deg degan untuk berbuat sesuatu.


“oh ya Put, tadi katanya mau kenalan sama temannya Ann, kenapa tuh, setahu saya Diana udah punya teman dekat, gimana Put?”, ledek Rangga.


“apaan sih ngga, lu parah lu”, Putra tidak bisa ber word – word dengan ledekan keras Rangga tersebut.


Dua sahabat yang saling menjalin silaturrahmi, walaupun diatara mereka ada yang sedang dilanda gejolak asmara, tapi tetap dengan batasan – batasan peraturan yang semestinya. Anala akan sangat menjaga jika dia berkomunikasi dan bertemu dengan orang – orang yang tidak berasal dari dalam lingkup pertemannnya, termasuk Rangga, pria yang sedang menyimpan rasa yang besar tehadap Anala tersebut tidak selalu bisa mengajak Anala bertemu apa lagi melakukan kegiatan – kegiatan berduaan, karena Anala menjaga namanya dan juga keluarga agar tidak tercoreng oleh tingkahnya yang egois.