Analaa

Analaa
kecelakaan rangga



"Nih orang bukanya mikirin badannya malah mikirin barang – barang nya ini, dasar”, kesal Anala di dalam mobil sambil mengemudikan mobilnya tersebut, Rangga yang dalam ambulance tampak lebih tenang setelah Anala memberikan penjelasan mengenai barangnya tersebut, bagaimana tidak di sana di dalam laptop sana, ada berbagai file penting yang bisa mengancam dirinya, dan memuat data – data penting.


“syukurlah untung ada Anala yang tidak panik melihat saya seperti ini”, batin Rangga yang mulai tampak lebih rileks dari sebelumnya.


ditambah Anala juga mengikuti ambulance yang membawa Rangga tersebut menuju rumah sakit, seakan sakit yang dirasa hilang Rangga merasa semua tulang yang patah menyatu kembali dengan bertemu dirinya sang pujaan hati pada peristiwa ini, badan Rangga memang patah dn berdarah darah, tetapi jiwanya tidak sama sekali dan pikirannya pun sama, Anala lah pengobat segala sakir dan juga rindu yang sudah beberapa hari lamanya tidak bertemu.


Setibanya di depan rumah sakit dan sopir ambulance memberhentikan Rangga tepat di depan para perawat yang sudah sudah dinanti dan menanti kedatang Rangga dan yang lainnya, perawat tersebut tampak sigap mengangkat tubuh Rangga ke atas ranjang pasien dengan dilengkapi infus dan alat kesehatan lainnya, dan Anala yang tidak bisa mengimbangi kemudi sopir ambulance selang beberapa menit, Anala tiba di rumah sakit dimana Rangga diobati, Anala langsung berlari ke dalam rumah sakit sambil membawa makanan dan minuman yang sudah ada sebelumnya di dalam mobilnya tersebut.


“mbak, tadi pasien yang nama Rangga dibawa kemana ya mbak”, tanya Anala kepada salah satu perawat yang ada di meja depan ruang tunggu.


“bentar Mbak, saya lihat dulu”, jawab perawat sambil memeriksa buku data pasien dan memperhatikan nama pasie yang dimaksud.


“ada nih mbak, pasien yang mbak maksud ada di kamar dua belas di lantai dua mbak”, jelas perawat.


“oh ya mbak, terima kasih”, jawab Anala buru – buru, sebelum Anala pergi perawat itu seperti ada yang mau di tanyakan tapi tidak merasa enak dengan Anala.


“ehhhh, tunggu mbak, tunggu dulu, mbak istrinya pasien?”, tanya perawat tersebut sambil tersenyum kecut, takut yang bersangkutan agak merasa tidak enak dengan pertanyaannya.


“oh ya mbak, saya ...”, belum selesai Anala memberikan pertanyaannya, ada anak kecil yang berlari mendekati Anala sambil membawa es krim dan menabrak Anala, alhasil rok Anala kotor karena es krim anak kecil tersebut.


“aduh kamu kenapa lari larian sih naka, tuh kan kakak itu jadi kotor”, kesal ibu dari anak kecil tersebut.


“oh ngga apa – apa buk, namanya juga anak – anak kan buk”, pesan Anala kepada sang ibu agar memarahi anaknya tersebut, karena telah mengotori pakaian Anala.


“maaf mbak, saya lupa mengawasinya tadi, sekali minta maaf ya mbak”, ucap ibu anak itu, dan membawa anak tersebut ke arah kamar mandi untuk dibersihkan dari es krim yang belepotan.


Anala yang sudah teringat dengan Rangga langsung menuju ke kamar dua belas di lantai dua dan mengabaikan kotoran es krim yang ada di celananya tadi, diputar ke kiri dan ke kanan kepalanya oleh Anala melihat tanda –tanda keberadaan orang di sana, tetapi Anala tidak menemukan seorang pun ada orang di sana, seperti rumah kosong, Anala yang mulai merasakan aneh dengan suasana tersebut, berusaha mencari terus keberadaan kamar dua belas, tepat di ujung lorong rumah sakit di sana ada kamar yang dicari cari Anala dari tadi, akhirnya ketemu nomor kamar yang bertuliskan angka dua belas, tampak sunyi dari luar,


tapi ternyata di dalam terdengar erangan suara Rangga yang sedang menahan sakit dari jahitan luka yang begitu dalam di permukaan kulitnya, Anala yang berada di luar ruangan tersebut seakan tidak kuat mendengar suara rangga, belum lagi dengan luka gores yang sedang dibersihkan perawat – perawat yang ada di sana, rasanya Anala ingin saja masuk kesana mengurangi sakit yang seang diderita Rangga pada saat itu.


Tetapi ada prosedur rumah sakit yang harus diikuti Anala, walaupun dirinya adalah seorang dokter begitupun dengan Rangga juga seorang dokter.


“aduh sakit mbak, udah dibius kan”, pekik Rangga dan disudut matanya mulai keluar cairan bening bertanda dia sedang menahan sakit yang luar biasa.


“udah pak udah kami bius, apakah masih terasa sakit pak?”, tanya perawat di sana.


“iya, tambahin lagi ya ,mbak, soalnya saya tidak bisa menahan sakit ini yang terlalu parah ini mbak”, pinta Rangga kepada perawat untuk menambah bius kepada Rangga.


“nih pak kami akan menambah biusnya satu lagi, semoga bapak tidak merasakan sakit ini”, kata perawat yang mulai menyuntikkan bius tersebut, berselang beberapa detik bius yang disuntikkan perawat tersebut menampakkan hasil yang maksimal, Rangga yang tidak bisa merasakan apapun di bagian yang disuntikkan bius tadi, menyuruh perawat untuk segera melanjutkan menjahit luk yang dalam tadi.


“mbak, lanjutin Mbak, sebelum biusnya habis mbak, saya udah nggak bisa merasakan sedikitpun sakit dari luka ini”, jelas Rangga.


“ok ak kaami kaan melanjutkan menjahit luka bapak yang tertunda tadi”, ketika sedang menjahit luka Rangga tadi, Rangga betul – betul tidak bisa menahan sakit dari jahitan untuk lukanya tersebut, Anala yang sedang di kursi luar ruangan tersebut selalu berdoa agar Rangga diberi keselamatan dan kesehatan, di sana Anala juga tampak menghubungi seseorang yaitu Diana, untuk memberikan informasi mengenai Rangga yang barusan mengalami kecelakaan.


“halo Di, kamu dimana?”, tanya anala.


“aku lagi ada di rumah Ana, ada apa atuh Ann, tumben kamu nelpon saya pagi – pagi gini, biasanya malam kalau nggak sore”, jelas diana.


“hush”, bisik Anala dan membuat Diana diam sejenak.


“kenapa sih Ana ada apa sih sebenarnya?”, tanya Diana lagi, “Di, tadi Rangga ketika mau berangkat ke rumah sakit dia kecelakaan”, bisik Anala dengan nada pelan.


“apa Ann, Rangga kecelakaan, apaa sih Ann”, tanya Diana yang ingin betul – betul mendapatkan informasi yang sempurna.


“iya, Rangga tadi kecelakaan pagi tadi”, jelas Anala yang langsung dipotong Diana,


“masa iya , kenapa kecelakaannya.


Rangganya kenapa Ann, gimana dia, diaman kamu sekarang, luka nggak, patah tulang nggak?”, Diana menghujani Anala dengan berbagai pertanyaan panik.


“Di, Rangganya ada di rumah sakit, udah dijahit juga lukanya dan sekarang aku lagi nunggu dia nih, luka tadi yang aku lihat cukup dalam dan banyak banget darah yang keluar, sepertinya udah selesai deh Di, dah”, jelas Anala dan memutuskan sambungan telpon dengan Diana, yang pastinya akan membuat Diana kesal dengan Anala.


“mbak, udah selesai dijahitnya mbak, gimana mbak, lancar atau ada kendala”, Anala penasaran dengan kondisi Rangga yang sedang dalam proses pemilihan tersebut, “tadi ketika mau dijahit, biusnya kurang ternyata mbak, dan kami harus nambah lagi, dan pak Rangga tampak seperti sedang menahan rasa sakit yang cukup besar, kerena luka pak Rangga cukup dalam dan sobekan di pembuluh darah, makanya banyak banget darah yang keluar dari luka ini mbak”, jelas perawat tersebut.


Setelah menjalani pengobatan demi pengobatan di rumah sakit itu akhirnya Rangga dibolehkan pulang untuk istirahat penuh dan pihak akan terus memantau kondisi Rangga setiap harinya dengan mendatangi rumah Rangga dalam dua hari sekali, Rangga yang sudah merasa sudah muli membaik ingin segera pulang dan istirahat di rumah.


“Ann”, panggil Rangga pada anal yang duduk di kuris tepat disamping Ranjang yang ditiduri Rangga.


“iya ada apa?”, tanya anala yang sedang sibuk dengan handphonenya dan sedikit heran dengan ekspresi Rangga yang aneh.


“kenapa dok, ada yang aneh”, tanya Anala lagi.


“nggak apa – apa Ann, tapi Cuma ingin minta tolong kamu, saya mau berdiri ingin pup”, jawab Rangga sambil terkekeh.


“ih kirain ada apa, ayok, coa saya bantu”, bujuk anala yang mencoba membantu Rangga untuk turun dari ranjang tersebut dan mulai melangkah menuju lantai.


“aduh Ann, sakit tunggu dulu, saya nggak kuat Ann, perih, sakit ”, teriak Rangga sambil menahan sakit yang berasal dari sekujur tubuhnya.


“gimana sih, tadi mau ke toilet, kok ngeluh sakit, kamu dokter kan, masa nahan sakit sakit dikit ini aja nggak kuat”, ledek Anala yang bingung dengan sifat Rangga yang tidak semuanya sekarang dibandingkan tadi bersama perawat.


“diam kamu Ann, aku lagi kesakitan ini, kamu kok ngeledek aku sih, kamu nggak kasian sama saya”, bantah Rangga yang kesal dengan statement anala yang membuatnya kesal tidak ketulungan.


“aduh, kok dokter membantah sih, nanti malu loh dilihat pasiennya, dokternya aja kayak gini kalau lagi sakit gimana mau membujuk pasiennya kalau lagi sakit”, tambah Anala lagi yang semakin bertambah membuat Rangga geram.


“Ann, sudah Ann, kamu mau saya telan disini, lagi pun pasien saya nggak ada yang lihat, Cuma kamu orang satu – satunya yang lihat saya kayak gini”, Rangga membalas ledekan Anala dengan statement yang tidak bisa membuat Anala berkutik sedikitpun.


“sudahlah dok, mau saya bantu atau nggak sih”, tanya Anala lagi.


“kan kan, kamu nggak bisa jawab, tuh makanya jangan ngeledek saya, kalau sudah saya kasih satu kalimat itu, kamu kan nggak bisa balas, haaaaa”, jawab Rangga yang diiringi tawa kencangnya yang menandakan bahwa dia adalah pemenang dari lomba debat barusan, Anala yang juga kesal dengan ketawa Rangga, menyentuh kaki sakit Rangga dengan pelan.


“aduh Ann sakit”, Rangga teriak dnegan sisa tenaga yang dia punya, karena ulah Anala yang tidak mau kalah debat dengan Rangga.


"kan sakit kan, maka nya jangan mau berdebat dengan perempuan, huuuu”, sorak Anala yang ingin menang dengan caranya sendiri.


“Ann, kamu kok gitu sih, nanti kalau saya sakit lagi, emangnya kamu mau jagain saya?”, tanya Rangga sambil memegang kakinya.


“kalau dokter mau saya yang jagain, bayarannya agak mahal sih”, tambah Anala yang membuat rangga tersenyum tipis.


“berapa emangnya, yang mahal kata kamu itu, berapa sih”, pungkas Rangga, Anala sambil memikirkan jumlah yang harus dia ucapkan pada Rangga mengenai jumlah bayarin yanga harus dikeluarkan Rangga jika ingin dirawatnya.


“satu juta satu hari”, jawab Anala yang membuat Rangga ketawa terkekeh mendengar bayaran yang diminta Anala jika ingin dirawatnya.


“segitu doang Ann, itu mah murah, ada yang lebih mahal dari itu, kamu mau tau nggak?”, tanya rangga yang sepertinya memancing penasaran Anala untuk tahu bayaran yang paling mahal menurut Rangga.


“emangnya berapa bayaran yang paling mahal yang bisa dokter bayar untuk saya”, dengan pedenya Anala bertanya, dia tidak tahu bahwa setelah ini dia akan tersipu malu dengan jawaban yang diberikan Rangga.


“seperangkat alat solat, kamu mau, nanti kamu tunggu setelah saya sembuh saya akan bayar kamu seperangkat alat solat, tapi kamu nggak seminggu atau sebulan merawat saya, tapi sepanjang hidup kamu, kamu harus rela menjaga saya sepenuh hati dan juga sepenuh jiwa kamu, mau nggak”, ledek Rangga, yang membuat pipi putih Anala memerah seketika.


“ih apaan sih, kok gitu, yok tadi mau ke toilet kan, nanti saya tinggal baru tahu rasa”, Anala ngedumel dalam hati mendengar jawaban Rangga yang barusan yang membuatnya tidka bisa menjawab satu pun kata kata yang ada.


“iya iya, tunggu dulu, kamu tunggu di depan pintu kamar mandi ini ya, jangan kemana - mana”, pinta Rangga yang mulai melangkah ke dalam kamar madi dengan menggunakan tongkat untuk sebagai penumpang dalam berjalan.


“iya iya, ayok cepat, jangan banyak cerita, nanti keburu beku loh airnya”, pungkas Anala yang sudah menemukan selera humornya, karena sering bergaul dengan Rangga si dokter coll dengan selera humor yang tinggi.


“Ann, tolong ambilkan tisu dong”, pinta Rangga yang melhat tisu kamar mandi sudah habis.


“emangnya dimana?”, tanya Anala.


“itu di atas lemari kecil sebelum pintu keluar”, jawab Rangga.


“nih satu cukup kan”, tanya Anala yang menjulurkan sebungkus tisu putih tersebut ke tangan Anala.


“iya, nanti saya tolong”, jawab Anala yang langsung duduk di kursi tamu kamar tersebut, sambil membaca buku majalah yang tertera di sana, Anala merasa sangat ngantuk, berusaha untuk menahan kantuknya sampai Rangga keluar dari kamar mandi.


“ha”, “Ann, tolongin Ann”, teriak Rangga dari dalam kamar mandi, Anala yang sudah mulai mengantuk tidak jadid untuk menyusun niatnya untuk tidur sebentar di atas kursi tersebut.


“ada apa dok, kenapa, masih banyak darah yang keluar, atau gimana sih, nih saya ada di depan pintu kamar mandi”, terang Anala yang cemas dengan keadaan Rangga.


“Ann, boleh tolongin ambil handuk di dalam lemari kecil itu ngga!”, ucap Rangga yang ternyata hanya ingin minta tolong untuk ngambil handuk untuknya, Anala yang sudah terlanjur berfikir buruh tentang Rangga, langsung mencacar Rangga dengan kalimat – kalimat kesalnya.


“ih tadi saya pikir, dokter kenapa – kenapa, ternyata Cuma minta tolong ngambil handuk doang”, terang Anala yang sangat kesal dengan kelakuan Rangga.


“yah kan nggak mungkin saya nggak pakai handuk Ann, saya menag sakit Ann, tapi jiwa saya lagi masih sehat, malu lah sama kamu”, ledek Rangga yang tidak habis dengan bahan ledekan yang ditujukan bagi Anala tersebut.


“nih”, Anala menjulurkan handuk tersebut ke arah depan pintu kamar mandi, Rangga yang mendengar Anala yang sudah berada did depan pintu kamar mandi membuka sedikit pintu kamar mandi dan melihat tangan Anala membawa handuk yang diinginkannya.


“makasih Ann”, jawab Rangga singkat dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan cepat, .


“cepetan yah dok, saya mau pulang soalnya”, bohong Anala.


“lah cepat banget kamu pulang Ann, kamu nggak ikhlas yah nolongin dan jagain saya”, teriak Rangga dari kamar mandi.


“yahh sayang banget saya kan nggak digaji, yah saya pulang lah”, jawab Anala bohong.


“beneran mau digaji Ann, beneran?”, tanya Rangga, dan Anala tidak men jawab satu pun pertanyaan Rangga.


“Ann, gimana mau digaji, kamu mau digaji, dalam bentuk apa?”.


“Diam kamu dok”, jawab Anala dengan nada kesalnya.


“haaaaa”, suara ketawa Ranga menggema dari dalam kamar mandi.


“dok, cepetan mandinya , nanti saya mau pergi,” kesal Anala, yang sebenarnya merasa sendiri karena tidak ada teman untuk bercerita, dikala Rangga berada di dalam kamar mandi.


“Ann, boleh minta tolong lagi nggak?”, teriak Rangga dari dalam kamar mandi, “mau apa dok?”, jawab Anala yang bingung dengan apa yang diminta Rangga.


“tolongin baju saya Ann di dalam tas yang kamu bawa itu, ada baju kaos saya di sana”, terang Rangga, karena baju yang dipakai Rangga sudah berlumuran darah dan juga sudah sobek dan berlubang, Rangga yang tidak nyaman memakai pakaian yang disediakan rumah sakit, akhirnya ingin memutuskan memakai baju yang sudah ada di dalam tasnya, walaupun baju itu terlebih dahulu harus di semprot dengan air anti bakteri oleh Anala.


“Ann, sudah kamu semprot dengan anti septic Ann?”, tanya Rangga memastikan bahwa Anala sudah menyemprot bajunya dengan anti septic.


“sudah ini baju nya”, Anala berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk memberikan baju kaos tersebut pada Rangga yang sudah selesai ritual mandinya.


“makasih Ann”, ucap Rangga di balik pintu kamar mandi.


“iya sama – sama dok”, jawab Anala, “Ann, kita beli makan yok, saya mau nasi uduk nih”, pinta Rangga yang lebih rindu nasi uduk dari memikirkan kesehatannya pada saat ini.


“ih apaan sih dok, bukannya ingin istirahat malah mikirin makanan yang nggak ada disini, nih ada makanan yang diantar perawat barusan, makan yang ini aja yah”, respon Anala.


“aku mau nasi uduk sih Ann, bukan itu”, ngeyel Rangga.


“aku mau tanya, ini kamu atau maryam sih, kok dibilangin masih ngeyel”, kesal Anala yang melihat Rangga tidak mau dibilangin mengenai soal makanan.


“ya mau gimana lagi Ann, kalau sedang sakit itu, apa yang kita mau harus ditunaikan Ann, kadang itu yang bisa membuat meningkatkan hormon bahagia, dan bisa membuat seseorang lebih cepat sembuh dari pada sakitnya ”, jelas Rangga yang tidak mau kalah dengan argumennya.


“tapi disini nggak ada yang jual nasi uduk dok, mau kemana saya cari?”, jawab Anala yang bingung tidak melihat orang menjual nasi udu dari tadi di keliling rumah sakit, apalagi kondisi yang sedikit orang Anala merasa kesepian kalau berjalan sendirian keluar kamar rumah sakit, perasaan takut tadi pagi belum usai di kepala Anala.


“di kantin rumah sakit ini coba tanya An, saya rindu banget sama nasi uduk An, pleaseeee”, ucap Rangga dan tampak benar – benar menginnginkan nasi uduk sang makanan yang sedang dia rindukan itu, “coba saya cari di aplikasi dulu ya dok, mana tau ada ya kan, jadi saya nggak perlu capek – capek cari keluar”, Anala mulai sibuk mencari nasi uduk di aplikasi hijau tersebut, setelah lima menit Anala mencari nasi uduk tidak juga kunjung ditemukan dan Anala mulai menyerah mencari nasi uduk tersebut di hp nya.


“Ann, ketemu nggak”, tanya Rangga yang sudah tidak mencicipi nasi uduk itu.


“nggak ada kayaknya dok, atau ada di dekat sini tapi nggak masuk aplikasi ini”, timbang Anala dan Rangga sangat menyetujui kalau Anala mau memenuhi permintaan Rangga untuk mencari nasi uduk did keliling rumah sakit, “Ann, kamu cari di keliling rumah sakit ini aja yah, mana tau ada, tapi kalau nggak ada, ya udah nggak apa - apa”, jelas Rangga.


melihat raut wajah Rangga yang memeras akhirnya Anala mau menerima permintaan Rangga untuk mencarikan nasi uduk di sekeliling rumah sakit.


“ya udah coba saya cari dulu ya dok,mana tau ada kan, ada lagi yang lain atau mau titip?”, tanya Anala yang sudah mau pergi mencari nasi uduk, ketika Anala berdiri di depan pintu kamar Rangga tersebut,


“Ann, tunggu aku mau jus alpukat satu ya”, pinta Rangga yang juga rindu buah kegemaran sejuta umat tersebut.


“okey”, respon Anala sambil mengangkat ibu jarinya.


“bye, assalamualaikum”, ucap Anala.


Setelah mengambil alih kemudi sedan putihnya tersebut Anala mulai mencari keberadaan nasi uduk yang diinginkan Rangga, sampai ke ujung jalan rumah sakit tersebut Anala belum kunjung menemukan warung nasi uduk yang dicari –cari itu, di sebelah kanan mobil Anala, Anala melihat antrian panjang sampai keluar – keluar karena penasaran Anala menepikan mobilnya di bahu jalan di di bawah pohon rindang yang masih berdiri kokoh.


“mbak boleh tanya disini jual apa ya mbak, kok banyak banget yang beli?”, tanya Anala pada salah satu pelanggan warung yang belum diketahui tentang jualannya.


“ada banyak mbak, mbaknya mau apa, tapi disini nggak ada nasi padang mbak”, jelas mbak – mbak tersebut,


‘saya ngak cari nasi mbak’, batin Anala,


“kalau nasi uduk ada nggak disini mbak, soalnya saya mau nasi uduk mbak”, tanya Anala dengan ekspresi benar – benar berharap dengan adanya nasi uduknya.


“mbak, mbaknya sedang ngidam ya, kayaknya pengen banget sama nasi uduknya” , tanya mbak tersebut heran.


“nggak mbak, saya mau beliin nasi uduk buat teman saya yang lagi sakit dia ingin banget sama nasi uduk”, jelas Anala .


“ouch, coba tanya sama yang jual itu mbak, masih ada atau nggak nasi uduknya,tadi ada sih, mbak ish datangnya lambat”, jelas mbak tersebut dengan sedikit rempong, ‘aduh mbak, kalau saya tau , dari tadi saya kesini mbak,


astagfirullah’, batin Anala, “okey mbak , terima kasih”, ucap Anala.


“mas, nasi uduknya masih ada nggak sih?”, tanya Anala yang berharap nasi uduknya ada.


“tinggal satu mbak, ada nih”, jawab mas yang jual tersebut.


“oh ya mas, itu buat saya aja mas, untuk teman saya soalnya, dia sedang sakit”, jelas Anala dengan sedikit merasa haru.


“ok mbak, tunggu dulu mbak saya ambilkan dulu yah, mbaknya boleh duduk dulu di kursi itu, nanti kalau sudah selesai saya panggil, ”, tunjuk masnya untuk bisa menunggu pesanannya dan anala duduk di kursi di samping bapak – bapak yang menanti pesanan nasi goreng paginya, setelah melihat hp, anala tidak sengaja melihat pesan dari Rangga yang menanyakan keberadaan nasi uduknya.


“ada nih, tapi harganya sepuluh kali lipat”, bohong Anala.


“nggak apa – apa Ann, nanti saya bayar, sama upah ongkirnya sekalian yah”, jawab Rangga lengkap dengan stiker ngakak koleksinya.


“saya bukan tukang antar makanan dok, saya orang suruhan anda”, jawab Anala kesal dengan pernyataan candaan Rangga tersebut.


“ayok cepat pulang, saya rindu”, suruh rangga yang menjadi ambigu jika dibaca sekali.


“maksudnya rindu nasi uduknya”, tambah Rangga, “tunggu bentar, ini lagi dibungkus dok, sabar dikit yah, masa dokter nggak sabaran”, ledek Anala.


“saya laper Ann, beneran”.


“mbak, ini nasi uduknya udah siap”, teriak salah satu mas yang menjinjing kantong plastik yang berisikan nasi uduk tersebut.


“ini mas, terima kasih”, ucap Anala yang berusaha cepat berpindah langkah dari tempat itu ke rumah sakit, Setelah tiba di depan rumah sakit Anala merasakan hal yang sama, yaitu merasa kesepian dengan tidak adanya orang yang rame di sana layaknya rumah sakit pada umumnya yang banyak pengunjung dan juga pasiennya, tapi bagus juga dengan tidak adanya pasien, berarti kurangnya angka masyarakat yang sedang sakit, tapi suasana rumah sakit menjadi seperti mencekam bagi Anala, kalau bisa terbang langsung menuju lantai dua, mungkin Anala langsung terbang menuju kamar Rangga tersebut,


“tok..tok..tok, assalamualaikum”,


ucap Anala yang ingin memasuki kamar rangga tersebut, selama di ruangan Anala dan Rangga sengaja membuka pintu kamarnya, karena di sana cuma ada mereka berdua.


“alhamdulillah akhirnya datang juga apa yang saya tunggu”, girang rangga menyambut kedatangan Anala dengan sebuah kantng plastik berisikan nasi uduknya.