Analaa

Analaa
ungkapan hati anala



Sambil menyuapi tusukan demi tusukan sate Padang Anala semakin banyak mengeluarkan isi hatinya kepada Diana seputra Rangga dan juga Maryam. Hati yang lama tak berpenghuni tiba-tiba datang yang mau membuka lembaran baru, betapa mulai hilangnya rasa sendiri dan kesunyian itu.


“Ann, nanti kalau dia mau ngelamar kamu, kamu mau nggak?”, tanya Diana yang membuat Anala bingung mau menjawab nya bagaimana.


“aku nggak tau Di, dia aja nggak ada ngomong apa-apa sama saya kok, kenapa saya harus mikirin itu”, jawab Anala yang menerima suapan terakhir dari tangan kanannya.


“dia memang nggak ngomong Ann, kamu lihat apa dari perilaku dan juga cara memperlakukan kamu dan juga Maryam seperti keluarganya sendiri dan sayangnya sama kamu dan juga Maryam.


"kamu nggak lihat apa”, respon Diana yang mulai kesal karena Anala tidak peka dengan semua sifat laki-laki yang sedang mengejar janda gadis anak satu itu.


Untuk sekarang Anala pun bingung untuk hidupnya yang harus memilih apa, dia tidak hanya butuh sosok suami saja, tapi suami yang sebagai teman bercerita, teman berkeluh kesah, dan tempat mengadu tentang masalah dunia dan juga pembimbing masalah surga.


Kepahitan masa lalu tidak bisa dia hilangkan begitu saja, dan kejamnya peristiwa tidak bisa terlepas dari ingatannya. Kamil sudah pergi hampir empat tahun lamanya, tapi rasa sayang dan juga perhatiannya masih lagi berbekas di ingatan dan hati Anala, sebenarnya dia butuh sisik yang bisa sebagai tempat berlindung di kala masa terpuruknya, butuh sosok pemberani di saat masa takutnya, butuh laki-laki kuat untuk mendukung semua kegiatan dan aktivitas yang dilakukannya, dan perlu bahu menyandar di kala pundaknya sendiri tak bisa membendung kesedihan yang terlalu dalam.


Anala menyadari kehilangan suami adalah hal yang tidak dia inginkan dan kemauannya, begitu pun dengan wanita lain, tapi melawan takdir adalah hal yang sangat mustahil, manusia hanya patuh dengan takdir yang berlaku, apapun itu hasilnya itulah yang terbaik untuk manusia itu sendiri.


“Ann, udah habis aja sate kamu, kamu mau apa, saya traktir”, sahut Diana yang melihat ada raut sedikit bahagia di wajah Anala setelah mengeluarkan semua isi hatinya pada Diana.


Menurut penelitian ketika kita dilanda suatu masalah, ada cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi rasa stress, yaitu menuliskan masalah itu di atas kertas, atau menceritakan kepada orang yang kita percayai, itu pasti menimbulkan rasa lega dan juga terlepas dari bayang-bayang stress yang bahaya.


“ayok Di, aku mau es krim”, jawab Anala dengan girang yang berubah seperti Maryam kecil yang begitu suka dengan es krim.


“sejak kapan kamu jadi Maryam nih Ann?”, tanya Diana bingung tiba-tiba, temannya itu minta es krim layaknya seperti Maryam.


“ya aku ingin es krim aja Di, menurut orang-orang dengan mengkonsumsi es krim itu bisa sedikit meredakan rasa stress”, jawab Anala yang seperti sedang memastikan Diana tentang jawabannya yang berkualitas tersebut.


“ok lah kalau gitu, kita jalan kesana aja”, tunjuk Diana sedang menggandeng tangan Anala menuju penjual es krim dilengkapi dengan puluhan toping itu.


“kamu mau yang mana Ann?”, tanya Diana pada Anala tentang menu es krim yang akan mereka beli.


“aku bingung Di, banyak banget sih toping dan enak semuanya, aku bingung, kamu pilih aja untuk aku Di”, jawab Anala yang bingung dengan melihat berbagai toping es krim di jejeran etalase, ada rasa coklat, strawberi, vanila, oreo, mangga, apel, dan berbagai macam jenis es krim lainnya.


“nih Ann, aku beliin kamu yang rasa coklat, kamu suka kan”, Diana memberikan satu cup es krim coklat itu kepada Anala.


“wah, aku ngiler banget lihat es krim yang kayak gini Di, ada coco chipnya juga, enak banget deh kayaknya”, respon Anala yang gembira menerima es krim dari Diana tersebut, dan anala mulai menjilati es krim tersebut dan ada sensasi gigitan coklat beku di dalamnya.


“Di, ngomong-ngomong ponakan kamu tadi kemana?”, tanya Anala yang tidak melihat ponakan Diana bersama mereka.


“tadi saya pergi kesini bersama kakak saya, keponakan aku itu dia mau jalan-jalan sama mama papanya”, jelas Diana.


“oh”, jawab Anala.


“Maryam tadi kemana sih Ann?”, tanya Diana balik.


“nggak tau aku Rangga juga nggak ngabarin aku, sepertinya mereka masih main-main wahana disini deh”, respon Anala terhadap ketidaktahuannya tentang rangga dan Maryam saat ini,


“kita cari yok Ann, hari udah mulai sore nih”, ajak Diana.


“yok aku juga mau balik Di, besok kan Maryam sekolah, tapi aku juga nggak tau mereka dimana nih”, jawab Anala.


“telpon aja si Rangga itu”, ledek Diana sambil mencubit pinggul Anala.


“nggak ah, segan aku Di”, jawab Anala.


“ih ngapain kamu segan, anakmu itu loh yang dibawanya, masa kamu segan, sini aku yang ngomong sama dia”, jawab kesal Diana yang melihat Anala tidak mau menelpon Rangga perihal menanyakan keberadaannya dan Maryam,


kring.... kring.. kring,


telepon Rangga menerima telepon masum dari nomor handphone Anala, tapi sayang Rangga mematikan nada dering untuk panggilan masuk teleponnya, benda tipis di saku-saku Rangga tersebut udah beberapa kali panggilan masuk tapi tidak ada satu pun tuannya yang menjawab panggilan tersebut.


“Ann, kita susuri aja jalan disini Ann, mana tahu kita ketemu”, ide Diana yang mengajak Anala untuk mengelilingi jalan yang ada di wahana bermain tersebut.


“Di, udah dua puluh menit kita menyusuri jalan disini Di, nggak kelihatan sedikitpun penampakan mereka, gimana ini Di”, keluh Anala yang mulai cemas dengan situasi saat itu.


“kita lapor aja yuk, kan ada pusat keamanan disitu Ann”, saran dari Diana untuk melapor ke pihak keamanan, karena mereka sudah menyusuri jalan sangat lama.


"Ann, coba kamu lihat itu, sepertinya itu Maryam dan Rangga”, dari jauh Diana melihat orang yang menyerupai Rangga dan Maryam, tapi ada sosok perempuan yang ada di samping mereka dan kelihatan akrab dan juga ramah kepada Maryam.