Analaa

Analaa
pernikahan ipar 2



"Wah cantik banget nadia".


“cantik banget kamu nad”,


“cantik banget”, begitulah kata – kata orang yang turut hadir pada malam itu yang melihat cantik dan anggunnya nadia pada malam pengajiannya itu,lengkap dengan henna yang ada di tangannya dan juga baju dengan style arabnya yang menambah pesona nadia pada malam itu.


“tuh siapa yang make up ini?”, tanya salah satu tamu yang hadir pada malam itu, “itu Anala, ipar nya nadia”, jawab salah seorang disampingnya.


“bagus benget make up nya Anala kan”, puji salah seorang lagi.


Setelah acara selesai, Anala dan nadia beserta anggota keluarga inti lainnya duduk di depa ruang tamu yang tampak sudah lelah dan juga bahagia melalui hari ini dengan lancar dan juga penuh haru, karena satu – satu adik perempuan mereka sebentar lagi akan menikah dan hidup bersama pasangannya, yang paling mengharukan lagi adalah ketidakhadiran seorang anak yang tersayang nadia yaitu almarhum Kamil.


“umma itu kan baba”, tunjuk Maryam yang melirik setiap foto yang ada di dinding rumah neneknya itu dan memperhatikan semua orang yang ada di sana.


Salah satu yang sangat menarik perhatiannya adalah Kamil, ayah tercinta yang dia panggil baba tersebut, yang tidak sempat bersua bertukar cerita , menimbang rasa karena dia pergi sebelum Maryam lahir ke dunia.


“ya itu baba , ini siapa”, tanya nadia yang tampak haru melihat keponakannya tersebut seperti merindukan ayahnya tersebut.


“ini anti kan, umma nggak ada”, jawab maryam dan menanyakan keberadaaan Anala yang tidak dia lihat diantara foto yan ada di sana.


“foto umma ada di sana”, jawab nadia yang menunjuk salah satu lorong rumah menuju ruang tamu, di sana terpampang foto pernikahan Anala dan kamil dengan baju kebaya putih lengkap dengan singer kepalanya.


“cantik banget umma, pakai baju ini”, puji Maryam ketika melihat foto yang ada di dinding tersebut.


“ini foto lima tahun yang lalu sayang, ini baba, mirip kan”, jelas nadia.


“baba mirip siapa anti?”, tanya Maryam lagi.


“ya mirip kamu lah”, jawab nadia yang sedikit mencubit pipi gembul maryam.


“anti kalau umma bilang baba udah tidak akan pernah lagi ketemu kita, tapai kita bisa nanti ketemu baba di surga, kenapa baba pergi anti”, tanya Maryam yang tidak tahu arti tentang apa semua yang berlaku pada hari itu.


dan bagaimana kesedihan uma nya yang sedang mengandungnya kehilangan sosok suami, dan juga bagi keluarga neneknya yang begitu terpuruk kehilangan anak yang amat mereka sayang dan perhatian itu pergi untuk selamanya karena kecelakaan pada hari itu merenggut nyawanya secara tragis.


“Ann, kamu udah lepas apa belum sih tentang semua yanng berlaku terhadap kamu lima tahun lepas”, tanya ibu kamil pada Anala, Anala yang mau menjawab pun bingung mau menjawab apa.


“untuk lepas dari semuanya itu nggak mungkin loh buk, karena itu bagia dari carita hidup Anala yang sangat berkesan dan membawa dampak yang sangat luar biasa, tetapi kalau kita terus menerus berlarut dalam kesedihan itu juga tidak baik untuk mental dan juga kesehatan, dari dari Anala bisa belajar buk, arti kehilangan , keikhlasan, dan jiga kesabaran, apalagi ada Maryam yang selalu pengertian dengan Ann”, jawab Anala yang tampa datar.


”nanti setelah ini jika ada yang berminat berkenalan dengan kamu jika dia baik dan juga mampu membuat kamu tenang begitu pun dengan Maryam, maka terima lah nak, ibuk nggak melarang kok, itu kebahagiaanmu, begitu pun dengan Maryam, kan ada yang jagain kalian berdua ”, begitulah suruhan ibu mertuanya itu menyuruh Anala untuk mencari pendamping hidup, dan melupakan masa lalu dan semua kesedihan walaupun kenangan itu tidak akan pernah pudar, akan tetapi hidup mesti berlanjut jika itu yang terbaik maka ambil, jika itu membawa kita kepada kemudharatan maka tinggalkan.


“ibu”, panggil Anala yang tiba – tiba kepada ibu mertuanya itu.


“ya ada apa Ann?”, tanya ibu Kamil.


“kalau sekarang Anala ingin cerita sama ibu, tentang sesuatu hal”, bisik Anala, dan ibunya itu yang paham akan apa yang akan diceritakan Anala dia membawa Anala ke taman belakang rumah yang jauh dari kumpulan keluarga lainnya. Suara katak yang bersahutan menemani kesunyian malam itu dan juga ikut mendukung suasana sesi curhat anala dengan mantan mertua yang dia panggil ibu itu.


“Ann, kamu cerita apa, cerita aja sama ibu, nggak usah sungkan, apa pun itu ibu dukung Ann, nggak ada yang berubah diantara kita, walaupun secara resmi Kamil nggak lagi sama kamu tapi ibu tetap menganggap kamu seperti anak ibu sendiri”, ucapnya sambil memegang tangan Anala, dan juga tampak mata bening Anala diselimuti kaca – kaca cair yang menambah keindahan matanya bulatnya.


“ibuk, sebenarnya Ann ada orang yang mau mengenal Ann, tapi banyak hal yang belum bisa Ann putuskan, salah satu perasaan ibu”, jawab Anala yang jujur yang masih memikirkan perasaan mertuanya itu.


“Ann, sekarang takdir yang berlaku diantara kita tidak bisa kita ubah, yang bisa kita ubah apa yang kita hadapi dalam perencanaan kita kedepannya, kalau menurut ibu, ibu akan selau mendukung kamu dalam berbagai hal apapun itu dalam setiap aktivitas dan keputusan kamu “, jelas ibu.


“ibu, tapi dia selalu berharap bu untuk selau bisa berada disamping ann dan juga Maryam”, jelas Anala


“nggak apa – apa Ann, kalau dia baik apa salahnya dan apa yang harus kamu hindari, tetap jaga diri dan nama baik aja, bisa – bisa jaga diri ”.


“Ann, nanti kapan – kapan kenalin sama ibu ya, emangnya dia siapa Ann”, tanya ibu genit seperti memergoki anak gadisnya yang sedang mulai bercinta dan kenal dengan seseorang laki –laki, tapi ini adalah anak menantunya tapi tepatnya mantan menantunya yang akan kenal laki – laki lain.


Itu aneh tapi itu bisa terjadi pada hati yang bersih.


“Ann, kamu udah kenal keluarga dia?”, “belum buk, dia adalah seorang dokter buk, dimana tempat Anala magang dulu dan di sana kita kenal sampailah sekarang”, jujur Anala.


“nanti kalau ketemu keluarganya kamu ajak ibu ya nak, ibu juga ingi kenal sama mereka”.


“buk, makasih sudah sangat – sangat pengertian sama Anala sampai detik ini”.


“emang ibu yang harus memperhatikan kamu , siapa lagi kan nak”, ucap ibu.


“ibuuuuu”,panggil nadia dari ruang tamu, yang tampak dari tadi mencari ibunya itu.


“iya”, ibu muncul dari belakang dengan Anala.


“ada apa nad”, tambah ibu.


“tuh buk deh mayang sama buk deh santi mau pulang , dia cari ibu tadi tapi ibunya nggak ada disini”.


“oh ya, ibu udah bungkusan makanan tadi buat mereka”, ibu yang langsung berlari ke dapur untuk mengambil bungkusan tersebut, biasa kebiasaan ibu - ibu kalau lagi ada acara senang banget untuk bagi – bagi.


“kakkkk Anala”, pekik nadia dari belakang rumah tepatnya di dekat kolam renang.


“aduh kak Anala”, pekik nadia yang terkejut melihat Maryam yang terjun ke dalam kolam renang itu.


“ada apa sih nad?”, tanya Anala santai yang melihat kejadian di sekeliling.


“itu kak lihat Maryam dia terjun ke dalam kolam malam – malam gini”, tunjuk nadia yang ingin menolong tetapi juga nggak bisa berenang.


“udah biasa itu nad, dia memang nggak bisa melihat air kolam nad, ingin berenang terus”, respon Anala santai.


“Maryam lima menit lagi, keluar ya nak, udah malam loh nanti masuk angin kamu sayang”, pesan Anala.


“iya umma”, jawab Maryam dari dalam kolam renang tersebut yang sedang asyik dengan gaya baru renangnya. Maryam memang anak yang sangat hobi berenang, karena di umur Maryam beberapa bulan Anala mengajarkan Maryam berenang setiap hari, alhasil sampai sekarang air seperti habitat yang menarik baginya, selang beberapa menit Maryam keluar dengan menggigil dan tangannya sudah mulai berkeriput.


“umma dingin”, lapornya pada Anala sambil memanggil.


“kan sudah umma bilang ini malam nak, kenapa kamu berenang”, ngeyel Anala seperti ibu – ibu pada umumnya demi kebaikan sang anak.


“udah lama banget umma, nggak berenang, tadi ada anak kucing juga yang hampir jatuh di kolam renang ini, tapi nggak jadi”, responnya ngeyel.


“iya kucingnya nggak jatuh tapi kamu yang jatuh kan nak”, ucap Anala yang membuat maryam tertawa ngakak.


“iya uma” jawabnya sambil cekikikan.


“ini handuknya nak”, julur Anala , nak hari sudah malam nanti kita pulang ya, besok kamu sekolah kan sayang.


“iya umma, udah ngantuk juga”, ayok siap - siap cepat sayang, ajak Anala sambil menggantikan baju yang kering untuk maryam yang sudah basah semua badannya.


Mobil Anala dan maryam sudah melaju dengan pelan dari pekarangan rumah mantan ibu mertuanya tersebut, Maryam yang sudah tidak bisa menahan kantuk tersebut, mengalah dengan memilih tidur di bangku samping kemudi ibunya sambil memeluk boneka kesayangannya si boba.


“nak, udah sampai kita di rumah”, bisik Anala di telinga Maryam, tetapi Maryam seperti tidak menggubris sedikitpun bisikan ibunya tersebut.


“maryam kita sudah sampai nak, ayok bangun ”, bisik anala lagi.


“aduh umma”, kepala maryam yang megenai benda keras ddi sampingnya seperti mengalami sedikit sakit.


“ayok nggak apa – apa nak, ”, Ajak Anala pada Maryam untuk masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurnya di dalam kamar, sekitar satu jam setelahnya setelah Anala menyelesaikan semua urusan di malam itu, akhirnya Anala siap- siap tidur untuk mengantarkan pada esok di pagi hari.


Selipan cahaya yang mulai muncil dari balik kain jendela berwarna putih tersebut sedikit mengganggu nyenyak tidur Maryam yang sudah tertidur lelap semalaman, rintik tedung embun sedkiti membasahi wajahnya dari angin ac kamarnya, membuat maryam sedikit risih dan berabjak duduk di tempat tidurnya, angin yang berbau aneh tapi nikmat itu mulai menyerigai masu ke dalam hidung maryam, sedikit mulai sedikit Maryam mulai penasaran dari mana bau wangi tersebut datang. Anala yang sibuk di dapur sedang memasak untuk sarapan pagi ini , tampak senang dengan menu nasi goreng sosisnya itu.


“um yummy umma”, ucap Maryam yang sambil menghirup udara wangi tersebut sambil memajukan mulutnya.


“buat lapar nggak baunya nak?”, tanya Anala sambil memegang sodet kayu berwarna coklat muda tersebut.


“laper banget umma, umm mau masak apa hari ini?”, tanyanya sambil mengucek mata yang baru bangun tidur itu.


“umma hari ini mau masak nasi goreng sosis nak, suka ngga?” tanya Anala yang sedang menggoreng bawang merah dan putih di dalam satu kuali dan bisa dibayangkan bau aroma dari bawang putih tersebut seperti apa.


“tambah wangi umma, sini aku potong sosisnya umma”, maryam yang tampak ingin ikut serta dalam pembuatan industri nasi goreng pagi itu.


“boleh tapi hati – hati ya, ini nak”, julur Anala pada Maryam Yang sudah tidak sabar untuk memotong sosis bulat tersebut.


“sini- sini umma aku potong, gimana potongnya umma”,tanyanya yang tidak sabar.


“potong kecil – kecil aja nak”, jelas Anala, yang tampak sedang mengambil nasi dan juga bumbu saos – saos lainnya.


“umma banyak banget bumbunya umma”, tanya maryam penasaran dengan banyaknya bumbu yang digunakan untuk membuat nasi goreng khas uma nya tersebut.


“ya nak, memang banyak bumbu yang digunakan untuk membuat nasi goreng ini”, “umma lihat aku potong kaya gini”, tunjuk Maryam dan memotong sosis dengan caranya sendiri dengan berbagai macam bentuk dan juga karakter, ada yan seperti bungan dan juga bentuk berbagai bentuk bangun datar.


“cantik kan umma?”, tanyanya lagi, “cantik banget, tapi ini boleh dimakan langsung nggak uma?”, tanyanya lagi penasaran, karena melihat teman –temannya yang sering beli sosis yang siap makan tanpa digoreng terlebih dahulu.


“boleh nak, ini boleh dimakan langsung”, belum Anala menyelesaikan kalimatnya, Maryam langsung melahap satu potong sosis tersebut dengan lahap.


“enak ternyata umma, nyam’, jelas Maryam yang kembali melanjutkan memotong sosisnya tadi.


“udah siap nak, kita masukkan yuk, semua bahannya, dimulai dari campurkan bawang goreng yang umma goreng tadi dengan bahan yang sudah dihaluskan yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kemiri, dan sedikit cabe merah, dan juga ketumbar”.


“hushhhhhh”, Anala memasukkan semua bahan yang sudah dihaluskan tersebut dan tidak lupa mengaduk dengan sodet kayu tersebut.


“sini nak, sosisnya”, Anala memasukkan sosis yang tadi sudah dipotong Maryam.


“hummmm yummy”, reaksi maryam ketika melihat dan mencium aroma bumbu nasi goreng tersebut.


“sini aku ambil piring dan juga sendoknya umma, udah nggak sabar nih”, tambah Maryam yang tampak sibuk dengan membuat lemari yang berisikan berbagai macam piring dan juga sendok.


“aku letakkan disini ya umma”, Maryam menyiapkan semua peralatan yang diperlukan di ats meja makan kayu jati tersebut, Anala yang tampak sibuk dengan mencampurkan nasi dengan segala bumbu dalam satu kuali, tersenyum melihat kesibukan Maryam yang sangat rajin menyiapkan semuanya sebelum mereka sarapan di pagi itu.


“Maryam udah cuci mulut belum?”, tanya Anala yang tidak melihat Maryam pergi ke kamar mandi dan mulutnya basah.


“ehhhh, belum umma”, jawabnya nyengir, dan langsung berlari ke kamar mandi dan menggosok gigi.


“iiiiiiii”, Maryam memamerkan gigi bersihnya itu pada anala tanda dia sudah melakukan ritual pagi itu.


“ayo kita kita makan nasi gorengnya, duduk disini”, suruh Anala yang tampak patuh dilakukan maryam.


“umma mau telur dong”, Maryam mulai menyuapi satu persatu nasi di dalam piringnya masuk ke dalam mulutnya dan reaksi yang biasa yang dilakukan maryam ketika memakan makan yang enak , dengan mengangkat kedua jempol tangannya.


“umma enak banget loh, umma hebat”, puji maryam, inilah yang membuat Anala semangat untuk memasak untuk maryam yang selalu bisa membuat hatinya senang ketika dipuji anaknya sendiri tentang makanan yang dia masak.


***


Pagi yang cerah yang doselimuti kabut tipis itu, Rangga bersama si kucing kesayangannya sedang bermain di depan teras dengan selang air yang dipegang Rangga untuk menyiram bungan dan pohon yang ada di pekarangan rumahnya itu, Kaos putih tanpa lengan dan celana jeans pendek menambah penampilan Rangga terlihat keren dan sporty lengkap dengan terlihat otot – otot Rangga yang tidak begitu terlalu besar, mobil sedan hitam yang terparkir di teras rumahnya terlihat sudah bersih dan rapi sekali, karena kemarin baru saja masuk pencucian dan di servis.


Rangga menuju kamar mandi untuk memulai aktivitas pekerjaan hari ini, karena hari ini ada jadwal rumah sakit yang lumayan padat dan juga ada rapat di rumah sakit lain, baju kemeja maroon dan celana hitam tampak tergantung rapi beserta dasi yang sudah siap dipakai sang pemilik yang menambah kelengkapan penampilannya. Sebelum berangkat kerja Rangga tapak meminum segelas susu dan sepotong roti bakar dan juga telur rebus dan sudah cukup lengkap untuk menambah nutrisi di pagi hari itu, sepatu kulit hitam yang dipakai pun tampak patuh untuk mengikuti langkah Rangga keman pun di pergi.


POV Anala


Hari ini Maryam dan Anala akan ke pasar untuk membeli berbagai macam lauk dan juga sayu mayur untuk kebutuhan dapur, karena semua yang udah di dapur sudah habis dimasak, Anala memutuskan untuk ke pasar tradisional bersama Maryam.


“Maryam, hari kamu mau ikut umma nggak?”, tanya Anala yang sudah siap – siap mau ke pasar.


“mau kemana umma?”, tanya Maryam lagi.


“tapi kita ingin ke pasar nak, mau ikut nggak?”, tanya Anala yang udah membawa tas belanjaan nya sambil memegang kunci mobil.


“ya mau ikut, mau umma”, ucap Maryam girang, karena pasar salah satu tempat yang paling Maryam sukai, sebab di pasar dia bisa mengetahui berbagai macam sayuran dan bahan makanan lainnya secara langsung dan juga melihat orang jual beli dengan cara dan strategi masing – masing.


“umma hari ini mau beli apa aja?”, tanya Maryam yang berada di samping uma nya yang sedang berkemudi.


“hari ini kita mau beli beli ikan, ayam, udang, sayur sayuran, banyaklah pokoknya, kamu beli apa nanti”, tanya Anala.


“di pasar ada yang jual coklat ngak umma, mau coklat ah”, jawab Maryam.


“kayaknya nggak ada deh”, bohong Anala yang mencoba membohongi Maryam karena ingin membeli coklat lagi dan lagi.


“tapi nanti kalau ada yang jual coklat, aku beli coklat ya umma”, pinta Maryam lagi.


“kita lihat nanti ya gimana”, jelas Anala.


Anala yang asyik dengan kemudi mobilnya tersebut melihat ada ibu - ibu yang terjatuh dengan anaknya di pinggir jalan karena disenggol oleh pengendara lainnya, tetapi pengendara tersebut melarikan diri.


“aduh, nak kamu di dalam mobil dulu ya, bia uma yang turun”, ucap Anala pada Maryam.


Anala langsung dari mobil bersamaan dengan orang sekitar yang mulai membantu ibu tersebut untuk bisa duduk di tempat yang nyaman bersama anaknya.


“iya umma, hati – hati umma”, ucap Maryam, Maryam yang juga panik melihat kejadian sekitar terpaksa harus diam di dalam mobil, dan ketika itu Maryam lagi memegang ponselnya yang berfungsi dengan baik tetapi anak kecil itu hanya bisa merekam menggunakan kamera dengan gayanya sendiri, dan hanya sebatas itu.


“kretek”, bunyi tanda kamera ponsel maryam sedang merekam apa yang ada di sekitarnya, yaitu kejadian yang ada di depan matanya, dan di sana juga terlihat anala yang ikut membantu korban kecelakaan tersebut dengan warga lainnya, Anala tampak membawa kotak P3 k, dan langsung mengobati luka yang dialami oleh ibuk dan anak tersebut.


“itu umma saya”, sontak secara spontan Maryam mengucapkan kata itu ketika proses perekaman itu berlangsung.


“nak kamu nggak apa apa”, tanya Anala yang masuk ke dalam mobil karena di sana sudah banyak orang yang membantu dan tugas anal yang membersihkan luka pada ibu dan anak tersebut sudah selesai, dia langsung menuju mobil mengingat Maryam hanya sendirian di dalam mobil tersebut.


“nggak apa apa umma, gimana ibu itu”, tanya Maryam penasaran.


“ibu itu hanya luka ringan aja, dan anaknya juga mengalami sedikit luka, udah umma kasih obat tadi nak”, jawab Anala yang sedang memasang safety belt nya yang siap- siap menuju pasar, tujuan utama mereka dari rumah tadi.


Anala memarkirkan mobilnya di parkiran pasar tersebut tepat di depan pintu gerbang memasuki pasar.


“pak liat –liatin mobil saya ya pak”, pinta Anala sama bapak tukang parkir tersebut sambil senyum.


“baik nak, ini anaknya atau adiknya”, tanya sang bapak dengan polosnya.


“wah , berarti saya masih seperti gadis kecil ya pak”, sahut anala yang sedikit tertawan mendengar pertanyaan si bapak.


“ini anak saya pak baru mau masuk lima tahun umurnya ”.


“ohhh anaknya ternyata saya pikir adiknya, suaminya kemana buk, nggak nemenin belanja”, tanya bapak itu lagi yang seakan tidak tahu dengan rahasia istimewa di dalam keluarga Anala.


“nggak pak”, jawab Anala nyegir tana memberitahu dengan jelas dan detail kenapa ayah sang naak nggak ikut bersama mereka. Ketika mulai memasuki pasar pandangan Maryam langsung tertuju kepada penjual es coklat yang berada di dekat penjual asongan.


“umma tuh liat, kata uma nggak ada yang jual coklat, tuh liat uma ada tuh, mau beli”, rengek Maryam dan masih mengingat kata – kata uma nya tadi sewaktu di rumah.


“ok, tapi nggak boleh banyak – banyak ya, sekali aja yah nak”, anala menepati janjinya tadi pada Maryam untuk membelikan es coklat kegemarannya.


“ye”, respon maryam ketika disetujui uma nya untuk membeli es coklat yang tam pak menggiurkan tersebut.


“mas es coklatnya satu ma”, pinta Anala untuk membelikan Maryam es coklat tersebut.


“yang original atau yang campur Mbak”, tanya penjual tersebut.


“umma yang coklat aja ya”, jawab Maryam dengan sedikit penekanan.


“oh ya mas yang original aja mas, tanpa campuran ya”, tambah Anala.


“ok mbak”, “umma boneka itu lucu deh, pengen itu”, rengek Maryam lagi, yang membuat Anala mengeluarkan sedikit strategi ibu –ibunya.


“nanti di sana ada yang lebih bagus di sana jaa yah kita beli”, bohong Anala.


“dimana umma, janji yah ”, setuju maryam terhadap strategi Anala tersebut, “mbak ini es coklatnya”, ucap penjual es coklat tersebut.


“sini.. sini... sini”, sambut gembira Maryam yang tidak sabar untuk mencicipi es coklatnya yang sebentar bisa mencair karena cuaca di psar lumayan panas.


“ayok sayang kita beli lauk yuk tuh di sana di bagian pasar ikan sana”, tunjuk Anala untu menuju penjual lauk pauk segala macam.


“mas, ikan ini berapa sekilo mas, ”, tanya Anala, “ini tiga puluh lima ribu mbak, tapi kalau yang ini dua puluh lima ribu, bedanya karena ukuran nya aja mbak”, jawab penjual ikan tersebut.


“nggak bisa kurang pak, tiga puluh aja sekilo pak”, anala yang sudah paham dengan cara jual beli di pasar itu, langsung mempraktekkan cara jual beli.


“boleh mbak, tapi kalau mbak beli dua kilo saya kurang jadi lima puluh lima ribu”, tambah penjual tersebut.


“nggak deh pak, saya beli sekilo aja, ayam ini berapa satu kilonya pak", Anala yang tampak menyukai bentuk ayam potong bapak tersebut pun mulai menawar harga ayam potongnya.


“ayam ini empat puluh ribu perkilonya mbak, nanti saya kasih bonus ceker sama buntutnya”, tambah si bapak dengan tambahan bonus.


“ayam ini aja sekilo pak”, jawab anala, dan Anala mencari pedagang sayur yang masih terlihat segar dan tidak lemas.


“pak brokoli dan lobak ini berapa buk”, anal memegang brokoli dan lobak segar tersebut dengan melihat setiap inci sisi sayur tersebut untuk memastikan keadaan sayur tersebut segar.


“sayur itu satu kilonya delapan ribu mbak”, jawab penjual, Anala yang tercengang mendengar harga sayur mayur tersebut sangat jauh berbeda dibandingkan dengan harga di super market, dan menurut Anala sayur di pasar mempunyai kualitas yang sama – sama bagus, Cuma beda pada kemasan dan promosinya.


“umma beli wortel nggak?”, tanya Maryam tiba - tiba dan membuat Anala langsung mengambil wortel beberapa kilo, karena Maryam sangat menyukai sayur tersebut dibandingkan sayur lainnya.


“iya nak, tadi uma lupa sayang”, ucap anala