
Di sela – sela makan malam mereka itu ada seorang yang sedang mencoba mengetuk pintu dari luar kamar mereka, mereka tahu bahwa itu bukan perawat ataupun dokter yang ingin mengecek kondisi Rangga, karena tadi sore menjelang maghrib dokter dan perawat sudah mengatakan bahwa kondisi Rangga baik – baik saja, namun saja sekarang tubuhnya butuh recovery lebih, dan besok pagi adalah jadwal kapan Rangga bisa pulang ke rumah dan sekaligus cek luka Rangga untuk terakhir kalinya, ketika dari pagi Anala di kamar Rangga tersebut pun pernah merasa aneh dan asing dengan suasana lantai dua tersebut, sebenarnya Anala sempat bertanya ke Rangga mengenai apa yang dia rasakan selam berada di sana walaupun itu di siang hari.
“dok, ada yang aneh kan”, tanya Anala pada Rangga yang sedang asyik dengan hp nya.
“aneh gimana Ann?”, tanya Rangga yang bolak balik melihat layar hp nya dengan ekspresi Anala yang tampak membingungkan.
“nggak tau, setiap keluar dari ruangan ini menuju lantai satu pengen banget cepat – cepat, entah kenapa, bawaannya asing aja, lebih tepat lagi bulu kuduk saya berdiri dok”, jelas Anala yang tampak melihat sekilas ke arah jendela luar kamar Rangga.
“itu perasaan kamu aja kan, kalau sekarang maaf aku belum bisa nemenin kamu keluar, nanti yah kalau aku udah sembuh”, canda Rangga dengan santainya.
“ih, ini beneran”, kesal Anala ketika dia sedang panik Rangga dengan santainya mengucapkan kalimat candanya.
“disini tuh bukan hanya kita yang menjadi penghuninya Ann, apalagi disini banyak manusia yang berpisah dengan roh disini, yah mungkin roh mereka masih lagi berkeliaran disini kayaknya, hii”, jelas Rangga lagi.
tapi setelah bercerita rasa takut yang dialami anala bukannya berkurang malah semain bertambah, “dasar, malas aku cerita sama kamu dok, saya semakin takut tau, ih nggak mau ah”, kesal anala yang kembali menyibukkan diri dengan hp nya.
“Ann, kamu merasakan nggak sih, bahwa rumah sakit ini lebih sepi dari rumah sakit lainnya”, tanya Rangga yang semakin menaikkan antusias Anala untuk ingin tahu dengan pertanyaan yang selama ini ada di kepalanya.
“iya, aku juga merasakan, emangnya kenapa dok?”, tanya Anala sedikit menurunkan nada suaranya di ujung kalimat.
“yah mungkin disini yang minat rumah sakit ini sedikit, yah kan sepi, betul nggak”, jelas Rangga.
Anala sebenarnya tidak mengharapkan jawaban tersebut, melainkan jawaban yang lebih mistis dari apa yang dipikirannya.
"percuma saja saya bertanya, sudahlah dok”, ucap Anala singkat.
“Put, kemarin Anala sempat bertanya tentang hal aneh yang ada disini, ya tapi nggak mungkin juga gue cerita sama dia ya kan, dia udah takut, nanti gua cerita lagi, buat dia nambah takut lagi yah”, jujur Rangga.
“emang dia nanya apaan ngga?”, tanya Putra penasaran.
“katanya dia setiap disini, di lantai dua ini, dia merasa aneh, ada hal yang aneh, tambah lagi disini sepi banget, ketika dia berjalan di lorong menuju lantai satu itu, pengen cepat cepat katanya ingin sampai lantai satu”, jelas rangga sambil menyuapi makanannya tersebut.
“betul sih ngga, gue juga rasain itu, tapi alhamdulillah masih bisa dialihkan rasa takut itu sih”.
“tok, tok, tok”,
suara ketukan dari luar ruangan itu kembali terdengar oleh mereka, dan pintu kamar sudah dalam keadaan terkunci,
“gimana ini ngga?”, tanya Putra agak berbisik ke arah Rangga.
“tenang aja”, “hai lu yang di luar nggak usah lu ganggu – ganggu kami, gue kalau ngak sakit, mana mau gue disini”, teriak Rangga ke arah pintu masuk tersebut.
“betul, ngapain juga kami nginap – nginap disini, lebih baik kalau mau nginap kami nginap di hotel bintang lima”, timpal Putra.
“ehh lu ngapain put, diam aja, ngapain lu sebut – sebut hotel”, bentak Rangga.
“ya benar dong, kalau nginapnya enak di hotel apa ngga, dari pada nginep disini, banyak yang ganggu, nanti kalau gue nikah , malam pertama nggak mau gue nginap di rumah sakit”, ujar Putra dengan polosnya, dan membuat Rangga geleng – geleng kepala.
“ya siapa juga yang rekomendasiin lu malam pertama nginap disni, gila lu put, lu mau malam pertama lu di ganggu kunti, nggak kan”, balas Rangga.
“ehh ngga, kok kita yang jadi debat sih, tuh yang di luar minta perhatian kayaknya”, tambah Putra, yang membuat keduanya ngakak tanpa suara.
Setelah makanan mereka, semua peralatan makan pun sudah dibersihkan Putra, mereka siap – siap untuk menjemput mimpi indah malam itu, sengaja Rangga dan Putra untuk tidak mematikan lampu kamar mereka, untuk kali ketiga Rangga dan Putra mendengar lagi suara ketukan dari kamarnya, ini sangat – sangat hal yang janggal, karena saat hal itu terjadi, tepat pukul jam dua belas malam, mana mungkin suster atau pun dokter ke kamar mereka, kecuali mendadak, kalau seandainya ada perawat yang ingin masuk untuk memastikan kondisi Rangga, pastinya dia akan minta permisi atau bersuara, tapi ini cuma tiga buah ketukan yang sangat keras dari sebelumnya yang diiringi bunyi nafas seseorang seperti selsai dari acara marathon pagi, suara nafas yang sesak dan getaran dari ketukan itu, Rangga dan Putra menyaksikan sendiri getaran yang pintu yang dihasilkan oleh ketukan tersebut.
“ngga gimana ini, teriak yuk”, ajak Putra.
“gila lu, mengganggu yang lain nanti woi, diam aja”, balas Rangga.
“nggak bisa kayak gini ngga, lu mau kit diteror sampai kayak gini, nggak mungkin lah, emang dia nggak tidur apa ngga, ganggu aja”, timpal putra dengan candaan agar susana tidak begitu mencekam bagi mereka.
Di dalam keseriusan itu jika tidak ada hal yang lucu akan menjadi suasana yang tegang.
“put, coba lu intip deh siapa yang ketuk itu”, suruh Rangga.
“gila lu ya ngga, lu maunya gua jadi korbannya doang, nggak mau gue ngga, coba lu sendiri yang intip”, tolak putra.
“intip doang masa takut, malu sama otot lu”, timpal Rangga.
“ini bukan masalah otot ngga, kalau kayak gini ceritanya dalam keadaan gini lu nyuruh deddy Corbuzier juga nggak akan mau ngga”, celetuk Putra.
“bentar doang buat pastiin, kalau benar itu hantu, kita baca doa ayat kursi, coba kalau itu kucing liar, baca doa seribu kali nggak mempan put, coba deh”, bujuk Rangga.
“kalau gue kenapa – kenapa lu harus tanggung jawab ya ngga, lu yang jadi saksi untuk orang tua nanti, gue anak kebanggaan orang tua gue ngga”.
Dengan rasa takut itu putra mencoba untuk melawan rasa takutnya demi keselamatan mereka berdua.
“bawel banget sih lo, ayok buruan intip dikit!”, suruh Rangga.
“bentar gue nyiapin nyawa kedua dulu ngga”, ucap Putra.
“tok..tok”,
dibalik debat mereka pintu pintu kamar tersebut kembali digedor oleh makhluk yang masih rahasia tersebut, belum sempat putra untuk mengintip dibalik jendela, Putra udah kabur duluan ke dalam selimut Rangga.
“aduhhhhhh sakit put”, teriakan Rangga kencang sampai menggelegar hingga lantai satu rumah sakit itu.
“ih apaan sih lo ngga, teriak - teriak”, ucap Putra setengah berbisik.
“gila lu, nih kaki gue yang sakit itu lu pegang, perkutut”, ujar rangga sambil menahan sakit di kakinya.
“sorry, sorry bro”, jawab Putra sedikit cengengesan.
“gimana udah aman suasana di luar ngga?”, tanya Putra dari balik selimut Rangga.
“bukan gitu ngga, gue takut itu, hantu”, ucap Putra sambil teriak ditambah setelah membicarakan hal itu.
Tidak ada angin sedikitpun dari dalam ruangan tersebut, kain jendela kamar rangga yang sebelah pintu tersebut seperti dihembus oleh angin yang lumayan kencang sehingga menerbangkan kain jendela tersebut ke arah tengah kaca, dan kelihatan separoh suasana di luar ruangan dari balik jendela itu, jika kaca tersebut tidak blur sebagiannya mungkin mereka sudah melihat secara sempurna apa yang ada di luar sana.
“ngga gimana ini ngga?, mana ada angin juga nih”, ucap Putra sambil menggigit ujung selimut Rangga, sesekali melihat suasana yang ada di jendela tersebut.
“baca doa put, lu tenang aja, kita akan selamat kok dari sini, dibawah itu masih ada orang kan, tapi tadi gue teriak kok nggak kedengaran sama yang dibawah”, ujar Rangga lagi.
sekaligus juga menjadi tanda tanya bagi mereka bahwa tidak ada seorang pun yang tahu dengan keadaan mereka pada saat itu.
“ya ngga, masa nggak ada sedikitpun inisiatif, dari mereka jika mereka mendengar teriakan lu tadi, apa mungkin lantai dan kamar ini terlalu kedap suara, sehingga tidak seorang pun yang tau tentang kita, haduh gimana ini ngga”, ujar Putra lagi yang semakin menambah rasa takut untuk mereka dalam keadaan genting seperti ini.
“Put, coba deh lu buka tuh pintu lebar - lebar”, suruh Rangga dengan ide gilanya pada saat suasana lagi mencekam tersebut.
“gila lu bro, mana mungkin gue mau, lebih baik gue buka kandang singa deh ngga, dari pada pintu itu”,ujar Putra sambil menunjuk pintu yang ada di depan mereka itu.
“mana tau itu bukan manusia atau setan, bisa jadi itu kucing atau binatang lainnya, ”, pikir positif Rangga.
“lu jangan pura – pura bodoh deh ngga, lu nggak dengar cara dia gedor pintunya, teratur banget kan, beda kalau kucing atau anjing yang ngetuk, satu lagi, mana mungkin binatang sampai tiga kali ngetuk pintu dengan irama yang sama ngga”, jelas Putra yang meruntuhkan semua pikiran positif Rangga.
“atau coba deh lu rekam pakai hp put, dari balik jendela itu”, ucap Rangga yang memberikan ide yang cukup bagus pada Putra.
“gimana caranya , nanti kalau yang kita lihat sama apa yang sedang pikirkan, mampus kita ngga, ngga akan tidur kita semalaman ini ngga”, ujar Putra.
“rekam aja dulu, nanti apa hasilnya....”.
“apa, kita lihat aja sampai pingsan”, tambah putra sebelum Rangga menyelesaikan kalimatnya.
“bukan put, nanti apapun itu hasilnya kita upload aja, lumayan lah put, buat nambah followers ”, tambah Rangga dengan tujuan terselubungnya.
“nggak nggak ngga gue nggak mau, kalau lu mau rekam, lu rekam sana, gue ngga mau, males, gue ngantuk sebenarnya, tapi nih ada yang ganggu, pakai handset aja kita yuk ngga, biar nggak kedengaran”, bujuk Putra yang sudah mulai muak dengan keadaan seperti itu.
“nggak usah put, kita lihat aja sampai kapan dia mau ganggu kita”, jelas rangga lagi.
“ngga kita telpon aja yah orang yan dibawah lu ada nomornya nggak sih, disini juga nggak ada telponnya sih, mau hubungin siapa kita juga nggak tau ngga”, tanya Putra.
“itu masalahnya put, saya juga nggak mungkin telpon rekan – rekan dokter lain karena masalah ini, sebenarnya mudah banget untuk kita pergi dari ruangan ini, tapi kalau kita beritahu sama yang lai otomatis banyak juga yang tahu tentang kondisi yang sedang kita alami, jadi nggak usah lah put kita hubungin siapa – siapa, kita nikmatin aja lah apa yang ada ini”, pasrah Rangga.
“kalau gue nggak bisa nikmatin ini ngga, gila lu gue nikmatin suasana kayak lagi nonton filmnya suzana, bahkan ini lebih seram lagi”, ujar putra.
Tidak terasa malam pun semakin larut dan jam menunjukkan pukul tiga pagi lewat empat puluh lima menit, mereka pada saat itu belum merasakan tidur sedetik pun karena gangguan dari luar ruangan mereka yang terjadi secara berkala.
“ngga gue ngantuk, tapi gua juga takut, gimana nih?”, tanya Putra lagi.
Sedangkan Rangga pun tidak tahu apa yang akan mereka lakukan,mungkin beda kemungkinan jika Rangga sedang tidak sakit, maka keberanian itu seratus persen berpihak kepadanya.
“Put, lu tidur aja, gue kasian lihat lo, tidur aja nggak apa – apa kok, nanti gue yang handle”, ungkap rangga.
Yang sudah kasian melihat Putra sang pejantan perkasa yang phobia dengan hantu itu.
“tetap nggak mau ngga gue tidur, masa iya gue tidur dalam keadaan takut , nggak berkualitas tidur gue ngga”, tolak Putra.
“terus sekarang mau lo apa Put, gue suruh lu tidur nggak mau, gue suruh lu usir tuh hantu lu juga nggak mau”, jelas Rangga kesal.
Mungkin seandainya jika hantu diluar mendengar perdebatan mereka hantu tersebut juga pusing dengan perdebatan itu.
“ya nggak gua ngak mau dua – duanya ngga, gue nggak mau mati yah, gue belum merasakan yang namanya pengantin baru ngga, gue mati ditangan hantu kan nggak lucu ya ngga”, jelas Putra yang tidak terima dengan usulan Rangga untuknya.
“lah sama, gua juga belum pernah jadi pengantin baru put”, balas Rangga.
“tapi kan lu udah ada calonnya kan, untuk dijadikan pengantin barru, lah gua jangankan calon, cahaya – cahaya jodoh aja gua nggak lihat ngga”, timpal Putra.
“luh sok nggak ada cewek lu, tuh empat cewek yang lu chat tiap malam emangnya kemana?”, tanya Rangga.
“yang itu teman gua ngga, gue sukanya yang kayak Anala lah”, dengan santainya Putra menjawab pertanyaan Rangga.
“aduh sakit ngga”, pekik Putra, dengan spontan Rangga menjitak kepala Putra dengan sikutnya, “nah kan, lu sebut lagi nama dia untuk kali kedua awas lu, gue botakin alis mata lu”, balas Rangga kesal.
“bercanda , ngga”, balas Putra ngakak.
Malam semakin larut, akhirnya waktu yang diinginkan mereka tiba, yaitu adzan subuh yang terdengar jelas di dalam kamar mereka, dan satu jam setelah adzan subuh, Rangga dan putra sudah bisa tidur nyenyak setelah bertarung dengan rasa takut tadi malam.
“ngga gue mau tidur dulu yah, nanti kalau ada apa – apa, lu bangunin gue”, suruh Putra yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.
“iya put, gue juga mau tidur, tapi mau ganti perban dulu”, balas Rangga.
“sini gue bantuin”, setalah mereka mengganti perban Rangga, mereka tertidur untuk tiga jam kemudian, akhirnya perawat mengetok pintu mereka untuk memastikan kondisi Rangga.
“dokter Rangga, apakah kondisi bapak sudah mulai membaik, apakah trauma yang bapak alami masih parah?”, tanya perawat tersebut.
“nggak apa – apa dok, saya bisa melatih untuk menghapus semua trauma yang ada di pikiran saya dok, dan rasa sakit yang saya alami pun mulai berkurang apalagi rasa nyeri jahitannya pun mulai berkurang, boleh kan mbak saya pulang sore nanti, istirahatnya di rumah aja”, jelas Rangga tentang kondisinya dan meminta izin untuk bisa pulang sore nanti.
“coba saya tanya dulu dengan dokter farhan ya dok”, balas perawat tersebut, “ok mbak”, jawab Rangga.
‘gimana gue mau lama – lama disni, yang ada nanti gua mati ketakutan disini sendiri’, batin Rangga.
setelah kejadian semalam Rangga memastikan Putra tidak akan mau untuk tidur di kamar itu lagi, dan Rangga pun keberatan sendiri di sana.
“oh ya dokter rangga tadi berpesan boleh kok dok, nanti sore dokter pulang ke rumah”, jelas perawat tersebut, dengan segera Putra mengemas semua barang Rangga ke dalam tas dan meminta untuk bersih – bersih sebelum pulang.
Akhirnya...