Analaa

Analaa
persiapan wisuda



Tidak hanya keluarga dan teman – teman mereka yang menanti kedatangan mereka, tumbuhan yang sudah lebih sepuluh hari itu nyatanya ingin di manja dan di elus oleh sang pemilik rumah itu.


Gelora manis?. Mungkin itu yang sedang menguasai diri Anala dan Rangga pagi itu. Khayalan tanaman mereka yang pengen dimanja, akan sirna nampaknya, Anala dan Rangga bangun kesiangan dibandingkan dengan hari biasa.


“astagfirullah kang, ini sudah jam sepuluh”, teriak Anala setelah melihat jam di handphone. Mereka bangun kesiangan setelah dari subuh tadi.


“kenapa?”, tanya Rangga sambil meraba matanya yang menolak untuk melihat sekeliling, namun di paksa Anala.


“ini udah siang loh kang, kan hari ini aku mau ke kampus mau persiapan wisuda, kan besok aku wisuda kang”, gegas Anala menuju kamar mandi, karena acara akan dimulai setelah jam istirahat siang.


“ok, aku pengen ikut sayang”, ucap Rangga, sambil meminta persetujuan sang istri.


“ngapain atuh kang, nanti kamu bosan kan itu lama”, balas Anala yang langsung mengunci kamar mandi.


“nggak apa – paa nggak akan bosan kok kalau sama kamu sayang, aku ikut yah, yah”, balas Rangga memohon pada Anala.


“ok, ok, mandi dulu”, balas Anala.


“aku bisa tebar pesona nanti yah”, balas Rangga yang sedikit cekikikan yang pastinya menjengkelkan kan Anala.


“kalau gitu tujuan kamu kang, nggak usah ikut, kamu di rumah aja”, balas Anala ketus sambil menggosok gigi.


“lah ngapain saya godain yang lain, kalau saya cuma bisa lihat kamu sayang ”, balas Rangga tanpa balasan Anala.


Rangga yang menunggu Anala lebih dari tiga puluh menit itu, sudah mulai bosan. Mengetuk pintu kamar mandi itu adalah keputusannya untuk menyingkirkan kebosanannya, alias menggangu Anala yang sudah tahu dengan konsekuensi yang di dapatkannya.


“kang, sebentar”, teriak Anala dari dalam.


“cepetan ini udah setengah jam loh kamu di dalam Ann, lama banget nanti keburu Maryam datang loh”, bohong Rangga.


“haa Maryam sudah datang?”, tanya Anala yang salah dengar.


“belum, Maryam belum datang, tapi sebentar lagi dia datang deh”, Rangga mencoba membohongi Anala lagi. Maryam yang kini sedang berada di rumah Oma nya, pasti sudah happy dengan kakek neneknya itu.


“atau aku tabrak pintu ini”, teriak Rangga yang sudah tidak memasuki kamar mandi itu.


“jangan kang, ini bentar lagi aku kelar kok, sabar”, balas Anala.


“tapi apa salahnya kita mandi berdua kan Ann”, tanya nakal Rangga pagi itu, sepertinya membuat Anala kesal dan jengkel dengan pertanyaan itu.


“nggak mau ah, ngapain, dasar dokter mesum”, ucap Anala dari dalam kamar mandi.


‘ceklek’


Anala keluar dari dalam kamar madi dengan wajah ketusnya.


“ih kamu suka banget mengganggu saya mandi kang, kan kita pengen santai – santai mandi”, ucap kesal Anala di depan Rangga.


“mau santai, nggak lebih dari setengah jam Ann, coba kalau di luar ada bom, kamu mau apa?”, balas Rangga yamg tidak mau kalah.


“kalau mau santai – santai tuh kan ada pantai Ann”, tambah Rangga.


Anala yang sudah siap dengan segala persiapannya menuju kampus, harus menunggu Rangga di meja makan.


“kang, udah?, buruan”, teriak kecil Anala.


“iya bentar, baru sepulu menit kamu nunggu saya Ann, lah tadi saya nunggu kamu lebih dari setengah jam sayang”, balas Rangga yang segera keluar dari kamar mendekati Anala.


Kedatangan ngan mereka di kampus mencuri mata semua teman Anala, mau teman yang lain. Apalagi, Rangga?. Ya, dia Rangga yang mereka perhatikan dari tadi, melihat pesona Rangga yang begitu kuat membuat mahasiswa kedokteran tersebut tersenyum ke arah Rangga.


“ih , jangan banyak gaya kamu kang, pake masker kamu”, cetus Anala yang di bakar api cemburu, ketika Rangga menjadi pusat perhatian banyak mahasiswa di sana.


“nggak apa – apa kok sayang, kan udah saya bilang, saya Cuma bisa melihat kamu seorang sayang”,bisik Rangga lagi.


‘cie.. cie..cie’, ucap orang –orang yang ada di sana melihat kemesraan yang mereka ciptakan.


“hay”, ucap Anala sambil melambaikan tangannya dan diikuti Rangga, dan orang – orang tersebut semakin menjerit saat Rangga melambaikan tangannya.


“kang kayak kamu membuyarkan konsentrasi orang- orang deh, lebih baik kamu ke mobil aja, saya takut kamu nanti bisa buat kerusuhan di gedung itu”, nasehat Anala yang masih tidak suka dengan perlakuan orang sekeliling terhadap suaminya.


“nggak apa – apa Ann, kamu cemburu ya, jangan takut, saya temenin kamu sampai selesai, okay”, ucap Rangga sambil meyakinkan Anala.


Gladi bersih wisuda Anala berjalan dengan lancar, pada wisuda tersebut Anala lah yang meraih predikat cumlaude di tingkatannya. Ilmu yang sudah di dapatkan Anala selama kuliah tidak dia tidurkan dengan begitu saja, dia berniat untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi dan menjadi dokter spesialis adalah impiannya dan juga orang tuanya. Apalagi dukungan dan arahan Rangga sangat berarti buat Anala.


............


Hari Wisuda


............


Baju jubah Hitam adalah pilihan yang tepat untuk Anala gunakan pada hari wisudanya tersebut, ditambah dengan polesan make up yang tipis, sangat menunjang tampilannya seperti gadis – gadis yang berusia tujuh belasan tahu.


Begitu pun dengan Rangga, dengan atasan baju batik dan celana polos, semakin membuat Rangga seperti laki – laki macho, yang pastinya akan di pandang heboh oleh orang –orang nanti yang ada di sana.


“kang, jangan ganteng – ganteng banget, nanti kamu banyak yang melirik, kan saya nggak suka”, ucap Anala lagi yang masih dihantui rasa cemburu yang besar itu.


“nggak kok sayang, saya kan punya kamu”, lirik Rangga dengan kecupannya di pipi Anala.


“Maryam mana kang?”, tanya Anala bingung yang sedikit lupa dengan putrinya itu, karena kesibukannya detik – detik wisuda ini.


“uma, aku sedih, aku sekarang jarang sama uma, uma kemana aja”, rengeknya yang merasa sedih karena akhir – akhir ini dia berada di rumah omanya.


“eh, bukan gitu yah, sekarang kan uma wisuda nak, kamu sama oma dulu yah, nanti kalau sudah selesai wisuda nya, nanti sama uma lagi”, bujuk Anala yang sedang membuat Maryam tenang.


“sama abah sayang, sini”, ucap Rangga sambil menggendong putri kecilnya tersebut.


.......................


‘wisudawati atas nama dokter Anala Fatihah dengan predikat cumlaude anak dari bapak Ridwan Fatihah dan ibu Rania ’, ketika nama Anala di sebutkan oleh MC, Anala menatap wajah orang tua nya ke arah tribun, betapa bangga ayah dan ibunya mendengar anaknya sudah di wisuda dan mendapatkan peringkat yang tidak biasa itu.


Ayah Anala melambaikan tangannya dan satu tangan lagi terlihat mengabadikan moment anaknya itu dengan telpon genggam miliknya.


“Anala, ayah bangga nak”, teriak ayah Anala yang yang berdiri ketika Anala menyalami para dekan dan rektor kampusnya.


Anala menatap ke arah tribun dan melambaikan tangan ke arah ayah dan mamanya yang begitu bangga melihat putri tercintanya. Dan diikuti oleh riuh tepuk tanga dari semua orang yang ada di sana.


Hal yang tidak diketahui Anala terjadi, awalnya ketika gladi bersih sudah di tentukan siapa yang speak up perwakilan mahasiswa, tapi ternyata Anala lah yang diminta untuk orang kedua yang akan maju dan berdiri di mimbar besar tersebut.


‘Seperti apa pidato Anala?’. Stay for tomorrow


...........................


Sering seorang perempuan yang berilmu di pandang terlalu bisa sendiri


Tapi itu salah, bagi mereka seorang laki – laki yang tidak berilmu


...........................