
Sisa kebahagiaan yang ada kemaren, sepertinya masih ada di pagi ini, senyum sumringah Anala masih berformalin saat masih sibuk di dapur.
tok.. tok.. tok
Anala mendengar pintu depan rumahnya di ketok oleh seseorang yang tidak menyahut dengan suaranya. Anala mencoba mengendap endap ke belakang pintu dengan membawa sebuah tongkat kayu.
Dari balik kain jendela, Anala mengintip siapa orang yang tadi mengetok pintunya , ketika Anala tiba di belakang di depan pintu, suara ketukan itu tidak ada lagi di depan pintu, dan Anala heran dengan makhluk yang ada di depan pintu itu, Anala memberanikan untuk menghampiri. Setelah Anala mengintip sekali lagi dan ini adalah Anala mengintip untuk kali terakhirnya.
brak.. brak.. brak
“akangggg”, kesal Anala yang melihat Rangga juga melihat Anala dari lubang jendela yang sama.
Anala langsung membuka pintu dengan perasaan kesal, Rangga yang tampak ingin mempermainkan Anala, dengan sigap Anala melayangkan tongkat kayunya ke arah Rangga.
“aduh sakit Ann”, Rangga meringis karena Anala tidak sengaja memukul kaki bagian bawah Rangga yang baru saja pulag dari rumah sakit itu.
“up, sakit ya kang, sorry”, mohon Anala sambil mempersilahkan Rangga masuk.
“kamu kok makin kesini, makin garang sih sayang, nih belum saya pulang malam, kayaknya saya kalau pulang malam kamu kasih saya bom atom deh”, ucap Rangga sambil meringis kesakitan.
“ah lebay kamu kang, masa itu aja sakit, dulu kamu jatuh dari mobi karena bertabrakan, kamu nggak meringis kesakitan, alah itu aja kang, santai bro”, ucap Anala sambil melenggang santai menuju dapur.
“hmm, yummy, kamu masaka apa Ann”, tanya Rangga yang segera masuk dapur dan melihat Anala sedang menggoreng makanan di dapur.
“oh ya, mana anak kita Ann?”, tanya Rangga yang tidak melihat kelibat Maryam dari tadi.
“ada, tidur kang”, balas Anala.
“kang, mandi dulu deh, nanti kita makan sore”, suruh Anala.
“ada istilah makan sore, makan malam kali Ann”, lurus Rangga.
“saya nggak mau makan malam kang, kayak nya saya semakin hari semakin gemuk kayaknya kang”, jujur Anala.
Dengan tatapan juri, Rangga melihat apa yang di utarakan Anala kepadanya, mengena apa yang sedang dia alami, bahwa badannya semakin gemuk. Namun di mata Rangga sah sah saja.
“ah nggak ah, biasa biasa saja sayang, kamu nggak gemuk kok”, bohong Ranga yang mengetahui ada kelebihan di tubuh istrinya sejak mereka menikah.
“nggak percaya”, Anala dengan masih dengan mulut monyong.
“kamu bukan gemuk, tapi gemoy sayang, nanti kita olahraga bareng yah”, jujur Rangga.
“kan, aku gemuk”, ucap Anala lagi masih tidak suka dengan ucapan Rangga.
Setelah maghrib biasanya mereka akan mengajarkan Maryam bersama di ruang tv sambil selonjoran dan saling menghibur satu sama lain. Tapi malam itu Rangga sedikit terganggu dengan panggilan pesan dari seseorang yang mengaku seorang perempuan yang pernah ada di masa lalu Rangga. Anala yang melihat itu, tidak biasa melihat Rangga gelisah dan tidak enak hati langsung menanyakan hal tersebut pada Rangga.
“ada paa kang?”, tanya Anala sambil menatap intens mata sang suami.
“beneran kang?, kayaknya nggak baik – baik saja ini ma”, prediksi dan tebakan Anala sebenarnya benar, tapi berbeda dengan pengakuan orang yang dimintai kejujurannya itu.
“nggak ada apa – apa Ann, saya sholat isya dulu yah, setelah itu mau tidur, capek banget Ann hari ini, sayang abah tidur dulu yah”, izin Rangga yang meninggalkan Anala dan Maryam di ruang tv berduaan.
Anala yang masih dengan prasangka buruknya, menatap punggung Rangga yang sudah menghilang di balik pintu jati jepara tersebut. ‘apa yang terjadi terhadap suami aku?’, tanya batun Anla.
Setelah Rangga sholat isya, dia berbaring di tempat tidur dan memeriksa hp nya, apakah masih ada panggilan dan pesan dari orang tadi yang membuatnya cemas dan terganggu. Ternyata bertambah banyak pesan yang masuk dari seseorang tersebut, dan juga ada panggilan video call yang ditujukan untuk Rangga. ‘gila nih orang ’, batin Rangga.
“Rangga kamu lagi ngapain, tapi kata orang – orang , kamu udah menikah yah”, tanya seorang di seberang sana yang mengaku perempuan masa lalu Rangga.
Dengan keberanian Rangga membalas pesan tersebut.
“kamu siapa, dan kenapa kamu mengganggu saya, hanya untuk menanyakan hal – hal yang tidak ada kaitannya dengan kamu tersebut”, balas Rangga.
“Rangga saya masih sayang sama kamu, tapi kamu nggak mau sama saya, kenapa Rangga ”, tanya perempuan tersebut dengan emoticon sedihnya.
Bukan Rangga membalas langsung menelpon perempuan, karena menurut Rangga itu hal yang sangat mengganggu, dan Anala pun masih sibuk mengajar Maryam di ruang tamu.
“halo assalamualaikum mbak, mbak siapa?”, tanya Rangga yang sudah muak dengan tindakan perempuan tersebut.
“saya anita Rangga, masa kamu lupa, saya masih sayang sama kamu, dan sekarang saya sudah di Indonesia, kapan - kapan kita ketemu yah”, balas perempuan yang mengaku namanya Anita tersebut dengan suara mendayu – dayu mencoba mengajak Rangga untuk bertemu.
“gila kamu yah, saya sudah punya istri, dan istri Cuma satu dan tidak akan berpaling dengan siapa pun”, balas Rangga tegas namun dengan suara tidak tinggi, karena Rangga takut ketahuan Anala yang di ruang tv.
“jangan galak – galak lah Rangga, santai aja, dulu kamu sangat lembut sama saya, sekarang kamu kok gitu sih Rangga?”, tanya perempuan yang pura – pura sedih dengan gaya bicara Rangga kepadanya.
Anita adalah seorang anak orang kayak, yang satu sekolah dengan Rangga semasa SMA, tetapi setelah kuliah dia di kirimkan orang tuanya ke luar negeri dan setelah itu, sekang dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Rangga adalah orang yang selalu perhatian dengan semua temannya tanpa terkecuali termasuk teman perempuan semasa sekolah. Tetapi ketika masa kuliah sifatnya menjadi dingin dan cendrung cuek dengan semua orang, apalagi dengan orang yang tidak dia kenal. Tapi lagi beda dengan pasiennya, karena dia sangat menjunjung ke profesionalitasnya.
“sudah yah, kamu nggak usah ganggu saya, saya nggak suka orang lain mengganggu kehidupan saya”, balas Rangga yang segera menutup hp nya dengan tanpa meminta persetujuan lawan bicaranya tersebut.
Tanpa memikirkan hal yang lain Rangga memilih untuk tidur, karena besok ada kegiatan yang akan di jalankan Rangga dari pagi, dan dia harus menyiapkan tenaga untuk hari esok.
Anala yang masih termenung di ujung tempat tidurnya menatap intens punggung rangga.
‘ada apa dengan suami saya ya Allah?’, tanya Anala dalam hati.
‘ya Allah, apa pun yang terjadi saya serahkan semuanya pada Mu ya Allah’, pasrah Anala.
Umur pernikahan mereka sangat dini, kalau untuk menyimpan cerita aneh – aneh seperti gosip selebriti yang hilir mudik di media sosial. Selingkuh?. Itulah kata curiga yang pertama bertengger di kepala Anala.
‘nggak mungkin kayaknya dia selingkuh, sama orang aja dia dingin banget’, Anala menaruh curiga dengan kata selingkuh itu dan menepis jauh – jauh hal jahat itu dari kepalanya.
Sebelum Anala tidur di usap punggung Rangga olehnya dan dibacakan doa istimewa untuk suami tercintanya tersebut. Rangga yang masih belum tidur seutuhnya merasakan hal yang tidak aneh itu, karena hampir setiap malam Anala selalu melakukan hal yang sama untuknya. Dan kali ini ada rasa yang beda yang dirasakannya, apalagi merasakan begitu lama tangan Anala di sana melekat dan sesekali mengusapnya dengan lembut. Dan Rangga memutuskan untuk membalikkan badannya.