Analaa

Analaa
om rangga



Tiba – tiba telepon Anala yang di dalam kamar berbunyi dengan sangat kencang.


kring.. kring...


“umma handphone umma bunyi deh”, kata Maryam yang mengenali bunyi telepon uma nya tersebut.


“ya nak, tolong ambilkan dong, handphone umma di dalam kamar nak”, suruh Anala.


“ya umma”, jawab Maryam sambil berlari sedikit kencang ke arah kamar Anala, disudut kamar Anala ternyata ada mainan Maryam yang berserakan dan Maryam tidak menyadari itu.


bruk.. bruk.. bruk,


“aduh uma”, pekik Maryam yang ternyata karena kesandung mainannya sendiri.


“ada paa nak, kamu kenapa”, tanya Anala yang masih di dapur makan es krim yang barusan mereka buat.


“umma sakit, aku tersandung”, jawab Maryam sambil merengek kesakitan.


“kenapa kamu sampai terjatuh, nak?”, tanya Anala dan Anala sepertinya melihat tersangka yang diduga yang menjadi penyebab kenapa Maryam bisa terjatuh.


”ya karena ini toh kamu terjatuh nak, ini mah ulah kamu sendiri”, jelas Anala sambil geleng – geleng.


“aduh umma sakit ini berdarah”, tunjuk Maryam pada kakinya yang sakit dan berdarah karena terjatuh tersebut.


“sini umma obati”, kata Anala yang lebin mementingkan anaknya dari pada handphone yang tadi berdering, Anala membawa Maryam ke ruang tv dan merea duduk di sana, sambil Anala mengoleskan alkohol ke luka Maryam untuk mengatasi perkembangan biakan kuman di luka tersebut agar luka Maryam tidak begitu parah.


“umma pelan – pelan dong, sakit umma pakai itu”, teriak Maryam ketika Anala mengoleskan obat luka untuk luka Maryam.


“tahan dikit lah, ini umma kasih obat untuk mengobati lukanya sayang”, jelas anala.


“umma tadi handphone umma bunyi, siapa yang nelpon?”, tanya penasaran maryam terhadap panggilan yang barusan masuk ke handphone ibunya.


“nggak tau umma, umma belum lihat handphone nak”, jelas Anala, dan karena Anala juga penasaran akhirnya pergi dalam kamarnya untuk mengambil benda tipis tersebut.


” ohhh kamu toh, yang udah nelpon aku sampai berpuluh puluh kali”, batin Anala yang melihat ada panggilan dari Rangga sejak satu jam ya ng lalu, dan juga ada pesan yang masuk ke wa Anala dengan kalimat penasaran dan sepertinya Rangga cemas dengan tindakan Anala yang tidak mengangkat telpon juga tidak membalas pesan darinya.


“Ann, kenapa nggak di balas dan juga nggak diangkat telponnya?”, tanya Rangga beberapa kali bertanya dengan kalimat yang sama, Anala pun membalas puluhan chat dari Rangga tersebut, bukan untuk tidak membalas atau menghiraukan Rangga, Anala barusan mengalami tragedi yang mengorbankan Maryam.


“maaf, tadi saya sama Maryam ada di dapur kami sedang masak, dan ketika Maryam mengambil handphone ke dalam kamar maryam tersandung mainannya dan terjatuh di sudut pintu kamar, itulah saya tadi nggak bisa membalas dan mengangkat telepon kamu”, jelas Anal yang menceritakan kejadian hari itu pada Rangga agar Rangga tidak salah paham dan juga tidak salah sangka terhadap apa yang sebenarnya terjadi, dengan sigap Rangga membalas pesan Anala tersebut dengan perasaan yang pastinya haru.


“sekarang gimana maryamnya An? ”, tanya Rangga.


”nih video call aja yah anaknya “, saran Anala, dan Anala langsung mengambil kerudung panjangnya, ya pastinya Rangga dengan senang hati menerima saran Anala tersebut, selain bisa melihat anaknya juga bisa sekaligus bersilaturrahmi dengan ibunya. Maryam yang sedang duduk santai di ruang tv dengan semangkok es krim di tangannya.


sedang asyik menikmati es krimnya tersebut sambil menonton kartun kesukaannya sesekali sambil tertawa kecil.


“nak, ada yang mau video call nih”, bisik Anala yang mendekati Maryam.


“siapa umma?”, tanya Maryam sambil berbisik juga.


“om Rangga nak”, jawab Anala.


dengan girang Maryam menyahutinya, “Yeay om Rangga ya umma, sini sini sini”, jawab Maryam.


“katanya kamu sakit yah”, tanya Rangga yang masih berada di rumah sakit dan siap - siap pulang ke rumahnya.


“iya om, tapi om masih di rumah sakit yah” tanya Maryam.


“iya nih, bentar lagi om pulang, kamu mau beli apa, nanti om belikan”, tanya Rangga dan bujuknya untuknya untuk Maryam ang sudah terjatuh


“sebenarnya mau es krim om”, jawab Maryam dan Anala yang disampingnya tidak kelihatan diantara dua orang tersebut hanya mengernyitkan keningnya kepada Maryam.


“nggak ngak nggak jadi om, karena umma udah buatkan aku es krim, enak loh om”, jawab Maryam yang paham akan tatapan penuh arti ibunya itu.


“mau dong om dibungkus”, jawab rangga.


“kok dibungkus om nanti meleleh es krimnya, kan jadi nggak es krim namanya lagi, Cuma krim doang esnya udah meleleh”, jawab nyeleneh Maryam yang seakan tawa rangga keluar begitu keras di telinga maryam.


“nggak jadi den om, nggak usah beliin apa – apa deh om, udah kenya soalnya”, tambah Maryam.


“oke deh om mau pulang dulu, ingat yah nggak boleh lari – larian di dalam rumah apalagi berantakan mainan, nggak akibatnya kamu sendiri yang rasain sayang”, nasehat Rangga yang membuat Maryam beberapa detik diam sementara sebelum ke random an lainnya keluar.


“om kapan kita mau jalan – jalan lagi”.


“Maryam”, bisik Anala lengkap dengan ekspresinya.


“nggak jadi om, nanti – nanti aja om”, tambah Maryam cengar cengir sambil melahap es krimnya dengan berselera.


“nih om es krim yang umma buat itu, enak banget loh”, Maryam layaknya seorang yang promotor yang mempromosikan es krim buatan uma nya.


“nanti kapan – kapan om bisa rasain es krim umma ya sayang”, pinta Rangga dan Maryam mengalihkan kamera handphonenya ke Anal, karena dia ingin melihat serial kartun kesukaannya yang sudah mulai.


“Ann kapan kamu jadinya sidang skripsinya?”, tanya Rangga yang tampak senyum ketika melihat Anala walaupun berpisah tempat, tapi disatukan dalan sebuah frame.


“sepertinya bulan depan depan dok, soalnya ada satu pembimbing susah banget untuk menemuinya untuk mendapatkan tanda tangannya”, keselnya.


“ha ha ha, biasa itu Ann, itulah yang dinamakan berjuang”, jelas Rangga.


“nanti setelah wisuda rencananya mau ngapain?”.


“kayaknya mau ngambil profesi dulu, baru kerja di rumah sakit, kalau ada kesempatan rencana mau ngambil spesialis,bisa nggak ya?”, ragu Anala yang bercerita pada orang yang sudah berpengalaman dengan semua cerita Anala tersebut.


“bisalah Ann , masa ngga, kalau mau berjuang pasti bisa, saya selau dukung kamu apapun itu keputusan kamu saya selalu dukung kamu”.


uwuh,


itulah perasaan Anala yang ada pada saat itu.


“makasih dokter , sudah menyemangati dan mendukung saya”, kata Anala sambil mengangkat ibu jarinya.


“sama – sama ibuk Anala yang sudah ada juga dalam setiap sisi terpuruk saya, dan bisa membuat saya senang dengan adanya kamu dan Maryam”, begitulah respon keduanya yang saling memuji satu sama lain.


Love Rangga & Anala