
Rangga yang sudah siap untuk pergi ke rumah sakit, mengambil kunci mobil yang ad di atas etalase di sudut ruang tamunya itu, ketika memasuki kuda besi hitamnya tersebut sudah merasakan hal yang janggal dan tidak enak hati ketika berada di dalam mobilnya tersebut, ketika Rangga menghidupkan mesin mobilnya Rangga Dengan perasaan bimbang nya tetap membawa mobil tersebut penuh dengan hati – hati dan berdoa terlebih dahulu, setelah lima menit berlaku dalam perjalan Rangga menuju rumah sakit.
Ketika di tikungan dalam keadaan hanya mobil Rangga saja yang berada di sana, ketika Rangga ingin menginjak pedal rem, ternyata pedal rem tersebut Zon, alias tidak berfungsi, dengan panik Rangga mencari solusi dalam kepanikan tersebut, tapi sayang satu pohon besar yang berada di depan mobil Rangga yang akan menjadi sasaran titik pemberhentian mobil Rangga yang tanpa rem tersebut, alhasil Rangga terpental di dalam mobilnya, body mobil Rangga sebelah depan rusak parah, dan kondisi Rangga pada saat itu, cukup mengalami luka serius , tangan sebelah kanan Rangga patah dan kedua lututnya lebam menghitam karena hantaman yang cukup kuat mengakibatkan cedera, dari dalam mobil, Rangga yang setengah sadar menghadap ke luar jendela tanpa kaca tersebut, tidak melihat seorang pun yang berada di dekatnya dan mau membantu dirinya.
Akhirnya Rangga membuka pintu dengan sekuat tenaga agar terbuka, akhirnya terbuka dengan tidak sempurna, merangkak, itulah cara yang tepat yang isa Rangga lakukan pada saat itu, karena kondisi tubuh yang hampir semuanya kesakitan, setelah duduk di sebelah pohon di dekat kejadian naas tersebut, Rangga tampak menekan tombol panggil untuk seseorang di luar sana, ya Anala, anala lah orang yang pertama yang ditelpon Rangga untuk memberikan kabar duka tersebut.
“assalamualaikum ann”, sapa Rangga, dengan nada yang sedang menahan sakit.
“ya waalaikumsalam dok ,ada apa?”, tanya Anala yang merasa ada janggal yang terjadi pada Rangga pagi itu, pada saat yang sama Anala baru sampai di rumah dan Maryam sedang bermain di ruang bermainnya.
“Ann, boleh nggak kamu kesini bentar”, suruh Rangga yang menyampaikan tujuan jelasnya pada Anala.
“ada apa dok?”, tanya Anala lagi yang tanpa masih penasaran apa yang terjadi pada Rangga, secara tiba- tiba menyuruh anala untuk pergi ke tempatnya.
“kamu kesini aja Ann, cepat yah, nanti aku kirim lokasinya ke kamu”, suruh Rangga lagi yang tanpa memberi tahu maksud dan tujuan darinya untuk Anala.
Rangga takut jika dia memberikan alasan kenapa menyuruh Anala, Anala akan merasa cemas dan mengingat masa lalu yang pernah terjadi padanya di masa lalu.
“ok tunggu aku dok”, jawab Anala sambil memendam penasaran yang dialaminya barusa.
“maryam , ikut umma ya nak, tapi kamu tinggal dekat oma dulu, umma ada urusan nak”, pekik Anala dari kamarnya sambil mengambil kerudung dan gamis simpelnya.
“iya umma bentar”, jawab Maryam yang berlari dalam kamarnya keluar untuk menemui Anala yang tampak risau dan ingin bergegas pergi dari rumah.
”umma, mau kemana, kenapa Maryam ditinggal dekat oma”, tanya Maryam lagi yang penasaran dengan keputusan uma nya yang barusan.
“umma ada urusan mendadak nak, ayok cepat, nanti umma cerita , ketika umma udah pulang nak”, bujuk anala agar maryam mau menuruti permintaannya untuk mau tinggal di rumah ibunya sementara waktu ketiak dia menerima suruhan Rangga untuk dirinya.
“shut”, mobil Anala melesat dari perumahan itu menuju rumah ibunya untu menitipkan Maryam.
“dahhhh”, salam maryam pada uma nya yang sudah ingin pergi.
“dahhhh, baik – baik ya nak, jangan nakal”, ucap Anala pada maryam yang sudah berlari ke dekat oma nya yang sedang duduk di teras rumah yang sedang merajut tas kecil untuk pemberiannya pada Maryam. Anala dengan kecepatan sedang membawa mobil sambil melihat kiri dan kanan di sepanjang jalan dengan memperhatikan keberadaan rangga yang belum juag dia temui.
Sempat lebih beberapa detik Anala merasa darahnya mengalir di dalam tubuhnya, mengingat apa yang pernah terjadi pada Kami empat tahun silam, laki-laki yang ada dalam kejadian dua peristiwa itu adalah laki- laki yang sangat dia sayang , yang satu sudah menjadi mantan suaminya, dan yang satu lagi akan menjadi calon suaminya. Dengan cepat Anala menepikan mobilnya dan membuka pintu mobil sambil membawa kotak obat yang yang lainnya ke dekat rangga.
“dok, ini kenapa, kook bisa begini, kanapa dok, kenapa”, tanya Anala panik dan menyingkapkan celana Rangga yang robek dan dibalik celana robek tersebut ada luka yang cukup parah dan banyak darah keluar dari luka itu.
“sakit Ann”, pekik rangga, ketika Anala membersihkan luka tersebut.
“ini kenapa bisa terjadi dok?”, tanya anala lagi yang tampak sibuk membersihkan luka rangga , setelah itu Anala menelpon pihak rumah sakit terdekat untuk menjemput Ranga.
“nggak tau Ann, tadi ketika aku mau menginjak pedal rem ternyata nggak berfungsi sama sekali pada akhirnya menabrak pohon ini”, jawab Rangga sambil menahan sakit yang berasal dari sekujur tubuhnya.
”tahan dikit ya dok, saya bersihkan dulu agar nggak infeksi nantinya”, ucap Anal yang masih bergelut dengan kapas dan alkohol di kedua tangannya.
“Ann, nanti dijahit ini, sepertinya cukup dalam lukanya”, ucap rangga yang menyarankan lukanya untuk dijahit, walaupun dokter Rangga masih ada rasa takut ketika melihat darah dirinya sendiri.
“sepertinya iya dok, karena ini kalau nggak dijahit, kulit yang robek ini sulit untuk menyatu kembali karena sobekannya cukup lebar dan dalam”, jelas Anala.
Tidak berselang lama sepuluh menit setelah itu mobil ambulance rumah sakit yang ditelpon Anala tadi akhirnya tiba dan dengan sigap perawat - perawat tersebut mengangkat tubuh Rangga ke dalam mobil dan bergerak cepat menuju rumah sakit.
Anala yang tampak bingung di tempat kejadia akhirnya melihat kondisi dalam mobil rangga, disana masuh tampak tas kerja Rangga dan berkas penting lainnya, Anala membawa barang – barang tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil, Anala yang mempunyai nyali seperti sopir ambulance pun akhirnya tepat berada di belakang mobil ambulance tadi. Rangga yang masih menahan sakit, lupa bahwa ada barang – barangnya di dalam mobil yang belum dia keluarkan, takutnya nanti ada pihak yang nakal, untuk mengambil barangnya tersebut.
“hello Ann, ”, Rangga menelpon anala untuk menanyakan keberadaan barangnya tersebut.
“iya dok ada apa?”, “kamu lihat nggak barang saya di dalam mobil di kursi depan, kamu lihat nggak Ann”, tanya Rangga cemas, takut Anala tidak melihat barang – barang pentingnya tersebut.
“lihat, saya lihat tadi, nih udah di dalam mobil”, jawab anala santai,
‘nih orang bukannya memikirkan nyawanya, malah memikirkan barang- barang kayak gini’,
pikir Anala yang kesal melihat kelakuan Rangga ketika kondisinya dalam berbahaya