Analaa

Analaa
diskusi



Setelah seminggu berlalu Rangga kembali menanyakan keseriusan Anala dengan hubungannya, jika itu benar – benar serius dia akan melangkah dan menciptakan hal – hal yang baru untuk masa depannya bersama satu gadis kecil yang telah dulu hadir sebelum Rangga datang.


..kring.. Kring...


Beberapa pesan masuk ke dalam aplikasi hijau Anala, termasuk dari dokter Rangga yang selalu membuat dia deg degan dari setiap tindakan yang akan dia buat. Anala membuka satu persatu pesan yang masuk tersebut.


“Ann, benar ini Ann, kamu betul – betul serius dengan saya?”, tanya Rangga di awal komunikasinya hari itu. Sontak membuat Anala kembali deg degan menjawabnya, padahal kemarin sudah cukup jelas baginya, entah mengapa ketika kembali Rangga menanyakan hal tersebut, bahwa Rangga benar – benar ingin meminta persetujuan darinya lebih jelas dan lebih terang lagi.


“bukannya kemarin semuanya sudah jelas lagi dok, emang nggak cukup penjelasan dari ayah kemarin?”, ungkap Anala secara terang.


“bukan begitu Ann, saya ingin memastikan langsung dari kamu, jika iya kamu benar – benar ingin bersama saya, banyak perencanaan yang akan saya siapkan sebelum kita menikah”, jawab rangga.


“semuanya sebenarnya tergantung dokter, kalau dari saya, kemarin apa yang disampaikan ayah, saya setuju, kembali lagi, kalau dokter keberatan dengan itu semua, saya juga nggak apa – apa kok”, jelas Anala .


“bukan gitu Ann, kamu jangan berfikir yang aneh – anah dulu, saya ingin minta ulang penjelasan, kalau bisa saya ingin lebih cepat dari ketentuan yang sudah disepakati, agar nggak ada hal – hal yang dilarang terjadi diantara kita”, timpal Rangga.


“ohhh gitu, kalau gitu kita nggak usah bertemu dok, kalaupun itu penting, harus ada yang menemani, saya juga takut soalnya, dulu kita sering bertemu karena kita belum punya rasa satu sama lain, tapi sekarang kondisi dan situasinya beda”, ungkapan Anala.


“iya Ann, soal pernikahan nanti kamu maunya gimana?”, tanya Rangga yang mulai menanyakan masalah tentang konsep pernikahan mereka.


“kalau dokter tanya saya, saya ingin yang simpel saja, yang hadir pun hanya teman – teman dekat dan keluarga kita aja, nggak suka yang wah gitu, kalau dokter gimana?”, tanya Anala.


“saya nurut apa yang kamu mau aja, nanti kalau saya susun konsep yang lain, saya takut kamu nggak betah nanti waktu acara tersebut”, jawab Rangga yang memilih mengikuti apa maunya Anala, tanpa mengedepankan kemauannya.


“gimana nanti dengan kolega – kolega dokter, pasti banyak kan teman – teman yang ingin datang?”, tanya Anala lagi, mengingat Rangga mempunyai banyak teman – teman yang ada di sekelilingnya.


“nanti saya bisa atur itu Ann, yang pasti kita nyaman dengan itu”, jelas singkat Rangga.


“dok, nanti kalau setelah menikah kita tinggal di rumah ini saja, saya sudah minta izin pada ibunya Kamil kok, bahwa rumah ini dia berikan untuk saya dan Maryam, nggak etis rasanya saya nggak minta izin pada ibu Kamil”, tanya Anala lagi.


“sebenarnya saya sudah menyiapkan rumah untuk kita bertiga dan dekat juga dengan rumah sakit, tapi kalau kamu nyaman di sana dan hal itu juga nggak jadi masalah saya ikut saja”, pasrah Rangga lagi. Rangga selalu membuat Anala kagum dengan sifat dewasanya yang tidak mempermasalahkan hal – hal yang membuat Anala itu adalah sebuah masalah, dia selalu mencarikan solusi terbaik untuk masalah tersebut.


“oh itu alasannya, kalau gitu saya memang harus mengalah melawan dua orang ini, hehe”, ungkap Rangga.


“dok, nanti tema baju pernikahannya seperti apa?”, Anala sebenarnya tidak mau ribet dengan semuanya, tapi dia harus menanyakan hal itu pada Rangga, karena waktu pernikahan dia dengan Kamil, semuanya sudah diatur oleh ibunya dan juga bibinya.


“saya suka warna putih Ann, kalau warna putih aja gimana?”, ungkap Rangga tidak dengan jawab yang terserah.


“ok, saya juga suka putih dok”, jawab singkat Anala.


“Ann, nikahnya di hari jumat kan, kalau bisa bagusnya pagi nggak sih Ann?, nanti setelah selesai sholat jumat baru kita melayani tamu, dan selesai di sore harinya, lebih baik menurut saya, agar waktu sholat kita yang hadir di sana tidak terganggu”, Rangga lebih memikirkan apa yang terjadi terhadap pihak – pihak yang lain yang ada ikut serta dalam hari bahagianya tersebut.


“saya setuju dok, saya juga suka konsep itu”, tambah Anala yang sepemikiran dengan Rangga.


Bagi Rangga ini adalah hal yang pertama baginya, jadi harus mendengar hal – hal usulan dari pihak lain untuk setiap tindakannya tersebut, hal yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya, detik – detik ijab kabul adalah merupakan detik yang membuat semua laki – laki tidak hanya Rangga, pasti merasakan guncangan yang hebat di dalam hatinya, ketika detik itu mereka yang disaksikan puluhan orang menyebutkan janjinya dan menerima amanah tersebut di hadapan Allah untuk mengemban amanah tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.


“Ann, jika kamu melihat melihat saya dalam hal yang salah, saya minta tolong kamu tegur saya dan nasehati saya”, ungkap Rangga, sebagai laki – laki, atau pemimpin dalam rumah tangga, Rangga menyadari tidak selalu pihak laki –laki itu benar dan tidak punya salah, justru dalam langkahnya mereka juga sering tertatih- tatih, itulah mereka butuh perempuan yang selalu mau saling membimbing dalam hal kebaikan di jalan Allah.


“insyaallah dok, kita saling memberikan hal positif satu sama lain, demi kebaikan kita bersama, dan saya juga minta sama dokter untuk membimbing saya dan juga Maryam dalam bentuk sebaiknya pembimbing”, ungkap Anala yang membuat Rangga sedikit haru membaca chat Anala.


“Ann, saya juga ingin , ketika sudah menikah nanti saling silaturrahmi kepada kedua orang tua kita, saya nggak mau dicap anak yang tidak patuh orang tua, dan juga menantu durhaka”, tambah Rangga.


“apapun keputusan kamu dok, saya ikuti selagi itu hal yang baik saya akan ikuti, apalagi hal itu, orang tua kita adalah segalanya bagi kita, walaupun kita sudah menikah, bahwa doa mereka sangat kita perlukan dalam setiap tindakan yang kita lakukan”, tambah Anala yang suka dengan cara Rangga.


“ya udah Ann, saya mau pergi sama Putra ke kantor polisi dulu yah, mau ngambil mobil yang kemarin ada di sana rencananya mau dianter ke bengkel”, izin Rangga.


“ya udah , hati - hati”, singkat Anala.


Mobil Rangga yang mengalami kecelakaan bersamanya kemarin sudah bisa diambil di kantor polisi, setelah menjadi barang bukti dan juga saksi bisu terjadi peristiwa yang tidak di duganya itu kembali dia bawa pulang. Rangga memutuskan membawanya ke bengkel untuk dilakukan renovasi secara keseluruhan, walaupun yang ringsek hanya bagian depan saja, tapi Rangga ingin mengganti warna mobil tersebut, agar tidak selalu terbayang – bayang olehnya peristiwa kelam tersebut.


Mobil yang dipakainya itu sebenarnya hadiah dari orang tuanya pada saat ulang tahun dan juga bertepatan dengan wisuda s2 nya, hadiah yang tidak pernah dia lupakan dan tidak mempunyai harga jual itu dia rawat dengan sangat bangga. Mempunyai orang tua yang berkecukupan tidak membuat Rangga sombong. pada saat masa – masa kuliah Rangga hanya diberi uang jajan sama seperti anak – anak yang lain, sehingga hal tersebut yang membuat Rangga rajin menabung dan mampu mengelola keuangannya dengan baik. Dan karena sifat orang tuanya yang mengharuskan Rangga tidak lalai dalam ibadah sehari – hari, sehingga sampai sekarang membuat Rangga menjadi pribadi yang tidak mau mengabaikan sholat dan ibadah lain, karena hal tersebut sudah berlangsung lama semenjak dia kecil. Rangga juga merupakan seorang yang berprestasi dalam membaca Al~Quran, sehingga dia pernah mendapatkan juara satu MTQ tingkat provinsi.