Analaa

Analaa
akhirnya pulang



"Ngga ini yang gue nanti – nanti ngga, pokoknya gue ngak mau tidur untuk kali kedua di kamar ini, bisa mati ketakutan gue ngga”, ucap Putra sambil berkemas berang untuk dibawa pulang.


Putra yang tampak antusias sekali untuk pulang dan membawa Rangga. Malam yang sangat bersejarah dalam hidup Putra khususnya yang tidak akan pernah hilang, apalagi kembali ke rumah sakit yang sama suatu hari nanti.


“Ngga, lu mau bersih – bersih dulu atau gimana?, gue udah kemas nih semua barang – barang lo, kita tinggal pergi aja dari sini ngga, pokoknya nggak ada tawar menawar ngga, hari ini sebelum maghrib kit harus pulang ke rumah, kalau bisa setelah ashar kita sudah tidak ada disini lagi”, ucap Putra yang ngos-ngosan setelah berkemas barang.


“takut banget lo Put”, ucap Rangga cengengesan.


“ya iyalah ngga, gila lu nggak takut, tapi lu kalau mau tinggal disini, tinggal aja sendiri, gue pulang, pokoknya gue nggak mau tidur disini lagi ngga, sama aja gue uji nyali di tengah hutan rasanya”, jelas Putra kesal dengan Rangga.


“nggak ah gue juga nggak mau sih Put, gue mau tidur nyenyak, tadi malam tidur gue nggak cukup, alhasil bukannya cepat sembuh gue disini malah tambah penyakit baru nih”, timpal Rangga lagi.


“kalau lu mau pergi cepat – cepat dari sini, cepetan tuh mandi, bersih – bersih, kalau nggak gue tinggalin lo disini, nanti nggak ada yang jemput”, tambah Putra yang tidak ditentang rangga sedikitpun.


karena di posisi itu hanya pertolongan Putra yang diharapkan Rangga, sedangkan tidak ada satu pun anggota keluarganya yang mengetahui keadaan Rangga saat ini, Rangga merahasiakan itu hanya tidak ingin terjadi apa – apa di keluarganya, dan terutama sekali Rangga takut membuat ibu dan ayah cemas berlebihan terhadap dirinya.


“iya –iya boss, gue nurut sama lo”, turut Rangga yang langsung menuju kamar mandi dan bersih – bersih.


“Put bantuin gue gunting tuh lakban buat gue, buat ini nih”, pinta Rangga setelah keluar kamar mandi untuk bersih – bersih, dan membersihkan lukanya sekaligus mengganti kain pembalut lukanya tersebut dengan kain yang baru.


“mana ngga gue nggak lihat atau udah gue masukin dalam tas itu yah”, ucap rangga yang tidak menemukan keberadaan lakban pelekat kain kasa tersebut.


“astagfirullah Put, belum juga tua, umur masih muda, tuh lu liat di jari telunjuk lu tuh apaan sih namanya”, ujar Ranga yang tidak habis pikir dengan penyakit lupanya Putra.


“ohhh iya yah”, gelak Putra, “nih, mau berapa lo?”, Putra memberikan lakban tersebut pada rangga.


“ngga , nanti malam kalau ngak ada kita tuh hantu pasti kesepian yah”, ujar Putra yang tidak bisa move on dengan kejadian semalam.


“gila lu, ngapain sih masih bahas – bahas yang tadi malam, males gue Put”, jengkel Putra yang tidak mau membahas masalah tadi malam secara berlarut – larut , apalagi mereka akan pergi dari kamar dan rumah sakit itu dalam hitungan jam ke depan.


“kring.. kring...kring”, bunyi hp Rangga yang di atas lemari besi tersebut sempat menjadi pusat perhatian dua manusia laki – laki tersebut.


“tolongin Put, gue suah untuk berdiri nih”, pinta Rangga.


“idih, ada yang rindu nih”, ucap Putra yang melihat nama yang sedang melakukan panggilan masuk ke hp rangga.


“ih apaan sih Put, lu nggak sopan baca – baca hp orang”, jengkel rangga.


“ini kan emang ada namanya di hp lu, yah gue baca lah ann gue bisa baca ngga”, tambah Putra yang tidak mau kalah dengan pernyataan Rangga.


“assalamualaikum Ann”, sapa Rangga.


“waalaikumsalam dok, gimana jadi pulang sore ini dok, udah mulai membaik belum”, jawab anala dengan sederetan kumpulan pertanyaannya.


“alhamdulillah Ann, udah mulai baik, dan nanti sore juga dibolehkan pulang, nih udah siap beres – beres nya, dibantuin Putra”, jawab rangga lagi.


“oh ya, baik banget ya teman kamu dok, bersyukur ada teman sebaiknya”, ucap Anala, dan kedengaran sayup – sayup di telinga Putra.


“teman yang baik, harus bersyukur”, ledek Putra ke arah Rangga yang tampak sedang menelpon dengan Anala.


“itu teman kamu ya dok”, tanya anala yang penasaran dengan suara yang barusan dia dengar.


“iya itu suaranya Putra, si tukang bawel dan usil”, balas Rangga, “oh ya nanti Maryam mau jenguk Om Rangga katanya.


Dia sudah tahu bahwa dokter kecelakaan, dan dia besok pulang sekolah mau jenguk dokter katanya, nggak keberatan kan do?”, tanya anala memastikan lagi.


“boleh banget lah Ann, lagi pun saya sudah lama tidak jumpa dengan maryam, rindu juga”, balas Rangga.


“bruk”.


Rangga melemparkan bantalnya ke arah Putra yang tepat menimpali puncak hidung mancung Putra tersebut.


“sakit ngga”, teriak Putra yang memegang hidung yang barusan menjadi korban kejahilan Rangga.


“ih kamu kok gitu dok, temannya kok digituin”, tanya Anala.


“dia ini menag usil banget Ann, nggak usah kamu kasihani, dia emang udah kasin banget”, tawa Rangga yang tampak senang dengan suasana saat itu.


“nanti saya mau masak, dokter mau saya masakin apa?”, tanya Anala ragu.


“lah kenapa kamu seperti ragu – ragu Ann, apa aja Ann, pasti enak kan”, balas Rangga dengan sejuta rayunya, yang membuat Putra hampir muntah mendengar obrolan mereka.


“oh ya dok, besok saya mau pergi ke tempat dokter b ertiga sama teman saya Diana”, tambah Anala lagi.


“oh ya nggak apa - apa”, jawan Rangga. Rangga yang seperti diracuni vitamin kebugaran itu tampak berubah ekspresi setelah beberapa menit melakukan pembicaraan via telpon dengan Anala.


“ngga, siapa Maryam?”, tanya Putra penasaran.


“Maryam itu anaknya Anala, dia adalah ibu satu anak, yang mantan suaminya sudah meninggal karena kecelakaan juga”, jelas rangga.


“kenapa dia kayak nggak seperti ibu anak satu ngga, kelihatan masih seperti anak gadis, luar biasa ya ngga, perempuan hebat”, tambah Putra yang tampak beberapa detik seperti dengan memikirkan seseorang yang ada di ingatan nya.


“ngga usah dibayangi orangnya Put, nggak akan lu dapatin”, ledek rangga lagi.


“okee, kita lihat nanti ya ngga siapa yang lebih dulu yang bisa dapetin dia”, tawar Putra.


“awas aja lu, kalau lu nggak mau otak lu mendidih , jangan lu coba – coba untuk merayu – merayu dia, awas lo”, kesal rangga yang setiap Putra membahas Anala di depannya.


“tuh temannya masih jomblo nggak ngga, nanti lu kenalin gua yah”, tambah Putra yang tidak putus asa untuk menggoda orang – orang yang berada di dekat Anala.


“la mana gue tahu Put, lu tanya sama dia, lo kayak nggak bisa dapat cewek aja lo, padahal chat ann yang ada di hp lo perempuan semua kan”, tambah Rangga yang membuka aib sahabatnya itu.


“itu mah hanya untuk teman – teman aja ngga, yang serius belum ada soalnya, kan bagus yah kalau lo sama Anala gue sama temannya, jadi setiap ngumpul bareng kita juga bisa ketemu”, tambah Putra.


“la kalau gue sih nggak mau sering – sering ketemu lo, apes hidup gue Put”, ucap Rangga.


“beneran?, oke gue nggak mau ketemu lu setelah dari sini lun urus sendiri tuh mobil lo yang masih di pekarangan kantor polisi, lu urus sendiri”, ngambek Putra.


“alah itu aja ngambek, dasar laki – laki tulang sarden lu”, ucap Rangga meledek Putra yang lemah seperti perempuan ketika diajak debat.


“ayok pulang, gue mau tidur”, ajak Rangga yang tangan kanannya memegang tongkat besi yang dibelikan Putra kemarin sore.


“tuh gue yang angkat – angkat semua ini ngga?”, tanya polos Putra.


“ya iyalah masa lu suruh gue, lu nggak lihat kondisi gue”, balas Rangga.


“lo disini aja dulu nggak, nanti pas gue balik sini lagi jemput barang lo, nggak sendirian gue, masih takut soalnya”, balas Putra yang sambil menggaruk kepala yang tidak gatal itu.


“iya, cepetan Put, gue mau tidur nih”, suruh Rangga, “iya, sabar dong anda”, kesal Putra yang selalu dibuat darah tinggi oleh Rangga.


“oh ya lu ngambil obat dulu dibawa kan”, ingat Putra, “iya, tapi kan gue nunggu lu Putra”, jelas Rangga dengan ekspresi orang yang dihantui oleh rasa kantuk yang berat.


Banyak cerita mungkin malam tadi, tapi juga banyak juga hikmah yang dapat diambil dari sederetan peristiwa semalam, semakin menjadikan mereka sahabat yang selalu mendampingi di kala senang dan juga susah.