
Hari pernikahan Anala dan Rangga tinggal menghitung hari, sebentar lagi mereka akan menyandang gelar yang baru untuk status pernikahan mereka. Sama seperti masa pernikahan pertamanya , Anala masih deg degan dengan hari menjelang pernikahannya ini bersama Rangga. Anala yang seperti mondar mandir di tepi teras rumahnya, tampak memikirkan sesuatu yang tak pernah selesai dari beberapa waktu yang lalu.
‘kok f\deg degan gini ya rasanya, padahal ini bukan hal yang pertama kali saya rasakan, kok nggak gini ya rasanya’, batin Anala sambil duduk dengan ponsel yang masih menggantung di jari jemarinya.
“umma”, pekik Maryam, yang membawa cemilannya dari dapur untuk menemani kesendirian ibunya tersebut.
“ada apa nak?”, tanya Anala seperti orang kehabisan tenaga untuk berbicara dan secar tiba – tiba suaranya tidak seratus persen keluar. Apalagi akhir – akhir ini Anala sering minum minuman dingin.
“suara umma kenapa?”, tanya Maryam terkejut suara ibunya yang hampir habis itu.
“nggak tau nak, kenapa ya”, jawab Anala heran dengan kondisinya sekarang, secara mendadak tenggorokannya merasa tidak enak dan sedikit perih.
“apa jangan – jangan kemarin umma minum es ya, kan kata umma kalau sering – sering minum es , nanti batuk, tenggorokannya sakit”, jelas Maryam yang membahas kembali nasehat – nasehat Anala untuknya.
“nggak kok nak, nggak sering kok, kayaknya karena cuaca juga lagi panas, dan juga polusi asap dimana- dimana”, bela Anala.
“ke dokter aja nanti ya umma, nanti umma nggak bisa ngobrol – ngobrol lagi sama aku, kan aku ngomong sendiri”, saran Maryam yang juga perhatian kepada ibunya tidak pernah kurang sedikitpun.
“nanti dulu nak, nanti umma cuba dulu minuman alami dulu, kalau besok nggak juga sembuh, nanti kit ake dokter ya”, jawab Anala dan tampak suaranya mulai hilang sepenuhnya di akhir kalimatnya.
“kan , kan udah hilang umma, yok kita berobat yuk”, ajak Maryam haru.
“iya sabar - sabar”, jawab Anala sambil mengelus telapak tangannya ke dada sang anak.
Anala yang juga calon seorang dokter lima bulan lagi itu, pasti tahu obat –obat alami dna racikannya untuk menyembuhkan rasa sakit tenggorokannya itu. Anala tampak memilah dan memilih barang dapur untuk dijadikan minuman ikhtiar meredakan rasa sakit tenggorokan nya.
Anala mengambil satu ruas jahe dan kunyit, tidak lupa Anala memasukkan sereh yang sudah dipotong – potong ke dalam wajan panas berisi air yang telah mendidih. Setelah itu Anala menyaring air tersebut untuk memisahkan air dan rempah – rempah tadi dan ditambah dua sendok madu kedalamnya.
“Dig... drug,, Dig”, tiga tegukan minuman yang tadi dia racik akhirnya bisa dia rasakan, rasa sakit yang tadi dia rasakan mulai membaik dan rasa sakitnya berkurang.
“umma, udah mulai hilang rasa sakitnya?”, tanya Maryam sambi melihat setiap inci tubuh Anala dari atas sampai bawah untuk memastikan tidak ada bagian tubuh ibunya yang sakit di bagian lainnya.
“udah mulai hilang nak”, jawabnya.
Malam telah berlalu, berharap pagi membuka rasa baru yang diharapkan Anala untuk tenggorokannya, karena hari ini adalah hari dimana Anala dan Rangga akan pergi ke kantor KUA untuk proses skrining pernikahan.
Tapi harapan itu tidak mungkin akan terjadi, setelah meminum air ramuan kemarin, malam suaran Anala hilang total, tapi rasa sakitnya hampir tidak ada.
“aduh gimana nih”, batin Anala
..drtt.drtt
bunyi suara panggilan dari nomor Rangga masuk ke hp Anala, dengan spontan Anala memutuskan panggilan telepon tersebut.
Karena Anala nggak mungkin akan berbicara dengan Rangga melalui telepon, Anala memutuskan untuk menghubungi Rangga lewat chat saja.
“assalamualaikum dok, maaf tadi teleponnya saya matiin, saya hilang suaranya dok”, jelas Anala yang tidak membuat Rangga over thinking.
“kok bisa”, tanya Rangga yang bingung.
“saya juga nggak tau dok, kayaknya kemarin saya banyak minum es sih”, jujur Anala.
“terus gimana mau ke dokter THT dulu, atau ke KUA dulu kita anala?”, tanya Rangga cemas dengan kondisi Anala.
“ke KUA lah dok, itu kayaknya lebih penting deh”, jawab Anala polos.
“ok kalau gitu, saya jemput di depan rumah ya”, akhir Rangga ddi ujung chat mereka.
“ok assalamualaikum”, tutup Anala.
“waalaikumsalam”, balas Rangga.
Setelah melewati proses skrining lebih dari tiga jam di kantor KUA, akhirnya Rangga dengan Anala menuju rumah sakit dimana Rangga bekerja, untuk menemui dokter THT. Rangga sebelumnya tidak tahu bahwa dokter THT di rumah sakit tempat dia bekerja tersebut sudah berganti.
“ann, tunggu disini dulu yah, biar saya urus semuanya dulu”, ujar Rangga yan nampak cool banget, apalagi perhatiannya kini banyak dicemburui oleh banyak orang, termasuk salah satu dokter umum di tempat dia bekerja.
“hay dokter Rangga, sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar?”, tanya Anya si dokter seksi tersebut.
Anala adalah dokter yang sudah tiga tahu di rumah sakit tersebut, tapi Rangga jauh lebih dulu ada di rumah sakit tersebut. Sebelum ini Anya dan Rangga sempat dikabarkan pernah menjalin hubungan pacaran, tapi sikap Rangga tidak pernah menunjukkan bahwa ada hubungan dengan Anya.
Rangga yang cuek dengan orang yang tidak dia sukai, akan tidak terlalu menjalin komunikasi lebih, Rangga paham batas – batas untuk berkomunikasi, apalagi dengan lawan jenis.
“bukannya kemarin kita bertemu dok, saya hanya hari ini saja nggak masuk kerja, oh ya perkenalkan ini Anala, insyaallah minggu depan kami mau menikah, datang ya dok”, ucap Rangga sekaligus untuk memancing amarah dokter Anya.
“apa, dokter mau nikah?”, tanya Anya, yang masih tidak percaya dengan kalimat yang barusan dia dengar dari mulut Rangga.
“ya saya mau nikah dokter, kalau sudah ketemu jodohnya , nggak baik ddi undur – undur kan?”, yakin Rangga pada Anya.
‘tau banget dia saya sakit hati mendengar kabar kalau dia mau nikah, sialan, ini nggak bisa dibiarin nih, saya harus melakukan sesuatu, agar pernikahan mereka tidak jadi dilakukan, Rangga hanya milik aku seorang’, batin Anya yang menatap Anala seperti harimau sedang lapar.
“hay, saya Anala”, sapa Anala dengan suara parau nya yang melihat tatapan Anya yang sudah terhanyut dengan kata – kata hasutan setan di dalam kepalanya.
“oh kamu bukannya mahasiswa yang magang disini waktu itu ya?”, tanya Anya yang menyadari keberadaan Anala ddi rumah sakit itu.
“kok suara kamu kayak gitu sih, katanya mau nikah, tapi suaranya habis, kamu sedang sakit, nanti buat malu Rangga loh kamu”, Anya berucap seperti itu tanpa berfikir, dia sedang berhadapan dengan siapa sekarang.
“ok dok”, jawab Anala dan juga malas melayani orang seperti itu, Anala menjauh dari keberadaan Anya dan menuju ke tempat Rangga berdiri mengambil no urut antrian pemeriksaan.
Anya dengan kesal menghentak hentakkan kakinya ke lantai keramik putih tersebut, ‘sial, dia nggak menghargai aku, dia ngga lihat apa, aku kan dokter yang paling cantik di rumah sakit ini’, batin Anya yang menuju ruangannya.
“ann, dia ngomong apa sama kamu?”, tanya Rangga kepo.
“hush”, jawab Anala yang tidak mau membahas orang yang tidak penting diantara mereka, lagi pun suara Anala tidak memungkinkan untuk mensponsori obrolan mereka saat ini.
“no urut tiga puluh empat silahkan masuk, no urut tiga puluh empat silahkan masuk”, no urut Anala dipanggil oleh sumber suara, Anala yang ditemani Rangga masuk ke dalam ruangan tersebut. Dengan terkejutnya Rangga, dokter THT yang dia kenal kemarin sudah tidak lagi menjabat dokter di sana, dan sudah digantikan oleh dokter baru, ‘kok bisa – bisanya perawat tadi nggak beri tahu saya, bahwa dokter THT bukan dokter biasa’, batin Rangga. Sebelumnya yang Rangga tahu, dokter THT adalah seorang perempuan.
“hai kak, apa keluhannya?”, tanya dokter ganteng tersebut pada Anala sambil mengambil menyiapkan alat – alat periksanya.
“suara saya hilang dok”, jawab Anala sambil berusaha mengeluarkan suaranya.
“oh ya bapak, suaminya kakak?”, tanya dokter THT tersebut pada Rangga.
“calon dok, belum lagi”, jawab Rangga singkat.
Walaupun tidak ada kemesraan diantara dokter muda tersebut dengan Anala, entah kenapa Rangga sangat over protective dengan Anala, dan juga Rangga tidak suka Anala bersentuhan dengan pria lain, walaupun Anala pasti akan menjaga hal tersebut.
“radang tenggorokan nih kak, kakaknya sering minum es nggak?”, tanya dokter muda terebut penasaran.
“kemarin iya sih dok”, jawab Anala.
“apalagi sekarang musim panas gini, dan ditambah ada polusi udara yang sangat parah ini”, jelas dokter muda tersebut, dan menuliskan resep – resep obat untuk Anala.
“nih kak, resepnya, silahkan ambil di apotek kita ya kak”, dokter muda tersebut memberikan resep obat pada Anala dan kembali duduk di kursi awalnya. Anala dan Rangga meminta izin untuk keluar dari ruangan dokter tersebut.
“terima kasih dok”, ucapan Anala dan Rangga dan sedikit melempar senyum ke arah dokter muda tersebut.
“iya sama - sama”, jawabnya dengan balasan senyum yang lebih merekah di bibirnya.
Rangga yang tidak mengungkap identitasnya seorang dokter spesialis jantung di rumah sakit tersebut tidak diketahui oleh dokter muda tadi. Apalagi Rangga tidak suka orang lain tahu tentang dirinya, dia menganggap ketidaktahuan orang lain tentang dirinya adalah sebuah hal yang leluasa untuknya beraksi dimanapun.
“ini kak Anala obatnya, tiga ratus sembilan puluh lima ribu yah”, ucap kasir apotek tempat mereka menebus obat Anala itu.
“ini kak”, sebelum Anala mengambil uang di dalam tasnya, sudah terlebih dahulu laki – laki yang ada disampingnya itu memberikan lembaran uang merah tersebut ke kasir apotek.
“dokter Rangga bukan?”, tanya mbak –mbak apotek.
“iya saya dokter Rangga”, jawab Rangga sambil membuka masker yang tadi dia pakai dan melemparkan senyuman dan memperlihatkan susunan rapi gigi tanpa terhalang apapun, sepertinya dia tidak berhasil untuk tidak dikenal orang.
“siapanya dok, adik?”, tanya mbak apotek yang tidak tahu dengan Anala.
“nggak, nanti kamu juga tahu siapanya saya”, ledek Rangga.
“bisa aja dokter, atau jangan – jangan... ”, mbak apotek memancing dengan kalimat ambisinya.
“nggak usah jangan – jangan, ya udah saya pergi dulu”, jawab Rangga yang langsung menuju parkiran bersama Anala dengan posisi Rangga berjalan lebih duluan dan Anala berada di belakang Rangga.
“nanti obatnya diminum pulang dari sini ann, jangan makan yang berminyak, dan juga minum air es”, nasehat Rangga dan hanya disahuti kecil oleh Anala,
“yup”.
Di dalam mobil menuju rumah Anala, tidak sepatah kata pun yang ada diantara mereka berdua, dan Anala hanya sibuk dengan handphonenya, begitu pun dengan Rangga yang memasangkan hand free hanya di sebelah telinganya dan sambil bersenandung kecil.
“makasih dok, termasuk ini makasih udah dibayarin”, ucap Anala sambil menunduk setelah keluar dari mobil Rangga.
“iya sama – sama Ann, jangan lupa minum obat dokter Anala, dokter kok sakit”, ledek Rangga.
“emang nggak boleh sakit?”, cetus kesal Anala.
“hati – hati dok”, Anala menyuruh Rangga untuk segera pergi tidak ingin ada gosip baru di lingkungan perumahannya.
“ummah”, teriak Maryam dari dalam rumah yang dari tadi merindukan kedatangan ibunya itu. Maryam yang selalu bisa diajak kompromi dan disuruh Anala untuk tinggal di rumah dan ditemani sepupu Anala tampak tidak banyak penolakan.
“kamu nakal nggak tadi?”, tanya Anala sambil mencubit pipi gembul Maryam.
“nggak kok umma”, jawab maryam sambil membimbing tangan Anala ke dalam rumah, dan disuguhkan oleh pemandangan yang tidak mengenakan dan mengotori mata Anala.
“Maryammmmmmm, ini apa nak, umma nggak suka”, Anala sedikit berteriak dengan sura parau nya. Anala melihat banyak barang yang berserakan kiri kanan dan ditambah dengan alat make up Anala juga menjadi korban Maryam, sedang sepupu Anala sedang ada tugas kuliahnya yang ada di dalam kamar Maryam.
“kemas sekarang sayang, umma ngga mau lihat kayak gini lagi yah”, ucap Anala yang bergegas menuju kamar.
“siap boss, hehehehe”, jawab Maryam sambil cengengesan.
love ( Anala dan Maryam (