Analaa

Analaa
hari pernikahan



‘Selamat datang kami ucapkan kepada semua tamu undangan yang hadir pada pagi hari ini, acara yang dinanti –nanti akan kita mulai ’, ucap pembawa acara acara pernikahan Anala dan Rangga tersebut.


Di dalam kamar pengantin sama dengan dulu saat pernikahan pertamanya. Anala sudah selesai dicolek oleh salah satu MUA terkenal di kota Bandung itu. Tampak Diana dan teman yang lainnya tak jenuh melihat Anala yang tetap cantik memakai baju serba putih tersebut, walaupun kali kedua bagi sahabatnya itu.


“cantik banget teman aku ini”, ulas Diana sambil dipegang dagu Anala dan memberikan kecupan manis di pipi sahabatnya itu.


“jangan kemana – mana ya Di, disini aja, aku masih gugup nih”, ujar Anala sambil berkaca memastikan make up nya masih tetap cantik.


“iya , saya akan disini kok, kamu tenang aja, sampai malam pertama kamu saya juga bisa temenin kok”, jawab Diana lengkap dengan senyum nakalnya.


“apaan sih Di, nggak ada malam – malam pertama, pokoknya malam ini saya mau tidur sama kalian aja”, ujar Anala.


“nggak bisa Ann, kamu itu udah jadi istri orang lain, masa Rangga lu suruh tidur sendiri, nanti ditemenin yang lain, nggak kasian?”, respon Diana.


“ehh, ngapain ngomong kayak gitu sih, ya nggak mau lah”, jawab Anala dengan kesal, ketika mendengar bahwa suaminya dengan yang lain. Mendengar aja sudah muncul rasas cemburu, apalagi terjadi di alam nyatanya.


Rangga bersama rombongan sudah sejak tadi sampai di rumah mama Anala. Tampak Rangga selalu menggenggam tangan kedua tangan kedua orang tuanya. Rangga tampak sedikit grogi sampai – sampai ada bongkahan besar keringat yang selalu berjatuhan dari dahinya.


“ngga, kamu okay?”, tanya sang mama.


“sedikit gugup ma”, cengir Rangga.


“emang kayak gitu nak, ini baru awal, apalagi nanti kalau sudah sah, rasanya lebih gila dari ini”, ucap sang ayah sambil tersenyum menang.


“ih bapak, anak lagi gugup bukannya disemangati, malah ditakuti”, kesal mama Rangga sambil mencolek lengan sang bapak.


‘Kepada saudara Rangga Al-fattah untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan, beserta kedua orang tua’, ucap MC. Rangga dan kedua orang tua pergi ke kursi yang sudah disiapkan, tetapi bayang penampakan Anala belum lagi kelihatan. Oh ya Anala keluar setelah akad sudah selesai.


“Saudara Rangga Al-fattah saya nikahkan ananda dengan anak kandung saya Anala Fatiha binti Ridwan Fatihah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan tiga ratus gram emas murni, Tunai”, ucap Ayah Anala dengan satu tarikan nafas.


“saya terima nikahnya anak bapak Anala fatiha binti Ridwan Fatihah dengan mas kawin tersebut, tunai”, jawab Rangga juga dengan satu tarikan nafas yang sangat halus dan juga lembut.


“gimana para saksi?”, tanya kepala KUA yang ada di sana.


“sah.. sah.. sah”, ucap para saksi dan juga diikuti oleh para tamu undangan lainnya.


Tampak rasa gugup yang tadi melanda hati dan pikiran Rangga berkurang, sudah selesai proses sakral tersebut dengan lancar dan khidmat. Kini Rangga hanya menanti kedatangan Anala yang kini masih berada di kamarnya.


‘kepada tamu undangan , kini kita sedang menanti kedatangan dari mempelai perempuan’, ucap MC.


Ketika lagu ‘bara kalah Allahu wa barokah’, dengan serentak Anala beserta rombongan lainnya muncul dari karpet merah dibalik dinding kamarnya.


“cantik.. cantik... cantik”, ucap tamu yang hadir pada acara pernikahan tersebut.


Rangga yang melihat sang istri memakai baju serba putih lengkap dengan mahkota itu, terpaku dan tidak berkedip sedikitpun. Anala tidak seperti ibu – ibu satu anak melainkan seperti gadis kecil baru tamat SMA yang menikah dengan buru –buru, karena wajahnya sangat imut sekali. Ditambah dengan kehadiran Maryam yang memegang setangkai mawar putih yan dibimbing Anala menuju kursi kedua pengantin.


“Maryam, disini aja yah, sama anti Di”, bisik Diana pada Maryam agar meringankan beban ibunya nanti.


“iya anti Di”, ucap Maryam yang langsung memegang tangan Diana dan melepaskan tautan tangan Anala.


“sama cantik, sama ganteng keduanya”, ucap salah satu tamu undangan.


‘kepada Rangga dan juga Anala harap duduk di kursi pelaminan pengantin’, suruh MC, dan semua tamu undangan juga tidak sabar melihat keduanya tersebut bergandengan di pelaminan.


“uma, anti Di, umma duduk di sana berdua aja?”, tanya polos maryam pada Diana.


“iya nak, kamu sama anti Di aja yah”, jawab Diana.


Di pandang beberapa saat oleh Diana sahabatnya itu, betapa banyak rintangan hidup sudah dilewatinya sampai detik ini, dan pada akhirnya sahabatnya itu mendapatkan tempat yang begitu istimewa bagi laki – laki yang amat menyayangi tersebut.


Tidak disadarinya air mata Diana jatuh dengan sendirinya.


” Anti Di kenapa nangis?”, tanya Maryam sambil menghapus air mata sahabat ibunya tersebut.


“Anti sayang banget sama uma kamu nak”, ucap Diana sambil tersenyum ke arah Maryam.


“aku juga sayang banget sama uma anti”, jawab Maryam.


Setelah lebih dari lima jam Anala dan Rangga berdiri di bangku pelaminan dan melayani tamu undangan untuk swafoto dan bersalaman, akhirnya Anala memanggil sahabatnya itu untuk naik ke atas panggung.


“Ann, gue sih tadi nangis lihat lo dari bawah di dekat Maryam”, jujur Diana


“lah kenapa nangis ini kan hari bahagia kita, kenapa nangis ”, tanya Anala sambil memeluk sahabatnya tersebut.


cek rek..cek rek.. cek rek


Bunyi kamera yang ada di depan mereka.


“ganti gayanya mbak - mbak”, suruh mas kameramen yang sedang mencoba mengatur gaya para objek bidikannya tersebut.


“satu dua tiga, bagus. satu kali lagi yah”, pinta kameraman.


Dari pagi Rangga datang ke kediaman Anala bersama orang tuanya dia tidak melihat sosok Putra sedikitpun. Ternyata di akhir – akhir acara Putra datang bersama orang tuanya ke pernikahan sahabatnya itu.


“gila bro, udah jadi suami orang aja nih”,ledek Putra sambil memeluk Rangga dengan erat.


“makasih bro, dari tadi lu kemana aja, gue nyariin lu”, tanya penasaran Rangga.


“oh ya tadi, mobil kami bocor dan jauh banget dari bengkel, ya pasti hue datang kan”, ucap Putra.


“ngga, jangan lupa nanti malam..”, Putra tidak melanjutkan kalimatnya dan malu untuk diutarakan di dekat teman – temannya Anala.


“Put, lu kalau ngomong disini jaga – jaga yah mulutnya”, bisik Rangga sambil mencubit kecil perut Putra.


Semua tamu undangan saling berbaur satu sama lain, begitu juga dengan Putra dengan Putri yang kembali ditemukan dalam pernikahan kedua sahabat mereka tersebut.


“hai Put”, sapa Putra.


“hai juga Putra”, jawab Putri sambil memegang setangkai bungan mawar putih.


“Put, foto dulu sini jangan lupa bawa Putra”, teriak Diana dari samping pelaminan.


Ketika di atas pelaminan ternyata hanya Putra dan Putri yang berfoto di kusi pelaminan tersebut. Ternyata teman- teman mereka mengerjai Putri dan Putra.


“kok malah kita berdua , yang mempelai kan kalian berdua”, tanya Putra pada Anala dan Rangga.


“foto aja, ngga apa –apa kok”, ucap Anala.


“yuhu”, ucap tamu undangan lain


Putri yang merasa sangat malu diperhatikan banyak orang, terpaksa harus turun dari pelaminan dengan cepat, ditambah dengan muka Putri yang sudah seperti udang rebus.


“malu aku Di, ngapain sih kalian”, tanya Putri kesal.


“idenya Rangga tuh bukan gue, tapi lu senang kan?”, tanya Diana dengan senyum nakalnya.


“senang apaan, malau yang ada Di”, jawab putri.