
Siang telah usai, pesta yang dinanti –nanti telah usai. Semua tamu undangan pun telah pulang. Keluarga inti lah yang hanya tinggal di rumah mama Anala. Maryam sejak dari tadi merengek minta dibuatkan susu, mencoba mengambil perhatian ibunya sejak dari pagi yang tidak dia dapatkan.
“uma, mau susu”, pinta Maryam.
“tumben sekali kamu nak, minta susu”, ungkap Anala.
“mau susu uma”, pinta Maryam lagi.
“okey bentar ya”, jawab Anala.
Rangga yang dari tadi sedang berbual dengan keluarga Anala seperti tersangka sedang dieksekusi di meja sidang. Banyak Rangga dicecar pertanyaan oleh kerabat dan keluarga Anala. Ada hanya dengan senyum dan juga perlu pertimbangan untuk Rangga menjawabnya.
“nak Rangga, rencana kamu setelah nikah ini mau tinggal dimana sama Anala?”, tanya pakde Anala.
“kemaren sudah ditanya sama Anala pakde, dia lebih milih tinggal dirumahnya sekarang di bandingkan di rumah saya sekarang”, ungkap Rangga.
“oh ya, dimana kalian senang aja, yang penting jangan lupakan tanggung jawab masing – masing, dan jangan pernah melanggar apa yang sudah disepakati bersama”, nasehat Pakde untuk Rangga yang disaksikan oleh saksi lainnya.
“iya pakde”, Rangga hanya bisa dengan menganggukkan kepala menjawab nasehat Pakde tersebut.
“jangan kecewakan Anala ya nak”, tambah bibi Anala.
“insyaallah bibi”, jawab Rangga singkat.
Anala yang mendengar sayup – sayup cerita dari ruang tamunya, kadang tertawa kecil mendengar Rangga di cecar dengan pertanyaan – pertanyaan oleh keluarga nya.
‘aduh kasian laki aku’, batin Anala sambil tersenyum.
“uma, ini apaan?”, tanya Maryam yang melihat ibunya yang akan memasukkan sesendok bubuk putih ke dalam gelas susunya.
“astagfirullah”, ucap Anala.
“ini garam nak, untung kamu tanya, sorry”, ungkap Anala.
“hahaha”, mereka berdua tertawa sambil cekikikan.
Suasana yang tadi diiringi tawa sekarang sudah hening, semua anggota keluarga sudah tidur dan sebagian memilih untuk pulang ke rumah mereka. Rangga dan Anala memilih untuk menonton tv di ruang tamu, hanya ditemani dengan redup - redup hias ruang tamunya itu. Berbagai topik malam itu mereka bahas setelah sah menjadi pasangan suami istri. Sepertinya lebih asyik ngobrolnya setelah sah gini, orang yang melihatnya pun merasa haus dengan kemesraan yang mereka suguhkan.
“Ann, pernah kebayang nggak kamu jadi istri saya?”, tiba – tiba Rangga menanyakan hal tersebut pada Anala.
“nggak sih dok”, jawab Anala.
“ulangi lagi, kamu panggil saya apa?”, tanya Rangga yang memastikan.
“dok, emang kenapa, biasa aja kan”, jawab Anala santai.
“cih, emang nggak ada romantis – romantisnya kamu Ann”, ungkap Rangga sambil mengambil remote tv.
“emang dokter pengen saya panggil apa? abang, akang, sayang, atau yang lain”, tanya Anala.
“ayang”, jawab Rangga singkat dan dingin.
“ih malu lah, ok di depan orang banyak saya panggil kamu abang, kalau kita berdua baru panggil ayang”, jawab Anala membuat sebuah pilihan.
“kenapa malu Ann?”, tanya Rangga.
“nggak biasa soalnya do..”, ungkap Anala gantung.
“ha apa lagi, dokter lagi, nggak ada panggil dokter lagi yah, coba kamu panggil saya sayang sekali aja, pasti kamu ketagihan”,ujar Rangga.
“nggak ah, malu lah”, pasrah Anala yang langsung menyandarkan kepalanya di bantal sofa yang ada disampingnya.
“coba dulu, sekali aja Ann, ayok lah”, pinta Rangga sambil senyum nakal.
“males”, jawab Anala.
“Ann, nggak boleh membantah apa yang disuruh suami loh”, ungkap rangga dengan kalimat ancamannya.
“sayang”, panggil Anala dengan dingin.
“romantis yang kayak gimana sih?”, tanya Anala.
“kayak gini nih, sayang”, Rangga memberikan contoh panggilan sayang yang lemah lembut pada Anala.
“ iya sayang”, jawab Anala diiring tawa mereka berdua.
“hahaha, kena juga kan”, ungkap Rangga.
Hanya dengan debat panggilan sayang mereka tampak sedang membangun chemistry antara satu sama lain. Anla yang dulu murung oleh takdir cintanya, kini bisa tertawa dengan semuanya dengan orang pilihan hati yang membuat bisa berdamai dengan masa lalu. ya Rangga lah orang yang dimaksud.
Malam pun larut. Rangga dan Anala akan merasakan malam pertama satu kamar berdua dan satu kasur berdua. Yang sebelumnya itu tidak terpikirkan, sekarang mereka adalah sepasang suami istri.
“Ann”, sapa Rangga yang membuat Anala deg degan.
“iya ada apa?, kamu nggak nyaman, atau”, tanya Anala menggantung.
“nggak apa – apa kok, kamu emang tidur lampunya dihidupkan?”, tanya Rangga.
“nggak sih, kalau gitu dimatiin aja yah lampunya”, jawab Anala.
“Ann, aku kikuk nih, maaf agak grogi tidur berdua”, ungkap Rangga dari tepi ranjang yang takut berdekatan dengan Anala.
“alah gaya sok panggil sayang, tidur berdekatan aja takut”, ledek Anala.
“kamu jangan mancing – mancing saya Ann, kalau saya dekat – dekat nanti, kamu yang takut”, jawab Rangga dengan sunggingan senyum di bibirnya.
“ih apaan sih sih, ayok tidur, besok kita mau pindahan”, suruh Anala, akan panjang itu cerita kalau Anala terus menjawab pertanyaan konyol Rangga.
“ok beb”, jawab Rangga singkat.
Gemercik air kamar mandi Anala terdengar sampai ke telinga Rangga, yang belum bangun dari tidurnya.
‘siapa yang mandi?’, batin Rangga sambil mengelus seseorang dimaksud yang ada di sampingnya.
“Ann, Ann”, panggil lirih Rangga dengan suara parau khas bangun tidurnya itu.
“iya, aku di kamar mandi”, jawab Anala.
“emang sekarang jam berapa, udah mandi aja”, tanya Rangga sembari melihat handphonenya yang ada di atas laci tempat tidur.
“baru jam empat pagi, dingin Ann”, ungkap Rangga.
“ayok mandi”, pinta Anala.
“nggak ah, dingin”, tolak Rangga.
‘Allahuakbar allahuakbar’, suara adzan subuh berkumandang untuk membangunkan umat muslim di waktu ajaib tersebut, dan juga untuk sepasang pengantin baru itu.
“aku mau ke mesjid dulu, dah, assalamualaikum”,sapa Rangga yang beranjak dari kamar mereka lengkap dengan peci hitam dan baju gamis arabnya.
“waalaikumsalam, ganteng banget suami aku” lirih Anala sambil memperhatikan kepergian rangga dari hadapannya.
Anala kembali dengan sajadahnya yang sudah bentangkan, dan memulai sholat subuh pagi itu dengan status baru seorang istri. Anala mencurahkan pagi itu kepada Allah apa yang sudah terjadi dan hal bahagia yang sudah dia jalani. Sesekali Anala menyapu pipinya dengan mukenah karena air mata yang tidak bisa dia bendung. Begitu banyak kuasa Allah yang mengajarkannya tentang kehidupan dan bagaimana caranya hidup.
‘ya Allah betapa banyak Nikmat Mu ini yang engkau berikan padaku, tapi kadang aku hanya membalasnya dengan mengeluh dan mengeluh’. Air mata Anala semakin berdesak –desakan untuk keluar sampai menyentuh sajadahnya. Rasa bahagia dan haru kini dilukiskan dalam satu air mata. Kadang sesekali isak tangisannya Anala terdengar begitu menyayat bagi dirinya sendiri yang kian menyadari hanya Allah tuhan semesta alam yang mampu berkuasa atas apa yang ada di muka bumi ini.
love Anala (si pengantin baru)
Naik delman ke jayapura
jangan lupa membawa pisang
jika ingin hidup bahagia
carilah teman hidup untuk berkasih sayang (