
Sejak kejadian kemaren hati Rangga mulai tidak sangat tenang, kemaren Anita berani pergi ke ruangannya dan memohon mohon kepadanya. Mungkin satu hal yang lebih parah dari bisa Anita lakukan. Yang Rangga lebih takut kan, Anita juga akan bisa menganggu Anala dan juga orang sekelilingnya yang lain yang tidak tahu menahu tentang dirinya dan juga Anita.
Sejak kedatangan Rangga dari rumah sakit sampai jam tidurnya, Anala tidak berbicara sedikitpun dengan Rangga, Rangga pun tidak berinisiatif untuk mengajaknya berbicara. Rangga yang asyik dengan handphonenya pun lebih memilih berbaring di tempat tidur dibandingkan bercerita dengan Anala dan juga Maryam yang ada di ruang tv.
“Uma, kenapa abah, di kamar mulu?”, tanya Maryam.
“abah capek nak, tadi pulang dari rumah sakit udah sore banget kan”, balas Anala dengan segala alibinya.
Rangga tampak kembali menghubungi seseorang, yah dia Putra.
“Put. gila ini put, lu tau Anita kan, perempuan yang selalu ngejar ngejar gue itu, dia udah kembali ke Bandung, dan tadi siang dai datang ke rumah sakit”, mulai Rangga sampai lupa untuk menyapa Putra sahabatnya itu dengan basa basi.
“masa sih, apa sih maunya cewe genit itu?”, tanya Putra yang juga kesel mendengar apa yang Rangga ucapkan barusan.
“gue juga nggak tau, tapi dia itu cewe nekat banget, gue takut dia ganggu orang – orang yang terdekat gue lainnya, tolong gue Put, gimana ini caranya”, tanya Rangga yang pusing dengan hal perempuan pengacau itu.
“nanti yah gue tolong lu, tapi gue selidiki dulu, gimana dia sekarang”, jelas Putra yang mulai membuat Rangga sedikit tenang.
ceklek..
Tiba – tiba pintu kamar di buka Anala yang sudah menyelesaikan waktunya bersama Maryam malam itu. Kini saatnya memulai waktunya dengan sang suami yang ada di sampingnya itu.
“Ann, kamu lakuin apa aja tadi siang?”, mulai Rangga yang tidak mau berdiam – diam seperti itu terus dengan Anala.
“nggak ngapain – ngapain kang, ehh, tadi ketemu Diana dan lain - lain”, ucap Anala.
“kok saya nggak tau kamu ketemu mereka”, tanya Rangga bodoh.
“hmmm, udah sepuluh kali telpon kamu kang, dan setelah itu saya chat kamu, kamu nggak balas chat saya”, jawab Anala pasrah dan tidur kembali memunggungi suaminya itu.
“oh iya, maaf Ann, saya nggak lihat handphone soalnya tadi, dan saya banyak pasien tadi”, balas Rangga setelah melihat panggilan tak terjawab di layar handphonenya. Takkan untuk membalas pesan istri nggak sempat ya kann?.
“tuh makanya sering – sering lihat chat istri, ini yang dilihat chat yang lain sih, mana tau kalau istri udah chat dan nelpon berkali kali”, kesal Anala dari balik selimutnya.
“lah aku , nggak sengaja sayang, sorry”, ucap Rangga sekali lagi sambil membalikkan tubuh Anala ke hadapannya.
“sorry”, timpal Rangga.
“hmmm”, jawab singkat Anala, dan kembali menutup matanya seolah olah dia sedang mengantuk, tetapi hal itu hanya sebuah kebohongan.
“oh ya kang, mulai minggu besok, saya di tawarkan teman untuk kerja di perusahan ayahnya , boleh nggak?”, tanya Anala yang menatap mata Rangga intens.
“tapi kamu mau ngambil profesi dulu”, tanya Rangga.
“nggak pasti juga kang, sebenarnya iya, tapi aku ingin coba pengalaman ini, atau bisa nggak kang, aku kerja sambil ambil profesi, atau saya ambil yang part time aja?”, tanya Anala yang meminta pendapat Rangga.
“satu –satu aja Ann, kamu nggak capek, ngapain kamu ingin kerja banget, aku aja yang kerja, kalau kamu ambil profesi, ya udah ambil profesi aja, nanti yang lainya bisa terganggu”, ucap Rangga yang memberikan pendapat.
“kang, aku ingin kerja, aku ingin punya pengalaman kerja”, Anala dengan keras kepalanya.
“hmm, tapi konsekuensi kamu yang tanggung yah, jangan mengeluh nanti, karena itu sudah keputusan kamu sayang”, balas Rangga yang mendapatkan balasan senyuman dari Anala.
“thank you sayang”, ucap Anala sambil mencium punggung tangan Rangga.
“ini?”, pinta Rangga minta untuk di cium Anala yang menunjuk pipinya.
Sepertinya hubungan mereka untuk hari ini mulai membaik dan seperti semula, tapi kita tidak tahu. Rintangan dan peperangan apa yang akan terjadi hari esok. Dan dengan siapa berperang, itu adalah rahasia untuk besok.
.....................
“hay mbak, aku come back”, ucap sorang wanita dengan lipstik merah merona di bibirnya itu menyapa perawat yang berjalan melewatinya.
“hai mbak, datang lagi”, ucap perawat.
“iya mbak, saya mau ketemu sama calon suami saya”, balas nya seperti nggak berdosa dengan ucapannya.
“kalau boleh tau siapa mbak?”, tanya perawat.
“hahaha, nanti mbak juga tau”, tertawanya yang tidak ubah seperti nenek lampir itu membawa hawa panas di telinga perawat itu.
Rangga yang serapan dengan bekal yang Anala buatkan tadi pagi itu, mendadak terkejut dengan panggilan dari luar ruangannya.
‘gawat nih, nene lampir itu kembali’, ucapnya dalam hati.
Rangga pura -,pura tidak dengar panggilan wanita itu, sampai orang – orang sekeliling mulai merasa terganggu dengan teriakan Anita, dan Rangga memutuskan untuk keluar dari ruangannya.
ceklek..
Ketika Rangga baru membuka pintunya dengan sigap Anita langsung memegang gagang pintu tersebut, dan berlari masuk ke dalam ruangan Rangga dengan bebasnya.
“hey, Anita kamu nggak sopan sekali yah, main masuk – masuk aja ke dalam ruangan saya, keluar”, hardik Rangga dengan suara yang tinggi.
“kamu tega banget sama saya sayang”, ucapnya dengan mendayu dayu sambil mendaratkan tulang ekornya di kursi kesayangan Rangga itu.
“ngapain kamu duduk di situ, keluar nggak, mau saya panggilkan security atau kamu keluar sendiri”, timpal Rangga lantang.
“yah kamu mau ancam – ancam saya sekarang”, balas Anita si perempuan kolot itu.
“saya mau kerja, kamu sudah mengganggu saya, nanti nama saya buruk Anita, sana keluar”, ucap Rangga sambil mengibas – mengibaskan tangannya dengan isyarat untuk menyuruh Anita keluar dari ruangannya itu.
“aku nggak mau, aku mau sama kamu”, balas Anita yang masih betah duduk di kursi Rangga itu sambil memonyongkan bibirnya itu dan sambil memetik meja dengan kuku panjangnya itu.
Dengan kehabisan sabar Rangga, akhirnya dia yang keluar.
“okey, saya keluar dulu, silahkan kamu urus pasien saya”, ucap Rangga kesal dan mengambil handphone dan tasnya, dan langsung keluar dari ruangannya itu.
“Rangga tunggu aku, hey Rangga”, pekik Anita yang berdiri di ambang pintu ruangan Rangga tersebut.
Melihat Rangga pergi begitu saja, Anita bingung dengan orang yang sudah berdatangan di depan ruangan Rangga.
“mbak, saya mau periksa jantung saya mbak”, ucap salah satu bapak – bapak yang baru saja datang pagi itu. Anita yang tidak tahu mau ngomong apa terpaksa harus berpura – pura menjadi teman Rangga.
“sebentar ya pak, saya panggil dulu dokter Rangga, tadi dia buru – buru ke sana”, tunjuk Anita, dan segera pergi dari ruangan Rangga.
“suruh dokternya cepat ya mbak, soalnya saya buru – buru nih”, suruh bapak yang juga kesal dengan tatapan palsu Anita.
‘dasar laki – laki payah’, batin Anita, sambil berjalan ke arah parkiran dengan langkah kesalnya.