Analaa

Analaa
cari baju nikah



Hari pernikahan Anala dan Rangga tinggal tiga hari lagi dan itu bukan waktu yang panjang bagi calon pengantin, karena sebelum itu adalah waktu – waktu sibuk mereka untuk mempersiapkan segal kebutuhan untuk hari bahagia mereka nantinya.


Anala dan mamanya sejak kemaren sudah berjanji dengan ibu calon mertuanya itu untuk pergi ke butik tempat mereka memesan baju pernikahannya. Anala hari ini hanya membawa mamanya saja, sedangkan Maryam dia titip pada sepupunya. Mobil hitam Anala sudah meluncur menuju tempat yang ingin dia kunjungi hari ini dengan ibu calon mertuanya tersebut.


“ma, nggak kerasa ya ma, tinggal beberapa hari lagi loh ma”, celetuk Anala.


“ya nak, sebentar ya”, balas ibunya.


“benar nih nak, kamu serius dengan hal ini, kamu benar – benar sudah siap kan, ibu jadi takut nak, kamu nanti sendiri lagi”, jelas sang ibu ketika itu, dipandangnya wajah Anala sesaat untuk memastikan mimik muka jujur anaknya yang tidak lagi gadis itu.


“benar ma, emang mama lihat Ann bercanda ya, ini serius itu. Soal waktu sampai kapannya jodoh itu kita tidak ada yang tahu ma, yang pasti mama doakan yang baik – baik aja yah”, ungkap Anala dengan segala kejujurannya.


“ok nak, mama selalu mendoakan kamu semuanya kok”, tambah mama lagi.


“ma, ini padahal pernikahan yang kedua ya bagi aku, tapi rasa deg degannya sama seperti kayak yang pertama”, tambah Anala dengan kejujuran hatinya.


“karena menikah itu adalah hal yang sakral, makanya bagi yang akan melalui akan merasakan kebahagiaan sekaligus beban dan tanggung jawab”, jelas sang mama.


“oh gitu ya ma, btw kita udah sampai nih ma, tapi mana ibunya dokter Rangga ya?”, bingung Anala melihat posisi ibu mertuanya tersebut yang tak kunjung didapati pandangannya.


“itu, masa kamu nggak lihat, dia diantar Rangga, katanya Rangga nggak bisa datang”, tunjuk mama Anala pada salah satu mobil sedan yang ada di ujung parkiran butik itu.


Rangga yang tampak berkacak pinggang di samping mobilnya itu, sambil memakai kaca mata hitamnya, sambil terlihat mencoba memanggil seseorang dari handphonenya.


kring.. kring


“Ann hp kamu tuh bunyi, ada panggilan tuh nak”, panggil ibu Anala.


“oh ya bu, kayak itu dokter Rangga deh, dia nggak tahu kita disini”, jelas Anala.


ting.. ting.. ting


Suara klakson Anala menunjukkan orang yang dinanti – nanti Rangga akhirnya sampai juga. Anala langsung memarkirkan mobilnya disamping mobil Rangga.


“assalamualaikum ma”, sapa Anala pada mama Rangga.


“assalamualaikum ma”, begitu pun sapa Rangga pada mama Anala.


“ayok kita masuk, du luar panas nih”, ujar mama Rangga, dan diikuti ketiga orang lainnya disitu. Rangga dan Anala dari tadi belum sempat untuk bertukar dialog, karena mereka namak sibuk dengan hp masing- masing, sehingga tidak ada waktu untuk curi – curi pandang satu sama lain.


“tuh ditanyain kalian tuh, malah main hp”, ujar mama Anala.


“iya nih, kalian mau nikah atau nggak nih?”, tanya mama Anala sambil melirik kedua anaknya mereka tersebut.


“iya ada apa ma”, jawab mereka serentak.


“belum juga nikah, udah kayak gini, gimana kalau kalian udah nikah besok yah, mas sibuk – sibuk sendiri”, tambah mama Raung lagi.


“iya .. iya ma, saya udah dilihat kok, bajunya, kamu suka kan ann kalau yang itu?”, tanya Rangga.


“yang putih itu dok?”, tanya Anala.


“oops, kamu panggi apa tadi nak? dok, panggil abang aja, kan mau nikah”, timpal ibu Rangga.


“Anala nya belum biasa ma, nanti – nanti dulu”, jawab Rangga.


“hmmmm”, Anala menggumam dengan sedikit senyumnya.


“ma udah dapat nih, nanti tinggal fitting baju aja”, ucap Rangga sambil membawa baju tersebut ke dekat ibunya.


“bagus, mama suka?”, balam mama Rangga.


“mama juga suka , bagus bahannya”, tambah mama Anala.


Sebelum pukul empat sore Anala dan mama sudah tiba di rumah mereka. Anala yang kini sedang perjalan pulang kerumahnya bersama Maryam harus dihadapkan dengan cobaan yang misterius.


Di saat Anala sedang membeli cemilan di tepi jalan, Anala melihat seseorang yang tidak asing lagi walaupun mereka hanya pernah bertemu sekali. Yah dia Anya si dokter cantik di rumah sakit Rangga bekerja sekaligus tempat magang Anala dulu.


“hay kamu Anala kan”, sapa Anya sambil membuka kaca mata hitam lebarnya itu.


“iya dokter Anya, dokter lagi ngapain disini, mau beli kue juga”, sapa Anala ramah.


“beli kue?, yah nggak lah Anala, saya nggak mau sih beli kue disini, kan di tepi jalan, banyak debu , nanti sakit”, sombong Anya membalas pertanyaan Anala.


“kamu mau beli kue, nanti kalau mau beli jangan kasih Rangga, nanti Rangganya sakit perut, kamu aja yang makannya”, ucap dokter Anya, tetapi Anala menghiraukan semua ucapan – ucapan dokter Anya tersebut.


‘siapa juga yang mau ngasih Rangga, dia bisa beli sendiri’, batin Anala.


“oh ya kamu mau nikah kan, bentar lagi, selamat yah, kayaknya saya nggak bisa datang yah, soalnya saya mau pergi ke singapura, shoping - shoping”, ungkap Anya.


“oh ya, nggak apa – apa kok dok, semoga hari – harinya bahagia yah”, jawab Anala.


”makasih, dah bye, saya pergi dulu ya Anala”, izin Anya.


‘bagus dok, kamu nggak datang, nggak bikin rusuh’, batin Anala.


“astaghfirullah”, ucap Anala yang berfikir negatif tentang orang lain. “uma, uma, udah belum?”, teriak Maryam dari mobil yang merasa kesepian ditinggal ibunya.


“sabar sayang, bentar lagi nak”, balas Anala.


Setelah sampai di rumah, adzan maghrib sudah berkumandang, Anala dan Maryam siap – siap untuk wudhu dan sholat bersama.


“uma, tadi siapa yah yang ngobrol sama umma tadi?”, tanya maryam penasaran.


“oh itu, dokter Anya, emangnya kenapa?”, tanya Anala penasaran sampai Maryam menanyakan orang tadi yang sedikit membuat Anala kesal.


“kaca matanya gede banget umma, kayak kaca mata Oma”, balasnya.


“ha ha ha”, kikuk ketawa Anala.


“yuk kita makan yuk, tadi mama beli nugget juga nak”, ajak Maryam untuk makan malam.


“ye ada nugget, enak pasti nih”, girang Maryam sambil berlari ke arah dapur.


“yummy uma, enak banget, alhamdulillah”, ucap Maryam sambil melicinkan sisa – sisa makanan yang ada di piringnya tersebut.


“pintar, makan tuh kayak gitu, jangan ada disisa , itu mubasir namanya”, puji Anala yang melihat Maryam sudah mengerti tentang menghargai makanan.


Bersama Maryam sudah cukup bahagia menurut Anala, tetapi ketika melihat anak orang lain yang ditemani oleh ayahnya pada saat proses bertumbuh, itu yang membuat Anala sedih. Jika Maryam kehilangan sosok ayah kandungnya, setidaknya dia tidak kehilangan figur ayah disampingnya dan juga mendapatkan belas kasih sayang seperti ayah teman – temannya yang lain.


love Maryam c)