
Setiba di hotel mereka, kota Istanbul di landa hujan lebat dan dihujam oleh oleh beberap petir yang bisa telinga kita bergidik mendengarnya, begitu pun dengan orang bertiga tesebut yang lebih memilih tidur bertiga sekamar itu terkejut bukan kepalang.
“astagfirullah”, ucap Anala yang spontan langsung memeluk Maryam yang sedang tertidur pulas.
“uma”, isak Maryam yang memanggil ibunya yang sedang mendekapnya serat tersebut.
“it’s okay nak”, balas anala.
Setelah hujan reda suasana kota Turki kembali cerah seperti biasanya, aktivitas orang – orang sekitar pun berjalan lancar.
Negara yang direbut dan di bela mati – matian oleh Muhammad Al-fatih tersebut begitu khas dengan gaya bangunannya di bandingkan Indonesia. Itulah Anala tertarik melihat susunan bangunan yang ada di negara itu, dan juga tidak lengkap kalau mengunjungi Turki tidak mengenal langsung kuliner yang ada di sana. Kebab adalah makanan yang di cari wisatawan ketika berkunjung ke Turki, walaupun kebab itu berasal dari Tunisia, tapi di Turki kebab adalah santapan nikmat yang tidak bisa dipisahkan darinya.
Anala dan Rangga sudah pernah mencoba santapan kebab turki tersebut di pojok hotel yang mereka diami. Memang di luar prediksi, kebab di turki adalah kebab yang paling enak yang pernah mereka rasakan. Khas dengan bumbu Turki menambah kosa rasa yang baru di lidah mereka.
Hagia sofia adalah tempat yang bersejarah yang mereka kunjungi pada hari itu, masjid yang dulu menjadi tempat ibadahnya umat kristen kembali lagi menjadi masjid di tangan pemerintahan bapak Erdogan itu, sampai kini hagia sofia dua puluh empat jam adzan sudah berkumandang di sana dan adanya kegiatan agama yang lain. Karena tempat sangat istimewa bagi dua agama tentunya, banyak sejarah yang tersimpan di sana, dan juga di sana tersimpan sejarah dunia dari abad ke abad.
Hagia sofia mempunyai karakteristik yang istimewa, warna dari dinding –dindingnya menjadi ikonik tersendiri bagi masjid tersebut, dan juga ukiran di dalamnya yang sudah berusia lebih dari satu abad.
Indahnya kota Istanbul tidak mengalahkan kecantikan Anala saat itu bagi Rangga.
“Ann, senang banget”, tatap Rangga pada wajah perempuan yang sedang dia rangkul tersebut di balik jendela hotel itu.
“iya bahagia banget”, sambil mempererat pelukannya untuk Rangga.
“dulu orang bilang Turki itu cantik, iya yah benar cantik banget, dulu aku nggak aku nggak percaya kang, karena nggak pernah melihat langsung, tapi sekarang itu nyata adanya, sekarang pemandangan Turki ada di depan mata aku sendiri, indah banget”, ungkap Anala yang bersandar ke dada bidang Rangga.
“dulu orang bilang, semua perempuan itu sama, sama aja, begitu lah aku dengar, tapi aku salah”, jeda Rangga yang langsung di potong Anala.
“salah apa kang?”, tanya Anala sambil mendongakkan kepala sambil melihat binar mata Rangga.
“aku salah menilai jika kamu bukan sama dengan perempuan di luar sana, kamu kayak nasi goreng, istimewa”, ucap Rangga yang langsung di peluk semakin erat oleh Anala.
“lihat kang, di bawah atap rumah yang tidak berukuran besar dan juga kecil itu ada nenek dan kakek yang sedang bersenda gurau”, tunjuk Anala pada Rangga.
“iyah, semoga yah”, balas Rangga.
“amin”, ucap Anala yang seperti tahu maksud ucapan Rangga yang di arahkan untuk mereka berdua.
Banyak cerita yang bisa mereka curi dari indahnya Istanbul, dari kisah cinta sampai kisah perjuangan ada di sana. Namun setelah ini ada kisah mereka yang tersimpan di sana.
Mereka tidak bisa berlama – lama di sana, di karenakan tugas Rangga sebagai dokter harus menjadi pertanggung jawab agar segera di mulai. Kepulangan adalah hal yang diinginkan kan, tapi Istanbul sepertinya masih ingin untuk dibelai.
‘Istanbul aku pasti rindu kamu’, ucap Anala membatin ketika pesawat mereka akan berangkat ke Tanah air.
Dengan pesawat kebanggan Turki mereka terbang ke Indonesia, rasa rindu kepada Turki sedikit terobati walaupun belum lama pergi, dengan adanya suara mbak pramugari yang berbahasa Turki, Anala menjadi senyum senyum sendiri mendengar bahasa itu di ucapkan, bahasa Turki memang sudah untuk di pelajari bagi sebagian orang, tapi bagi Anala mendengar bahasa Turki itu mengasyikkan.
“kang, udah sampai di Jakarta?”, tanya Anala yang mencolek suaminya itu.
“iya sayang udah sampai, tiga puluh menit lagi, baru kita terbang ke Bandung”, jelas Rangga sampai memperhatikan keadaan di sekeliling.
....Welcome to the Home....
Tidak terasa mereka sudah di depan pintu rumah yang beberapa hari ini mereka tinggalkan masih dengan suasana asri nya, dan masih dengan tanaman hijaunya, dan juga masih dengan kenyamanan yang sama sebelum di tinggalkan.
“selamat datang ”, ucap suara yang berasal dari dalam rumah tersebut, mereka di sambut oleh orang – orang yang menyayangi mereka, di sana juga nampak dari orang tua Rangga dan temannya Putra.
“assalamualaikum”, ucap Rangga yang lebih dahulu memasuki rumah di susul Maryam dan Anala yang membawa koper lebih dari jumlah mereka.
“gimana happy kamu nak?”, tanya Diana pada Maryam yang memeluk Diana erat.
“happy anti, happy banget”, balas Maryam.
”kalian berdua, gimana bulan madu nya?”, tanya Putra yang tidak tahu malu menanyakan hal seperti itu di depan banyak orang.
“bulan madu apaan, kita umroh”, ucap Rangga yamg langsung mengultimatum Putra di depan yang lainnya.
Setelah Anala, Rangga dan Maryam bersih – bersih, mereka bergabung dengan yang lainnya untuk makan bersama.
“udah lama banget yang ngerasain rendang ma, kangen banget”, ucap Rangga pada mamanya itu sambil mencium aroma rendang yang khas itu.
“ah lebay lo, rendang ma banyak di luar negeri”, balas Putra yang melihat tingkah Rangga.
“gue nggak nemuin Put, nggak di semua tempat juga kali orang jual rendang, lu pikir di sana orang Padang semua”, balas rangga kesal.
“ayok kita makan, nasi nangis nih kalau di diamin”, ajak Rangga, sementara Anala menyodokkan nasi ke piring Rangga yang sudah tidak sabar melahapnya.
Setelah mereka makan bersama yang gembira menyambut kedatangan Rangga dan Anala dan yang pastinya si kecil Maryam ketika bercerita pengalamannya. Keluarga bertanya mengenai suasana, Makkah dan Turki khususnya yang sudah mereka lewati tersebut. Momen bertukar cerita diantara keluarga itu sepertinya menciptakan susana yang hangat untuk mereka semua. Hal yang demikian tidak semua dimiliki oleh semua keluarga, tapi Anala dan Rangga bersyukur ada di dalam lingkungan keluarga yang selalu mendukung mereka dalam setiap proses kehidupan.
Perjalan indah ini adalah perjalan pertama Anala dan Rangga dan perjalanan indah yang lain akan menyusul seiring berjalannya masa. Bahagia sungguh apa yang sedang di rasa. Bahagia?, lebih dari itu.
Kau perlakukan aku seorang ratu
Akan ku hargai kau layaknya seorang raja