Analaa

Analaa
pertamua kali kedua 2



Di sore itu Anala pulang dari kebun binatang dan mampir di salah satu rumah makan padang yang di berada persimpangan ujung jalan kota itu , karena Anala begitu kelaparan dan Maryam juga hilang konsentrasi kantuknya karena kelaparan yang mengguncang perut dan kepalanya, tadi mereka hanya makan snack ringan di kebun binatang tersebut, bagi Anala belum sah kalau belum disuguhkan nasi dan lauk pauknya.


Di rumah makan padang tampak lauk pauk yang tersusun rapi dan sejajar di dalam etalase yang transparan itu, dan pelanggan dengan mudah melihat lauk pauk yang ingin mereka makan dan pesan, di sana ada dendeng basah, dendeng goreng, ayam pop, ayam bakar dan juga rendang yang merupakan lauk khas di rumah makan padang.


“umma aku mau makan sama ayam bakar aja umma”, tunjuk Maryam ke etalase nomor dua tersebut.


“mau yang lain nggak?”, tanya Anala kepada Maryam.


“nggak umma, itu aja”, pinta Maryam.


“ya udah ayam bakar sama dendeng ya mas lauknya”, pinta kepada penjual nasi Padang tersebut dan menuju ke meja makan paling sudut tepat berada di atas kolam ikan mas,


“umma lihat itu, ikannya besar sekali”.


“iya besar ya, mau nggak pelihara ikan itu?”, tanya Anala.


“nggak ah umma, nanti dibikin ikan bakar sama umma”, jawab ledekan Maryam yang memancing tawa Anala.


“nih kak pesanannya udah sampe”, sapa kakak yang mengantarkan nasi padang yang mereka tunggu-tunggu tersebut.


“sedap ya umma”, mulai Maryam yang mencolek ikan bakar dengan bumbu khas manis pedas padang.


“cuci dulu nak, tangannya”, suruh Anala pada Maryam yang tidak sabar mencicipi ikan bakarnya tersebut.


“yummy umma”, goda Maryam yang melihat ibunya tertarik dengan ikan bakarnya.


“umma boleh minta sedikit ngga?” tanya Anala.


“boleh nih”, sendok Maryam ke mulut ibunya,


“enak nggak umma?”, tanya Maryam yang menanyakan rasa terhadap ikan bakarnya tersebut.


“enak yah ternyata”, melihat perbincangan dari keduanya ada sosok laki-laki yang sedang memperhatikan mereka dari awal mereka masuk ke dalam rumah makan padang itu.


“umma siap om itu?”, tanya Maryam berbisik, “yang mana?”, tanya Anala bingung.


“itu yang baju hitam dan bertopi”, sontak Anala melihat ke arah laki-laki yang disebutkan ciri-cirinya itu oleh Maryam.


“itu namanya om Rangga nak, yang pernah kita jumpai di cafe waktu itu kan?”.


“oh iya ya umma pernah kita jumpa dia kan”, bisik pelan Maryam di telinga Anala.


Anala yang melihat bahwa dokter Rangga sedang mendatangi tempat duduk mereka sontak membuatnya bingung harus bersikap bagaimana.


“hey kamu anak manis”, sapa Rangga pada Maryam.


Kan ibunya juga ingin disapa.


“Hey Anala dari mana aja tadi? ”.


“dari kebun binatang om”, jawab spontan Maryam tanpa aba-aba.


Anala yang tapak kikuk dengan situasi terpaksa senyum dan diam membisu.


“om dengan siapa kesini?”, tanya Maryam secara lugas.


“om sakit?”, tanya Maryam penasaran dengan diri seorang Rangga.


“nggak nak, om dokter di sana dan ibu kamu magang di sana kemaren”, jelas Rangga yang membuat Anala tersenyum kikuk tak tahu harus berbuat apa dan ngomong apa.


”uma om bukan ibu”, protes Maryam.


”oh om dokter di sana “, jelasnya lagi, Rangga yang tersenyum mendengar jawaban Maryam tersebut duduk di dekat dua orang tersebut.


Dari jauh memang mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, namun untuk kali ini mereka hanya keluarga opini.Dan nggak tau untuk masa akan datang.


Anala yang asyik dengan handphonenya dan membiarkan Maryam bercerita dengan Rangga sambil cekikikan dan sepertinya Maryam butuh sosok ayah, itu yang ad adi dalam hati Anala, tapi sayang Rangga tidak mengetahui semua tentang kehidupan mereka saat ini.


“umma, nanti pulang beli es krim ya, soalnya es krim di rumah udah habis”, jelas Maryam yang ternyata lebih rindu pada es krimnya.


“iya, nanti yah”, “dokter Anala kenapa diam aja?”, tanya Rangga penasaran.


“ngak apa-apa dok, saya nggak tau aja harus ngomong apa, bingung soalnya”, jelas Anala dengan selayang senyum darinya untuk membalas pertanyaan Rangga tadi.


“kamu mau pulang atau masih lama disini sih?”, tanya Rangga , yang sepertinya Rangga harus pergi ke suatu tempat karena suatu urusan.


“nggak bentar lagi mau pulang dok”, jawab Anala datar.


“umma ayok pulang yok, mau beli es krim”, rengek maryam yang membimbing Anala menuju pintu keluar rumah makan tersebut.


“iya ayok”, “dok kami pulang duluan yah”, izin Anala pada Rangga yang sepertinya Rangga juga siap-siap ingin beranjak dari tempat itu, ketika ingin sampai di parkiran Maryam memanggil Rangga.


“om, kita pulang dulu ya, nanti kapan-kapan kita jalan-jalan yah” , pekik maryam yang membuat Anala sedikit malu dan tersenyum ke arah Rangga.


“iya anak manis, nanti kita jalan-jalan, dibolehin umm nggak?”, jawab Rangga yang sebenarnya ingin menggoda ibunya tapi dimulai dari menggoda anaknya dulu.


Menuju jalan pulang Maryam sedang menikmati es krim coklat caramel di tangan comelnya dan bercerita.


“umma, asyik yah bermain dengan om tadi, dia bak banget”, curhatnya pada Anala.


“oh ya, baik yah”, lengkap Anala.


“nanti kapan-kapan kita ajak om itu, jalan-jalan ya umma”, tambah Maryam dan membuat Anala sedikit kebingungan mengabulkan permintaan Maryam yang satu ini.


Yang ingin di ajak itu dokter sibuk, jika seandainya Maryam tahu.


Tepat di persimpangan jalan Maryam melihat anak yang dibawa ibunya dengan cara di gendong dan juga kakaknya yang di bimbing sebelah kiri, tangan kanannya menjinjing kantong kresek hitam yang isinya seperti pakaian.


“umma lihat adik-adik itu, mereka mau kemana?”, tanya Maryam.


“nak, mereka nggak punya tempat tinggal, jadi mereka selalu berpindah-pindah tempat tinggal, jadi kamu harus banyak bersyukur kita punya tempat tinggal yang nyaman, dan kamu juga bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan termasuk es krim yang ada di tangan kamu itu”, jelas panjang Anala untuk Maryam agar anaknya itu belajar artinya bersyukur, ketika mereka bercerita akhirnya mereka mendekat ke arah mobil mereka sambil membawa kantong untuk meminta belas kasih dari orang yang ikhlas membantu mereka.


“nih nak, kasih uang ini pada mereka”, Anal menyuguhkan beberapa embar uang ke tangan Maryam untuk diberikan kepada ibu dan juga anak-anaknya tersebut dengan harapan bisa membantu mereka dalam hal kesulitan dan dalam hal lainnya.


“umma apa sih untungnya kita bersedekah?”, tanya Maryam polos.


“gini nak, kalau kita bersedekah atau memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain, Allah akan gant berlipat-lipat dari apa yang sudah kita beri, dan Allah juga memberikan nikmat terhadap apa yang kita dapatkan”, jelas panjang Anala yang membuat Maryam mengangguk, berarti dia memahami maksud yang disampaikan ibunya tersebut.