
Ann, lama banget Ann, kamu dapat dari mana Ann, kamu nggak nyuri kan”, tanya Rangga sepertinya akan membuat seseorang mengalami puncak marahnya.
“aduh, enak aja nyuri saya beli tadi tuh no di pojok ujung sana , enak aja bilang nyuri , capek tau dok, saya udah keliling kesana , susah buat dapetinnya, lah dia senang – senang bilang kita nyuri, ya nggak terima banget kita kan”, ujar Anala yang membuat Rangga tertawa sambil tangan kananya menutup area mulutnya“nih nasi uduknya dok, makanlah nanti keburu dingin udah nggak enak ”, suruh anala .
dan rangga menyuruh anala untuk mengambilkan piring untuknya dan juga sendok.
“Ann, boleh minta tolong nggak, ambilkan piring sama sendok dong”, ujar Rangga.
“ok, ”, jawab singkat anala yang sudah ingin pergi dari temat itu jika ia tak lagi menimbangkan perasaaan Rangga, karena tidak ada seorang pun yang tau selain anala mengenai kondisi Rangga saat ini, “nah ini baru makan Ann, masa iya disuruh makan bubur pagi – pagi, nasi uduk”, ucap Rangga kamat kamit yang mulai menyusun lauk – lauk nasi uduk di atas piring yang sudah diambilkan Anala untuknya.
“Ann, kamu mau nggak?”, tanya Rangga sambil merasakan suapan pertama nasi uduk itu ke dalam mulutnya.
“alah dok, mau basa –basi sama saya, untuk dokter aja itu kayaknya nggak cukup deh”, respon ledek Anala.
“ya namanya juga basa –basi Ann, hahaha”, tawan Rangga menggelegar, begitupun degan Anala yang ketawa tipis melihat tingkah Rangga.
“dok, nanti sore saya pulang ya, soalnya besok Maryam sekolah sedangkan semua keperluannya belum selesai, nanti dirawat perawat disini aja, kan lebih bagus dari pada saya yang rawat”, tanya Anala dan pernyataannya selalu membuat Rangga membidik hal yang akan menerka Anala sendiri.
“Ann, enak kalau kamu yang jaga , dari pada perawatnya, bisa disuruh suruh kemana aja, dan plusnya juga bisa curhat”, ucap rangga tersenyum tipis.
“oh y Ann, ini udah mau habis loh. kamu nggak mau, cobalah sedikit aja, enak ini nasi uduknya”, ujar Rangga yang sudah melenyap hampir habis nasi uduknya.
“nggak usah dok, saya mah udah kenyang lihat dokter makan apalagi saya makan tuh nasi uduk, nanti saya kekenyangan, habisin aja dok, mana tau karena nasi uduk ini dokter cepat sehat kan”, tambah Anala yang takjub melihat Rangga menghabiskan nasi uduk dalam beberapa menit saja, mungkin Rangga sudah sangat lapar ditambah dengan dari tadi pagi dia tidak makan apapun .
“baru tadi pagi dijahit Ann, masa iya sore ini langsung sehat aja, buruh waktu lah, dokter Anala”, ujar Rangga sambil membersihkan mulutnya dengan tisu dan Anala terlihat membersihkan semua barang – barang yang kotor termasuk sisa makanan di piring Rangga, dicuci bersih oleh anala di wastafel kamar inap Rangga tersebut.
“Ann, kalau nanti kamu mau pulang, ya udah pulang aja, aku udah bilang sama putra, nanti dia yang jagain kau disini sampai besok, kayak nya besok saya mau pulang aja ke rumah Ann, enakan di rumah kayaknya istirahat”, jelas Rangga .
“putra siapa?, kamu nggak bilang ibuk dok, dia nggak nanyain tetang kamu?”, tanya Anala lagi yang tampak memastikan tentang keadaan Rangga.
“nggak, saya nggak bilang ibu, saya bilang saya Cuma di rumah lagi sibuk, oh ya putra itu teman dekat saya Ann, apa – apa saya pasti sama dia, tapi dia tau saya kecelakaan barusan sih, dia terkejut, tapi sudah saya tenangkan dia kok”, jelas Rangga yang seperti nggak ada beban didalam hidupnya.
“aduh dok, kok gitu sih, dia kan cemas”, ujar Anala yang tidak habis fikri dengan rangga, yang tidak mau tau orang – orang terdekatnya mengenai tetang kondisi buruk yang sedang dia alami.
Tapi kenapa Anala tau semuanya?.
“Ann, kamu udah sholat belum?”, tanya Rangga yang tidak menghiraukan pertanyaan anala barusa, karena barusan, dia mendengar adzan dzuhur dari luar rumah sakit, yaitu masjid yang berada di seberang rumah sakit tempat dia menginap.
“nggak dok, saya nggak sholat”, jawab Anala yang lebih fokus berbincang dengan handphonenya dibandingkan dengan Rangga.
“oh”, respon Rangga yang sudah paham dengan apa yang terjadi pada Anala.
“dokter mau sholat, kalau mau sholat di atas kasur aja”, Anala memberikan pertimbangan pada Rangga untuk sholat.
“kalau berdiri rasanya nggak sanggup Ann, di atas kasur aja, kaki pun nggak bisa diluruskan, saya mau ngambil wudhu dulu”, Rangga beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
“dok, teman dokter yang mau kesini itu, udah mau sampai atau gimana?, soalnya saya mau izin pulang dulu dok, ini mau sore, maryam juga masih di rumah mama”, jelas Anala.
“oh ya nggak apa – apa, dia udah menuju kesini kok, palingan lima menit lagi dia sampai kok”, ujar Rangga.
bahwa putra sudah mau sampai ke rumah sakit sebentar lagi, dan malam ini Rangga dan putra yang akan menunggui kamar itu, dan tidak pantas juga rasanya rangga dan Anala bermalam di sana, Rangga menyadari hal itu.
“kalau gitu saya mau pulang dulu dok, nanti kalau ada apa – apa, kabarin yah dok, mana tau saya bisa bantu saya bantuin”, Anala mengambil tas dan juag segala peralatan untuk segeran pergi dari kamar Rangga menuju ke rumah mamanya menjemput maryam, sebenarnya anala ada pertanyaan yang ingin dia tanya kan pada Rangga mengenai kesunyian yang ada di rumah sakit itu yang tidak sama seperti rumah sakit lainnya yang rame dan tidak sunyi dan juga mencekam seperti yang dia rasakan selama berada di sana, tapi pertanyaan itu dia hindari, untuk suatu dan lain hal.
“saya izin pulang dulu dok, assalamualaikum”, ucap anala yang menjauh pergi dari hadapan Rangga.
“waalaikumsalam”,
jawab Rangga tidak semangat dengan kepergian Anala dari kamarnya tersebut, di lorong rumah sakti Anala mencoba untuk mengalihkan pikirannya pada hal yang aneh, dan tetap fokus dengan langkahnya yang berat dan berusaha mempercepatnya menuju lantai satu yang lumayan ada orang dibandingkan lantai dua,
‘aduh kok gini ya rasanya’, batin Anala, Anala sebenarnya juga pernah masuk ke dalam kamar mayat beberapa rumah sakit tapi tidak seseram ini yang dia rasakan,
‘ayok ayok Ann, kamu harus mampu melewat ini, ini hannya perasaan kamu aja, sebenarnya nggak ada apa – apa kok’, batin anala yang berusaha untuk memperkuat rasa berani Anala untuk melawan rasa takut yang dialaminya,
setelah beberapa manit akhirnya Anala bernafas lega sampai di depan loby rumah sakit dan segara mencari mobil kesayangan untuk segera pergi dari tempat tersebut, ketika di parkiran, Anala menemukan dompet kulit yang berwarna hitam tercecer di dekat mobilnya, sebelum itu ada seorang laki –laki muda lewat dari tempatnya berdiri sekarang, Anala curiga, bahwa dompet itu jangan – jangan punya laki –laki muda tersebut.
“mas, tunggu, mas, ini dompetnya”, Anala beberapa kali memanggil laki – laki tersebut, namun sepertinya tidak dia hiraukan kerena benda tipis yang ada ditangan dia hilang fokus untuk orang yang ada disekitarnya.
“mas, ini dompet mas”, Anala mengejar laki – laki tersebut dan pun susah untuk mengimbangi langkah laki – laki itu.
“ya ada apa mbak?”, tanya laki –laki tersebut sambil mencopot handset yang ada di telinga kanannya.
“mas, ini dompet mas, saya tadi menemukan di dekat mobil saya”, tunjuk Anala pada tempat dia menemukan dompet tersebut.
“oh iya mbak, ini dompet saya, ya allah, kenapa saya nggak sadar dompet saya terjatuh”, sesal laki –laki tersebut sambil membuka isi dompetnya itu, dan untungnya tidak ada satu pun isinya yang hilang.
“makasih banyak mbak, kalau nggak ada mbak tadi, mungkin saya nggak akan tau dompet saya jatuh”, ucap laki – laki tersebut.
“ini mbak ”, Rangga mengambil beberapa lembar uang merah dari benda padat segi empatnya tersebut.
“nggak usah mas, saya ikhlas kok, nggak usah, ya udah saya pergi dulu yah”, izin Anala.
dan yang dari tadi memakai masker, dia membuka masker tersebut karena merasakan panas yang luar biasa di area mukanya, karena berlari mengejar laki – laki yang ada di depannya tersebut.
“aduh saya sangat berterima kasih mbak, sekali lagi makasih banyak ya mbak”, ucap pria misterius tersebut yang namanya masih mejadi rahasia,
‘aduh cantik banget lagi’,
batin laki –laki tersebut.