
Setelah acara lamaran berkedok silaturrahmi itu selesai dan masing – masing keluarga sudah pulang, tampaknya Maryam kecil itu masih penasaran kenapa om Rangganya datang ke rumah neneknya tersebut bersama banyak orang yang sebelumya tidak pernah dilihat Maryam.
“Umma”, panggil Maryam.
“ya nak ada apa?”, tanya Anala.
“ada apa om Rangga datang ke rumah Oma umma?”, tanya Maryam yang masih penasaran dengan pertanyaan tadi.
“gini nak, om Rangga ingin mengenalkan keluarganya ke keluarga kita”, jawab anala menggantung.
“emangnya harus kenal ya umma, untuk apa?”, tanya gadis pintar tersebut, “hmmmm”, Anala hanya bisa bergumam dan memikirkan jawaban apa yang cocok untuk Maryam.
“nak, kalau umma menikah dengan om Rangga kamu suka nggak?”, tanya Anala dengan spontan.
“hahaha, menikah itu apa umma?, kita besok tinggal serumah ya , kalau om Rangga nikah sama umma, kayak anti nadia”, jawab Maryam.
“ya kayak gitu nak, boleh nggak?”, tanya Anala lagi.
“boleh deh, kalau umma bahagia akau bahagia juga umma, tapi baba gimana umma?”, tanyanya di ujung sendu.
“Allah”, Anala menarik nafas dengan pelan.
“Maryam, besok kalau kita sudah meninggal semuanya, kita akan jumpa baba kok, tapi di surga, untuk di dunia kita tidak akan bertemu lagi nak, tapi walaupun baba nggak ada kita selalu doakan baba yah, biar baba nggak kesepian”, ucap Anala sambil menahan air mata sendunya.
“iya umma, baba pasti kesepian ya, nggak adad temannya, rindu baba umma”, ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di paha uma nya.
“nak, baba udah sama teman – temannya yang baik di surga, itu makanya setelah sholat umma suruh kamu doain baba, biar baba selalu mendengar doa anaknya ini, dan baba nggak kesepian deh”, jelas Anala yang melihat Maryam sudah tidak murung.
“umma, pulang ke rumah kita yuk, kangen mainan aku umma”, rengek random Maryam tiba – tiba ingin pulang ke rumah. Anala yang melihat Maryam yang tidak biasa – biasanya ingin cepat pulang ke rumah, segera minta izin sama mamanya untuk pamit pulang, karena besok maryam ada kegiatan prakarya sekolahnya.
“mama, Ann pulang dulu yah”, izin Anala untuk pulang ke rumah.
“cepat aman Ann, ada pekerjaan lain kamu nak?”, tanya mama Anala sambil membekalkan Anala makanan dan juga Maryam,
“nggak ada ma, Cuma Maryam ingin pulang aja”, ucap Anala.
“ouch, ya udah, hati – hati yah, ini jangan lupa dibawa”, mama Anala memberikan tas bekal tersebut pada Anala.
“Ann, gimana Ann, beneran nih mau nikah?, kamu sudah betul – betul siap nak?”, tanya mama Anala lagi sambil memastikan Anala.
“ma, sebenarnya sudah lama Anala memikirkan ini, kalau nggak karena Maryam, mungkin Ann nggak akan menikah ma, Ann lihat Maryam juga senang dengan dokter Rangga, makanya Ann suka dengan dia, dan satu lagi tidak memandang Ann sebelah mata, seperti orang – orang yang memandang seorang janda itu dalam kategori negatif”, jelas Anala menjelaskan kepada mamanya.
“menjadi janda itu bukan rencana kita nak, mama paham kok apa yang kamu rasakan, mama lihat kamu setelah menikah ini semakin dewasa, dan semakin mandiri, apalagi mengurus Maryam dengan sendiri, mama nggak pernah berfikir, bahwa nasib kamu akan seperti ini, tapi takdir berkata lain nak, tapi yang kamu harus ingat, mama selalu mendoakan kamu yang terbaik untuk kamu dan juga Maryam dalam setiap aktivitas kalian”, jelas mama Anala tulus.
“ya udah, mau pulang kan, ya udah hati – hati ya neng”, izin mama.
“iya ma, Ann, pulang dulu”, sambil Anala mencium punggung tangan orang yang ama dia sayang tersebut.
Setelah Anala berada di dalam mobil dan siap- siap menuju tempat yang paling nyaman tersebut, tiba –tiba Maryam minta sesuatu yang tidak lain adalah es krim, padahal hampir tiap hari dia makan es krim tapi untuk kali ini dia tidak membolehkan Maryam untuk membeli es krim.
“umma mau es krim”, rengeknya lagi.
“nggak boleh nak, nanti kamu bisa sakit nak, apalagi sekarang cuaca panas banget nak, nanti umma buatkan es krim di rumah ya”, bujuk Anala.
“emang nya umma bisa bikin es krim?”, tanya Maryam tidak percaya dengan pernyataan ibunya.
“bisa lah nak, kamu meragukan bakat ibu mu?”, tanya Anala.
“ok, kita lihat nanti, beneran ya umma, rasa coklat yah”, pinta Maryam sambil cengengesan.
“iya beneran, udah sampai nak”, ucap Anala sambil memarkirkan mobilnya di garasi rumah mereka. jarak rumah Anala dan mamanya tidak begitu jauh, itulah Anala tidak masalah jika berpisah rumah dari awal pernikahannya dulu, karena jaraknya tidak begitu jauh dari rumah orang tuanya.
“umma, aku ingin bermain”, pekik maryam yang menuju kamar bermainnya, tanpa menghiraukan Anala yang sibuk dengan beres – beres.
Seandainya Maryam tahu, apa yang baru dia tanyakan tadi, Anala sudah terlebih dahulu menata serpihan – serpihan kesedihan dan duka tersebut, jauh dari sebelum ini.
Kamil memang adalah pria cinta pertama Anala dan berharap kamil lah adalah pria satu – satunya pria yang ada di hidupnya dan sampai mati. Namun takdir punya kuasa lain. Yang Anala tidak bisa ikut campur dalam takdir Kamil. Tapi Anala bangga bisa jadi seseorang yang ada dalam hidup orang yang menjadi inspirasinya tersebut.
“umma”, panggil maryam.
“umma”, panggilnya lagi.
“ya nak, ada apa”, tanya Anala yang sudah sadar setelah lamunannya itu.
“umma, kenapa umma bengong?”, tanya Maryam yang melihat ada yang beda dari uma nya.
“nggak ada apa – apa kok nak, umma capek aja, umma istirahat dulu yah, nanti ya umma buatin es krimnya”, ucap Anala sambil menuju kamarnya untuk istirahat.
“umma, ada tugas sekolah , nanti bantuin yah”, pinta Maryam.
“ok”, jawab Anala singkat.
Sekitar beberapa detik Anala terus memandangi foto pernikahan mereka yang terpampang besar di dinding kamarnya, ‘kang, maaf kan aku kang, nanti foto kita aku pindahkan yah, aku keputusan ini demi semuanya kang, Maryam masih kecil, dia butuh sosok ayah’ batin Anala, tidak terasa bulir bening itu mengalir di pipinya. Ditambah mengingat masa - masa ketika mereka mulai berkenalan sampai menikah dan hamil, walaupun proses melahirkan Maryam, Kamil sudah tidak ada, tapi Anala selalu merasakan kehadiran sang suami, dalam apapun kondisinya.
‘kang, walaupun di dunia kita tidak puas bertemu dan berbincang – bincang, nanti kita cerita di surga ya, akan ku ceritakan semuanya pada dirimu tentang perkembang Maryam sampai dia besar, kalau saya panjang umur, nanti akan ku ceritakan sampai kita punya cucu, sekarang dia sudah besar kang, dia sudah mulai bertanya banyak tentang dirimu’, batin Anala, semakin Anala tidak bisa menahan rasa sedihnya.