Analaa

Analaa
yakin



Asam di gunung asin di Laut’, begitulah pepatah mengatakan bahwa hidup kita saat ini sangat sesuai dan cocok dengan kadar apapun yang berlaku untuk hidup kita.


Anala yang mulai bingung dengan perasaannya , kadang memang hati dan pikirannya tidak saling berjalan beriringan


Anala pun bingung apa yang terjadi kedepannya mengenai hidupnya dan Maryam, ditambah lagi dengan kehadiran Rangga yang cukup membuat resah pikiran Anala, apalagi dengan cara, sikap Rangga yang menunjukkan kasih sayang seperti apa yang anala harapkan.


Di sore hari tepat di depan teras rumah Anala yang ditanam berbagai tanaman hijau dan bunga- bunga, Anala membaca tentang ‘arti keikhlasan’, di sela – sela membaca Anala kadang termenung beberapa menit dan menghayati setiap kata dari buku itu, berat memang melupakan tapi jika tidak, itu jauh lebih berat untuk beban hidup kedepannya, Anala berbisik kepada hatinya.


’Anala jangan berharap kepada manusia yang sudah kembali kepada sang penciptanya, merindu kepada orang yang sudah tiada itu memang tidak berujung, tapi jika kita berlarut dengan kerinduan itu akan menyiksa semua kesehatan mental yang kita perlukan untuk menjalani hidup ini dengan normal'.


“umma, mau es krim”, rengek Maryam pada Anala yang sedang bergelut dengan setiap lembar – lembar buku yang dia baca.


“nak, kemarin kan udah umma bilang, nggak boleh makan es krimnya sering – sering nak, kemaren kamu kan udah makan es krim, nanti flu nak, batuk juga ”, bujuk Anala.


“uma, mau es krim”, rengek panjang Maryam layaknya anak – anak yang tidak mau menuruti saran Anala yang melarang Maryam.


“umma buatkan yah es krim nggak boleh beli di luar yah”, satu saran Anala berikan pada Maryam yang membuatnya senang bukan kepayang.


“iya umma mau umma, ayok kita buat yok”,


“tapi umma nggak punya bahannya nak”, jawab Anala yang membuat Maryam cemberut, karena tidak bisa langsung membuat es krim tersebut sedangkan kerinduannya pada es krim sudah tidak bisa di tunda lagi.


“ayo lah umma kita beli bahanya yok, aku mau ikut ya umma, di warung depan kan”, mood Maryam yang buruk tadi berpindah posisi ke arah yang lebih baik.


“umma pakai cokelat nggak, pakai ya.. ya . ya”, pinta Maryam yang merengek pada Anala untuk dibelikan coklat.


“ok ya nanti belinya nggak boleh banyak – banyak ya nak, itu kan cokelatnya manis”.


“ok umma”, jawab Maryam dengan jempol mungilnya.


Es krim bukan hal yang baru bagi maryam, karena seja dia di dalam kandungan alias masih di dalam perut Anal, Anala sangat suka dengan es krim, ketika melihat es krim Anala rasanya ingin mengambil semua es krim tersebut, itu kenapa Maryam adalah ses krim lovers, ya tau tau aja lah ya guys.


“mbak beli susu bubuk, sama coklat mbak”, pinta Anala pada sang penjual di warung tersebut.


“berapa bungkus mbak susu bubuknya?”, tanya penjual tersebut.


“sepuluh bungkus aja mbak”, jawab Anala.


“umma mau beli itu”, tunjuk Maryam ke salah satu barang yang haram dimakan itu.


“yang mana nak?”, tanya Anala yang bingung yang mana dipilih Maryam sebagai jajan tambahannya itu.


“itu yang warna putih umma, itu yang dalam kantong plastik itu”, tunjuk maryam pada kumpulan benda berwarna putih pengusir kecoa tersebut, yaitu kapur barus.


“nggak boleh nak, itu kapur barus, mana boleh dimakan, nanti kalau dimakan nanti keracunan”, terang Anala.


“ohhh ok deh”, jawab Maryam sambil menutup mulutnya itu dengan tangan kanannya.


“berapa mbak?”, tanya Anala yang mau membayar barang yang dibelinya itu.


“tiga puluh lima ribu mbak”, jawab penjual sambil melihat ekspresi lucu Maryam yang salah beli jajanan.


Batu es yang dikeluarkan Anala dari dalam kulkas mulai meleleh dengan perubahan suhu yang signifikan.


“umma mulai meleleh nih batu esnya” panggil Maryam pada Anala yang sedang mengaduk bahan campuran es krim dalam mangkok stainless.


“emangnya garam untuk apa umma?”, tanya Maryam bingung dan penasaran dengan saran uma nya.


“garam itu manfaatnya untuk es batu nak, untuk menurun kan titik bekunya, agar es batu tersebut tidak mudah meleleh atau mencair”, jelas Anala.


“oh gitu ya umma, aku ngerti umma”, jelas Maryam yang sudah mengetahui maksud dari uma nya.


“nak sini masukkan adonan es batunya di dalam loyang ini”, suruh Anala.


“ok umma terus abis ini di buat apa umma”, jawab Maryam sambil menuangkan pelan – pelan adonan es krim tersebut ke dalam loyang yang diambilkan Anala.


“terus loyang ini diletakkan di dalam es batu itu nak”, perintah Anala.


“diapain ini umma, udah jadi ini”, kata Maryam yang meletakkan adonan es krim tadi di atas wadah yang berisikan es batu, dan maryam menyangka setelah meletakkan adonan tersebut, maka es krimnya akan langsung jadi.


“belum nak, diputar - -putra ya nak sampai adonan es krimnya agak membeku seperti es krim yang kamu belo itu nak”.


“iya umma diputar ya”, Maryam memutar tempat adonan es krim tersebut dengan pelan.


“umma pegel tangannya umma, gantian ya sama umma”, rengek menyerah Maryam yang sudah merasakan pegal di tangannya.


“sini umma putar, kamu kalau makan mau nggak”, tanya Anala ledek.


“ya kalau makan ya mau la umma, siapa sih yang nggak mau makan”, jelas polos Maryam yang akhirnya menjadi korban keusilan Anala yang mencubit pipi tembem Maryam.


“sakit umma, putar aja itu , udah nggak sabar nih mau makannya”, cemberut Maryam.


“Maryam udah jadi nih nak, sini”, panggil Anala pada Maryam yang sedang di dalam ruangan bermainnya, yang mengambil main baru yang kemaren dibelikan oleh Rangga.


“ya umma bentar”, teriak maryam.


“nih coba dulu satu sendok nak”, Anala mengambilkan sedikit es krim buatan tangan tersebut dan menyuapkan ke mulut Maryam.


“gimana.. gimana.. ?”, tanya Anala sambil menaikkan alisnya.


“hmmmm enak umma”, jawab Maryam sambil menaikan jempol kedua tangannya.


“enak ya”, tanya Anala lebih memastikan.


“ya enak banget umma, berhasil kan es krim kita”.


“es krim kita atau es krim umma?”, tanya Anala yang sambil bercanda itu.


“es krim kita umma, walaupun tangan ini cepat pegelnya umma”, jawab Maryam sambil cengar cengir.


“umma ada roti nggak?”, tanya Maryam sambil mencari cari keberadaan benda karbohidrat tersebut.


“ada nak, itu di kulkas paling bawah”, terang Anala.


“nih umma letakkan es krimnya di atas ini”, pinta Maryam yang sudah tidak sabar mencicipi mencicipi es krim tersebut dengan roti tawarnya


“nyam.. nyam.. nyam enak banget umma”, respon Maryam.


“berhasil ya es krim kita”, seru Anala, kring..kring..kring, ada suara handphone Anala yang berasal dari kamarnya.