Analaa

Analaa
nikah?



Setelah perbincangan panjang sore itu, Anala dan Maryam akan pergi ke rumah ibunya Kamil, kebetulan ada adik Kamil yang akan menikah satu minggu lagi, dan malam ini adalah malam pengajiannya, adik yang menikah sekarang adalah adik cewek satu – satunya kamil yang amat dia sayang, kadang kalau mereka pergi berduaan orang banyak berprasangka bahwa mereka adalah pasangan sejoli yang sedang memadu asmara.


Maryam yang membuat Nala karena tidak mau mandi menjadi satu drama lagi yang harus dipikirkan Anala bagaimana jalan keluarnya.


“Maryam, ayok mandi”, pekik Anala dari kamar mandi.


Tadi sebelum Anala mandi Maryam sudah terlebih dahulu bergegas menuju ke kamar mandi, tapi entah kenapa ketika Anala memasuki kamar mandi dia hilang entah kemana, dan tidak melihat satu pun jejaknya yang menjadi kunci dari pertanyaan Anala.


“Maryam, uma mau pergi, nanti kalau kamu nggak mandi umma tinggal ya”, bohong Anala, ketika beberapa upaya kebohongan yang dilakukan anala masih tidak bisa membuat maryam ada di hadapan Anala.


“Maryam, sini nak, umma udah siap mandinya nih, nanti keburu maghrib”, pekik Anala lagi.


dan Maryam tidak kunjung tiba di hadapannya, Anala memutuskan untuk menyudahi mandinya dan setelah itu baru mencari keberadaan Maryam yang tak kujung ditemukan.


Anala yang sudah selesai dengan ritual mandinya mulai menyusuri anak tangga, menoleh kiri dan kanan mencari keberadaan Maryam.


“mana anak itu yah”, batin Anala, Anala yang sambil mengeringkan rambutnya berjalan menuju pintu keluar, dan mengarah ke taman depan rumahnya, di sana nampak Maryam sedang asyik menyiram bunga yang kemaren dia beli di pinggir jalan.


“Maryam, dari tadi umma panggi – panggi kenapa nggak menyahut”, kesal Anala.


maryam yang terkejut dengan keberadaan uma nya langsung menoleh ke sumber suara.


“ya umma, maaf umma tadi aku ingat tanaman ini belum disiram, jadi aku siram deh”, jawabnya cengar cengir.


“udah - udah nak, mandi dulu yah, nanti keburu maghrib sayang”, suruh Anala pada Maryam untuk segeran mandi dan menyudahi siram menyiramnya sore itu.


“siap umma, aku pengen keramas umma”, pinta Maryam yang rambutnya udah setengah basah karena menyiram bunganya tadi.


“iya ayo cepat nak”, suruh Anala dan mematikan selang yang digunakan untuk menyiram bunganya oleh Maryam.


“iya .. iya umma”,nurut Maryam yang mulai berjalan ke dalam rumah untuk mandi.


“segar banget umma, banyakin dong samponya umma, biar banyak gelembungnya”, kesenangan hati maryam ketika mandi bersama uma nya dan dengan sampo kesayangannya.


“nggak boleh banyak – banyak nak nanti mata kamu perih loh”, jelas Anala


“nggak apa - apa umma, nggak perih kok”, Maryam yang masih dengan pendiriannya.


“ayok udahan yok mandinya bentar mau adzan loh”, jelas anala yang mendengar orang sudah tilawah Alquran di masjid dekat mereka tinggal.


“iya umma, mau pakai baju unicorn umma”, pinta Maryam, “kamu nggak ingat kita malam ini kita akan pergi ke rumah nenek baba, kan anti nadia mau nikah jadi malam ini adalah malam pengajiannya”, jelas Anala kenapa tidak memperbolehkan Maryam memakai baju kesayangannya.


“Yeay, hari ini ke rumah nenek”, girang Maryam yang tidak sabar pergi ke rumah neneknya dan juga bertemu dengan sepupunya yang lain.


“hari ini kita pakai gamis putih ini yah, kamu kembaran sama uma nak, jilbabnya ini”, tunjuk Anala pada Maryam mengenai baju yang akan mereka pakai untuk malam ini.


“cantik banget umma baju nya, aku suka”, maryam mengambil baju tersebut dan mencoba memakainya sendiri.


“aduh nggak sampe umma, tolongin umma”, pinta Maryam yang tidak bisa memasang resleting bajunya.


“ayok umma kita berangkat”, pinta Maryam yang sudah tidak sabar.


“tunggu dulu, pakai sendalnya”, tampak Anala yang memasangkan kedua sendal itu kedua kaki mungilnya Maryam.


“umma kencang dikit lah bawa mobil”, pinta menantang Maryam.


“nggak boleh kebut – kebutan nak ini jalan umum, kita harus menghargai orang lain yang jalan disini juga, nanti kalau kita kecelakaan siapa yang sakit, siapa yang rugi, siapa yang berdarah - darah”, jelas Anala.


yang membuat Maryam membisu, “oh kalau gitu nggak usah kebut – kebutan umma”, tambahnya.


“berapa lama lagi nih umma sampainya”, tanya Maryam lagi.


“sepuluh menit lagi nak, kita udah sampe”, jawab Anala yang sepertinya sudah memasuki jalan komplek perumahan ibunya kamil, dan di ujung jalan sana, ada banyak parkiran mobil yang berjejer di depan rumah rumah neneknya Maryam, ya karena malam ini ada acara besar keluarga mereka.


“hey Maryam”, sapa neneknya ketika sudah sampai di depan gerbang rumah.


“neneeeek”, sapa Maryam yang girang ketika bertemu dengan neneknya, dan menghamburkan ke pelukan ke arah neneknya itu.


“udah besar cucu nenek sekarang ya”, nenek langsung mencium maryam dengan tiada kepuasan, ketika melihat Anala terpaku di depan gerbang seakan ibunya Kamil melihat sosok Kamil yang juga turut hadir pada malam itu.


”nggak mungkin, nggak mungkin”, batin ibunya Kamil yang menyembunyikan rasa rindunya kepada putra tercintanya itu.


“Anala”, sapa ibu kamil yang langsung memeluk Anala dengan sedikit haru dengan yang dulu adalah menantu kesayangannya itu.


“ibu sehat?”, sapa anala yang menanyakan kabar sang mertua yang semakin hari semakin rapuh tulangnya yang semakin menua seluruh badannya.


“kang, kalau seandainya kamu tau ibuk adalah orang yang aling tulus merindukanmu tanpa minta balasan, dia manusia yang senantiasa di setiap doanya diselipkan namamu dalam pengharapannya”, batin Anala yang melihat mertuanya itu tampak bahagia ketika bertemu dengannya dan juga maryam, karena muka Maryam sangat seiras dengan wajah kamil.


itulah kenapa ketika melihat maryam rindunya kepada Kamil sedikit terobati, “sehat nak”, jawabnya dengan sedikit haru.


“buk nggak usahlah nangis kita udah ada disini”, jelas Anala sambil menghapus air mata ibu mertuanya itu.


“ibuk masak apa aja malam ini”, Anala mencoba mengalihkan suasana haru tersebut dengan membahas topik lainnya,


“ibuk masak makanan kesukaan kamu, rawon”, jawab nenek.


“wah pasti enak banget kan buk, ayok mau cobain”, rengek Anala pada mantan ibu mertuanya tersebut yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


“ayok, sini.. sini ”, ajak sang ibu, “hey Mar yam”, “hey Anala”, sapa kerabat –kerabat mereka yang hadir di sana.


“nih rawonnya, cobain ”, suruh ibu mertuanya tersebut, yang sudah meletakkan semangkok rawon lengkap dengan nasi putih di sampingnya.


“wow enaknya ibuk, nggak berubah dari dulu masakan ibu, nanti aku mau bawa pulang yah”, pintanya yang beberapa menantu segan melakukan hal tersebut di rumah para mertuanya.


“udah nak, udah ibuk siapkan”, nanti dibawa yah