
Setelah Anala berlalu dari pandangannya, pria ini kembali melanjutkan perjalannya menuju lantai dua rumah sakit itu untuk menjenguk teman akrab yang sohib itu.
“mbak, ada yang nama pasiennya Rangga nggak mbak yang di lantai dua?”, tanya pria itu.
“ada pak, ada di kamar xx”, jawab perawat setelah mencari data pasien yanga ada di database rumah sakit itu.
“oh ya, makasih ya mbak”, ucap pria itu yang langsung meninggalkan perawat itu menuju lantai dua rumah sakit yang tidak sabar bertemu dengan sahabatnya itu setelah mengalami proses sulit dalam kehidupannya yaitu sebuah kecelakaan yang menimpanya pagi tadi.
“assalamualaikum”, sapa pria itu di balik pintu.
“waalaikumsalam”, jawab Rangga, sepertinya Rangga tidak asing dengan suara yang mengucapkan salam dari luar pintu tersebut.
“masuk aja bro, nggak dikunci kok, masuk aja”, suruh Rangga pada pria itu.
“bruk”, pria itu membuka pintu kamar Rangga dengan sedikit bringas dan setelah melihat kondisi Rangga, sebenarnya dia sedih dan haru, tetapi yang namanya laki – laki pasti gengsi untuk menangis di depan teman laki – lakinya itu, dipeluknya Rangga sejenak oleh sahabatnya itu, sempat hening seketika rasa cemas dan sedih bercampur menjadi satu.
“nggak apa – apa kok bro, ini baik – baik aja kan, nggak kenapa – kenapa kan, masih bisa bercanda sama lu kan”, ucap Rangga.
yang membuat mata pria itu sedikit berkaca –kaca, “nggak kenapa – kenapa bagaimana sih, nih dijahit dua puluh yang ini dirobek juga, ini di lakban, nggak kenapa – kenapa gimana sih ngga, gila lu ya”, ucap pria itu yang tidak senang ucapan Rangga ketika dia bilang bahwa dirinya baik – baik saja.
“yah at least gue masih lagi bisa bernafas bro, Alhamdulillah, masih panjang umur gue bro”, ucap rangga sampai melihat bola mata sahabatnya itu dengan seksama, “kenapa jadi kaak gini sih, kenapa dengan mobil loh ngga”, tanya pria itu.
“yang itu gue juga nggak tau tuh sampai sekarang, soalnya tuh mobil sekarang ada di kantor polisi sekarang, tapi yang jelas pas pagi tadi gue bawa mobil di tikungan itu, niatnya mau rem tapi nggak bisa –bisa put, kayaknya remnya blong deh, nggak yau gue, nanti juga kita tau sedang diselidiki polisi kayaknya sekarang”, jelas Rangga.
"nggak lu ada musuh nggak ?”, tanya misterius putra mulai menghampiri isi kepalanya.
“apaan sih lu, gue rasa nggak pernah ada musuh ya, tapi gue juga nggak tau jelas bro, kalau ada pun orang yang mau niat jahat itu bukan salah gue kan, gue nggak buat apa – apa kok sama dia, ih apaan sih lo, berfikir buruj gitu janganlah bro”, ucap Rangga yang tidak mau membawa orang lain dalam setiap masalah dan cobaan yang ada did alam hidupnya, menurutnya masalah yang datang dalam hidupnya itu bukan salah siapa – siapa tapi itulah bentuk ujian dan cobaan yang Allah berikan kepadanya untuk meningkatkan derajat dan juga mengubah dirinya ke arah yang lebih baik.
“luh ingat nggak, pas lu jatuh itu, apa sih yang lu rasakan, aduh nggak kalau gue jadi lu, mungkin gue udah pingsan duluan deh lihat darah sebanyak ini”, ucap putra yang mempunyai phobia darah tersebut.
“ya pas gue jatuh , gue nabrak pohon, untungnya gue nabrak pohon kalau nggak ada tuh pohon disitu, gue pasti masuk jurang, lu nanya darah ini put, kalau gue takut darah yah kagak jadi dokter gue sekarang putra”, jelas Rangga pada putra, teman yang dari tadi dia bicara sama Anala yang akan menemaninya itu pada malam ini.
Putra adalah teman rangga sejak dari Sma dulu yang selalu akrab kemana pun dia pergi dan dalam kegiatan apapun mereka selalu bersama dan selalu kompak, ketika kuliah Rangga mengambil jurusan kedokteran sedangkan Putra mengambil jurusan teknik, disitulah mereka terpisah karena tujuan masa depan yang berbeda, namun setiap minggunya mereka selalu menentukan tempat nongkrong di satu tempat untuk bercerita mengenai pengalaman mereka selama mereka tidak bertemu.
Rangga pun menganggap Putra sudah seperti saudaranya sendiri, karena keluarga rangga sudah menganggap Putra seperti anggota keluarganya, waktu sma Putra juga sering tidur bermalam di rumah Rangga dan juga pernah ikut kelurga Rangga jalan – jalan, sedekat itu rangga dan Putra, gimana tidak ketika Putra tau Rangga kecelakaan dengan keadaaan seperti itu, memang rasa sedih mendominasi perasaannya pada saat itu.
“ngga, teru tadi gimana ini, gimana nggak ada cacat kan, atau di operasi”, tunjuk Putra pada kaki tangan Rangga yang dipenuhi perban.
“alhamdulillah ini dijahit aja put, yang ini nggak apa – apa sih, nanti juga di kering sendiri, tapi yang jelas lu harus rajin bantuin gue bersihin ni luka sama ganti perbannya, kan gue nggak bisa sendiri gantinya put, kalau tadi ada sih yang bantuin, lah sekarang kan sama lo aja gue minta tolong”, ucap Rangga, yang sepertinya memancing putra untuk menanyakan sesuatu hal yang belum dia ketahui.
“siapa yang nolongin loh tadi, perawat, kalau itu udah pasti lah ngga, emang perawat yang ngebantu ketika kita sakit kan, siapa lagi yah kan”, ucap putra yang belum mengetahui sosok yang tadi menemani Rangga tersebut.
“lah loh nggak tau put siapa yang nemenin gue tadi, emangnya lu nggak ketemu dia tadi dibawah, dia barusan izin pergi, sebelum lu tiba disini”, ucap rangga yang tidak menyebutkan identitasnya secara jelas dan terurai.
“lah gue mana tau, lu nggak pernah bilang – bilang sama gue, kenapa lu nggak minta temenin lu sama dia sampai pagi besok”, tanya putra.
“gila lu, mana mungkin gue minta tolong nemenin gue, orang dia perempuan put, gila lu”.
“haa perempuan, cieeeeee”, ledek Putra, “siapa nggak, orang mana, cantik nggak, kenalin sama gue lah”, ledek putra lagi.
“ngapain sih gue kenalin sma loh, nanti loh naksir lagi”, balas rangga yang tidak mau kalah denan pernyataan Putra.
“tapi ngga, tadi gue ketemu perempuan cantik dibawah, kebetulan dompet gue jatuh, gue nggak sadar bro, dia yang mengembalikan tuh dompet sama gue, cantik banget, sumpah nggak cantik banget”, ucap Putra yang sepertinya mulai suka dengan perempuan yang barusan dia temui di parkiran rumah sakit tersebut.
“dia pakai baju apa, put”, Rangga curiga, jangan – jangan orang yang diceritakan putra tersebut adalah Anala yang baru keluar dari rumah sakit dari menemani Rangga yang seang sakit itu.
“pakai baju apa yah, kalau nggak salah tadi hitam yah”, jawab Putra, yang membuat Rangga memalingkan muka ke arah yang lain seperti dugaannya benar yang dilihat Putra tersebut adalah Anala.
“kenapa sih ngga, kok lu nggak suka dengan jawaban gue, itu dia yah”, tanya Putra yang tersenyum tipis, dan merasa ini kesempatan dia untuk membuat usil untuk rangga, “mungkin itu dia, tapi lu jangan – jangan macam sama dia, awas lo, kalau sampai macam – macam gue jadiin rendang lu”, Rangga mulai mengultimatum Putra kalau sampai dia mengganggu anala sang pujaan hati yang belum resmi itu.
“lah lu kan belum jadi sama dia ngga, boleh lah gue coba, mana tau dia lebih suka gua..”.
“Putra, lu jangan macam – macam yah, kalau lu nggak mau gue suntuk mati, lu jangan – jangan coba ganggu dia”, belum lagi Putra menyelesaikan kalimatnya, rangga sudah lebih dahulu dihantui oleh kemarahan dan kecemburuannya itu kepada sahabatnya tersebut.
“sekali aja ngga, gue coba yah”, bercanda Putra, “putra, keluar loh”, teriak Rangga yang tidak suka dengan orang yang mencoba untuk mengganggu Anala, walaupun itu sahabatnya sendiri.
“hahahaha”, ketawa Putra menggelar di dalam ruangan tersebut.
“Canda bos, canda doang nggak boleh, santai lah, lu cemburuan banget sama gue, masa sama sahabat sendiri cemburu buta sih”, jelas Putra yang belum membuat Rangga kesal dengan candaannya mengenai Anala.
“canda, canda bapak lu put, pokoknya nggak ada orang yang boleh nge ganggu dia selain gue, kalau ada orang yang coba – coba untuk ganggu dia , lu lihat nanti apa yang terjadi di dalam hidupnya ”, balas Rangga, jika ada laki – laki yang berani ganggu Anala selain dirinya.
“siap boss”, jawab singkat Putra yang ingin mengakhiri debat Mereka maghrib itu, “btw ngga, lu ngak sholat, nih mau maghrib nih”, tanya Putra sambil melirik buah – buahan yang ada di samping Rangga , siapa lagi kalau bukan Anala yang membelikan.
“sholat lah put, emang gue perempuan yang ada masa sanggahnya”, jelas rangga.
“nggak gue boleh makan buah ini nggak sih’, tanyanya, sedangkan tangannya kanannya sudah menyentuh buah apel tersebut.
“yang itu nggak boleh put, yang ini aja nih, sisa gue”, jawab rangga kesal.
“gila lu, lu suruh gue makan buah sisa lu, kan ini ada yang baru, banyak pula kan, pelit amat sih lu”, jengkel Putra.
“masalahnya put, itu buah yang dibawain Anala buat gue, bukannya buat loh, lagian gue takut nanti lu makan buah itu, malah suka beneran lagi lu sama dia, pokoknya lu nggak boleh makan buah itu, kalau lu mau yang baru, nih uang lu beli sono di tukang buah”.
Rangga yang tetap dengan pendiriannya yang tidak mau Putra memakan buah yang diberikan Anala untuknya, menyodorkan Putra uang lima puluh ribu untuk membeli buah baru yang lain di toko buah.
“jahat banget, sumpah, lu seharusnya minta terima kasih sama gue ngga, karna gue mau nemenin lo bermalam disini”, Putra sangat kesal dengan perilaku aneh Rangga yang sangat membuat dia kesal.
“gitu aja nangis, nggak malu lo sama otot kekar lo, nangis gara – gara apel, culun tau put lu kayak gitu”, ledek rangga.
“ini pasti lu pegang – pegang dulu kan, emang dasar nggak ada akhlak lu ngga”, kesal Putra, dengan berselera Putra langsung melahap apel yang dilemparkan rangga tadi, walaupun dengan perasaan kesal putra tetap menikmati buah apel pemberian Rangga tersebut.
“enak ngak put?”, tanya Rangga sedikit senyum.
“enak sih enak, tapi ini lu pegang – pegang dulu, beda sih rasanya kalau Anala yang pegang pasti yah”, jawaban Putra sangat di luar nalar bagi rangga.
“bruk”, Rangga melemparkan apel bekas gigitannya tadi ke arah Putra, tepat mengenai perut six pack Putra.
“sakit ngga, lah kan gue bercanda”, ucap Putra sambil memegang perutnya.
“bercanda bapak lu ”, kesal rangga entah ke berapa kalinya, “yok sholat yuk put, bantuin gue, susah untuk turun dari sini”, rangga menjulurkan tangannya ke arah Putra.
sebagai tanda untuk dia meminta tolong membantunya turun dari ranjang menuju kamar madi untuk berwudhu.
“sini, sini, awas lo sekali lagi lu lempari gue, gue pukul nih lutut yang bengkak ini”, canda Putra.
Di dalam kamar mandi Rangga tampak khusyuk dengan ritual wudunya, dan setelah keluar dari kamar mandi ternyata Putra sudah menyiapkan kursi roda dan juga sajadah di depannya untuk tempat sholat Rangga, dan di depan akan ada Putra yang mengimami sholat mereka maghrib itu.
“makasih sahabat jannah ku”, ucap Rangga sambil berjalan menuju kursi roda yang sudah disiapkan Putra.
“tunggu dulu ngga, gue wudhu dulu, gue mau jadi imam buat lu, sebelum lu jadi imam buat yang lain”, kembali ledek Putra membuat rangga tertawa tipis.
“buruan, nanti waktu Maghrib habis lo put”, suruh Ranga.
Allahuakbar,
Putra memulai sholat sebagai imam dan rangga sebagai makmum tunggalnya.
“Gimana ngga, udah cocok belum gue jadi imam buat istri, ups, calon istri gue nanti”, tanya Putra sambil bercanda dengan rangga.
“gimana yah, lumayan lah, sekarang lu tingga cari calonnya aja lagi put, kalau udah ada udah mantap nih”, jawab Rangga.
“ngga gue lapar nih, cari makan yok”, ajak Putra, “lu aja yang cari sendiri yah, masa lu bawa gue yang sedang pincang kayak gini”, “ya maksud gue, gue cari sendiri, lu tinggal disini, tapi lu mau makan apa ngga, biar gue cariin”, tanya Putra.
“hmmmm, gue sepertinya rindu nasi padang deh, tolong lu beliin yah”, rangga ingin makan nasi padang yang merupakan makanan yang juga ada di dalam otak Putra.
“gue juga sih ingin nasi padang, emang lu nggak apa – apa makan nasi padang, lu makan yang sehat – sehat aja deh ngga”, saran Putra untuk sahabat terbaiknya itu.
“gue sih inginnya juga gitu tapi perut gue maunya nasi padang, gimana tuh, sekali – sekali boleh lah put”, rengek Rangga.
“lu percuma dokter lu, kesehatan orang lu jaga kesehatan sendiri diabaikan”, sindiran pedas Putra mengenai Rangga.
“santai bro, gue juga lebih tiga bulan belum nasi padang”, bohong Rangga.
“ya nanti gue beliin”, ucap Rangga yang sudah sangat lapar dan ingin segera pergi untuk membeli nasi padang dan juga ingin menyudahi debatnya dangan Rangga.
“dah assalamualaikum”, pamit Putra. Di sela – sela jendela yang bening dan dingin itu, Rangga menanti suatu kabar dan juga berita dari Anala, sampai setelah habis maghrib, sejak kepergian Anala dari rumah sakit itu, belum juga ada satu pun chatan dari Anala untuk Rangga.
“ting tong”, bunyi pesan pesan baru yang masuk ke hp Rangga, dengan bergegas Rangga mengambil hp nya, ternyata hanya pesan putra yang dia temui, ‘dasar, bukan pesan lo yang gue harapkan’, batin Rangga.
“ngga lu mau lauk apa, tadi gua lupa nanyain lo”, tanya Putra lewat pesan singkat itu.
“terserah lu aja put”, jawab rangga, “ya sepertinya lauk terserah nggak ada ngga”, canda Putra.
“maksud gue terserah lu aja, lauknya apa , lu jangan bikin emosi gue meledak malam – malam ini put, gue laper nih”, jelas Ranggam.
“yah habisnya lu kayak cewek, apa – apa terserah, nanya ini terserah, itu terserah, payah lu”, respon Putra, yang tidak dibalas Rangga.
Tidak berselang lama dari dari chat terakhir Putra tersebut, putra tiba di rumah sakit dengan membawa beberapa kantong plastik, tidak hanya dua bungkus nasi padang, tetapi ada kue – kue diabetes lainnya, seperti martabak dan minuman manis.
“Assalamualaikum ngga, gue nih, si abang go food lu”, teriak Putra dibalik pintu.
“masuk aja, nggak dikunci kook, masuk sini, gue laper banget nih put”, “aduh”, pekik Rangga, yang ternyata sikutnya tidak sengaja mengenai lututnya yang sedang berduka tersebut.
“kenapa lu?”, tanya Putra yang tengah asyik dengan membuka setiap kantong plastik untuk diletakkan di atas piring, layaknya istri yang sedang melayani suaminya, uss, tapi ini sahabat ya guys.
“nggak gue makan disini aja yah, susah buat jalan kesana, lu ambil yah”, pinta Rangga, “okey boss”, dengan sigap Putra menghidangkan menu utamanya itu.
“gue beliin lu ikan bakar padang yang baunya itu wangi banget kan ngga”, jelas Putra.
“gimana ngga, enak nggak?”, tanya Putra,
sambil membelakangi Putra yang tengah asyik meletakkan martabak di atas piring.
“belum juga gua makan put, lu tanya enak apa nggak”, respon Rangga membuat Putra juga naik darah.
“lu kayak perempuan pms lu, dikit – dikit marah sama gue, kalau lagi saki itu bisa nggak sabar, tenangkan jiwa lu, sabar bro.
sabaaaar”, ucap Putra yang susah mulai menyuap nasi padang itu kedalam mulutnya.
“hmmm nikmat dunia mala lagi yang engkau dustakan”, ucap kebahagiaan Putra tentang kenikmatan nasi padang yang tiada tanding itu.