Analaa

Analaa
pulang



Keheningan yang tercipta bukan karena saling benci dan saling menahan ego sendiri, tetapi keheningan yang tercipta dalam mobilnya Putra karena Rangga mewujudkan mimpi yang semalam belum tercapai, yaitu tidur.


“woi, ngga, woi”, imbau Putra, yang tidak di layani Rangga karena tidur yang begitu nyenyak dan tidak bisa menerima respon dari luar.


“gila lu ya ngga, gue juga ngantuk nih, tapi gue harus nyetir, setidaknya lo temenin gue lah ngomong, lah kan gue ngomong sendiri”, gerutu Putra sendiri.


“apaan sih lu Put gerutu sendiri, ada apa, gue ngantuk”, ucap Rangga yang masih menutup mata dan sepertinya benci dengan omongan Putra.


“bangunlah ngga, masa gue sendiri – sendiri ngomong, kan kayak orang gila ngga”, balas Putra.


“iya Put, ini gue bangun”, ucap Rangga dengan sedikit kesal, Rangga juga mengerti bahwa Putra juga mengantuk, tetapi kalau dia temani untuk bicara mungkin kantuknya akan berkurang, dia juga takut terulang peristiwa yang kemaren itu terjadi untuk kali keduanya.


“iya ada apa, lu mau nanya gue apaan Put”, tanya Rangga yang sudah sempurna membuka matanya lebar – lebar.


“nah kan, kayak gini, tadi gue ngantuk juga ngga, lihat lu tidur, gue juga pengen tidur”, ucap Putra.


“Put, berhenti d bahu jalan itu yah, di dekat yang jual es krim itu, gue mua beli es krim”, ucap rangga.


“lah sejak kapan lu suka beli es krim ngga, biasanya lu doyan nasi padang doang”, ledek Putra.


“berhenti aja, bawel lu Put, gue haus, lu mau ngga?”, ucap Rangga.


“ya kalau di traktir gue pasti mau la ngga”, cengir Putra menerima traktir dari Rangga dengan senyuman lebar.


“pak es krim coklatnya dua pak”, pesan rangga pada bapak – bapak yang jual es krim coklat tersebut.


“ngga gue pakai toping roti dong, ada nggak?”, pinta Putra.


“lu banyak mau lu, kagak ada Putra, ini jual es krim doang”, balas Rangga yang malas berkomunikasi dengan orang hari ini.


“lah pelit banget anda, ada tuh, pak pakai roti satu yah pak”, pinta Putra pada penjual es krim coklat tersebut.


“awas ya ngga jangan belepotan lun makan es krim, nanti mobil gue kotor”, Putra memberi peringatan pada Rangga dengan moodnya hari ini kurang baik.


“emang lu pikir gue anak kecil, makan es krim belepotan, gila lu yah Put”, balas Rangga.


“ngga, sejak kapan lu suka es es kayak gini, nggak biasa benget lu beli – beli es krim”, tanya Putra yang masih penasaran dnegan hobi dan kesukaan baru Rangga tersebut.


“la semua orang suka es kan, emang ada yang salah”, ucap rangga yang masih belu bisa mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.


“ya memang semua orang suka es krim, tapi perubahan lo cepat banget ngga gue kan hampir tiap bulan sama lo, baru sekarang gue lihat lo makan es krim yang kayak gini”, balas putra yang sepertinya sangat memperhatikan secara intens gerak – gerik sahabatnya itu.


“gue awalnya emng nggak suka, tapi setelah jalan –jalan sama Maryam, ternyata enak juga es krim kayak gini itu”, jelas Rangga sambil menjilati es krim yang ada di tangan kanannya tersebut.


“iya”, jawab Rangga singkat.


“yak.. yak.. yak, udah belajar jadi ayah kayaknya nih”, Putra yang meledek Rangga dengan kata singgungnya.


“ya iyalah Put, kalau mau ibunya yang pertama itu harus memancing anaknya dulu”, ucap rangga dengan nada santainya.


”bisa aja lu bambang”, ucap Putra ngakak.


“tapi nggak sih ngga, berjodoh ataupun tidak saya gue Anala, Maryam adalah anak yang luar biasa buat gue, dia anak yang asyik di ajak berbicara dan curhat, dewasa banget yang pintar banget, nanti kapan – kapan gue ajak lu ya, pasti capek banget ngomong sama dia”, jelas rangga tentang maryam yang selalu membuatnya senang.


“nanti lu ketemu Maryam, gue ketemu sama ibunya yah”, ucap Putra, dengan spontan rangga langsung memukuli lengan berotot Putra tersebut.


“aduh sakit ngga, lah lu ketemu anaknya gue ketemu ibunya, emang apa salahnya, kita sama – sama ketemu, adil kan”, jelas Putra sambil setengah ketawa,


“ngapain lu ketemu ibunya, dia juga nggak bakal mau ketemu sama lu”, menang Rangga.


“dia belum tentu aja gue kayak gini, kalau dia tau dia bakalan milih gue, dan ninggalin lu”, ucap Putra yang tidak mau kalah.


“yang kayak gimana bagaimana sih Put?, yang playboy itu, di sepanjang jalan kalau ada cewek cantik lu minta no hp nya, nanti gue bilangin sama Anala”, balas Rangga dengan ancamannya.


“dih ngapain lu ngomongin gue sama anala, ngak usah, ngapain sih ngga”, balas Putra dengan sedikit ada nada ketakutan dengan ancaman Rangga yang barusan.


“nak kan takut kan, jadi nggak usah main – main lo sama Anala”.


“tapi Anala ada adik cewek nggak ngga, sepupu atau ada teman nya yang cantik”, Putra yang tidak bosan – bosan menjadi laki – laki pejuang perempuan entah sampai kapan.


“setahu gue Anala nggak punya saudara perempuan, tapi temannya ada sih, tapi gue takut kalau dia dekat sama lo Put, nanti anak orang bisa jadi korban ke lima puluh lima gombalan lo, kasian teman – teman dia anak – anak baik semua Put”, respon rangga.


“lu ada instagramnya nggak, kalau ada kirim gue yah link profilnya”, cengir putra yang berharap banyak supaya rangga bisa menjadi jembatan dia dengan sahabat – sahabat Anala.


“teman Anala lumayan banyak sih Put, lu lihat aja di ig nya banyak tuh, tapi jangan lu bikin dia sakit hati, nanti lu tau akibatnya, bisa diserbu gengnya lu”, jelas Rangga dengan sedikit menekankan peringatan untuk Putra.


“emangnya kenapa ngga?”, tanya penasaran putra tentang gengnya Anala.


“dulu ada diantara mereka punya pacar cowok jakarta, tapi cowok ini selingkuh, sebelum mereka mengetahui cowok ini selingkuh, mereka jadi detektif mendadak dalam waktu beberapa hari, setelah seminggu, gengnya Anala ini menyusun strategi untuk melabrak laki – laki ini di salah satu cafe di jakarta, malam itu Put, semua yang ada di cafe tersebut rusuh dengan tidak dikendalikan, tetapi pertengkaran itu hanya terjadi antara si cowok dengan selingkuhannya”, jelas Rangga, yang bisa menganggap geng perempuan tersebut geng yang lemah dan tidak tahu apa -,apa.


“gila ya, ngeri juga ngga”, balas Putra yang melihat kekompakan mereka dalam cara bersahabat, yang tidak mau melihat sahabatnya bersedih.


“lu kalau mau dekati mereka harus mikir dua kali dulu put, mereka bukan orang sembarangan, semua orang – orang pintar”, ucap jelas Rangga.