
“beneran sayang, kamu senang nggak?”, tanya Rangga lagi.
“lah sayang banget lah kang, terima kasih”, ucap Anala yang langsung menghampurkan pelukan ke Rangga.
“kang ini tuh mimpi aku dari dulu, makasih ya, udah wujudin”, ucap Anala sam bil mendongak wajag Rangga dengan penuh arti.
“Semoga semuanya berkah ya sayang”, ucap Rangg yang mencuri kecupan di kepala Anala.
Maryam yang tidak tahu dengan itu semua, memilih diam di depan televisi dengan channel kesayangnnya. Tapi bagi orang tuanya ini adalah hal yang istimewa yang tidak bisa digantikan ddengan apapun.
“kang kita berangkat kapan?”, tanya Anala.
“sabtu besok sayang”, jawab Rangga sembari menunjukka hari kebrangkatan di tiketnya.
“what.. berarti besok pagi ya kan?”, jawab Anala dengan segala keterjetuan yang tidak menyangka secepat itu untuk berangkat, dan sehari sebelum beerangkat baru di kasih tau. Bagi Anala persiapan berangkat pagi kuliah aja biasanya lebih dari dua jam untuk bersiap. Ini dia mau pergi umroh apakah butuh waktu yang lebih lama atau malah sebaliknya sebentar.
“gimana dong kang, masa saya harus siap – siap dalam waktu semalam ini, kan pusing”, terang Anala yang tampak lesu sebelum packing – packing barang untuk umroh besok.
“tenang sayang, nanti aku bantu - bantu”, jawab Rangga dengan mencubit pipi merah Anala.
“lah kamu nanti bantu – bantu bikin rusuh aja pasti kan”, ledek Anala kesal.
“lah dia nggak percaya, aku lebih jago dari kamu kalau soal packing Ann, lihat aja nanti, kalau kamu tidak percaya”, ujar Rangga yang tidak mau kalah.
Setelah sholat maghrib bersama keluarga kecil itu tampak mencari barang – barang masing – masing untuk di bawa besok, kecuali Maryam yang lebih memilih me time dengan televisinya.
“Maryam bantu uma nak, ambilkan koper kamu yang di lemari kamar kamu dong”, suruh Anala pada Maryam yang sedang berkutik dengan remote tv nya.
“iya uma”, jawab Maryam yang langsung beranjak menuju kamarnya untuk mengambil koper yang dimaksud uma nya.
“ini kan uma?”, tanya Maryam sambil mendekatkan koper tersebut di samping ibunya.
“betul, terima kasih”, ucap Anala yang sibuk mencari barang – barang yang akan dimasukkan ke dalam beberapa koper tersebut.
“uma kita mau pergi kemana?”, tanya nya penasaran dan bingung melihat banyak barang yang sedang dikemas uma nya.
“kita mau pergi umroh nak, mau ke mekah”, jelas Anala singkat.
“umroh itu apa uma?”, tanya Maryam lagi.
“umroh itu kita pergi makkah , kamu pernah lihat kan kabah, nah nanti disitu kita akan pergi nanti” jelas singkat Anala.
“oh iya, aku pernah lihat uma, senang banget uma”, ujar Maryam.
“oh ini adalah hadiah dari abah untuk kita”, tambah Anala.
“makasih abah”, ucap Maryam yang melihat Rangga di ambang pintu kamar uma nya dan memberikan pelukan terbaiknya.
“sama – sama, kamu senang nggak?”, tanya Rangga yang sedang menyeduh segelas teh hangat.
“senang banget bah, makasih baba”, ucap Maryam lagi.
“iya sayang ”, balas Rangga dengan mencium pucuk kepala gadis kecil imut tersebut.
Setelah Anala selesai berkemas, tampak Anala merebahkan dirinya sebentar di atas kasur empuknya. Menatap langit – langit kamarnya yang terang dengan pencahayaan yang maksimal.
ceklek.. ceklek..
“sudah selesai sayang?”, tanya Rangga yang tiba – tiba masuk ke dalam kamar setelah menemani Maryam belajar.
“sudah, tapi tadi orang yang ingin ngebantu packing tapi nggak ada tuh di sentuh sedikitpun pun baju – baju yang akan dikemas, kemana ya kang orang itu pergi?”, tanya Anala yang meledek Rangga yang sudah berjanji membantunya untuk berkemas tapi nyatanya itu hanya ilusi semata everybody.
“ya maaf beb, tuh channel tv bagus banget, ya lupa kan, sorry”, ungkap Rangga yang tersenyum ke arah Anala yang tengah terbaring di atas kasur.
“ada lagi nggak yang akan saya bantu?”, tanya Rangga lagi.
“udah siap kang semuanya”, ungkap Anala.
“bagus kan kayak gini, coba sebelum berangkat pagi kayak gini, kan bagus”, pernyataan Rangga siap dijawab oleh lawan bicaranya tersebut.
“maksudnya saya lambat ya kang”, tanya Anala dengan tatapan misteriusnya ke arah Rangga.
“bukan gitu, jangan marah dulu, kalau bisa siap – siap pagi kamu itu,lebih cepat dari pada biasanya kayak gini kamu siap – siap nya cepat banget ”, puji Rangga dengan sigap mengambil posisi berdiri dengan seimbang kalau musuh di depan berbuat hal – hal yang sama sekali tidak dia duga.
“oh kamu nggak ikhlas nungguin aku pagi – pagi, karena aku lambat”, ungkap Anala sambil melemparkan guling ke arah Rangga yang tengah cekikikan melihat kekesalan Anala yang tidak mau disebut lambat.
Di sepertiga malam Rangga mencoba melawan cobaan terberat itu dengan memaksa matanya untuk terbuka dan mencoba memaksa kaki untuk melangkah ke rah kamar mandi. Begitu pun dengan Anala yang dipaksa Rangga untuk dibangunkan supaya bergegas mengambil wudhu, sebelum adzan sholat subuh berkumandang.
“assalamualaikum”, “assalamualaikum”
Rangga dan Anala selesai melawan godaan setan pagi itu sampai di ujung sholat mereka. Setelah selesai sholat Rangga nampak memimpin doa dengan khusyuk dan Anala sebagai makmum mengaminkan doa – doa yang dibacakan Rangga dengan khidmat tersebut.
................. selamat pagi ........................
“ayok nak, cepetan mandinya”, teriak Anala di luar kamar mandi Maryam yang tengah asyik bermain dengan mainannya di kamar mandi.
“iya , iya uma, ini udah selesai”, jawab Maryam yang masih dengan bunyi air shower masih menyala.
“cepetan”, nyinyir Anala lagi.
“iya, iya udah selesai”, jawab Maryam yang sudah berdiri di bibir pintu kamar mandinya itu.
Dengan cekatan Anala menyiapkan baju dan segala keperluan Maryam. Karena beberapa jam lagi mereka akan berangkat ke bandara untuk berangkat umroh dengan tim lainnya.
“kang, kopernya sudah selesai?”, tanya Anala yang masih fokus memasangkan jilbab Maryam.
“udah beres sayang”, jawab Rangga yang berkedip ke arah Anala dan Maryam.
“oh ya nanti mobil akang, Putra yang bawa pulang, kayaknya dia berangkat ke bandara juga sama temannya”, ungkap Rangga sambil melihat pesan yang ada di handphone nya.
“aduh baik banget Putra”, ucap Anala yang langsung menyambar tasnya di atas lemari samping tempat tidurnya tersebut.
“ayok berangkat, kita baca doa dulu nak”, ucap Rangga ke arah Maryam yang duduk di samping kursi kemudi Rangga tersebut.
“ok abah”, jawab Maryam yang langsung menadahkan kedua telapak tangannya.
Mobil yang ditumpangi mereka segera menuju bandara dengan kecepatan dan tenang Rangga mengemudikan mobilnya tersebut.