
Bahagia yang pernah ada tidak akan bisa tergantikan dengan bahagia yang lain yang, dan bahagia yang ada seakan pudar bersama dengan luka yang datang bersamaan, begitulah Tuhan mengaduk hati manusia agar tidak semua fokusnya terpaling hanya untuk dunia semata, ada hal yang harus yang diutamakan dari segala rasa dunia, dari dunia itu sendiri.
siang jumat sekitar jam dua siang itu, Anala datang ke rumah sakit setelah pagi kemarin dapat ancaman dari orang yang membuatnya deg deg ann itu, ya Rangga yang menyuruh Anala untuk melakukan rontgen mengenai penyakit perut yang dialaminya, jika Anal tidak mematuhi apa yang disuruh rangga dia tau apa yang harus dia terima dan konsekuensinya.
“selamat siang dok, mbak anala dok katanya mau ketemu sama dokter”, sapa perawat yang masuk keruangan Rangga yang memberitahu tentang adanya tamu spesial hari ini.
“oh ya suruh masuk aja, kebetulan pasien saya juga nggak ada nih”, jawab Rangga datar.
Tapi apa yang di wajahnya bertolak belakang dengan hatinya yang sedang berbunga-bungan dengan kedatang manusia yang dia inginkan.
“assalamualaikum dok”, sapa Anala senyum memasuki ruangan rangga.
“waalaikumsalam Ann, pagi”, sapa Rangga sambil tersenyum lima jari yang membuat gigi putihnya terlihat sempurna
“mau periksa apa mbak?”, tanya ledek Rangga pada Anala.
“hmmm”, respon Anala yang dengan muka cemberut nya.
“berhubung saya suruh kamu datang pagi dan kamu datangnya siang, saya suruh kamu kesini dokter spesialis penyakit dalamnya lagi istirahat, dan kebetulan juga saya nggak ada pasien saya suruh kamu kesini”, jelas rangga sambil menatap fokus pada mata coklat Anala.
“ya maaf tadi pagi ada kendala, jadi ya siang deh dok”, jelas Anala.
“kan saya udah wa dokter kan?”, tanya Anala yang memastikan,
“ya memang kamu beritahu saya, tapi kan harus tanggung konsekuensinya ya, kamu harus nunggu bentar lagi”, jelas rangga.
Di ruangan kerja Rangga tampak di dinding yang didominasi dengan warna cream tersebut terpampang foto Rangga bersama keluarga dan para sahabatnya dan juga dinding tersebut tempat dokumentasi saksi bisu bagaimana Rangga dalam meraih mimpi dan juga menciptakan berbagai prestasi yang luar biasa, di sana juga ada foto Rangga yang mengunjungi beberapa negara di benua biru tersebut, dan bertemu dengan orang –orang penting tanah air dan juga tokoh – tokoh dunia lainnya.
“Ann, kamu kok ngelihat foto-foto tersebut kayak fokus banget sih, ada apa Ann”, tanya Rangga bingung yang melihat Anala begitu fokus melihat fotonya.
“wow masyaallah, keren banget dok, banyak dokumentasi- dokumentasi kerennya, keren”, puji Anala yang melihat foto-foto tersebut.
“sebenarnya ada foto yang ingin aku letakkan di sana Ann”, ulas Rangga yang tidak dihiraukan Anala karena tidak puas melihat foto-foto di dinding tersebut.
“ada apa dok?”, tanya Anala lagi, “nggak ada apa apa”, jawab Rangga kesal.
Apakah itu foto Rangga dengan Anala dan juga Maryam.
“dok saya mau nanya?”, tanya Anala fokus.
yang membuat Rangga deg deg ann, ‘apakah Anala akan menanyakan hal yang serius tentang niat aku tadi malam?’, batin Rangga.
“dok dok”, sapa Anala yang melambaikan telapak tangannya tepat dimuka Rangga karena Anala melihat Rangga melamun.
“ya ada apa, kamu tadi maun nanya apa Ann?”, tanya Rangga yang sudah mengembalikan rohnya yang barusan hilang.
“dok, apakah dokter yang akan saya temui itu sudah kembali ke ruangan kerjanya?”, tanya Anala memelas.
“apaan sih dok, saya sakit perut bukannya sakit jantung dok”, balas Anala.
“kayaknya udah masuk Ann, ayok saya antar”, ajak Rangga yang mengantarkan Anala ke ruang dokter tersebut.
Lebih dari lima belas menit Anala di dalam ruangan tersebut, akhirnya keluar dan ternyata ada Rangga di ruang tunggu pasien, karena jam kerja Rangga sudah habis bukannya dia pulang tetapi dia lebih memilih menunggu Anala selesai dari pemeriksaan nya.
“gimana Ann?”, tanya Rangga yang berjalan disamping Anala menuju tempat pengambilan obat.
“ya maag biasa aja dok”, jawab Anala datar sambil melihat handphonenya.
“maag kamu bilang biasa Ann, kalau dibiarkan bisa serius loh Ann”, jawab Rangga dengan nada sedikit tinggi dari biasanya, yang pastinya karena Rangga cemas, orang yang dia sayang terkena sesuatu yang buruk.
“kamu sering nunda-nunda makan ya Ann, jawab jujur?”, tanya Rangga serius.
“ya, saya jawab jujur, kemarin saya ingin diet, makan pun sekali sehari saya lupa bahwa saya punya penyakit maag”, jawab jujur Anala.
“kan, untuk apa sih Ann, diet-diet kalau hanya mendatangkan penyakit, nggak usah lah”, pinta Rangga.
“besok – besok saya nggak mau diet- diet lagi deh”, sesal Anala, “untuk apa diet-diet , kalau kayak gini aja udah cantik banget”, tambah Rangga, yang membuat Anala tidak nyaman dan jiwa usilnya datang, Anala menginjak sepatu kulit warna hitam Rangga tersebut dan Anala berlari ke arah mobilnya yang ada di parkiran, Rangga yang tidak mau kalah mengejar Anala tapi sayang Anala sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
“Ann, buka, Ann buka dong”, pinta Rangga yang beberapa kali mengetuk kaca mobil Anala,”ya ada apa, kamu sih suka banget buat saya kesal”, jawab Anala.
“nanti jangan lupa makan, jangan terlambat makan, percuma dong dokter tapi nggak memperhatikan kesehatan”, suruh Rangga.
“emang dokter nggak boleh sakit ya”, tambah Anala yang tidak mau kalah.
“tolong lah Ann, kalau diberitahu kebenaran itu jangan menjawab dan mencela” pinta Rangga dengan muka datarnya.
“ya maaf, maaf dokter Rangga terhormat”, jawab Anala yang membuat Rangga geleng-geleng.
“kamu udah makan siang?, kita makan dulu yah tuh di rumah makan padang depan itu”, ajak Rangga.
“terima kasih dok, bukannya saya menolak tapi saya ada urusan setelah ini dok, maaf ya, lain kali kita makan di sana yah”, jelas Anala yang tidak bisa pergi makan bersama Rangga.
“ya udah nggak apa – apa, mau es krim nggak?”, tanya Rangga sambil meledek Anala dengan es krim ciri khas Maryam tersebut.
“nggak ah, yang lain lah masa es krim mulu”, jawab Anala.
”kalau kamu nggak mau es krim mau apa, mas kawin?”, tanya Rangga lagi sambil senyum indah itu terukir di wajah dinginnya itu.
“apaan sih, minggir saya mau pergi dok”, jawab Anala kesal dan mau buru –buru pergi dari dokter usil itu.
‘tet..tet’,
begitu bunyi klakson Anala yang sudah pergi dari hadapan Rangga dan melesat begitu cepat, Rangga yang menyaksikan kepergian Anala dan mobilnya sampai ke ujung jalan tersebut merasa bahagia hari ini karena bisa bertemu dengan orang yang dia suka, walaupun Anala tidak pernah membalas satu pun kata – kata usil Rangga, itulah yang menyebabkan Rangga mempunyai hobi baru yaitu menggoda Anala.