
Perjalan yang sangat berarti ini adalah perjalan terjauh dan paling di kenang sejauh anala dan Rangga menikah. Mungkin bagi Anala dan Rangga ini merupakan pengalaman untuk beberapa kali naik pesawat. tapi berbeda dengan Maryam ini merupakan perjalan pertamanya naik pesawat bersama kedua orang yang dia sayang.
Seulas senyum rahasia itu muncul dari lirih mata Maryam yang melihat penerbangan pertama ini baginya, lama Maryam memandang tempat yang ditinggalnya, ketika pesawat berangsur semakin jauh terbang di antara awan.
Begitu pun dengan Anala yang tidak percaya dengan semua ini. Apa yang di hadiahi Rangga adalah hal sangat – sangat berarti baginya. Dijadikan ratu seorang raja, siapa yang akan menolak. Mungkin rasa itu yang ada di hati Anala, walaupun tiada seorang pun yang bisa mencuri ucapan hatinya itu.
“uma lihat elang itu, dia kalah tinggi sama pesawat ini”, ucap Maryam sambil menunjuk ke arah luar kaca jendela pesawat kebanggan indonesia tersebut.
“iya nak, dia kalah tinggi tapi dia lebih lama berada di atas awan dari pada kita”, balas Anala dengan senyum yang teruntai diantara susunan gigi rapinya.
“uma, kenapa hanya laut yang kita lihat?”, tanya Maryam yang masih mengetahui bahwa lebih lima puluh persen permukaan bumi adalah lautan.
“ya nak, karena laut lah yang paling luas dari tanah yang sering kita pijak”, jelas Anala.
“hmmm”, jawab Maryam seolah mengerti terhadap apa yang dijelaskan ibunya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sepuluh jam menggunakan pesawat, akhirnya rombongan umaroh tersebut sudah tiba di bandara pangeran mohamed bin king abdul aziz, Madinah. Dengan kalimat syukur kian bergema di dalam pesawat setelah katan penyambutan dan selamat datang di ucapkan oleh sang captain pilot. Begitu pun dengan Anala yang tidak kalah excited dengan melihat pemandangan keluar jendela pesawat, bahwa sekarang dia tidak lagi berada di bumi nusantara, melainkan sudah berada di Madinah. Kota kebanggaan umat muslim tersebut terasa nyaman untuk Anala, dan begitu bisa menghipnotisnya dari segala masalah yang terjadi sebelumnya.
“sayang, apa yang kamu pikirkan?”, tanya Rangga yang seketika memecahkan lamunan Anala.
“oh iya kang, aku sedikit haru aja, tapi banyak senangnya kang, makasih”, ucap lirih Anala yang menggenggam telapak suaminya itu dengan erat.
....... so sweet .....
Ketika semua rombongan umroh lainnya berkumpul di bandara, semuanya di arahkan menuju hotel untuk istirahat karena besok mereka akan melakukan perjalanan yang di
Kota Madinah kota Makkah pada hari kiamat adalah dua kota yang Allah haramkan untuk dajjal memasukinya. Dan Kota Madinah adalah juga kota hijrah nabi Muhammad Saw.
..............
Anala dan Rangga beserta Maryam sekarang sudah berada di dalam hotel untuk mereka menginap sebelum mereka berangkat ke Makkah untuk melakukan rentetan tahap – tahap ibadah Umroh.
“uma, kenapa kita harus pergi ke Makkah kita bisa pergi ke negara lain kan, kenapa harus ke Makkah?”, tanya Maryam yang masih penasaran terlalu dengan alasan mengan harus Makkah kenapa tidak ke negara lain.
“nak. kota Makkah adalah kota kelahiran para nabi, termasuk nabi Muhammad Saw, dan kota Makkah adalah tempatnya ka’bah yaitu arah kiblat kita ketika sholat harus menghadap ke ka’bah, dan juga untuk semua umat Muslim yang ada di bumi ini”, jelas panjang Anala.
“jadi kalau kamu ada rezeki lebih nanti, sering – sering lah pergi ke Makkah”, tambah Anala lagi.
Setelah beberapa hari di Madinah, akhirnya rombongan berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan puncak dan juga tahap – tahap ibadah umroh lainnya. Bus yang mengantar mereka di penuhi olah orang – orang Indonesia. Tidak ada sedikitpun bagi mereka untuk kesulitan dalam berkomunikasi antar sesama. Canda dan tawa kadang terdengar silih berganti dari orang – orang Indonesia yang ada di sana.
“itu pohon kurma nak, kamu suka kurma kan, nah itu pohonnya ”, tunjuk Anala pada salah satu pohon kurma yang sudah mereka lewati.
Jarak hotel mereka dan Masjidil Haram tidak begitu jauh, jadi setelah sampai di hotel, Anala dan Rangga berdiri di tepi dinding kaca hotel tersebut sambil memandang jauh ke arah bangunan kubus berselimut kain hitam itu. Terisak tangis yang dari tadi sudah susah payah Anala menahannya.
“kamu kenapa sayang?”, tanya Rangga sambil menatap inti mata sang bidadari yang ada disampingnya tersebut.
“bahagia kang”, jawab singkat Anala sambil menghapus air mata yang tersisa dengan ujung jilbabnya.
“kang, makasih ya atas semuanya”, tatapnya sendu ke rah Rangga yang tidak bergeming sedikit pun.
“kang, makasih”, sekali Anala mencoba memudarkan lamunan Rangga.
“oh iya, seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih pada kamu sayang, sudah membawa kebahagiaan yang sungguh besar bagi hidup saya, dan juga Maryam”, balas Rangga mereka berdua serentak melihat ke arah belakang, karena tidak mendengar ocehan Maryam dari tadi.
“oh tertidur rupanya”, ucap mereka serentak.
“oh ya sayang , nanti di akhir rangkaian umroh, akang mau botakin kepala, bagus nggak?”, tanya Rangga sambil meraba rambut hitam pekat yang klimis itu di atas kepalanya.
“boleh kok, malah bagus bangat, akang mau botak atau nggak, saya tetap sayang”, balas Anala dengan sedikit gombalan mautnya yang membuat Rangga sedikit tersipu malu mendengarnya.
Malam hari sebelum sholat isya mereka makan malam bersama jemaah lainnya, ada banyak hidangan makanan yang ada di sana. Ada salah satu jemaa di sana menyahut kepada jemaah lainnya.
“nggak ada sambel terasi nih?”, tanya nya yang mengundang tawa dari jemaah lain.
“nggak pak, soalnya ini kita di Arab bukan di bekasi”, sahut yang lain sambil bercanda.
Malam ini adalah cuaca Makkah sangat tenang, mereka sholat tepat di depan ka’bah sampai selesai, setelah itu mereka memilih untuk diam di sana sambil membaca Al-Quran dan berdzikir. Maryam si anak kecil itu pun tidak ketinggalan belajar mengaji di sana bersama uma dan abahnya.
Pemandangan indah yang bisa dilihat dari orang bertiga tersebut, sambil mengajarkan anaknya membaca Al-Quran dan juga saling memberikan ilmu yang mereka punya massing – masing.
“enak ya suasana Makkah malam ini sayang”, ucap Rangga sambil melihat ke arah langit makkah tersebut.
“iya kang, adem banget, tenang, nggak ada loh tempat yang bisa membuat kita setengah ini, dan sebahagia ini”, tambah Anala.
Setelah pulang ke hotel, ternyata ketenangan itu kembali memanggil Anala dan Rangga untuk kembali ke depan ka’bah di tengah malam gulita itu. Tapi di sana malam pukul dua dini hari sama seperti waktu sholat subuh. Rame banget. Karena mereka kesana bukan untuk tidur di malam hari, akan tetapi berlomba – lomba untuk beribadah.