
Maryam yang sibuk membantu Anala dan juga Rangga memindahkan barang Rangga ke dalam mobil tampak kelelahan. Mereka tampak sebagai keluarga yang sedang bergotong royong.
“uma ini berat banget”, ucap Maryam yang sedang mengangkut tas besar berkulit asli tersebut.
“itu kamu nggak akan kuat nak, nanti abah aja yang ngangkatnya”, ucap Anala. For you information Maryam sebelum Anala menikah dengan Rangga, Maryam sudah merubah panggilannya ke Rangga dengan sebutan abah.
“sudah selesai semuanya?”, tanya Anala pada Rangga yang tampak seperti bertepuk tangan untuk menandakan pekerjaannya selesai.
“udah, ayok kita pulang”, ajak Rangga.
“Maryam, ayok pulang”, Anala memanggil Maryam yang tidak ada di hadapannya, ternyata Maryam sedang asyik melihat ikan – ikan hias Rangga yang sedang berenang kegirangan.
“astagfirullah saya lupa ikan ini masa ditinggal disini, nanti siapa yang ngasih dia makan, gimana Ann”, tanya Rangga.
“masukin aja ikan itu ke dalam plastik dulu, di rumah ada aquarium kosong kok”, jelas Anala .
Semua barang keperluan Rangga sudah dia masukkan ke dalam mobil dan juga binatang peliharaannya tersebut, walaupun ada barang – barang yang tidak begitu dibutuhkan, Rangga memilih untuk ditinggalkan saja di rumahnya tersebut. Rumah itu bukan dia akan tinggalkan selamanya, karena rumah itu tidak akan dijual Rangga.
“assalamualaikum”, ucap Rangga memasuki rumah Anala.
“waalaikumsalam”, ucap Maryam duluan.
“waalaikumsalam ”, lanjut Anala.
Anala tampak fokus mencari spot – spot yang bagus untuk Anala menaruh barang Rangga, agar tidak kelihatan berantakan dan berserakan. Maryam yang dari tadi hanya fokus dengan ikan Rangga, tidak ambil pusing dengan kesibukan ibu dan abahnya tersebut.
“Ann, ini saya ada bawa peralatan gym, dimana ya tempatnya?”, tanya Rangga sambil memegang barbel yang ada ditangannya.
“barbel, ngapain bawa barbel segala kang, disini kalau barbel ada juga atuh”, ucap Anala.
“ya kan nggak tau, tapi dari pada ngangkat barbel, ngangkat kamu baru kerasa kayaknya nggak sih”, ucap Rangga sambil meletakkan barbelnya di sembarang tempat.
“kang, jangan disitu, nanti kesandung”, teriak Anala, dan Rangga memindahkan ke sudut kamar itu.
“jangan disitu kang, nanti bahaya”, ucap Anala tanpa memberikan alasan yang jelas.
“aduh repot deh perempuan”, ucap Rangga sedikit berbisik.
Yang sabar dokter Rangga, perempuan memang kayak gitu.
Perasaaan yang dulu sepi, sekarang sudah berpenghuni. Mungkin itu yang menggambarkan perasaan dan susana hati Anala saat ini. Dulu rumah adalah tempat pulang untuk beristirahat, sekarang rumah adalah tempat pulang sekaligus tempat berkeluh kesah dan melepaskan penat setelah seharian bekerja, dan mungkin itulah yang menggambarkan situasi Rangga saat ini.
“Ann, aku masih nggak percaya lo Ann, udah jadi suami orang sekarang”, ucap Rangga sambil tiduran di atas sofa.
“udah mau dua hari lo kang, masih nggak percaya juga rasanya kayak mau jadi anak bujang aja?”, ledek Anala.
“bukan gitu juga, jalan hidup yang tidak di duga sebelumnya?”, jelas Rangga.
“kang, kemarin saya ketemu Anya lo”, ucap Anala sambil membersihkan sisa-sisa beres – beresnya tadi.
“dia buat apa sama kamu?”, tanya rangga yang merubah ekspresinya ketika nama Anya disebut Anala.
“nggak ada apa- apa kok, dia ngucapin selamat aja, atas pernikahan kita”, jawab Anala.
“nggak usah di dengerin tuh si Anya ya Ann, nanti kamu pusing”, pinta Rangga.
“nggak ah, itu penilaian kamu aja, mana mungkin dia suka sama saya, apalagi sekarang saya sudah menjadi suami orang”, jelas Rangga sambil melihat notifikasi handphonenya.
“nggak ada salahnya kan kang, perempuan nggak boleh nikah lebih dari satu dalam satu masa sekaligus, laki – laki boleh”, lantang Anala.
“apaan sih Ann, nggak lucu”, ucap Rangga. Terlalu muda untuk usia pernikahan mereka membahas tentang masalah poligami, masa iya baru kemarin nikah. udah poligami aja.
Sontak kamar mereka hening sesaat dengan pembahasan panas barusan.
“Ann, kalau akang boleh minta, nggak mau poligami, cukup fokus pada satu wanita aja, ini satu juga belum tentu membimbing dengan baik, mana minta dua sekaligus, bisa stress nanti akang Ann”, ucap Rangga, meleburkan suasana malam itu.
“kalau akang minta poligami pun suatu saat nanti, aku berpikir – pikir dulu kang, dari pada terjadi fitnah lebih baik nikah aja kan”, ujar Anala dengan santainya, tapi tidak dengan hati Rangga.
“emang poligami itu boleh, tapi kalau tidak mampu lebih baik jangan, yah kan?”, jelas Rangga yang sudah tidak selesa dengan topik pembahasan mereka tersebut.
“iya, betul itu kang”, jawab Anala dengan tidak ada penyanggahan lebih.
“Ann, minggu depan wisuda kan?”, tanya Rangga fokus menatap wajah Anala. “iya, akang mau ngasih hadiah apa?”, Anala langsung menanyakan hadiah to the point pada Rangga diiring dengan senyuman yang penuh pengharapannya itu.
“kamu mau apa?”, tanya Rangga dengan menantang.
“mau sebongkah berlian, boleh?”, jawab Anala dengan penuh canda tawa.
“lebih dari itu, saya bisa kasih Ann, kamu mau apa lagi?”, tantang Rangga.
“nggak saya nggak minta apa – apa kang, saya cuma minta akang ada di hari wisuda saya, itu aja kok, itu sudah sangat bahagia bagi saya”, pinta Anala dengan lembut kepada suaminya tersebut.
Rangga yang mendengar jawaban istrinya itu, tampak tidak berkedip sedikit pun memandang perempuan yang ada di depannya itu.
“iya sayang , aku akan selalu ada dalam setiap moment – moment hidup kamu”, ucap Rangga yang langsung menghamburkan pelukan untuk istrinya tersebut.
cie.. cie.cie.
Matahari pagi dengan gembira memamerkan cahaya nan indah yang hangat kembali muncul di balik gunung dengan sedikit kabut dan angin sepoi – sepoi nya di pagi itu. Anala yang sibuk dengan mempersiapkan sarapan untuk dua orang istimewanya dengan senang hati. Apalagi sekarang sumber kebahagiaannya bertambah dengan kehadiran orang baru di rumah mereka.
“uma, hari ini sarapan apa”, teriak maryam dari ruang tamu yang tali sepatu yang tidak kelar – kelar itu.
“hari ini kita sarapan dengan nugget dan roti bakar nak, are you like this?”, tanya Anala sedang mengaduk susu formula kesukaan Maryam,
“enak banget kedengarannya”, ucap Rangga yang sedang bersiap - siap berangkat kerja.
“Hari ini kamu dianter abah ya nak, uma nggak bisa”, ucap Anala pada Maryam yang sedang menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh ibunya tersebut.
“okey, baik uma”, jawabnya sambil tersenyum.
“tiap pagi sama abah aja yah, uma sibuk, katanya mau jadi dokter juga nak”, sambung Rangga menggigit roti bakar buatan istrinya itu.
“beneran uma, mau jadi dokter?”, tanya Maryam.
“insyaallah nak, doakan uma yah, bisa jadi dokter supaya bisa mengobati orang – orang yang sedang sakit menjadi sembuh dan sehat”, jelas Anala.
“kalau gitu aku mau jadi dokter juga uma, abah”, ucap Maryam.