Analaa

Analaa
hari wisuda Anala



anala yang tidak punya kesiapan dengan pidato yang akan disampaikan dengan gugup Anala menatap handphone nya, sepertinya sedang mencari pencerahan materi, tapi hal itu sepertinya mustahil. Karena sebentar lagi Anala akan di panggil ke atas panggung , karena temannya dari jurusan lain sudah mulai menutup pidatonya.


“gimana ini angel?”, tanya Anala sambil meremas tepi kerudungnya sambil komat kamit.


“nggak apa – apa Ann, santai aja sis”, ucap angel dengan tujuan supaya Anala tenang dengan suasananya sekarang.


“nggak bisa tenang angel, lah kenapa mendadak banget sih, gue kan gugup gini, mana banyak banget lagi yang lihat, kalau salah – salah nanti gimana, kan malu”, jelas Anala panjang lebar.


‘kepada saudari Anala fatihah, dari jurusan kedokteran dengan predikat cumlaude, silahkan menuju panggung untuk menyampaikan pidato singkatnya’, ucap MC dengan lantang menyebut nama Anala di sambut dengan tepuk tangan yang riuh oleh orang yang ada di sana.


Anala sebenarnya tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, karena ini hal – hal yang sangat mendesak, apalagi ini hal yang penting yang akan menaruhkan nama baiknya, terhdap apa yang disampaikan.


Dengan langkah penuh semangat yang di bentuk oleh dukungan teman – teman yang ada di sana. Anala berdiri tegap dengan menghadap ke arah tribun, sambil tangan kanannya memegang gagang mic dan memulainya dengan berdoa dalam hati.


“assalamualaikum dan selamat pagi untuk semua hadirin yang hadir di sini”, sapa Anala sambil melambaikan tangannya kepada orang yang sekarang membuat kegugupannya itu bertambah.


‘Anala ayok, kamu bisa, masa kayak gini doang kamu nggak bisa, gimana mau lanjut s2 nanti Anala’, batin Anala membisikkan semangat untuk hatinya sendiri. Karena orang yang sering membisikkan semangat selain orang tua nya berada di luar kampus, karena kuota untuk masing – masing peserta wisuda hanya dua orang, Anala dan Rangga memutuskan orang tua Anala lah yang masuk.


“Ann, kamu bisa”, sekali lagi ayah Anala berteriak di atas tribun untuk memberikan semangat pada anaknya itu.


Anala mulai mengumpulkan puing –puing lego semangat itu dengan sempurna. Akhirnya.


“perkenalkan saya Anala, saya anak dari bapak Ridwan fatihah dan ibu Rania”, tunjuknya dengan semangat ke arah ayah dan mamanya dengan senyum yang merekah di bibirnya, disambung dengan keriuhan bunyi tepuk tangan yang ada di sana.


“saya baru berumur dua puluh empat tahun bulan depan’, ucap nya.


Dengan tidak percaya, orang yang hadir di sana bertanya – tanya, “masa sih dua puluh empat, seperti tujuh belasan”, ucap orang – orang tersebut.


“saya sudah menikah dua kali, dan saya sudah punya seorang putri”, ucapnya lagi, yang tambah membuat orang – orang di sana semakin tidak percaya.


“saya menikah di kala umur saya jalan dua puluh, dan setelah sembilan menikah , suami saya meninggal kan saya dan anak saya saat itu”, jelas Anala sambil matanya memerah.


“dan sekarang saya sudah menemukan jodoh yang Allah takdirkan untuk kali kedua itu baru dua minggu”, tambah Anala.


Entah kenapa Rangga dan Maryam bisa ada di dalam sana, dengan langkah tegap dan gagah perkasanya Rangga berjalan menuju mimbar Anala berbicara, sambil tangan kanannya Rangga membimbing tangan Maryam.


“uma”, teriak Maryam.


Sontak panggilan itu membuat Anala terkejut dengan adanya panggilan yang tidak asing baginya, karena setiap harinya mendengar panggilan itu.


“iya” balas Anala dengan seperti tidak percaya di hampiri oleh orang yang dia sayang tersebut. Semua orang melihat apa yang sedang Anala lihat.


kira – kira apa yang dilihat orang – orang di sana?


Yah. Pesona Rangga lah yang menjadi pusat perhatian. lagi, lagi dan lagi.


“ganteng banget suami orang”, ucap perempuan yang di belakang angel.


“hush, itu suami teman gue, jangan lu aneh – aneh ya”, somasi Angel untuk perempuan itu.


Untuk pertama kali Anala memperkenalkan Anak dan suaminya tersebut d depan umum.


“perkenalkan ini suami saya dokter Rangga, dan ini anak saya Maryam”, ucap Anala sambil memegang tangan kedua orang yang baru saja datang tersebut.


“mereka adalah segalanya bagi saya, seorang perempuan yang sudah menikah itu tidak gampang ketika dia juga sedang menempuh masa kuliah, harus memecah konsentrasi dan juga waktu untuk keluarga dan juga kuliah, inilah yang saya lakukan empat tahun belakangan”, ucap Anala, dengan tepuk tangan yang tidak berhenti berbunyi seorang dia berbicara di depan.


“dan saya pun tidak percaya dengan predikat cumlaude yang saya dapatkan ini, dan suami saya sangat berperan besar dengan apa yang telah saya dapatkan ini, kebetulan dia juga seorang dokter, jadi dia seperti pembimbing saya di rumah’, ucap Anala sambil melirik Rangga yang senyum melihat Anala.


“ganteng, banget”, teriakan seseorang dari atas sana.


“mbak, ini suami saya”, ucap Anala sambil tersenyum namun bermakna dalam. Bisa – bisa rasa cemburu itu datang di tempat keramaian itu.


“terima kasih juga untuk semua dosen dan teman – teman Anala yang mendukung Anala dari awal kuliah sampai detik ini”, ucap Rangga sambil merebut gagang mic tersebut dari Anala.


Rangga oh Rangga. Magnet perempuan yang tidak membosankan. Tapi dari tadi ada seorang perempuan yang menahan rasa cemburu ketika melihat suaminya tersebut yang selalu orang sekitar.


“saya semangat kuliah pun kerena ini adalah cita – cita orang tua say, menjadi dokter adalah sesuatu hal yang mulia, dan mengabdi di profesi ini adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan nanti, karena ini takdir mana jaga takdir ini dengan baik, jangan di ukur sesuatu itu dengan uang, tetapi ukur lah dengan kepuasan yang di dapatkan orang yang kita layani dengan sempurna”, ucap Anala dengan lantang.


“wow,, wow,, wow, semangat Anala we love you”, ucap semua yang ada di sana dengan teriakan.


“perjuangan ini tidak akan berhenti sampai di sini, kalau ada kesempatan dan peluang saya akan melanjutkan untuk menambah ilmu saya mengenai ilmu kedokteran ini, doakan semoga saya bisa menjadi dokter yang tidak pandang buluh dalam mengobati orang yang sakit, dan selalu bisa memberikan layanan yang terbaik untuk pasien saya nantinya”, mohon doa Anala yang langsung di amin kan audien nya.


“amin”, balas audien tersebut.


“itulah yang dapat saya sampaikan, kalau ada salah kata mohon di maafkan, assalamualaikum ”, ucap Anala sambil melambaikan kembali tangan kananya tersebut.


................


Foto bersama


...............


Keriuhan pun tak kalah berisiknya di bandingkan saat di dalam tadi, sesi foto adalah hal yang tidak dapat ditinggalkan dari hari wisuda, karena hal ini akan menjadi momen yang tidak akan pernah terulang lagi, perlu untuk mendokumentasikan lewat lensa kamera melalui percetakannya.


“uma, disini”, panggil maryam yang pura – pura tahu dengan Angel tepat mengenai posisi berdiri.


“nak kamu disini”, tunjuk Anala yang menyuruhnya duduk di atas kursi di depan seorang orang yang ikut berfoto.


“cek rek.. cek rek.. cek rek”.


Beberapa foto dengan hasil yang bagus sudah di simpan, dan menunggu hasilnya .


Hari sudah mulai sore, akhirnya mereka akan menuju pulang, karena jalanan sebentar lagi akan mengalami kemacetan parah.


Wajah sumringah dan lelah kini terpancar di wajah Anala, hari ini adalah hari yang dinanti dengan perjuangan dan juga masalah – masalah yang ada di dalamnya.


“capek?”, tanya Rangga yang sama – sama merebahkan tubuh mereka di sofa depan tv.


“capek banget kang, kamu capek?”, tanya Anala ke arah Rangga.


“aku sih nggak capek, capek aku hilang kalau sudah lihat kamu”, goda Rangga pada Anala yang memukul lengannya dengan lembut.


“bisa aja kamu kang”, imbuh Anala.


“malam ini kamu mau dimasakin apa kang?”, tanya Anala yang sudah bersiap – siap ke dapur.


“nggak usah sayang, sayang sudah pesan makanan lewat online”, ucap Rangga sambil menguap dan membaringkan tubuh tinggi nya tersebut di sofa itu


“oh ya, terima kasih kang”, ucap Anala yang langsung memeluk Rangga dari depan.


Ada anak kecil yang cemburu melihat kemesraan dua orang dewasa yang ada di depan matanya tersebut.


“uma, abah, laper”, ucap Maryam sambil memegang perutnya. Sontak Anala dan Rangga melihat ke sumber suara.


“sebentar nak, nanti makanannya sebentar sampai sayang”, ucapnya serentak


........................................ 


Jadilah perempuan perempuan berilmu


Maka kecil kemungkinan ada laki -laki yang membodoh- bodohi kita


........................................