Analaa

Analaa
lamaran?



Putra si pencari cinta, sepertinya harus bersabar dengan petualang tersebut, pasalnya wanita – wanita yang ada di sana semuanya sangat tertutup dengan masalah percintaan mereka, apalagi dengan Putri, Anala saja teman dekat Putri tidak tahu begitu jauh tentang masalah percintaan Putri, tapi Anala tidak pernah memaksa Putri untuk bercerita, Anala sangat menghargai privasi sahabatnya tersebut sampai Putri sendirilah yang berinisiatif untuk bercerita tentang kisahnya.


Anala yang merasa suasana tersebut hening, melontarkan pertanyaan yang mengejutkan bagi Rangga.


“dok, kemarin ditanyain mama”, sontak semuanya mata tertuju pada Rangga yang sedang asyik menikmati makanan ang dihidangkan Anala.


“apa, mama nanyain saya?”, tanya Rangga memastikan.


“iya, kapan dokter datang ke rumah?, mungkin mama ingin kenal aja”, jelas Anala.


“cieeeee, ngga, lampu abu – abu nih”, ledek Putra, “lampu hijau”, serentak Diana dan Putri meluruskan joke Putra, dan semua mereka tertawa, berbeda halnya dengan rangga, yang bingung mau menjawab apa pertanyaan Anala barusan.


“hmmm, kapan ya Ann, minggu depan ya Ann, saya sama mama datang ke rumah kamu”, jelas Rangga yang menentukan sendiri hari untuk dia memulai sesuatu yang serius tersebut.


Putra yang tengah bersiap membuat suatu hal yang akan mempermalukan Rangga, dicegah cepat oleh Rangga, dengan menutup mulut Putra.


“diam Put, lu jangan buat malu gue lagi yah, sudahlah Put”, mohon Rangga.


“yah gitu doang takut, nanti kalau lo nggak berani datang, gue temenin lo ngga, tenang aja, nih gue teman sejati lo, selalu ada di saat lo bahagia dan juga sedih”, ucap Putra, sambil menepuk dada bidang Rangga.


“sakit Put”, ucap Rangga sambil menepis tangan Putra kesamping.


“sorry, sorry bro”, pinta Putra.


“kok kalian sweet banget sih”, tanya Diana yang sudah memperhatikan gerak gerik Rangga dan Putra sejak mereka datang tadi.


“kok dibilang sweet sih Ann, kan kayak kaum pelangi nanti, kami laki – laki tulen Di”, Putra meluruskan.


“bukan gitu, tapi kalian bersahabat sudah seperti sangat lama, dan mengerti satu sama lain, dan juga selalu ada aja tingkah yang membuat hubungan sahabat kalian itu seru aja kelihatannya”, tambah Diana lagi.


Maryam sendiri sepertinya tidak mau bergabung dengan geng – geng yang tidak seumuran dengannya, dia lebih memilih menonton tv dengan channel kesayangannya. setelah menunjukkan pukul lima sore, Rangga dan Putra sepertinya ingin izin untuk pulang duluan, karena Putra harus pulang kerumahnya setelah dari hari kemarin dia belum pulang kerumahnya, sejak tadi siang sebenarnya mama Putra sudah menelpon secara berkala menanyakan kapan dia ulang ke rumah.


Anala dan Diana nampak sibuk membungkus makanan dan ada di meja yang belum mereka habiskan untuk dibungkus dan dibawa ke rumah masing – masing, hitung – hitung sebagai penghematan biaya makan mereka selama malam ini. Sedangkan Putri asyik mengobrol kecil – kecilan dengan Rangga dan putra sebelum mereka pulang.


“oh ya Put, kamu kerja dimana?”, tanya Putri seakan membuat Pura sedikit gugup.


“oh ya put, saya kerja di perusahaan keluarga di jakarta”, jawabnya singkat tanpa menanyakan tentang Putri.


“kamu nggak nanya Putri Put?”, ledek Rangga lagi.


“oh ya kamu kerja dimana Put?”, Putra inisiatif untuk bertanya walaupun kondisi jantungnya tidak stabil.


“saya sedang magang Put, masih mahasiswi kebidanan, insyaallah bentar lagi wisuda”, jawab Putri.


“ohhh kamu calon bidan Put”, imbuh Rangga , “iya ngga”, jawab Putri.


Untuk mengatasi kegugupan hatinya, Putra memainkan handphonenya walaupun hanya menggeser ke atas dan kebawah layar handphonenya tersebut.


“Put, ayok pulang, tadi katanya lo mau pulang kan, atau...”, ajak Rangga sambil meledek, “ayok, lu jangan banyak tingkah ngga”, cetus Putra.


“kami pulang dulu Put, hey Ann, Di, kami pulang dulu yah”, kata Rangga dan sedikit meninggikan suaranya menyebut nama Diana dan Anala, kerena mereka ada di dapur.


“iya, hati – hati Put”, ucap Anala dan Diana.


“Maryam, om pulang dulu yah”, izin Rangga, tapi maryam sepertinya tidak menjawab ucapan rangga tersebut.


Rangga mengulangnya lagi, “Maryam, om Rangga sama om Putra pulang dulu ya nak”, tambah Rangga lagi, tapi hasilnya nihil.


“Maryam, maryam, ohhh”, ucap Rangga sambil menuju ke depan tv dibalik sofa tersebut, ternyata Maryam sedang mengatur ritme nafasnya dalam menata mimpi indahnya.


“haaaa”, tawa yang lain terdengar kencang.


Dua minggu telah berlalu, nanti malam adalah kunjungan Rangga dan mamanya ke rumah mama Anala, Anala yang sibuk mempersiapkan semuanya tampak sibuk di dapur dan juga dibantu oleh mamanya tersebut.


“Ann, beneran Ann, nanti kalau dia mau ngajak kamu nikah cepat gimana?”, tanya mama.


“tergantung mama sama papa lah, kalau mama dna papa izinin Ann ikut aja ma, kalau nggak boleh ya udah”, jawab Anala pasrah.


Karena sekarang setelah mantan suaminya meninggal, posisi dirinya kembali menjadi tanggung jawab orang tuanya, orang tua tahu mana yang terbaik dan yang tidak untuk dirinya.


“dia menerima kamu dan juga Maryam kan, kan kamu tidak sendiri Ann, sekarang ada anak yang harus menjadi plus tanggung jawab dia jika menikah dengan kamu, dan itu tidak mudah nak, banyak lo di luar sana ada yang ingin menikahi seorang ibu tunggal yang mempunyai anak, tapi setelah menikah dia tidak mau bertanggung jawab terhadap anak itu”, cemas mama Anala pantas terjadi setelah banyak kejadian yang dia lihat baik secara langsung maupun dari omongan dari orang lain.


“Assalamualaikum”


“waalaikumsalam”, ucap yang ada di dalam rumah tersebut, yah siapa lagi kalau bukan rombongan Rangga bersama keluarga datang ke rumah orang tua Anala.


“masuk buk, pak, duduk dulu”, semua orang bersalaman satu sama lain dengan sesama gender.


“apa kabar semuanya, “tanya mama Rangga.


“alhamdulillah sehat”, jawab mama Anala.


“oh ini yang Anala”, Anala langsung bersalaman dengan ibunya Rangga yang sebelum ini hanya mendengar nama Anala dari anaknya saja, sekarang bisa melihatnya dari dekat.


“cantik banget kamu nak”, puji mama Rangga.


“makasih tante”, ucap Anala sedikit malu.


mama Rangga juga tahu bahwa Anala sudah pernah menikah dan punya anak. Bagi sebagian besar orang tua, ketika anak mereka ingin menikah degan seorang janda, banyak yang tidak setuju dengan keputusan tersebut, berbeda dengan mamanya Rangga, dia setuju apapun keputusan anaknya tersebut, apapun yang bisa membuat dia senang, apalagi setelah melihat Anala secara langsung, mama Rangga sangat mengagumi calon menantunya tersebut.


“Ann mana Maryam?”, tanya mama Rangga, “di belakang kayaknya tante”.


Jawab Anala sambil menoleh ke arah samping kanan dan kiri tidak melihat Maryam, tiba – tiba maryam muncul dari belakang kerumunan orang tersebut dengan senyum khasnya memanggil ibunya.


“umma”, semua mata tertuju pada maryam gadis cantik, bak cinderella tersebut.


“ada om Rangga”, bisiknya pada Anala.


“hush, iya”, jawab Anala sedikit berbisik, acara perkenalan Antara dua keluarga tersebut segera dimulai atau ini akan menjadi acara lamaran sekaligus.


Di ujung acara, setelah dua keluarga suda tahu maksud masing- masing keluarga, ayah Rangga secara mengejutkan bilang.


“Anala, om sama mama dan Rangga kesini, juga ingn melamar kamu untuk Rangga, apakah kamu sudi menerima Rangga sepenuhnya dengan lebih dan kurangnya?”, tanya ayah Rangga.


Tidak hanya Rangga yang terkejut, semua orang di sana terkejut, beberapa detik suasana hening, ayah Anala menjawab.


“saya selaku ayah Anala juga mengucapkan terima kasih atas kedatangannya kesini, apakah saudara Rangga bisa menerima Anala juga dengan semua kurang dan lebihnya, Anala ada Maryam, sedangkan rangga adalah seorang anak bujang”, ucap ayah anala meyakinkan rangga tentang kondisi Anala secara terang terangan.


“insyaallah saya siap pa, apapun kondisi Anala, saya menganggap Maryam sudah seperti anak saya sendiri”, jawab Rangga dengan meyakinkan orang tua Anala.


“jika semuanya sudah serius, jangan ciptakan jarak terlalu panjang untuk hal yang tidak baik”, ucap ayah Anala. Rangga mulai mengatur ritme pernafasannya, setelah mendengar ucapan ayah Anala.


‘apakah secepat ini, saya akan menjadi suami orang’, batin Rangga yang tidak percaya dengan semua ini.


“kalau dari pihak bapak juga ingin cepat melangsung hal baik tersebut, kami juga sangat ingin melakukannya”, ucap ayah Rangga.


‘ayah yang nikah aku, kenapa nggak tanya saya dulu, main atur – atur sendiri ’, batin Rangga.


walaupun hatinya bahagia, tapi Rangga sangat gugup jika dihadapkan dengan pilihan dan keputusan besar tersebut.


“Rangga, bulan depan kamu siap nggak?”, tanya ayahnya yang membuat rangga terkejut dan berkeringat dingin.


“apaa, huh, insyaallah saya siap pa”, Rangga menarik nafas panjang untuk mengeluarkan keputusan tersebut.


“ok pak, nanti tanggalnya kita atur aja, kapan baiknya dan dimana kita adakan acara pernikahan anak kita”, tambah ayah Rangga.


“ya pak, dari pihak kami belum tahu juga tanggalnya, sama – sama kita diskusikan, semoga semuanya berjalan dengan lancar”, tambah ayah Anala.


“umma, ada apa umma”, tanya Maryam berbisik pada Anala.


Anak gadis tersebut tidak mengerti acara besar apa yang akan diadakan oleh orang dewasa – dewasa tersebut, dia tidak tahu bahwa ibunya akan dipinang oleh orang yang selama ini dia kenal baik dan akan menggantikan posisi babanya dalam keluarga kecilnya.


“nanti yah umma cerita nak, sekarang lagi ada banyak orang”, bisik Anala lagi ke arah telinga Maryam.


“ok”, jawan Maryam singkat.


“umma, kenapa om Rangga diam aja umma”, tanya Maryam polos.


“om Rangga baik – baik aja nak hush”, jawan Anala.