Analaa

Analaa
hotel



Kring..kring..,


begitulah bunyi telepon pintar yang berwarna putih milik Anala itu berbunyi.


“assalamualaikum dok”, sapa suara dari seberang sana.


“waalaikumsalam”, jawab Anala yang sudah mengantuk dengan mata yang setengah tertutup.


“dok, besok kan ada penyuluhan di hotel brilian, jadwalnya menjadi jam 7 pagi dok”, jelas perawat di seberang telepon.


“ok kak”, jawab Anala dengan mata yang sudah mulai tidak bisa di bohongi.


Anala tahu bahwa besok dia akan kembali berperang dengan waktu yang memerlukan banyak tenaga dan juga ide-ide cemerlang untuk Maryam dan pekerjaannya. Tidur. Itulah kegiatan yang tepat untuk saat ini. Belum begitu pulas tidur Anala Maryam menangis kejar di kamarnya.


“umma, aku takut”, jeritnya sambil menangis.


“kenapa?”, tanya Anala sambil membuka pintu kamar maryam dan membelai rambut hitam panjang ikal itu.


“aku mimpi umma, lihat hantu”, jelas Maryam sambil mendekap tubuh ibunya.


“nggak apa-apa nak, itu hanya mimpi kan, mimpi itu hanya imajinasi di alam tidur saja”, jelas Anala.


“imajinasi itu apa umma”, tanya gadis bijak itu, Anala yang tampak masih mengantuk harus menjelaskan sesuatu untuk anak semata wayangnya itu.


“imajinasi itu seperti kita memikirkan sesuatu, tetapi tidak terjadi di alam yang sebenarnya, biasa kok, umma juga pernah mimpi hantu”, jelas Anala.


“aku mau dekat umma aja tidur ya”, ucap Maryam pada Anala.


“ayok, besok pagi umma harus bangun pagi-pagi, karena ada kegiatan di jam tujuh pagi, kamu umma antar rumah oma yah besok nak”, ajak Anala dan melangkah ke kamar.


Setelah sepuluh menit berlalu, Maryam sepertinya sudah berdamai dengan dunia mimpi yang barusan menghampirinya begitupun dengan Anala yang berada disampingnya. Rumah yang panjang dua puluh meter dan sama seperti lebarnya itu, terlihat seperti sunyi jika didiami oleh dua orang ibu dan anak tersebut dan lebih luar biasa lagi Anala tidak mempunyai orang untuk membantu pekerjaannya di rumah, dia mengerjakan sendiri, walaupun dia sibuk kuliah dan juga sedang melakukan kegiatan magang di rumah sakit. Mulai dari pagi sampai malam hari pekerjaan rumah yang komplit itu dia hadang dengan sendiri, walaupun ada sebagian pekerjaan Maryam bisa membantunya.


Matahari pagi sepertinya ikut andil untuk menghangatkan pelipis mata kecil Maryam yang membuatnya terbangun dari kasur ibunya karena kejadian semalam yang membuatnya takut untuk tidur sendiri, Anala yang dari tadi sudah berkutik di dapur yang didominasi warna cream tersebut, tampak sibuk dengan membuat asupan pagi untuk dirinya dan Maryam, semua itu dia lakukan setelah melakukan ritual paginya yaitu sholat dan mandi, karena pagi ini ada jadwal penyuluhan di hotel.


“Maryam ayok nak, kita ke rumah oma, umma mau berangkat juga nih”, bicara dengan nada agak sedikit tinggi karena, dapur jaraknya tidak dekat kamar tidurnya, Maryam yang mendengar ibunya bicara, langsung menyahut dengan suara khas bangun tidur.


“ya umma”, jawab Maryam dan beranjak menuju dapur.


Setelah tiga puluh menit berlalu, mobil sedan putih yang dikendarai Anala dan Maryam melesat menuju rumah ibunya Anala. Bagi Anala ini proses kehidupan walaupun teman-teman seumurnya belum mengalami transisi kehidupan sepertinya, tapi dia lebih bersyukur lebih cepat dewasa oleh takdir.


Sepuluh menit sebelum jam tujuh, Anala tiba di hotel brilian dan langsung memarkirkan mobilnya tepat di samping sedan hitam yang tak asing lagi dari penglihatannya. Mobil siapa?. Dokter Rangga ternyata parkir di samping parkir yang akan mobil Anala tempati, seperti direncanakan, atau memang sudah direncanakan?. Itu pertanyaan konyol. Parkiran hotel boleh dihuni oleh tamu hotel manapun kecuali yang vip, hanya untuk tamu istimewa. Anala melihat mobil sedan hitam tersebut dari depan ke belakang, Cuma untuk memastikan bahwa mobil itu benar mobil dokter Rangga atau bukan.


“hayy dokter Anala”, pantulan suara bass seorang laki-laki yang tidak asing di telinganya.


Anala menoleh ke arah pintu masuk hotel tersebut, yah benar dia dokter Rangga. Anala tampak hanya senyum membalas panggilan dokter Rangga untuknya dan berjalan menuju posisi dokter Rangga saat ini. Ini adalah pengalaman pertama Anala untuk mengikuti penyuluhan selama magang di rumah sakit, wajar dia sedikit cemas karena tidak pernah mengikuti sebelumnya.


“Dok, maaf telat ya”, mulai Anala sambil merogoh tas ransel hitam miliknya untuk mengambil kartu pengenal yang telah diberikan pihak rumah sakit sebagai anggota peserta penyuluhan.


“santai Anala, ini juga belum mulai kok, kamu udah sarapan?”, tanya Rangga yang sekaligus memberikan sedikit perhatian kepada wanita yang ada di hadapannya.


“udah d...k”,


“anak kamu apa kabar?”, tanya Rangga yang sebelumya belum selesai Anala jawab.


“Maryam sehat dok, alhamdulillah”, jawabnya sambil tersenyum tersipu malu.


sepertinya sudah banyak peserta yang masuk ke salah satu ruang hotel tersebut, Anala dan Rangga juga mulai berjalan menuju ruangan yang dituju dengan posisi berjalan berdampingan dan sesekali mereka bertukar pandang dan senyuman.


Di dalam sana mereka duduk di bangku yang berdampingan lengkap dengan meja kaca beralaskan kain merah. Sepertinya moderator sudah memulai acara dan sesi bicara antar narasumber dan juga anggota peserta penyuluhan tentang


‘bahaya narkoba bagi mental anak muda’.


Entah kenapa Anala merasa nyaman dan aman ketika berada di samping Rangga. Ketika sesi pertanyaan itu diajukan Rangga, Rangga berdiri dan memberikan pertanyaan untuk narasumber dengan hambatan yang dia dan pihak rumah sakit alami ketika ingin mencari anak muda yang terlibat narkoba namun, sering di tutupi lingkungannya supaya lingkungannya itu tidak malu, pertanyaan Rangga mulai di jawab oleh narasumber dengan jelas dan bagaimana solusi mengatasinya. Intinya harus terlebih dahulu melakukan penyuluhan untuk kepala desa dan jajarannya agar memperhatikan aktivitas anak muda mereka, apabila ada kasus narkoba yang beredar dikalangan anak mudanya, jangan biarkan terlalu lama dan cepat melakukan koordinasi dengan orang tua dan juga pihak BNN untuk mencari jalan tengah dalam situasi tersebut.


Perhatian harus dibalas perhatian, itulah yang akan dilakukan Anala kepada Rangga, ketika sesi makan siang bersama tampak Anala sibuk mengambil buah untuknya dan juga sepiring untuk Rangga rekan serumah sakitnya itu.


“dok, ini buahnya”, Anala sambil meletakkan sepiring buah di hadapan Rangga.


“terima kasih Anala”, jawab Rangga singkat dan tersenyum, selama makan mereka tidak banyak berbicara sampai akhirnya acara hari ini selesai dengan lancar.


Anala dan terlebih dahulu sampai di dalam mobilnya, karena Rangga bertemu dengan teman Dokter sesama kuliah di lobby hotel. Menurut riset laki-laki lebih ringkas berbicara dibandingkan perempuan. Ketika mobil Anala mundur ada tukang parkir dadakan yang membantu Anala keluar dari parkir hotel tersebut. Tidak asing dengan perawakan itu. Rangga ya itu Rangga.


“terima kasih dok sudah membantu”, ringkas Anala sambil tersenyum.


“hati-hati ada hati yang sedang menunggu”, sambung Rangga dengan tatapan lembutnya, Anala mengakhiri perbincangan tersebut dengan senyum dan klakson mobilnya.


Karena acara tersebut selesai pada waktu sore, Anala langsung pulang ke rumah ibunya untuk menjemput Maryam yang tidak sabar menunggu ibunya datang. Anala pulang lengkap dengan membawakan es krim kesukaan Maryam dengan sedikit snack untuk Maryam di atas mobil jalan menuju pulang nanti.