
Hari ini adalah rangkain terakhir umroh yaitu Tahallul tau potong rambut yang sebelumnya kita tidak dibolehkan untuk memotong dan mencabut rambut, pada rangkaian terakhir ini dibolehkan bagi kaum laki - laki untuk mem botak kan kepala mereka asing – masing, tapi bagi kau perempuan mereka hanya mengambil sebagian kecil rambutnya dan memotongnya.
Berdasarkan persetujuan Anala kemaren Rangga benar – benar ingin mencukur habis rambut yang ada di kepalanya tersebut. Walaupun pada awalnya Anala melarang, Rangga akan tetap mencukur rambutnya habis. Karena ini adalah selama dua puluh delapan tahun dia hidup, yang merupakan pengalaman pertama untuk menjadi manusia kepala pelontos.
Semua jamaah yang melaksanakan ibadah umroh sibuk minta tolong teman yang lain untuk memotongkan rambutnya. Lain hal dengan laki – laki yang meminta tukang cukur di sana untuk membabat habis benda hitam yang ad di kepalanya tersebut.
“nak, uma potong sedikit rambut kamu ya” ucap Anala sambil menyingkapkan sedikit jilbab pendek Maryam tersebut.
Begitu pun dengan Anala yang meminta temannya untuk memotong kan rambutnya ke teman – teman yang lain.
“buk , boleh minta tolong tak, tak potongin rambut iki”, ucap Anala, kebetulan ibu itu orang timur pulau Jawa.
“iya boleh nak”, jawab sang ibuk.
Setelah Rangga mencukur rambut dan Anala melihatnya bukan Rangga yang dia kenal, begitu pun dengan Maryam, bukan abah yang dia kenal.
“kamu siapa?”, tanya Anala sedikit tertawa kecil, walaupun masih mengenal Rangga, namun karena penampilan barunya ini dia agak aneh aja dengan kepala suaminya itu.
“bagus nggak?”, tanya Rangga sambil menaikkan satu alisnya.
“bagus, apalagi setiap kayak gini, saya setuju kang”, jawab Anala.
“Ann, nanti kamu takut loh”, ucap Rangga dengan sedikit membesarkan bola mataya.
Dari sudut kamarnya ba’da maghrib, Anala memandang sejenak pemandangan yang sebentar mereka tinggalkan tersebut dengan sendu. Kebetulan Anala tidak enak badan, dia hanya sholat di hotel dengan Maryam.
Di deka nya Maryam erat – erat seakan tidak mau berpisah sedikitpun, sambil menatap ke arah ka’bah yang diterangi oleh pencahayaan yang hebat. Sesekali ucapan Anala dicuri Maryam ketika dia menyebut asma Allah.
“uma, kapan kita kesini lagi?”, tanya Maryam, yang membuat Anala menangis tersedu mendengar pertanyaan anaknya itu. Menandakan bahwa Maryam sudah rindu dengan tanah Makkah sebelum dia meninggalkan tanah suci tersebut.
“belum juga kita pulang nak, kenapa kamu tanya itu?”, tanya Anala ingin tahu tentang alasan Maryam ingin kembali kesana.
“enak disini uma”, Cuma jawab singkat itu yang hanya lolos dari mulut kecil nya, walaupun Anala ingin mendengar lebih darinya.
ting .. ting ..ting
Beberapa pesan masuk ke hap Anala, dan di sana ada nama – nama sabatnya, yang tak lain dan tak bukan ingin menitip oleh – oleh.
“Ann, aku pengen kurma muda”
“Ann, aku pengen abaya arab”
“Ann, aku pengen makanan aja Ann, hehehe”, ucap teman – teman Anala yang menyebutkan list keinginan mereka masing – masing.
“kamu transfer nggak kemarin?”, tanya Anala di grup aplikasi hijau tersebut dengan bercanda.
“yah, lu minta aja duit suami lo, pinjam dulu seratus kek”, timpal temannya yang lain.
“seratus mana cukup, permintaan lo pada banyak banget”, jawab Anala.
“yah pelit banget lu Ann”, timpal Putri tidak mau kalah
“bercanda guys, nanti gue beliin, tapi lu harus jemput nanti ke rumah gue”, ucap Anala.
“makasih Anala teman yang terbaik sedunia”, ucap teman lainnya.
“(”, balas Anala dengan emoticon andalannya.
Pagi di Makkah adalah pagi yang indah, apalagi ini adalah pagi yang terakhir bagi mereka di sana, karena nanti malam mereka akan pergi dari kota itu. Dan hari Anala akan membeli barang – barang untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk sanak saudara di rumah. Rangga pun tidak kalah sibuk dengan Anala memilah dan memilih baju gamis khas arab adalah hal yang sangat Rangga suka.
“kang beli itu aja, motifnya cantik”, tunjuk Anala pada salah satu gamis arab yang berwarna hitam pekat yang tergantung si salah sau toko yang mereka lewati.
“kamu nggak belanja ?”, tanya Rangga yang melihat Anala tidak membawa satu pun jinjingan belanjaan di tangannya.
‘dia nggak tahu aja, perempuan awal – awal melihat aja, nanti kita borong’, batin Anala sambil senyum senyum.
“nanti lah kang, aku mau beli makanan, baju, dan kurma aja”, ucap Anala yang sibuk memperhatikan jualan yang berjejer di sana.
“nggak mungkin itu aja”, tolak Rangga tidak percaya dengan ucapan Anala sambil menggelengkan kepalanya.
“hmmm”, jawab Anala sambil tersenyum kecut.
.........pulang............
Setelah membereskan semua barang untuk dibawa dan memastikan tidak ada pun yang ketinggalan, mereka bergabung dengan rombongan yang lainnya untuk ke bus dan menuju bandara.
Hal tidak disangka Anala, ternyata Rangga sudah menyiapkan hadiah lain. Rangga ingin mengajak dua perempuan yang dia sayang tersebut untuk singgah sebentar di negara yang khas dengan balon udara udaranya.
Setelah beberapa jam perjalanan Anala baru menyadari.
“kang kita dimana?”, tanya Anala setelah bangun dari tidurnya.
“kita di turki”, jawab Rangga menunjuk nama negara tersebut terpampang di salah satu sudut bandara.
“kita ngapain di Turki?”, tanay Anala lagi.
“yah liburan sebentar aja, sehari doang”, jawab Rangga.
“serius ini kang?”, tanya Anala berbinar- binar.
“iya, kamu masih nggak percaya, coba cek gps”, suruh Rangga.
“kok saya nggak tau kang”, tanya Anala heran.
“ya semua paspor dan visa kamu saya yang pegang”, utas Rangga dengan santai.
Setelah sampai di di Ankara ibu kotanya. .Mereka langsung menuju ke tempat indah nan eksotik tersebut, cappadocia.
“kang it’s my dream”, bisik Anala ke telinga Rangga yang sedang berdiri di samping suaminya tersebut.
“hahaha, beneran hanya sebatas ini mimpi kamu?”, tanya Rangga meyakinkan.
“bukan gitu, ih kamu nggak gaul kang, kemaren tuh ada film yang trending karena adegannya ada kata – kata i’ts my dream nya, dan itu syuting nya disini”, ucap Anala panjang lebar dengan sedikit kesal.
“ohhh karena itu kamu ingin banget kesini?”, tanya Rangga.
“betul, makasih kang”, ucap Anala manis.
Balon udara dengan berbagai warna dan ukuran itu terbang diantara kabut awan di langit cappadocia itu. Anala yang phobia dengan ketinggian tersebut memilih untuk tidak meminta keinginan terbang dengan balon udara pada Rangga.
“nak, yuk kita terbang”, ajak Rangga pada Maryam.
“nggak usah, nggak usah kang, takut”, potong Anala.
“yang takut kamu, bukan kami, phobia itu harus di lawan sayang”, ucap Rangga.
“nggak usah ah, bahaya, kita lihat orang terbang aja, kitanya nggak usah terbang kang”, bela Anala, sekaligus ketakutan apabila balon udara itu tiba – tiba terjatuh.