Analaa

Analaa
akhirnya anita mulai menampakkan diri



Setelah tiga hari Anala melapor laporannya kepada ketua gengnya, akhirnya hasil laporan tersebut berbuah hasil yang bisa di laporkan ke Anala yang pihak membutuhkan informasi tersebut.


Ke keputusasaan dan kekecewaan lebih benyak melahirkan balas dendam lebih dominan. Dan petaka itu yang akan menghampiri Rangga dan bisa jadi Anala juga bisa terkena dampaknya.


“Ann, kami sudah dapat informasinya , kapan kita ketemu, kami akan memberitahu kamu, dari mana kami dapat informasinya dan dimana orang itu sekarang, kami sudah melacaknya”, ucap Diana dari seberang sana dan ingin cepat – cepat menyudahi percakapan itu.


“ok, nanti hubungi saya dimana tempatnya, secepatnya”, balas Anala tanpa ekspresi.


Rahasia yang beberapa hari ini yang Rangga sembunyikan, lambat laun Anala menemukan titik terangnya. ‘oh rupanya dia ada rahasia ok tuan Rangga akan saya cari kejanggalan itu semua’, batin Anala sambil memasak sarapan di dapur.


tiba – tiba Rangga berangkat kerja di waktu yang lebih pagi dari biasanya. Anala menatapnya pun aneh melihat yang tidak biasanya di lakukan Rangga, kecuali ada perbincangan terlebih dahulu pada Anala.


“pagi amat kang, berangkat”, tanya Anala tanpa melihat lawan bicaranya tersebut.


“hmm”, balas Rangga singkat dan meneguk air putih yang ada di depannya dan langsung izin untuk berangkat.


“Ann, aku berangkat dulu ya, Maryam kamu yang ngantar nanti yah, dah”, izinnya yang seperti sangat tergesa – ges. Dan seperti di kejar anjing pelacak aja kamu Rangga.


Dimana kata sayang itu?. Mana kata assalamualaikum yang biasa kamu ucapkan kang?.


Itulah yang ada di kepala Anala yang tiba – tiba aneh dengan sikap Rangga tidak biasanya seperti itu pada Anala.


“kang nanti kamu pulang jam berapa?”, teriak Anala yang masih mendengar mobil Rangga di teras rumah untuk mencoba membawa Rangga dalam dialog pagi seperti biasanya. Tapi gagal, kerena Rangga sudah terlebih dahulu melesat menjauh dari kediaman Anala dengan cepat.


“lah sudah pergi rupanya”, omel Anala sendiri di ambang pintu rumahnya sambil mencium masakannya di dapur.


“astagfirullah masakan aku” teriak Anala yang langsung berlari ke dapur.


Kini saatnya Anala me time dengan teman – temannya setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan membawa sedikit kekecewaan kepada Rangga yang tiba – tiba berubah pagi ini.


”lesu amat lu Ann”, sapa Diana. Geng itu sudah memesan satu meja untuk mereka entah berapa ke depan, yang pasti untuk hari ini. Akan ada cerita panjang dan juga berkesan untuk hari ini.


“gimana Di, gimana tuh kabarnya berita itu?”, tanya Anala yang tiba – tiba mood nya bagus ketika membahas laporannya itu.


“sabar dulu Ann, lu duduk dulu, pesan makan kek, apa kek, santai sister”, ucap Diana yang masih menyibukkan diri dengan tab di depannya.


Setelah semua personil geng itu berkumpul dan sekaligus hari itu adalah hari berkumpulnya mereka setelah hari wisudanya Anala.


“gini Ann, saya dapat foto dia ini dari facebooknya Rangga sekitar sepuluh tahun yang lalu, dan facebook Rangga itu tidak aktif sampai sekarang”, mulai Diana sambil memperlihatkan foto gadis seksi yang ada di handphonenya pada Anala.


“atau jangan – jangan Rangga tidak tahu dengan itu, bahwa dia itu menandai Rangga di akun facebook nya”, timpal Putri.


“setelah kita lihat di akan ig nya Rangga di sana , perempuan itu mengikuti Rangga, sedangkan Ranga tidak mengikutinya”, tambah Diana.


“oh ya, kenapa nggak kepikiran sih saya mencari akun facebooknya Rangga dari kemaren”, ucap Anala bingung dengan kebodohannya itu.


Sampai pukul dua belas siang waktu tidak terasa, Anala mengingat sesuatu bahwa dia lah satu- satunya seorang ibu yang harus menjemput anaknya pulang sekolah.


“tunggu dulu ya guys, saya jemput maryam dulu, dan terima kasih infonya , nanti gue cari lebih dalam lagi”,ucap Anala yang menghilang dari hadapan teman – temannya.


Di depan rumah sakit tempat Rangga bekerja, di sana sudah Anita mulai berjalan ke dalam rumah sakit itu.


“hey mbak Anita”, sapa salah satu perawat di sana.


Dan ada beberapa perawat dan dokter yang lain yang sudah mengenal Anita karena ayahnya. Ternyata ayah Anita adalah satu investor rumah sakit yang cukup maju di kota Bandung tersebut.


“mbak, boleh tanya, tau dokter Rangga nggak?”, tanay Anita pada salah satu perawat di sana.


“dokter Rangga spesialis Jantung itu mbak Anita?”, tanya balik perawat itu.


“di sebelah sana mbak, nanti lihat aja, di pintunya ada nama dia di sana”, tunjuk perawat itu pada ruangan dokter yang berjejer.


“ok mbak, makasih”,ucap Anita yang langsung berjalan dengan agak cepat dari biasanya. bertemu dengan orang yang kita dambakan, tapi sebaliknya dengan yang di dambakan.


“tok.. tok.. tok”


Rangga yang bingung dengan siapa yang mengetok pintu, padahal perawat baru saja mengantarkan makan siang untuknya, dan posisinya dia mau sholat dzuhur ke musholla rumah sakit.


“astagfirullah”, ucap Rangga yang terkejut melihat siapa yang sedang berdiri mematung di depan pintunya itu.


“Anita, ngapain kamu kesini?”, tanya Rangga agak cetus pada wanita dengan dandanan bold itu.


‘hey Rangga, kamu kok gitu, kan udah aku bilang aku kangen sama kamu, makanya aku datang ke sini”, ucapnya dengan nada bicaranya mendayu – dayu, sama halnya kayak orang mabuk.


“saya mau sholat dulu, tuh kan sudah ada suara adzan, mending kamu sholat dulu deh”, suruh Rangga yang tergesa- gesa menuju mushola, agar segera menjauh dari wanita aneh itu.


“aneh, ngapain dia ke sini, bikin saya deg.. degan aja”, ucap Rangga dengan suara kecilnya sambil berjalan.


“aku akan menunggu kamu sampai kamu datang kembali ke sini Rangga”, bisik Anita dan sedang duduk di ruang tunggu di depan ruang Rangga tersebut.


.....................


Anala yang sudah kembali ke rumah, merasa tidak enak hati dan selalu kepikiran tentang Rangga, dan Anala ingin berencana datang ke rumah sakit, tapi rasanya tidak mungkin, sepertinya pekerjaan di rumah jauh lebih penting.


“uma, kenapa abah tadi pagi pergi cepat banget”, tanya Maryam yang tidak seperti biasa diantar Rangga ke sekolah.


”abah lagi banyak kerja di rumah sakit sayang”., ucap Anala bohong, sebenarnya dia pun idak tahu apa yang terjadi pada Rangga hari ini.


.......................


Anita yang melihat kedatangan Rangga dari mushola, seperti melihat Rangga jauh lebih ganteng dari pada yang dia lihat pertama tadi.


“kenapa kamu senyum – senyum sama saya, pergi sana Anita, nanti apa kata orang – orang yang ada di sini, nanti muncul berita yang aneh - aneh”, suruhnya pada Anala untuk pergi dari tempat itu.


“ngapain kamu suruh saya pergi, kamu nggak kangen sama saya”, ucap Anita sembari mendekat ke arah Rangga dan ingin menyentuh tangan Rangga, tapi dengan cepat Rangga menjauh dari Anita.


“Anita, kamu jangan pernah pegang – pegang saya, saya bukan laki – laki yang mau memegang perempuan tanpa sebab, haram”, tekan Rangga dengan suara sedikit meninggi.


“garang amat kamu Rangga”, kesal Anita yang tidak di hiraukan oleh Rangga, yang berhasil masuk ke ruangan dan mengunci ruangan tersebut.


“pak suruh orang yang ada di depan ruangan saya ini pergi pak, dia mengganggu saya”, ucap Rangga dalam panggilan telpon kepada security rumah sakit itu.


“Rangga awas kamu yah, berani – berani kamu mengusir saya, kamu akan melihat akibatnya nanti”, ucap Anita yang mendengar ucapan Rangga dengan security, tanpa aba- aba Anita langsung pergi dengan sendiri ke arah mobil sport merahnya tersebut, pastinya menjadi pusat perhatian oleh orang yang ada di sana.


“dimana pak Rangga”, tanya pak Diman.


“emang dia udah nggak ada pak”, tanya Rangga yang keluar dari ruangannya dan melihat sekeliling ruangannya.


“syukurlah pak, dia sudah pergi, saya takut banget pak, dia kayak Monster”, canda Rangga yang kembali masuk ke ruangannya.


............................


Rindu belainmu, rindu panggilan sayangmu, rindu perhatianmu


itu adalah hal yang wajar di rasakan seorang istri


..........................