AGUS

AGUS
Akhir Dari Usia



Perjalanan mereka terhenti oleh para Slime yang berbondong-bondong kabur dari sesuatu, Lulu berinisiatif menarik Agus untuk bersembunyi. Tina Aite mengambil keputusan yang tepat untuk pergi menyelidiki, Agus bertahan di tempat. Dia beradaptasi dengan lingkungan yang penuh dengan pepohonan berbentuk aneh dan menakutkan. Lulu mengkhawatirkan suaminya yang saking risihnya, dia mengelus rambut hitam yang hampir sebahu itu. Ada banyak rute yang tidak sesuai dalam perjalanan mereka, Lulu tidak menyangka akan ada begitu banyak hal yang berbeda dari apa yang dia ketahui di masa lalu.


"Apa kamu lelah?"


"Aku tidak lelah, aku masih sangat kuat untuk melanjutkan perjalanan."


"Kamu tidak perlu menahan diri jika kamu lelah."


"Akhir-akhir ini kamu terlalu berlebihan," kata Agus.


"Karena kamu adalah suamiku."


Tina yang hendak melaporkan kejadian itu sempat ragu saat Lulu dan Agus terlihat bermesraan. Slime pergi karena mereka menemukan bahwa wilayah itu telah diambil oleh Serigala. Agus merasa risih ketika Tina tiba-tiba datang dan berbicara begitu tegas padahal Agus hendak mengambil tindakan. Lulu Aite yang tersipu mencoba memasang tampang tegas di wajahnya sambil berpikir.


"Kalau hanya Serigala, kita masih bisa menanganinya dengan mudah." Lulu menatap Agus. "Bahkan suamiku akan mampu menangani mereka."


"Anda benar sekali, Yang Mulia." Tina membenarkan, dia diam-diam melihat Agus.


Agus menghampiri mereka berdua. "Maafkan aku telah membebanimu."


"Kamu tidak membebani kami," kata Lulu, tersenyum dan meyakinkan.


Tidak ada kepastian dalam perjalanan yang begitu panjang, sesuatu yang mereka hadapi dengan mudah. Agus terkagum-kagum dengan sihir api yang membakar serigala-serigala yang mencoba menyerang mereka. Pedang di tangan kanannya yang dibuat cukup baik masih bisa digunakan Agus untuk menebas serigala yang hendak menerkamnya.


"Fire Arrows!" Tina berteriak.


Frustrasi merajalela di benak Lulu dia tidak menemukan semua yang dia cari karena beberapa desa yang dia temukan berakhir dengan tragedi. Agus memeluknya untuk menenangkan perasaan depresi Lulu. Tina hanya melihat tidak ada yang bisa dia lakukan, desa yang telah hancur, dia tidak perlu menggambarkan akhir dari apa yang terjadi.


"Lebih baik kita mencari tempat tinggal dan hidup tenang bersembunyi," kata Lulu.


"Apakah Anda yakin akan seperti ini, Yang Mulia!" Tina berbicara dengan suara keras.


"Tina, jika kita terus mencari dengan hasil yang sama maka akan sia-sia, pencarian kita semua akan sia-sia."


Tina menunduk, dia sebenarnya ingin balas dendam. "...."


Agus diam saja, semua tergantung keputusan Lulu Aite sebagai pemimpin. Balas dendam adalah alasan Tina terus memendam, dia bahkan berani mengatakan bahwa dia akan pergi sendiri untuk menemui para elf yang masih hidup. Angin sepoi-sepoi datang ketika Tina berpaling, Lulu dengan senyum pahit seperti tidak ingin tahu lagi.


"Kamu serius membiarkan dia pergi begitu saja, dia akan mendapat masalah besar nanti."


“Biarin saja,” kata Lulu sambil tersenyum dan menyentuh pipi kanan Agus.


"Sebenarnya, apa yang kamu pikirkan?"


"Tapi Tina, dia nan—"


Lulu membentak. "Biarkan dia!"


"Kamu, aku tidak berharap kamu menjadi egois ..."


"Kamu tidak tahu betapa khawatirnya perasaanku, Tina bisa menjaga dirinya sendiri bahkan jika dia pergi! Aku hanya tidak ingin menjadi seperti pelarian dan membuang-buang waktu yang berharga."


"Kamu melakukannya karena aku..."


Perempuan yang takut kehilangan orang yang dicintainya, Agus tak bisa terus menerus menyalahkan keinginan Lulu. Agus yang pasrah membuat Lulu merasa tenang dan bahagia. Suatu malam Lulu menangis, dia menyadari bahwa dia sangat egois karena cinta dan membuang perasaannya untuk balas dendam dan membiarkan Tina pergi. Dengan rumah sederhana yang dibuat dengan perlindungan sihir yang mengalihkan pandangan dari monster yang membawa bahaya. Agus merasakan hidup normal seperti yang ia impikan, ia tahu ini sangat aneh karena ia begitu tunduk pada Lulu. Wanita itu sangat puas luar dalam, dia tidak menyesali apa yang telah diambilnya.


"Mmmh..."


"Kamu suka dengan ini..."


Aktivitas yang sudah seperti suami-istri berlangsung lama hingga menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Agus semakin tua di usia 35 tahun. Agus banyak menghabiskan waktunya untuk belajar sihir. Dia sudah sangat ahli dalam sihir, dia belajar dengan sangat cepat. Lulu tidak berubah sama sekali secara fisik, tidak menua, masih sama seperti saat Agus pertama kali bertemu Lulu. Memotong kayu untuk kayu bakar menjelang musim dingin, Agus menambah persediaan. Daging dan buah yang selalu mereka makan untuk jadi hidangan utama mereka. Lulu tidak menunjukkan bahwa dia bosan menjalani kehidupan yang begitu memuaskan hatinya.


Agus menyayangkan tidak mencegah Tina pergi saat itu dia hanya diam, dan menuruti keinginan Lulu. Perasaan bersalah juga terlihat sangat jelas di wajah Lulu, namun dia segera mengubah ekspresinya untuk mengganti topik pembicaraan. Lulu menyentuh perutnya sendiri, dia tidak merasakan apa-apa yang menandakan dia akan hamil, dia tidak puas karena dia menjadi takut semakin lama dia merasakan sakit di hatinya.


“Aku gagal memberikan apa yang kamu impikan,” kata Agus.


"Jangan bicara seperti itu, ini karena sangat sulit bagi kita untuk memiliki anak, tetapi jika kita terus berusaha, kita mungkin akan memiliki anak." Lulu tersenyum senang.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" "Apakah kamu tidak mau?"


"Ahem, mari kita mulai dengan waktu yang sangat lama."


"Wow, aku tidak sabar, Sayangku."


Suatu hari seorang wanita datang yang tidak lain adalah Tina, dia mengalami kesulitan sendirian dengan segala cara tetapi dia berhasil menyatukan para Elf dan menyerang kastil Raja Iblis. Tina meminta maaf atas kekeraskepalaannya, tetapi dia puas karena semuanya telah terbayar dengan kegigihannya. Lulu tersenyum mendengar semua penjelasan yang begitu panjang. Tina melihat Agus yang sudah sangat berubah. Tina beruntung karena ada waktu untuk bertemu lagi. Tina tinggal selama dua hari, dia pergi sesudahnya. Lulu tidak ikut dan memilih tinggal di rumah yang dibangunnya bersama suaminya.


"Aku senang dia baik-baik saja dan bisa bertemu lagi," kata Agus.


"Kamu tidak menyesalinya sekarang?"


"Aku merasa bebas dan beban aku terangkat."


Di pagi hari salju turun. Lulu dan Tina terlihat sangat sedih, Lulu tidak melepaskan tangan Agus yang digenggamnya. Mata itu terlihat sangat lelah, tubuh Agus sudah sangat kurus karena usianya sudah sangat tua, 90 tahun. Agus hanya menyentuh pipi kiri Lulu, Agus sulit bicara banyak. Lulu menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, pandangannya tidak begitu jelas karena terhalang oleh air mata. Menutup mata dan akhirnya dalam hidup Agus. Lulu hanya diam, tak terisak sambil terus menatap Agus tanpa henti, ia sudah tahu bahwa hidup manusia itu sangat singkat, ia sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari.