AGUS

AGUS
Sihir Dari Dewi



Agus tidak mau melanjutkan, dia tertawa melihat ekspresi kaget Lina. Dia singkirkan semua yang membuatnya khawatir, sudah ada wanita cantik yang dia miliki meskipun ada yang mirip istrinya di kehidupan sebelumnya, dia melepaskan ingatannya. Keputusan untuk langsung pulang membuat Lina kecewa, toh mereka bisa melakukan sesuatu. Suara telepon berdering. Ketika mereka sampai di rumah, Agus sudah menduga kemungkinan besar yang akan menyambut mereka adalah Harit Setiawan. Lina diminta untuk pergi ke kamar, dia tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam percakapan.


"Aku kagum dengan tindakan yang kau ambil, sangat cepat," kata Harit Setiawan.


"Tolong pada intinya saja," kata Agus.


Menyimak sesuatu yang berubah, kali ini Agus harus menghabisi Nicolas Hadin, sosok yang masih menyebalkan dan merepotkan Harit Setiawan. Agus tersenyum, ia sudah menduga semua tidak akan berjalan mulus, orang tua di hadapannya selalu tidak puas dan berambisi agar ia bisa berdiri di pundaknya. Harit Setiawan akan menyelesaikan masalah yang akan ditimbulkan oleh Elang Biru dari Negara J.


"Dengan segala cara, aku akan menutupi bukti yang menunjuk kepadamu." Harit Setiawan menatap tajam.


"Terima kasih atas bantuannya, saya merasa senang dengan apa yang Anda lakukan."


"Aku berjanji jika kamu sudah selesai dengan Nicolas, kamu akan menikah dengan Lina."


"..." Agus terdiam.


Pria yang akan menjadi mertuanya, pria itu sangat penting dalam keluarga. Agus berpamitan setelah pembicaraan selesai, ia memutuskan akan mulai berburu Nicolas Hadin mulai besok pagi. Lina yang penasaran dengan pembicaraan Agus dengan Harit Setiawan, Lina mondar-mandir di kamarnya.


"Kamu belum tidur?" Agus yang baru saja membuka pintu kamar.


"Aku menunggumu," kata Lina, dan dia tersenyum.


"Ngomong-ngomong, besok aku akan sibuk," kata Agus.


"Kau pergi atas perintah ayah?" Lina menebak.


"Ya, tapi setelah pekerjaan ini kamu dan aku akan menikah." Agus tersenyum.


"Sungguh, apa yang ayah katakan begitu!"


"Ya, apakah kamu bahagia?"


"Aku ingin melihat ayah dulu!" Lina buru-buru pergi.


Saat Agus sedang mandi, menurutnya ini yang terbaik. Agar Lina tidak khawatir jika menikah terlalu lama, Agus tersenyum canggung. Dia keluar dari kamar mandi setelah selesai. Lina senang dengan apa yang dikatakan ayahnya, Agus hanya mendengarkan apa yang dikatakan Lina.


"Ayah sudah berjanji kali ini dia tidak akan menunda pernikahan kita!"


"Ayo, kamu pergi mandi, aku harus tidur lebih awal."


"Apakah kamu akan segera tidur?"


"Tentu saja, aku akan berangkat lebih awal besok."


"Kurasa kita harus melakukan pending..."


"Kau tahu bahwa nafsumu sangat tidak normal?"


Lina tersipu. "Kamu pria yang aneh, meskipun kamu sama denganku."


Dari semua wanita yang pernah Agus kenal, Lina adalah yang paling galak dan blak-blakan. Agus tak bisa berkomentar banyak soal sikap dan karakter Lina yang begitu berbeda dengan Agus saat pertama kali bertemu di dunia ini. Untuk beberapa alasan, Lina memegang kendali. Lina yang awalnya memegang kendali, mulai dipandu oleh Agus dengan kedua tangannya. Suara merdu tak henti-hentinya untuk terus melantunkan lagu. Agus mengabulkan keinginan Lina hingga benar-benar puas dengan napasnya yang terengah-engah.


“Yang bisa kulakukan sekarang, aku melakukannya untukmu,” kata Agus, yang sudah terlalu sering dilakukannya dan bisa dikatakan cukup bisa mengendalikan diri.


Terdengar suara familiar dari seorang wanita, Agus melihat wanita berambut putih itu mendekatinya. Wanita itu mengatakan bahwa Agus akan segera menyelesaikan semuanya. Agus senang ini akan menjadi yang terakhir, dia akan hidup dengan baik dan mati secara alami untuk tidak bereinkarnasi ke dunia yang berbeda lagi.


"Apakah kamu menikmati hidup barumu sekarang?"


“Saya tidak bisa bilang saya bisa menikmatinya, saya punya dosa yang nyata tapi untuk kebaikan semua orang,” kata Agus.


Agus senang bisa membantu semampunya, meski cara ini cukup kejam di mata banyak orang. Wanita itu tersenyum, dia mendengarkan semua cerita dari Agus. Wanita itu mengatakan yang sebenarnya bahwa ada dunia lain yang membutuhkan Agus untuk menyelesaikannya, tetapi wanita yang berjanji tidak bisa meminta lebih, dan hanya berterima kasih.


"Kamu datang pada waktu yang tidak biasa, apakah kamu segera memutuskan untuk membawaku sekarang?"


"Aku hanya ingin berbicara denganmu, selama aku mengamatimu, kamu cukup rakus terhadap lawan jenis."


"Jangan memojokkanku, Lina yang memintanya, bagaimana aku bisa menolak."


Wanita itu berusaha tak menertawakan...


Saat Agus terbangun, dia menoleh, dia melihat Lina yang masih tertidur lelap. Dan dia pergi ke kamar mandi. Wanita dalam mimpi Agus telah mengisyaratkan bahwa dia akan dapat menyelesaikan semuanya, dan ada sesuatu yang menarik—, sihir yang dapat menghentikan waktu, itu tidak mempengaruhi dirinya selama dia menggunakan sihir ini tidak berpengaruh apa-apa.


"Dia memberi sihir agar aku bisa menyelesaikannya dengan cepat..." Agus mencobanya, semua waktu berhenti, durasi sihir ini lima menit. Sihir yang menurut Agus sangat curang itu seperti sosok dewa.


"Sayang, apa yang kamu lakukan berdiri di depan pintu?"


"Aku melihatmu."


"Seharusnya melihat dari dekat, kan?"


Tidak butuh waktu lama bagi Agus untuk menyelesaikan permainan dari Harit Setiawan. Membunuh Nicolas Hadin layaknya seperti menjentikkan jari, ia bisa menghindari masalah dari para penjaga, dalam satu suatu tembakan membunuh Nicolas Hadin yang berada di ruangan baca. Menghentikan waktu seperti tanpa sarat, tak ada batasan untuk menggunakannya lagi. Semua orang yang ada di luar kota, mereka tidak ingin ikut campur saat Clodoveo dan meminta bantuan. Mereka takut akan diketahui keberadaannya, dan akan berurusan dengan Agus. Dickie yang bisa ia ajak kerja sama.


"Kita harus membunuhnya!" Clodoveo.


"Kurasa tidak akan ada harapan lagi, mereka saja angkat tangan dan ada yang memilih pergi dari negara ini."


Mereka berpikir bagaimana cara menyingkirkan Agus, bahkan untuk menculik Lina pun mereka ragu karena banyak orang yang menjaga perempuan itu. Dickie hanya punya satu rencana gila yang bisa membunuh Agus—mereka harus mengeroyoknya. Clodoveo tidak setuju dengan mengeroyoknya sampai seperti bunuh diri.


“Sulit dicari kelemahannya, dia dianggap bukan manusia biasa,” gumam Dickie.


"Apakah kita hanya menunggu untuk mati sekarang?"


"Kamu benar, waktu hanya perlu menunggu untuk mati." Clodoveo dan Dickie menoleh, mereka berbicara di Villa Clodoveo. Agus telah menemukan mereka.


"Bagaimana dia bisa masuk tanpa ada yang tahu!" Clodoveo.


"Seperti yang dikabarkan, orang ini memburu orang seperti kita!" Dickie melihat ke jendela, dia memikirkan cara untuk melarikan diri.


Saat Agus menjentikkan jarinya, waktu berhenti dan mengakhiri hidup Clodoveo dan Dickie. Tujuannya hanya untuk pulang dan semuanya selesai. Setelah menikah, dia akan memastikan bisa menemukan jejak kelompok lain. Agus memikirkan kemungkinan adanya organisasi yang sangat kejam.


"Selama menurutmu itu aneh, aku membunuh orang seperti membunuh monster, ya... mereka tidak sebaik monster, mereka pantas mati." Agus melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.