
Aliran Mana di fokuskan ke tangan, Agus melepaskan ikatannya dengan mengerakkan tangannya. Karl terkejut dengan suatu yang mustahil seperti itu, sekuat apa pun seseorang tidak bisa melepaskan ikatannya tali di tangan begitu mudah. Satu tinju mendarat di perut Karl, yang langsung kehilangan keseimbangannya dan terukur memegang perutnya. Agus telah mengukur kekuatan sendiri di tangan.
"Uhuk, uhuk!" Karl terbatuk-batuk.
Agus menendang kepala Karl. "Tidurlah bodoh!"
Dengan begitu saja ia merasa tidak dalam kondisi baik seakan banyak energi yang terkuras, ia terlalu terburu-buru mengalirkan Mana.
"Aku harus mengejarnya!" Agus berlari pergi.
"Dia kabur?!" Seseorang melihat Agus, orang itu memanggil rekan-rekannya untuk melawan Agus.
Hanya satu cara yang Agus perbuat membuat lima orang itu pingsan dengan mengincar titik vital. Clodoveo mendengar suara yang berisikan dari luar, ia pun melihat keluar dan pergi untuk melihat. Banyak orang yang telah Agus kalahkan. Clodoveo melihat dengan penuh amarah, ia tak habis pikir dengan kejadian di luar nalar, menghajar puluhan orang yang berjaga di dalam rumahnya.
"Ternyata kau lebih kuat dari perkiraan," kata Clodoveo.
"Waktunya untuk aku membalas perbuatanmu!" Agus langsung berlari ke arah Clodoveo.
Clodoveo memblokir tendangan Agus dengan kedua tangan yang ada di depan dada. "Brengsek!"
"Aku tidak punya banyak waktu!" Agus mengincar pinggang, Clodoveo menahannya.
Jika orang normal pasti sudah dihajar habis-habisan oleh Clodoveo. Agus dapat melihat semua serangan yang mengarah padanya, ia menghindari dan melakukan counter dengan pukulan yang lurus tepat mengenai wajah Clodoveo. Agus ingin menggunakan cara yang sama untuk mengalirkan Mana ke tangan, tapi ia pikir jika terlalu mengandalkan yang ia terkena dampak buruk untuk kelelahan lebih cepat dan ketahanan tubuh seperti orang biasa. Dia memfokuskan ke seluruh tubuh, matanya dengan fokus yang maksimal seperti sudah merekamnya—, semua cara bertarung Clodoveo.
"Akh!" Clodoveo memegangi perutnya yang habis di hantam oleh telapak kaki.
"Belum selesai!" Agus langsung mendarat lutut ke wajah Clodoveo.
Clodoveo bingung dengan yang terjadi padanya sendiri, lawannya tidak punya gaya seni beladiri yang ia bisa kenali. Agus bertarung seperti preman, dengan cara serangan yang tanpa pondasi. Clodoveo mengincar kaki, Agus menahan serangan itu dengan memperkuat pijakannya.
"Kuh!" Clodoveo meras kalau kaki itu sangat keras padahal postur tubuh Agus tidak terlihat orang yang terlatih.
"Kau sedang apa?!" Agus menghantam kepala Clodoveo dengan tumit kaki kanan.
Tidak ada harapan untuk menang, ia berlari ke suatu ruangan. Agus mengikuti dengan berjalan santai, ia yakin kalau tak ada jalan keluar dari ruangan itu.
"Hahaha!" Clodoveo menodongkan pistol.
"Apa-apaan, katanya kau petarung kuat."
Agus memfokuskan semua pada penglihatan, ia bersiap untuk menghindar dengan cepat saat Clodoveo menembak sewaktu-waktu. Tidak ada rencana untuk menembak, Clodoveo hanya menggertak dan mengulur waktu. Clodoveo yang banyak bicara tidak ditanggapi oleh Agus yang sedang berpikir untuk menyingkirkan pistol dari tangan Clodoveo.
"Lihat di belakang ada orang!" Agus menunjuk.
"Kau pikir aku bodoh?"
"Ayahmu lewat!"
"Hahaha, apa ini candaan sebelum mati? Aku sudah tidak punya ayah."
"Oh, anak yatim-piatu?"
"Sialan, kalau kau tidak ada nilainya, aku sudah membunuhmu sejak awal!"
"Kau banyak bicara seperti perempuan," kata Agus, ia langsung mengerakkan kakinya— menendang. Pistol yang ada di tangan Clodoveo terjatuh ke lantai.
"Kekeke, seperti kau akan berakhir di sini..."
"Diam," kata Agus. {Dor!} Agus menyelesaikan semuanya dengan mengakhiri hidup Clodoveo. "Tinggal kabur dari sini." Agus mencari jalan untuk kabur untuk tidak ketahuan oleh Nicolas Hadin.
Saat semua fokus mencari arah sumber suara tembakan, Agus pergi dengan melompat ke jendela halaman belakang rumah. Dia bisa melompat ke dinding yang tinggi, dia berhasil memegang bagian atas tembok dan langsung melompat ke sisi tembok. "Untungnya mereka tidak berjaga di sini." Dia berlari sampai di perumahan, jalan-jalan yang sepi, melihat tempat untuk ia menetap sementara, ia pikir tidak akan dicurigai kalau ia sedang berada di Motel. Esok paginya ia pulang ke rumah dan memberitahukan penghianat Dusten.
"Apa kau sudah menjaga Lina dengan baik, Johnson?"
"Saya sudah melakukan, Tuan. Anda di cari oleh Tuan Besar."
"Aku akan menemuinya."
Tentang kematian Clodoveo sudah sampai di telinga Harit Setiawan. Agus tidak menutup-nutupi yang ia lakukan, ia menceritakan semuanya pada Harit yang menekan pelipisnya. Agus yang terlalu ceroboh bisa mendapatkan masalah, Harit akan melakukan banyak upaya agar lawannya tidak mengambil tindakan untuk memenjarakan Agus.
"Kau pergi ke sarang Singa sendirian, kau sangat gila," kata Harit.
"Dengan begini ayah seharusnya berterima kasih, orang yang paling berbahaya di kota sudah aku singkirkan."
"Caramu terlalu ekstrim, apa kau tidak memikirkan Lina, akan dalam bahaya karena ulahmu!"
"Ayah pasti sudah mengamankan Lina dengan pengawalan, bukan?" tanya Agus.
"Ya ..." Harit Setiawan tak ingin menyangkalnya.
Agus menemui Lina, ia menemaninya sepanjang waktu dan saat ada petugas yang bertanya keberadaan Agus selama dua hari yang lalu, tetap berada di rumah. Lina Setiawan mengikuti semua yang Agus katakan, walaupun ia tidak paham tentang alasan harus membohongi para penegak hukum.
"Kenapa mereka mencarimu, apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya ada orang yang sedang memfitnahku."
Lina tidak ingin bertanya lebih jelas, ia mempercayai semua yang Agus katakan. Harit Setiawan menyuruh seseorang untuk menyelesaikan masalah Agus yang bisa saja dengan mudah terbongkar dari kebohongannya. Hari-hari berjalan dengan normal sampai pada akhirnya kalau Agus sudah jauh dari kecurigaan. Harit sudah melakukan sesuatu dengan bukti yang memojokkan Agus.
"Maukah kamu menemani aku hari ini?" Lina memohon dengan ekspresi wajahnya.
"Memangnya mau kemana?"
"A-apa kau tidak ingin melihatku mencoba gaun?"
"Mencoba gaun?" Agus bertanya dengan ekspresi keingintahuan.
"Issh, kenapa dia malam bicara begitu—, ayo temani aku pergi."
"Baiklah," jawab Agus, ia ikut dengan Lina.
Lina memesan gaun pengantin dengan nilai sebesar 'Satu Milyar.' Desainer Gaun Pengantin ternama benar-benar sangat gila dengan memasang harga yang tinggi, yang lebih aneh lagi Lina tidak banyak komentar karena sesuai dengan yang ia inginkan.
"Memang kalau orang kaya bebas melakukan apa pun yang mereka mau," gumam Agus.
"Coba lihat, apa aku terlihat cantik?"
"..." Agus terdiam, karena Lina terlihat cantik.