
Cinta yang sulit untuk ia tahan semakin terasa hangat, ia memeluk dengan penuh rasa keingintahuannya yang begitu dalam. Lina tidak banyak bicara dan sedikit saja untuk merenggangkan kedua tangan. Agus mulai menjauh dan akan istirahat, Lina melihat Agus cukup lama sampai pintu tertutup rapat. Agus kembali teringat dua orang wanita yang sudah mengisi hatinya, Lulu Aite dan Tiara. Agus tidak ingin semua yang ia rasakan semakin rumit. Agus tahu kalau yang Lina cintai adalah dirinya, namun sesungguhnya hanya orang lain yang tubuhnya ia tempati. Agus memejamkan mata, ia ingin lebih konsentrasi dalam pertarungan besok.
"Apa yang harus kulakukan kedepannya?" tanya Agus pada dirinya sendiri
Dia tidak ingin terlalu banyak pikiran dan mulai kembali untuk latihan pagi, Lina hanya melihat kesibukan Agus pada dirinya sendiri. Malam hari Agus pergi untuk pertarungan di Arena Macan. Suara penonton lebih bergemuruh dari biasanya, lawan Agus kali ini lebih kuat dari yang sebelum-sebelumnya. Kekuatan daya hancur dari tinju begitu kuat dalam sekali serang, Agus menghindar dengan sigap sesaat akan menerima serangan. Nicolas Hadin jadi berharap kalau Agus bisa menunjukkan lebih baik lagi, agar nilai taruhan semakin tinggi dan membuat keuntungan bagi Nicolas.
"Nic, orang yang kau bawa semakin gila, ya?"
"Kekuatannya lebih dari orang normal," jawab Nicolas.
Agus memukul area rusuk lawannya, pria kekar itu kesakitan dan berteriak, dia langsung berlari dan menghantam dengan kedua tangan yang terkepal erat. Jika Agus menang ia akan masuk dalam sepuluh besar, ia akan menghadapi orang-orang yang lebih kuat dan punya banyak pengalaman. Agus tidak banyak bicara setelah pertarungan selesai, ia langsung didatangi oleh Nicolas yang kagum oleh keberhasilan Agus. Nicolas mendapatkan ancaman oleh Agus yang mengatakan kalau keuntungan lebih besar dari sebelumnya seharusnya sudah mendapatkan keuntungan yang besar melebihi hutang yang Agus punya. Nicolas menekan kalau semua hutang akan selesai jika Agus menjadi juara pertama.
"Kalau kau ingin aman dan tidak dapat masalah lagi dari kami, kau menurut saja," kata Nicolas.
"..."
Untuk pertama kalinya, semua orang sangat khawatir sehingga ingin beralih ke Agus sebagai orang baru yang begitu cepat mencapai puncak. Agus mulai menerima undangan dari berbagai kalangan. Agus melihat orang yang paling mencolok, yang berusia sekitar 60-an. Pria tua itu mengulurkan tangannya setelah berbicara dengan Agus. Pria itu memberikan kartu nama, Martin Lut adalah sosok yang sangat terkenal yang dikenang oleh Agus dalam ingatannya saat ini. Agus menyimpan dan akan menghubungi jika memang membutuhkan bantuan.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, Tuan Agus.
"Hati-hati di jalan, Tuan Martin Lut."
Agus merasa harus memperkuat diri lebih baik lagi, ia harus bersiap-siap untuk mengahadapi orang yang lebih kuat. Suara memanggil dengan serak, suara dari Nicolas Hadin yang begitu tegang saat menemui Agus. Nicolas lagi-lagi menegaskan kalau harus menyelesaikan janji yang dibuat jika tidak ingin ada masalah pada Lina Setiawan. Agus marah dan meremas kemeja di balik jas hitam. Ancaman yang tidak berguna yang langsung menekan dahinya. Nicolas Hadin tidak ingin Agus dekat dengan Martin dengan alasan kalau Nicolas tidak menyukainya.
"Jangan bawa-bawa Lina dalam masalah kita, aku sebelumnya masih bisa sabar."
"Sial, sekarang kau berani untuk menatap aku seperti itu!"
Waktu pulang di malam hari sudah ada hidangan di meja makan. Lina penasaran dengan waktu yang Agus habiskan, Agus hanya menjawab semua baik-baik saja sesuai dengan yang ia inginkan. Lina mengatakan semua yang sedang ia alami, ia akan berkerja di salah satu perusahaan yang akan menjadi ia sebagai Sekertaris. Lina merasa tidak nyaman jika nantinya ia akan jarak pulang karena ikut pergi keluar kota. Agus menasehati kalau ia akan baik saja dan tidak usah untuk memikirkan sesuatu yang tidak perlu.
"Apa kamu tidak cemas kalau aku akan pergi jauh, Sayang?" tanya Lina.
Berperan sebagai seorang kekasih yang perhatian yang Agus lakukan, ia melakukannya untuk Lina biar tidak terlalu frustasi dengan sikap Agus yang menurut dia begitu romantis dan banyak berubah. Hubungan percintaan yang lebih intim sudah lama tidak terjadi, yang Lina inginkan selalu gagal seperti ada jarak yang sengaja dibuat oleh Agus.
"Hei Sayang, kita sudah lama tidak melakukannya?"
"Aku sedang tidak ingin melakukannya," jawab Agus.
"Kamu terlalu aneh dalam perubahan kamu yang sekarang, kamu dulu sangat begitu antusias, aku harap kamu tidak bosan."
"Aku tidak bosan, aku hanya sedang tidak mau."
"Ah, rasanya sangat canggung, aku malu harus jujur," kata Lina, ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Pelukan yang tiba-tiba menggugah kesadaran Lina yang langsung berdebar-debar ia jadi bersemangat dalam membalas pelukan. Lina menghela napas karena yang dilakukan oleh Agus begitu singkat. Agus pun menyudahi pelukan mereka berdua. Tatapan matanya yang begitu menggoda membuat Agus memalingkan wajahnya. Sebagai pria normal tentunya ia tidak tahan dan membalasnya, Lina mengerakkan kepala ke samping dan memejamkan mata. Tidak begitu lama Lina beralih mendekatkan wajahnya, ia tersenyum puas dengan yang Agus lakukan.
"Kamu begitu lembut padaku sekarang," kata Lina, ia melingkarkan tangannya di leher Agus.
Agus tidak bisa menjawab dan memeluk untuk menenangkan Lina, suara ******* yang lembut keluar dari mulutnya Lina.
Semakin ada jarak akan timbul kecurigaan, Agus pun memilih untuk melakukannya dengan begitu antusias secara normal yang begitu aktif. Suara yang terengah-engah merasakan kenikmatan yang begitu memuaskan, Lina yang sudah menahan semuanya ia langsung mengajak dengan rayuan agar Agus tidak bisa mengulur waktu banyak alasannya. Dalam waktu yang cukup singkat, Agus melepaskan kelembutan yang saling bertukar, suara napas yang begitu merayu membuat Agus lepas dalam kendali. Lina menggeliat selama banyak sentuhan yang menggelitik. Desahannya begitu merdu selama Agus melakukan aktivitas romantis dan gigitan yang penuh hasrat.
"Ohh, shhh...." Lina menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Kamu begitu bersemangat menginginkannya," kata Agus.
Suara yang hebat dalam tekanan yang kuat mengarahkan ke titik tertentu, Lina mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari yang ia inginkan. Lina memeluk dengan erat, suara yang berkecamuk semakin ia rasakan sampai lupa waktu dan terbaring dengan pasrah. Agus berbaring dengan lelah, ia melihat Lina yang tidur di sebelahnya. Sebagai seorang pria yang punya banyak pengalaman dia begitu ahli dalam banyak hal. Lina membuka kelopak mata, ia tersenyum dan menggoda dalam kata-kata yang seksi. Sekali lagi mereka melakukan lebih aktif dan buas sampai Lina hanyut dalam keadaan tidak sadar akan memalukan.
"Aku sangat lelah, uh~."
"Istirahatlah, aku terlalu berlebih..."